Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Menemui Luna


__ADS_3

"Mbak. Kenapa sih dengan Tuan muda. Pagi-pagi gini, dia udah merepotkan kita," omel Mbak Fani.


"Kita harusnya udah santai. Tapi kita masih harus membereskan serpihan-serpihan kaca di sini,' lanjut Mbak Fani.


"Aku juga nggak tahu, kenapa dengan Tuan muda. Dia itu seharusnya belajar menjadi dewasa. Kan katanya, Non Syanum lagi hamil. Tapi, sikapnya masih saja seperti anak kecil,"ucap Mbak Asih.


"Iya. Aku jadi kasihan sama Non Syanum. Kenapa ya, dia punya suami tempramen kayak gitu. Kenapa nggak ditinggalin aja lelaki seperti itu. Kalau aku jadi Non Syanum, udah sejak dulu, aku tinggalin suami model gitu." Mbak Fani jadi ikut geram dengan kelakuan Fabian.


"Aku sebenarnya kasihan sama Non Syanum. Ke dua orang tuanya sudah tidak ada. Dan dia juga anak satu-satunya Pak Herman. Nggak ada saudara lagi. Jika dia ada masalah, dia akan mengadu ke siapa. Dia kan dari kampung. Di sini nggak punya teman. Dia juga nggak dekat dengan keluarga ayahnya. Paling dia bisa ngadu ke kita-kita," ucap Mbak Asih.


"Menurut aku, pulang ajalah ke kampung. Kan bisa Mbak Asih."


"Aku rasa, Tuan Damar dan Nyonya Reva, tidak akan pernah mengizinkannya. Mereka itu kan sayang sama Syanum Fan."


"Iya sih. Tapi kasihan kalau Non Syanum, mendapat tekanan terus dari Tuan muda."


"Non Syanum itu terlalu sabar Fan. Dia gadis yang baik, seharusnya dia punya suami yang sayang sama dia. Tapi kalau dia pergi dari sini, kasihan dia. Dia itu sedang hamil. Di kampung, neneknya juga sudah tua," ucap Mbak Asih yang merasa sangat prihatin dengan kondisi Syanum.


"Ya elah Mbak. Syanum itu kan punya bibi dan paman.Kalau dia pulang kampung, bisa kan dia ikut mereka. Jauh dari Tuan muda, lebih baik untuknya." Mbak Fani jadi ikutan kesal, melihat drama Fabian semalam.


Sejak tadi, Mbak Fani dan Mbak Asih masih gosipin anak majikannya.


Pagi ini, Fabian sudah pergi ke kantor, Pak Damar dan Bu Reva ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan Pak Damar. Sementara Dila, mengantar Dimas ke sekolah. Dan Syanum, entah sekarang dia ada di mana. Mbak Asih, dan Mbak Fani, belum melihatnya lagi.


"Ngomong-ngomong, sejak tadi aku belum melihat Non Syanum. Non Syanum ke mana ya," ucap Mbak Asih.


"Nggak tahu. Mungkin dia lagi ke warung Mbak, lagi beli sesuatu."


"Iya. Mungkin."


****


Di sisi lain, Fabian masih menatap ke layar monitornya. Sejak semalam, Syanum berubah. Dia jadi dingin sekali dengan suaminya.


"Syanum kenapa sih. Pagi ini, dia jadi berubah banget. Dia sama sekali nggak nyapa aku. Aku telpon aja deh."


Fabian kemudian menelpon istrinya. Namun, Syanum tidak mau mengangkat telpon dari suaminya.


Fabian mencoba sekali lagi untuk menelpon Syanum. Namun, ponsel Syanum mati. Semua itu membuat Fabian merasa resah.


"Huh, kenapa sih dengan Syanum. Membuat aku nggak tenang aja. Aku nggak suka kalau Syanum cuekin aku seperti ini."


Perasaan Fabian jadi tidak enak. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Fabian melangkah ke luar dari kantornya. Dia kemudian pergi ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya. Fabian melajukan kendaraannya sampai ke rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Fabian sampai di depan rumahnya. Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Syanum...! Syanum...!" seru Fabian.


"Mbak Asih...! Mbak Asih ..!"

__ADS_1


Mbak Asih buru-buru melangkah ke arah Fabian.


"Iya Tuan muda. Ada apa?"


"Mana istri aku?" tanya Fabian.


"Mbak nggak lihat Non Syanum kemana Tuan muda."


"Apa! nggak lihat? Mbak Asih kan di rumah sejak tadi pagi. Masak Syanum ke mana aja Mbak nggak lihat sih."


