Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Keributan di kantin


__ADS_3

Siang ini, Ryan ke luar dari ruangannya dan melangkah ke kantin. Ryan terkejut saat melihat Aira tampak sedang menggenggam erat tangan Fabian. Ryan hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Udah satu minggu ditinggal istrinya, udah seperti ini kelakuan dia," gumam Ryan.


Ryan melangkah dan duduk di sisi Aira.


"Hai, cantik. Aku cariin ternyata kamu ada di sini," sapa Ryan pada Aira.


"Ryan. Siapa yang nyuruh kamu duduk di sini," Aira tampak kesal.


Malas juga jika dia harus ketemu dengan Ryan. Cowok sok ganteng yang suka sekali gombalin para karyawan di kantor.


"Rupanya, ada yang mau belajar selingkuh?" Ryan menatap ke arah Fabian.


Fabian segera melepaskan genggaman tangan Aira.


"Kamu bicara apa Ryan? jangan sok tahu kamu," ucap Fabian kesal.


Ryan hanya menyeringai. Akhir-akhir ini, Ryan memang sengaja sering membuat Fabian kesal. Ryan juga geram saat mendengar cerita dari Luna kalau Fabian sering sekali menyakiti hati Syanum.


Fabian melangkah dan mendekat ke arah Ryan. Tiba-tiba saja...


Bugh...


Satu pukulan keras, sudah mendarat ke pipi Ryan.


"Aaah..." teriak Aira. Dia terkejut saat melihat adegan Fabian memukul wajah Ryan.


Fabian tiba-tiba saja memukul Ryan, yang membuat orang-orang yang ada di kantin saling menatap. Mungkin Fabian merasa tersinggung dengan kata-kata Ryan tadi.


Fabian sudah lekas mencengkeram kerah baju Ryan.


"Ngomong apa kamu tadi? ayo katakan sekali lagi...! aku habisi kamu Ryan...!" geram Fabian.


Ryan sama sekali tidak takut dengan kemarahan Fabian. Sejak tadi, dia masih mengusap darah yang ke luar dari pojok bibirnya.


Ryan sama sekali tidak terkecoh. Dia sejak tadi masih santai menghadapi kemarahan kakak sepupunya itu.


"Fabian, Ryan, kalian kenapa sih. Malu-maluin aja. Jangan berantem di sini! kalau mau berantem tuh di luar sana. Nggak malu, apa dilihatin orang," ucap Aira menatap Ryan dan Fabian bergantian.


"Dia udah ngata-ngatain aku Ra. Dia udah bilang aku selingkuh. Dan aku nggak terima," ucap Fabian sembari menunjuk ke arah wajah Ryan.


"Eh, Kak. Siapa yang bilang kamu selingkuh? aku nggak bilang seperti itu. Kalau kamu memang nggak selingkuh, ya kamu harusnya nggak usah marah seperti ini dong," ucap Ryan.


"Ryan. Kamu ini ya. Suka sekali bikin onar. Sekarang mending kamu pergi aja deh dari sini. Nggak usah ganggu-ganggu orang." Aira mengusir Ryan.


Fabian sejak tadi, masih mencoba untuk meredam emosinya. Sejak kepergian Syanum, Fabian tampak frustasi dan emosinya juga tidak pernah stabil.


Aira yang sudah merasa gerah dengan suasana di kantin, segera menyeret Ryan untuk menjauh dari Fabian.


"Ryan sudah cukup! kamu itu kenapa sih. Selalu bikin ulah saja sama Fabian. Berhenti deh untuk kamu manas-manasin Fabian."

__ADS_1


"Apa! manas-manasin Fabian. Bukannya kamu yang selama ini, selalu berusaha untuk mendekati Fabian? kamu sering manas-manasin Fabian agar dia semakin membenci Syanum?"


"Hah, apaan sih Ryan. Sok tahu aja kamu."


Beberapa saat kemudian, Luna datang dan buru-buru menghampiri Ryan.


"Kak Ryan. Kamu ternyata ada di sini?" Luna menatap Ryan lekat.


"Lho, kakak kenapa berdarah?" tanya Luna yang melihat sisa darah di sudut bibir Ryan.


Aira pergi begitu saja saat melihat kedatangan Luna. Dia tidak mau, ikut-ikutan dalam masalah keluarga Fabian.


"Ini semua gara-gara Fabian," ucap Ryan sembari memegang pipinya yang tadi kena tonjok.


"Kamu berantem lagi sama Kak Abi? kenapa sih? kayak anak kecil aja berantem melulu."


"Sejak Syanum pergi, aku melihat ada yang berubah dalam diri Fabian," ucap Ryan.


"Dia jadi pemarah dan sangat kasar," lanjut Ryan.


"Ya udah. Nggak usah dekat-dekat Kak Abi. Dia itu lagi stres karena ditinggal Kak Syanum. Sekarang di mana Om Damar? aku harus temui dia."


