Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Percakapan singkat Fadlan dan Mentari.


__ADS_3

Mentari dan Aira diam. Dia kemudian menatap ke arah Bu Novi.


"Dia duluan Ma, ya mulai," ucap Aira yang tidak mau salahkan.


Begitu juga dengan Mentari. Dia juga tidak mau disalahkan.


"Bohong. Aira duluan kok yang mulai," ucap Mentari.


"Kebiasaan banget kalian ini. Aira. Katanya kamu mau pulang. Sekarang sana kamu pulang! Kenapa masih ada di sini," ucap Bu Novi pada anaknya.


"Iya Ma. Ini juga aku mau pulang kok," ucap Aira.


Sebelum pergi, Aira berpamitan dengan ke dua orang tua Mario. Dia mencium punggung tangan mereka.


"Om, Tan, aku pamit dulu ya. Salam aja untuk Mario kalau nanti dia bangun," ucap Aira.


Bu Adela tersenyum. "Makasih ya Aira. Kamu sudah mau perduli dengan anak Tante."


"Iya dong Tan. Walau Mario dulu sering banget jahatin aku, tapi aku nggak pernah punya dendam kok sama dia," ucap Aira menatap lekat Bu Adela.


"Ya udah. Aku pulang dulu ya Ma. Kalau mama mau minta Aira jemput, nanti telpon ya."


Bu Novi mengangguk. "Iya Ra."


Aira kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Sekarang hanya tinggal Mentari, Bu Novi, dan ke dua orang tua Mario yang masih menunggu Mario di depan ruang operasi.


Beberapa saat kemudian, Seorang dokter ke luar dari ruang operasi.


Mentari terkejut saat melihat dokter itu. Dia masih ingat betul dengan lelaki itu. Dia dokter Fadlan yang dulu pernah menolongnya.


'Dokter Fadlan. Dia kenapa bisa ada di sini. Apakah dia kerja di sini. Kenapa aku baru melihat dia ada di sini.' batin Mentari.


Fadlan juga terkejut saat melihat Mentari. Dia menatap sejenak ke arah Mentari sebelum dia kembali bicara dengan ke dua orang tua Mario.


"Dokter. Bagaimana dengan anak saya Dok?" tanya Pak Sofyan.


"Saudara Mario, sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kita tinggal menunggu dia siuman," jawab Dokter Fadlan.


"Alhamdulillah," ucap Bu Adela.


"Jadi dia akan segera sembuh Dok?" tanya Pak Sofyan lagi.


"Insya Allah. Ini semua juga berkat doa dari kalian semua. Dia sudah sadar dari koma, dan sudah bisa melakukan operasi. Dan sekarang kita tinggal menunggu perkembangan kondisi Mario selanjutnya."


'Ih, Mario. Kenapa dia harus selamat sih. Kenapa dia nggak mati aja. Bikin bete aja deh.' geram Mentari dalam batin.


"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Masih banyak urusan yang harus saya kerjakan,' ucap Dokter Fadlan sebelum pergi.


"Iya Dok," ucap Bu Novi dan Bu Adela bersamaan.

__ADS_1


Dokter Fadlan kemudian melangkah pergi meninggalkan keluarga Mario. Sementara Mentari buru-buru melangkah mengejar dokter Fadlan.


"Dokter Fadlan tunggu...!" seru Mentari.


Dokter Fadlan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Mentari. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Mentari.


"Dokter. Kamu masih ingat sama aku kan? aku Mentari Dokter," ucap Mentari.


Fadlan tersenyum.


"Iya. Saya masih sangat mengenal kamu," ucap Dokter Fadlan.


"Dokter. Kok dokter bisa ada di sini?" tanya Mentari." Apakah Dokter sekarang kerja di sini?"


"Saya cuma sementara saja di sini. Saya cuma dapat tugas dari tempat kerja saya, untuk menjadi dokter bantu di rumah sakit ini. Kebetulan, di sini kekurangan dokter ahli bedah penyakit dalam. Jadi, atasan saya meminta saya untuk tugas sementara di sini."


"Dokter. Kenapa setelah aku pulang kembali ke rumah, dokter tidak pernah menghubungi aku lagi? dokter seperti cepat banget melupakan aku."


Dokter Fadlan tersenyum.


"Oh. Itu. Yah, maaf. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Jadi saya sering sekali melupakan sesuatu. Bahkan, Lisa juga sering saya lupakan."


"Apakah dokter sudah menikah dengan Lisa?" tanya Mentari.


"Ya. Udah satu bulan ini kami sudah menjadi suami istri."


"Oh. Sekali lagi saya minta maaf. Karena saya lupa, dan saya juga tidak punya banyak waktu untuk mengurus pernikahan saya. Karena semua yang mencatat undangan pernikahan itu istri saya, Lisa."