"Maaf Tuan muda. Mbak nggak lihat. Kami sejak tadi lagi beresin


kamar Tuan muda."


"Hah...! kenapa sih dengan Syanum. Kenapa sih dia selalu membuat aku khawatir. Dan dia juga sejak tadi pagi, berubah banget jadi dingin."


Fabian menghela nafasnya dalam. Setelah itu dia pergi ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia sama sekali tidak pernah menyadari akan kesalahannya. Fabian memang lelaki yang sangat tidak peka dengan perasaan istrinya.


****


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar rumah Luna terdengar.


Luna buru-buru melangkah ke depan untuk membuka pintu. Luna tersenyum saat melihat Syanum.


"Kak Syanum...!"


"Ya ampun, kamu ke sini kenapa ngga bilang-bilang. Dan kamu tahu rumahku dari mana? kamu kan belum pernah ke sini," tanya Luna menatap lekat wajah Syanum.


"Aku dapat alamat rumah kamu dari Ryan," jawab Syanum.


"Ayo kita masuk!" ajak Luna.


Syanum mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam rumah Luna. Mereka duduk di ruang tamu.


Sejak tadi Luna masih memperhatikan Syanum.


"Kamu kenapa?" tanya Luna.


Syanum menundukkan kepalanya.


"Kak Syanum, apa yang terjadi?"


Syanum menatap Luna kembali.


"Rasanya, aku sudah nggak sanggup, bertahan dengan Fabian. Aku ingin cerai aja diri dia," ucap Syanum tiba-tiba.


Luna terkejut saat mendengar ucapan Syanum.


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Percuma Lun. Ide kamu, sama sekali tidak pernah membuahkan hasil. Fabian, nggak pernah mau mencintai aku Lun. Walau aku dandan secantik apapun, Fabian tidak pernah mau mencintai aku. Karena di hatinya, hanya ada Mentari. Dan aku nggak bisa menggeser posisi Mentari di hati Fabian."


Luna mendekat ke arah Syanum. Dia kemudian merapatkan duduknya di samping Syanum.


"Kamu yakin, dengan ucapan kamu itu? kamu ingin cerai dengan Kak Fabian?"


Syanum mengangguk.


"Iya. Tapi aku bingung. Mama dan Papa, pasti tidak akan pernah mengizinkannya. Apalagi sekarang aku sedang hamil."


Luna terkejut.


"Kamu hamil?"


"Iya. Aku hamil anaknya Fabian."


"Berarti berhasil dong ide aku."


Syanum menggeleng.


"Nggak. Fabian nggak cinta sama aku. Karena semalam dia menemui mantannya. Dia pulang ngamuk-ngamuk. Dan aku nggak tahu kenapa. Hiks...Hiks..."


Syanum tidak bisa menahan tangisnya. Dia akhirnya, menangis juga di depan Luna.


"Ngamuk kenapa?"


Syanum menghela nafas dalam dan mengusap air matanya. Setelah itu, dia menceritakan obrolan Fabian dengannya semalam.


Luna syok saat mendengar cerita Syanum.


"Jadi, Mentari saat ini sedang hamil juga? hamil tanpa suami? lalu, siapa yang sudah menghamilinya?"


"Aku juga nggak tahu. Tapi suamiku, dia lebih perhatian sama mantan pacarnya dari pada sama aku. Dia sama sekali nggak pernah menginginkan anak ini. Dia nggak suka aku hamil Lun. Kalau gitu, untuk apa aku bertahan."


Dada Luna, seakan ikut sesak mendengar cerita Syanum. Segitu teganya Fabian menyakiti hati Syanum.


"Kayaknya, Kak Fabian itu harus benar-benar diberi pelajaran deh biar kapok."


"Lun. Aku di sini nggak punya siapa-siapa Lun. Teman aja aku nggak punya. Apa aku boleh, minta bantuan kamu?"


"Boleh banget Kak."


"Lun. Aku lagi malas banget ketemu Fabian. Aku benci banget sama dia Lun."


"Iya Kak. Aku tahu perasaan kamu. Kamu tenang aja. Untuk sementara, kamu tinggal di sini dulu bersama aku."


"Iya Lun. Makasih ya."


Luna tersenyum dan mengangguk.


"Aku nggak akan bilang ke Kak Fabian, kalau Kakak ada di sini. Sekali-kali biarkan dia sendiri, biar dia tahu rasa, bagaimana jika tidak ada kamu Kak Syanum. Nggak usah layani dia lagi. Biar dia uring-uringan nyariin kamu."

__ADS_1


__ADS_2