
Deru mobil, sudah terdengar dari luar rumah kontrakan Mentari. Mentari yang sejak tadi masih berada di dalam, buru-buru melangkah ke luar rumahnya. Dia tersenyum saat melihat mobil Fadlan sudah sampai di halaman depan rumahnya.
"Dokter Fadlan," ucap Mentari.
Fadlan turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah ke arah teras sembari membawa parcel buah dan obat untuk Mentari.
"Mentari. Ini obat untuk kamu. Dan aku bawakan buah juga buat kamu. Kamu kan lagi sakit, siapa tahu kamu pengin makan buah-buahan."
"Makasih banyak ya Dok. Dokter tahu aja, kalau aku lagi pengin buah."
Mentari kemudian mengambil parcel buah dan obat yang ada di tangan Dokter Fadlan.
"Makasih. Masuk yuk!" Mentari mengajak Fadlan masuk. Setelah itu dia menyuruh Fadlan untuk duduk.
"Dokter, apa kamu sudah makan?" tanya Mentari.
Fadlan menggeleng.
"Belum. Karena aku dari rumah sakit, langsung ke rumah kamu. Dan aku belum sempat sarapan."
"Kalau gitu, kita makan bareng aja ya Dok. Dan nasi bungkusnya juga ada dua. Pas untuk kita berdua."
"Aku memang sengaja beli dua bungkus."
Mentari dan Fadlan kemudian melangkah ke arah ruang makan. Mereka akan makan di sana. Sesampai di ruang makan, Mentari dan Fadlan kemudian duduk bersama.
Fadlan membuka bungkus makanannya. Setelah itu dia mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Mentari. Kamu nggak mau makan? Kenapa makanan kamu cuma di diamin aja begitu? apa makanannya nggak enak?" tanya Fadlan yang melihat Mentari hanya melamun saja.
"Bukan begitu. Kamu itu kan belinya nasi uduk. Dan aku lagi nggak suka makan nasi. Aku lebih suka makan buah-buahan."
"Oh. Begitu?"
"Iya Dok."
"Ya udah. Kamu makan aja buahnya."
Mentari kemudian mengambil satu buah apel merah yang ada di dalam parcel. Setelah itu, dia mengambil pisau dan mengiris apel itu dengan pisau.
Setelah itu, Mentari mulai memotong apel itu kecil-kecil di atas piring. Usai itu, Mentari makan satu persatu dari irisan buah apel itu.
"Dok. Kamu yakin kalau kamu dan Lisa udah baikan?" tanya Mentari di sela-sela kunyahannya.
__ADS_1
Fadlan yang masih mengunyah makanannya hanya mengangguk.
"Iya. Udah nggak ada masalah lagi kok sama hubungan kami. Karena Lisa sudah mau percaya denganku," jelas Fadlan.
Ring ring ring...
Suara ponsel Fadlan tiba-tiba saja berdering. Fadlan menatap ponselnya yang ada di depannya.
"Siapa? Lisa ya. Angkat aja Dok. Siapa tahu penting."
Fadlan kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat telpon dari Lisa.
"Halo Lis."
"Halo mas. Kamu ada di mana sekarang ? kenapa ditelpon nggak diangkat-angkat? di chat juga nggak di balas-balas."
"Maaf sayang, mungkin aku tadi nggak dengar kamu nelpon."
"Sekarang kamu ada di mana? di rumah sakit, atau di apartemen?"
Fadlan tampak bingung untuk menjawab. Kalau Fadlan mengatakan dia sekarang ada di rumah Mentari, Lisa pasti akan marah besar lagi padanya.
Fadlan tidak mau membuat masalah semakin runyam. Baru saja mereka baikan.Dan Fadlan tidak mau Lisa ngambek lagi seperti kemarin. Lebih baik Fadlan bohongin saja Lisa.
"Iya Lis. Aku dengar kok. Aku masih di rumah sakit Lis."
"Oh. Katanya kamu semalam di rumah sakit? kok ini masih di sana. Kamu belum pulang ke apartemen ya? apa kerjaan kamu banyak banget Mas?"
