Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Bunga untuk Syanum


__ADS_3

"Awas Pak...!" seru Mentari dari dalam taksi. Dia benar-benar takut, saat sopir taksi itu hampir menabrak seorang lelaki yang melintas di depannya.


Sopir taksi itu, menginjak rem mobilnya kuat-kuat. Dia juga sangat terkejut, karena lelaki itu nyelonong begitu saja di depannya dan hampir dia tabrak.


"Astaghfirullah... kenapa dengan tuh orang. Apa dia sudah bosan hidup. Untung aja dia nggak benar-benar ketabrak tadi," ucap sopir taksi itu.


"Tunggu sebentar di sini ya Mbak. Saya mau periksa dulu di luar."


"Iya Pak. Tapi, hati-hati Pak. Takutnya tadi itu begal," ucap Mentari.


"Tenang saja Mbak. Saya sudah biasa menghadapi orang-orang seperti ini."


Sopir taksi itu kemudian ke luar dari taksi. Dia menatap seorang lelaki yang tampak pingsan di depannya.


"Astaga, apa dia pingsan beneran. Tapi, perasaan saya tadi ngga nabrak dia kok," ucap sopir taksi itu.


Sopir taksi itu kemudian mendekat ke arah lelaki itu.


"Bang.. Abang nggak apa-apa?" tanya sopir taksi itu sembari berjongkok di depan lelaki yang pingsan itu.


"Hei..." seru seseorang dari kejauhan mendekat ke arah sopir taksi itu.


"Kamu sudah menabraknya," ucap lelaki itu sembari menunjuk sopir itu dengan telunjuknya. Sepertinya dia sangat marah melihat sopir taksi itu.


"Tidak Bang. Saya tidak menabraknya sumpah," ucap sopir itu sembari berdiri.


Dia tampak ketakutan saat melihat seorang lelaki bertato, dan bertubuh besar itu menghampirinya.


"Kalau kamu nggak menabraknya, kenapa dia bisa pingsan?" tanya lelaki itu dengan tatapan nanar.


"Aku juga nggak tahu bang." Sopir itu, mencoba untuk membela diri.


Lelaki itu tiba-tiba saja, mencengkeram kerah baju sopir itu dengan kuat.


"Kamu harus ganti rugi dong. Dia teman aku. Dan sekarang dia pingsan gara-gara kamu...!" ucap lelaki bertato itu dengan suara menggelegar.


"Bang. Tapi saya tidak bawa uang. Uang saya sudah saya setorkan semua Bang. Kalau nggak percaya, lihat aja dompet saya," ucap Sopir taksi itu dengan tubuh yang bergetar.


Lelaki itu menatap wanita yang ada di dalam mobil. Setelah itu, dia melepas cengkeramannya. Dia kemudian mendekat ke arah Mentari. Tiba-tiba saja, lelaki itu mengetuk kaca mobil Mentari.


Tok tok tok...


Ketukan keras, sudah terdengar dari luar. Mentari sejak tadi masih tampak ketakutan.


"Duh. Gimana ini. Jangan-jangan, beneran kalau mereka begal," ucap Mentari.


"Atau jangan-jangan, sopir taksinya juga bersekongkol dengan para begal itu."


Mentari benar-benar takut sekali saat ini. Dia bingung, dengan apa yang harus dilakukannya. Sopir taksi itu saja, hanya bisa diam tanpa melakukan perlawanan.


Lelaki itu, kemudian kembali mengetuk kaca mobil Mentari dengan keras.


Tok tok tok ...


"Turun...!" ucapnya dengan suara lantang.


"Duh, kenapa dia nyuruh aku turun. Apa mau dia sebenarnya?"


Mentari akhirnya mau turun juga dari taksi. Dia takut kalau lelaki itu akan menyakitinya.


"Apa mau kamu Bang?" tanya Mentari.


"Serahkan semua uang kamu padaku...!" ucap lelaki itu.


"Nggak. Aku nggak punya uang Bang."

__ADS_1


Lelaki itu merebut paksa tas milik Mentari.


"Aku yakin, kalau kamu punya banyak uang...!"


"Hentikan...!" suara lelaki yang sangat Mentari kenal tiba-tiba saja terdengar.


'Mario.' batin Mentari.


Mario melangkah mendekat ke arah Mentari. Dia kemudian merebut kembali tas Mentari dan menyerahkan tas itu ke Mentari.


"Tapi Bos, kenapa?" tanya lelaki itu bingung.


"Dia wanitaku," jawab Mario.


Lelaki itu tampak terkejut. Begitu juga dengan Mentari. Dia begitu terkejut saat melihat Mario.


Deg deg deg...


Degup jantung Mentari sejak tadi berpacu sangat cepat. Dia takut sekaligus terkejut saat melihat Mario. Keringat dinginnya juga sudah mulai membasahi sekujur tubuhnya yang sudah melemas.


"Apa! wanita mu?"


"Iya. Lepaskan dia. Wanita ini, masih punya banyak urusan denganku."


Lelaki itu, mundur beberapa langkah. Sementara Mario mendekat ke arah Mentari.


"Mario...!"


Mentari tampak syok dengan penampilan Mario yang seperti preman. Mario benar-benar berubah.


"Kamu lelaki yang pura-pura pingsan tadi?" tanya Mentari menatap tajam ke arah Mario.


"Iya. Ini aku Mentari. Kamu masih ingat dengan ku sayang," ucap Mario sembari memegang erat bahu Mentari.


Mario hanya menyeringai.