'Ih, kenapa sih ini Dokter Fadlan. Jadi formal banget begini. Dulu aja dia nggak begini-begini amat. Tatapannya juga dingin sekali.' batin Mentari.


Dokter Fadlan menatap ke arah bayi yang ada dalam gendongan Mentari.


"Dia anak kamu? anak yang dulu tidak pernah kamu inginkan?" tanya Dokter Fadlan.


"Iya Dok. Ini Dani anak saya. Dia masih bayi. Dan sekarang usianya sudah menginjak tiga bulan."


Fadlan manggut-manggut.


"Sudah bertemu dengan ayah kandungnya?" tanya Dokter Fadlan.


Mentari bingung harus menjawab apa. Padahal ayah kandung bayi itu, adalah lelaki yang ada di ruang operasi. Dia lelaki yang menjadi pasien dokter Fadlan.


"Em, belum Dok. Karena aku belum pernah melihat dia lagi sampai saat ini," bohong Mentari.


"Jadi kamu masih tinggal sendiri dengan ayah kamu?" tanya Dokter Fadlan.


"Ayah aku, sudah meninggal Dokter. Dan sekarang aku tinggal dengan Tante aku."


"Oh. Gitu. Ya udah Mentari. Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Aku masih punya banyak kerjaan."

__ADS_1


"Yah Dok. Padahal, aku ingin ngobrol lebih lama lagi sama Dokter."


"Lain kali aja ya. Dan lagian, aku juga sudah punya istri. Aku nggak mau, Lisa salah paham sama kedekatan aku dan kamu, seperti dulu."


Mentari hanya mengangguk.


"Iya. Aku tahu itu," ucap Mentari.


Setelah bercakap-cakap agak lama dengan Mentari, dokter Fadlan kemudian melangkah pergi meninggalkan Mentari.


Sementara Mentari, hanya bisa melongo menyaksikan kepergian Fadlan.


"Dia lelaki yang baik. Beruntung banget Lisa bisa mendapatkan lelaki baik seperti dokter Fadlan. Andai dokter Fadlan suka sama aku beneran, aku juga pasti tidak akan pernah menolaknya untuk menjadikan dia ayah dari bayi aku," gumam Mentari panjang lebar.


"Tapi entah kenapa, aku melihat ada yang berbeda dari dia. Dia tidak sehangat dulu. Dia sekarang berubah sangat dingin padaku. Padahal, dulu dia sangat perhatian sama aku. Ini semua pasti karena dia terlalu bucin sama istrinya. Lisa itu wanita galak dan pencemburu. Aku tahu itu, pasti Dokter itu takut sama istrinya," ucap Mentari.


Mentari terkejut saat tiba-tiba saja, ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang


"Mentari. Kamu lagi ngapain di sini. Tadi Tante cariin ternyata kamu ada di sini," ucap Bu Novi.


"Eh, Tan. Ada apa Tan?"


"Ayo kita ke sana! Katanya Mario sudah siuman."


"Apa! cepat banget Mario siuman. Dia nggak jadi meninggal Tan?"


"Hush ngomong apa kamu barusan. Kalau dia meninggal. Kasihan anak kamu. Nggak punya ayah."


"Cari ayah lain lah Tan," ucap Mentari sekenanya.


"Sudah. Nggak usah ngaco. Siapa lelaki yang mau sama kamu. Wanita yang sudah punya anak tanpa seorang suami. Lebih baik, kamu doakan saja Mario agar dia cepat sembuh. Setelah itu kalian nikah aja."


Mentari terkejut saat mendengar ucapan Tantenya.


"Apa! nikah sama Mario?"


"Ya emang kenapa? kalian itu kan sudah pernah melakukan hubungan terlarang itu. Kenapa nggak diterusin aja. Kata Aira, Mario juga cinta mati sama kamu."


"Tapi aku nggak cinta sama Mario Tan."


"Itu sih, urusan belakangan. Kalau sudah nikah, nanti kalian juga akan saling mencintai kok."


"Tante. Tapi aku nggak mau nikah sama Mario."


"Tapi kamu harus nikah sama dia demi anak kamu. Biar dia punya bapak. Nggak usah mengharapkan cinta dari lelaki yang sudah beristri seperti Fabian. Biarkan Fabian dan istrinya bahagia dengan kehadiran bayi mereka. Kamu nggak usah jadi pengusik rumah tangga orang lagi. Karena Tante tidak suka dengan seorang pelakor."


"Apa! pasti Aira kan yang cerita macam-macam sama Tante."


"Iya. Pokoknya, kamu dan Aira itu akan Tante didik dengan didikan yang baik. Agar kalian tidak pernah lagi mencintai lelaki yang sudah punya istri. Karena Tante pernah merasakan bagaimana sakitnya di khianati suami."

__ADS_1


__ADS_2