"Mau ngapain?" tanya Ryan.


"Aku mau cerita tentang Syanum ke Om."


"Lho kok gitu? bukankah Syanum melarang kamu untuk cerita ke siapapun kalau dia ada di rumah kita."


"Ya udah. Om Damar masih ada di ruangannya kayaknya."


Luna kemudian bergegas untuk ke ruangan Pak Damar. Luna mengetuk pintu ruangan itu.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam.


Beberapa saat kemudian, Pak Damar tiba-tiba saja sudah datang dan berdiri di belakang Luna.


"Ada apa Lun?" tanya Pak Damar.


Luna menoleh ke arah Pak Damar dan tersenyum.


"Om. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Om."


"Sesuatu apa?"


"Ini soal Syanum Om."


"Syanum? apa kamu sudah menemukannya?"


"Kita bicara di dalam aja Om. Nggak enak kalau bicara di luar."


Pak Damar mengangguk. Setelah itu, Pak Damar membuka pintu ruangannya dan mengajak ponakannya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Duduk Lun! kita bicara di sini."


Luna duduk. Begitu juga dengan Pak Damar. Setelah mereka duduk, Luna menatap lekat wajah Fabian.


"Sekarang, kamu ceritakan apa kamu sudah menemukan Syanum?"


"Aku akan cerita keberadaan Syanum sekarang sama Om. Tapi Om janji ya, Kalau Om nggak akan pernah ceritakan hal ini ke siapapun termasuk Kak Fabian."


"Baiklah. Apa yang kamu ketahui sekarang?"


"Kak Syanum, sebenernya ada di rumah aku Om. Dia datang ke rumah aku satu minggu yang lalu. Dia nggak mau pulang, dan semua ini gara-gara Kak Fabian."


"Benarkan apa dugaanku. Syanum itu pergi pasti karena Fabian. Dia takut melihat Fabian ngamukin kamarnya. Dan sampai membanting foto pernikahan mereka segala."


"Om. Ada sesuatu juga yang harus Om tahu."


"Apa?"


"Kak Syanum katanya ingin cerai dari Kak Fabian."


Pak Damar membelalakkan matanya. Dia terkejut dengan penuturan Luna.


"Apa! Syanum bilang begitu ke kamu?"


"Om. Sebelum Om menikahkan Kak Syanum dengan Kak Abi. Seharusnya Om itu berfikir dua kali Om. Mereka itu tidak saling mencintai. Dan mereka juga baru saling kenal. Dan pasti akan ada salah satu dari mereka yang tersakiti seperti Kak Syanum."


"Maksud kamu apa Lun?"


"Apa Om tahu. Kalau Kak Fabian itu, tidak pernah mencintai istrinya. Malam itu, waktu Kak Fabian ngamuk-ngamuk di kamarnya, kata Kak Syanum, Kak Fabian itu baru menemui Mentari. Mantan pacarnya."


"Apa!"


"Om. Mentari itu udah kembali ke rumahnya. Dan Kak Fabian itu sangat mencintai Mentari. Makanya dia mencoba untuk dekat lagi dengan Mentari setelah dia kembali. Kasihan Kak Syanum Om."


Pak Damar tampak berfikir. Memang dia mengambil keputusan yang gegabah waktu itu. Untuk menutupi rasa malunya, ia harus mengorbankan Syanum untuk menikah dengan Fabian.


Pak Damar, sejak tadi masih mendengarkan Luna bicara.


"Om. Apa yang akan Om lakukan sekarang? Kak Syanum sudah tidak mau kembali dengan Kak Fabian. Dia malah memaksa untuk pulang kampung. Tapi aku melarangnya Om."


"Lun. Om tahu sekarang. Om memang sudah egois karena sudah memaksa mereka untuk menikah."


Luna dan Pak Damar masih saling diam.


"Begini aja Lun. Untuk sekarang, kamu temani Syanum dulu di rumah kamu. Biar Om nanti yang akan sadarkan Fabian. Om akan bertindak tegas sama dia. Agar dia mau melupakan Mentari dan mau menerima Syanum."


"Om. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau Kak Fabian tidak mencintai Syanum, aku kasihan sama Kak Syanum. Dia juga butuh lelaki yang mau mencintai dia dan anaknya."


"Iya iya...Om tahu. Biar Om yang akan menyelesaikan masalah ini. Tugas kamu, cuma temani Syanum. Jaga dia, karena sekarang dia sedang hamil muda. Kalau dia tidak mau pulang ke rumah Om, biarkan dulu dia di rumah kamu. Pokonya jangan sampai Syanum pulang kampung. Karena Om sudah janji sama Pak Herman, kalau Om akan selalu menjaga dan menyayangi Syanum seperti anak kandung Om sendiri."


"Iya Om."

__ADS_1


"Bahkan Pak Herman sebelum pergi, sempat berpesan. Kalau Syanum dan Fabian tidak boleh sampai bercerai."


__ADS_2