"Kamu tidak mau bersenang-senang dengan aku lagi sayang," ucap Mario sembari membelai pipi Mentari dengan lembut.


"Apa!" Mentari terkejut saat mendengar ucapan menjijikkan itu.


"Dasar, laki-laki kurang ajar kamu Mario. Muak sekali aku mendengar ocehan kamu."


"Bukankah malam itu, kamu juga menikmatinya hah...! dan aku dengar, kamu itu sedang hamil? dan sepertinya, sekarang kamu sudah melahirkan ya? dan sekarang, di mana anak kita."


'Hah, tahu dari mana dia, kalau aku hamil.' batin Mentari.


"Sayang, ikut aku sekarang sayang."


Mario tiba-tiba saja menyeret Mentari untuk ikut dengannya. Dia kemudian membawa Mentari kepinggir jalan.


"Naik...!" ucap Mario saat sudah berada di tepi jalan.


Dia menyuruh Mentari naik ke motornya.


"Aku nggak mau." Mentari masih menolak untuk naik ke motor Mario.


"Aku bilang naik!" ucap Mario lagi dengan nada tinggi.


"Aku nggak mau ikut kamu. Kamu mau bawa aku ke mana? aku nggak mau terjebak lagi seperti dulu."


"Aku nggak akan menjebak kamu sayang. Aku cuma mau bicara sesuatu yang sangat penting saja sama kamu. Ayolah, ikut aku sayang...!"


Dengan takut-takut, Mentari akhirnya mau juga ikut dengan Mario. Entah Mario itu akan membawanya ke mana.


Mentari tahu, kalau selama ini Mario itu cinta mati sama Mentari. Tapi, rasa cinta Mario ke Mentari itu berubah menjadi sebuah obsesi karena Mentari yang selalu menolaknya.

__ADS_1


Mario sudah gila dan di butakan oleh cintanya. Sehingga dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya itu. Dia juga tega menghancurkan hidup Mentari karena cintanya memang cinta yang benar-benar gila.


***


Sepulang dari cafe, Fabian tidak langsung pulang dulu ke rumahnya. Dia mampir dulu ke toko bunga untuk membeli bunga. Sepertinya, dia ingin membelikan bunga untuk Syanum.


"Mbak. Aku mau beli bunga untuk istri aku Mbak," ucap Fabian setelah sampai di depan kios bunga.


"Oh. Silakan Mas, mau pilih yang mana?" tanya pelayan toko.


Fabian menatap ke arah bunga-bunga itu. Dia kemudian memilih satu bunga yang menurutnya paling indah.


"Yang mawar aja Mbak," ucap Fabian.


"Baik, silahkan ambil Mas. Mau di kasih kartu ucapan?" tanya pelayan itu.


"Oh, iya. Biar aku aja yang nulis Mbak. "


Maafkan aku, untuk semua kesalahan aku Syanum. Aku janji, aku akan menebus semua kesalahan aku.


Setelah Fabian menulis sesuatu untuk Syanum, dia kemudian menyelipkan kertas kecil itu di atas bunga itu. Dia kemudian membayar bunga itu.


Setelah membeli bunga, Fabian kemudian meluncur pergi ke arah rumah Luna. Dia yakin, kalau Syanum itu belum tidur. Karena saat ini, masih jam delapan malam.


"Aku hanya ingin dapat maaf, dari Syanum, itu aja," ucap Fabian di sela-sela menyetirnya.


Sesampai di depan rumah Luna, Fabian turun dari mobilnya. Dia turun dari mobilnya sembari membawa bunganya.


Fabian akan mengetuk pintu rumah Luna. Namun dia masih ragu.


"Em, gimana ya. Aku kasih bunga ini langsung, atau nggak. Kenapa aku gugup begini ya. Aku sebenarnya belum siap, untuk ketemu Syanum lagi. Aku takut, Syanum akan bersikap dingin lagi seperti waktu itu," gumam Fabian.


Setelah lama Fabian berfikir, akhirnya dia mengetuk pintu rumah Luna. Namun, dia tidak berani untuk bertemu Syanum. Dia lebih memilih untuk bersembunyi di balik dinding rumah Luna.


Syanum, Ryan, dan Luna, masih berada di ruang tengah.


Mereka saling menatap, saat mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.


"Siapa sih, yang malam-malam begini bertamu," ucap Luna.


"Coba sana Lun. Bukain pintunya. Mungkin aja, itu gebetan kamu," ledek Ryan.


"Ish. Apaan sih Kak. Aku nggak punya gebetan kali kak."


Luna kemudian melangkah untuk melihat ke depan.


Dia kemudian membuka pintu depan.


Ceklek.


Luna menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun, tidak tampak ada orang di depan rumahnya.


"Nggak ada orang. Tapi tadi, jelas banget kok ada yang ngetuk pintu," ucap Luna.


Pandangan Luna, tiba-tiba saja terpaku pada bunga yang ada di depan kakinya.


"Lho. Kok ada bunga. Bunga dari siapa dan untuk siapa ya. Apa jangan-jangan bunga buat aku. Kalau untuk Kak Syanum, nggak mungkin deh."


Luna mengambil bunga yang ada di bawahnya berdiri. Dia kemudian mencium bunga itu, tanpa membaca kartu ucapan yang ada di dalamnya.


Luna kemudian mengambil bunga itu dan masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian menutup pintunya kembali.


"Yah, kenapa Luna sih, yang harus buka pintu. Kenapa nggak Syanum aja," ucap Fabian.


Setelah Fabian mengantar bunga ke rumah Luna, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2