"Iya Lis. Aku lagi sibuk. Karena di rumah sakit, pasien sedang penuh."
"Oh. Ya udahlah kalau begitu. Maaf ya kalau aku udah ganggu. Sebenarnya, kalau kamu ada di apartemen, aku pengin ke sana. Karena aku kangen sama kamu Mas."
"Aku juga kangen sama kamu sayang. Ya udah. Gimana kalau nanti siang kita ketemu. Aku akan ngajakin kamu jalan. Kamu mau kan?"
"Iya Mas. Aku mau."
"Ya udah. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam "
Fabian kemudian memutuskan saluran telponnya. Dia kemudian melanjutkan makan bersama Mentari.
Mentari menatap Fabian lekat.
__ADS_1
"Dokter. Kok kamu bohong sama Lisa sih? kamu kan sekarang ada di rumah aku. Kenapa kamu bilang ke Lisa kalau kamu masih di rumah sakit?" tanya Mentari.
"Aku nggak mau Mentari, kalau Lisa sampai salah paham lagi sama kita. Lebih baik, dia tidak tahu keberadaan kamu dan rumah kontrakan kamu.Dari pada dia tahu, terus dia selalu mencurigai aku di setiap waktu.
"Tapi seharusnya kamu jujur saja Mas sama Lisa. Dan katanya kamu sudah menjelaskan semuanya sama Lisa."
"Mentari. Kamu belum tahu siapa Lisa. Lisa itu wanita yang pencemburu. Dan jika ada masalah sedikit, ujung-ujungnya dia bawa-bawa orang tua. Dan aku nggak suka itu."
"Oh gitu."
Mentari kemudian melanjutkan makan buahnya.
"Makasih banyak ya Dok. Aku sarankan, lebih baik Dokter jangan sering-sering ke sini. Karena aku takut, Lisa akan salah paham lagi sama kamu, kalau dia tahu, Dokter sering ke rumah aku."
"Kamu tenang aja. Lisa nggak akan tahu kamu ngontrak di sini kok."
Mentari tersenyum.
"Setelah ini, kamu mau pulang kan Dok?"
"Iya. Aku semalam nggak tidur. Dan aku ngantuk banget sebenarnya."
"Ya udah. Setelah makan, kamu pulang aja. Nanti kamu istirahat di apartemen kamu. Jadi kalau Lisa sampai mencari kamu, kamu sudah ada di apartemen."
Fadlan mengangguk. Setelah selesai makan, Fadlan kemudian berpamitan untuk pulang pada Mentari.
"Mentari. Di minum semua ya obatnya. Itu aku kasih vitamin juga buat kamu. Aku mau pulang dulu."
"Makasih ya Dok. Untuk semua kebaikan kamu. Aku tidak tahu, akan seperti apa nasibku jika tidak ada Dokter. Mungkin saja sekarang aku sudah mati."
"Sama-sama Mentari. Kamu jangan banyak fikiran lagi ya. Kamu harus tetap semangat menjalani hari-hari kamu di sini. Kalau kamu kangen sama keluarga kamu, kamu bisa hubungi aku. Nanti aku yang akan ngantar kamu pulang ke rumah orang tuamu."
"Tapi untuk saat ini, aku belum mau pulang. Aku masih ingin sendiri."
Fadlan bangkit berdiri. Setelah itu, Fadlan melangkah ke depan diikuti Mentari di belakangnya.
"Ya udah. Nggak apa-apa. Kalau kamu belum pengin pulang. Kamu jaga diri kamu baik-baik ya di sini. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa langsung menghubungiku."
Mentari mengangguk. Setelah itu, Fadlan melangkah ke arah mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah kontrakan Mentari.
Setelah Fadlan pergi, Mentari kembali masuk ke dalam rumahnya. Setelah makan buah, tiba-tiba saja perutnya mulai berulah lagi. Dia mual lagi. Mentari buru-buru melangkah ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi. Kali ini, mualnya lebih parah dari mual yang semalam.
"Duh, kenapa setelah Dokter Fadlan pergi, aku harus mual lagi. Benar-benar nyiksa banget sih.
__ADS_1