
Di dalam kamar, Syanum tampak masih bercakap-cakap dengan suaminya.
"Udah sholatnya?" tanya Fabian setelah Syanum selesai membuka mukenanya.
Syanum mengangguk. Setelah itu dia melipat mukenanya dan meletakan mukenanya di tempat biasa dia meletakkan mukena.
Setelah itu, Syanum kemudian melangkah ke arah sofa dan duduk di sisi suaminya.
"Syanum. Aku mau mandi," ucap Fabian.
"Iya terus?" Syanum menatap Fabian lekat.
"Kamu bisa kan siapkan aku baju?" tanya Fabian.
"Maaf Tuan muda, aku nggak bisa. Aku mau bantu-bantu di dapur untuk menyiapkan makan malam. Kalau Tuan muda mau mandi, mandi saja dan Tuan muda bisa ambil sendiri baju di lemari."
"Lho. Kok gitu sih. Kamu kan biasanya menyiapkan baju untuk aku. Kenapa sekarang kamu malah lebih mentingin dapur. Di dapur kan sudah ada dua pembantu."
"Tapi aku lagi malas aja Tuan muda melayani kamu. Kamu itu kan udah dewasa. Bisa kan ambil baju sendiri."
Fabian melotot ke arah Syanum.
"Kenapa kamu jadi seperti ini sih. Cepat banget berubah. Kemarin kamu perhatian banget sama aku. Sekarang kenapa kamu jadi berubah sih. Dasar cewek aneh."
Syanum tidak mau memperdulikan lagi suaminya. Dia bangkit berdiri. Dia akan melangkah pergi. Namun Fabian buru-buru mencekal tangan istrinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Fabian.
"Aku kan sudah bilang kalau aku mau ke dapur," ucap Syanum.
"Ambilkan aku makan. Aku mau makan di sini saja."
"Kenapa nggak mau makan di bawah?"
"Aku lagi malas ketemu Mama dan Papa."
"Tuan muda. Nggak usah manja deh. Dimas aja yang anak kecil, nggak pernah makan di dalam kamar. Kenapa kamu yang udah dewasa mau makan di dalam kamar. Kamu mau memberi contoh yang buruk untuk Dimas?"
Fabian diam. Dia hanya bisa menghela nafas dalam. Sebenarnya Syanum masih kesal saja dengan kejadian kemarin malam. Fabian ternyata sampai saat ini, masih diam-diam memikirkan Mentari. Tanpa dia tahu, perasaan istrinya. Mungkin itu yang membuat Syanum berubah menjadi cuek seperti ini.
****
Malam ini, di ruang makan sudah berkumpul Dila, Dimas, Syanum, Pak Damar dan Bu Reva.
"Ke mana suami kamu Syanum?" tanya Bu Reva.
"Dia masih ada di dalam Ma," jawab Syanum.
"Lho. Kamu kok nggak suruh dia turun?" tanya Pak Damar.
"Nggak Pa. Karena tadi Mas Fabian belum mandi."
"Ih, jorok banget udah malam gini belum mandi. Udah pulang kerja dari tadi, malah belum mandi," celetuk Dila.
__ADS_1
Dila memang tidak suka dengan orang pemalas. Dia tahu, kalau selama ini adiknya itu pemalas dan manja.
"Syanum. Sekarang panggil suami kamu sana! suruh dia makan di sini bersama kita," pinta Bu Reva.
"Tapi tadi, Mas Fabian, maunya minta makan di kamar Ma."
"Idih. Makan di kamar. Nggak malu tuh sama Dimas. Dimas aja yang anak kecil, makan di sini. Tempat makan itu di sini. Bukan di kamar," ucap Dila lagi.
"Ya udah deh. Aku akan panggilkan dia lagi." Syanum bangkit berdiri.
"Tunggu Syanum. Kamu di sini aja. Biar kakak yang akan panggilkan suami kamu,' ucap Dila.
Syanum mengangguk. Dila kemudian bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah pergi ke kamar Fabian.
Tok tok tok...
"Fabian...! Fabian...!"
Beberapa saat kemudian, Fabian membuka pintu.
"Kak Dila. Ada apa Kak?" tanya Fabian.
"Udah mandi?"
"Udah Kak."
"Turun sekarang! semua sudah nungguin kamu di ruang makan."
"Iya Kak. Sebentar lagi."
"Iya deh iya. Aku lagi malas bolak-balik soalnya Kak."
"Udah cepat turun! jangan membuat kami menunggu lama!"
"Iya Kak."
Fabian akhirnya mengikuti kakaknya untuk turun ke bawah.
Sesampai di ruang makan, Dila kemudian duduk. Begitu juga dengan Fabian yang duduk di sisi istrinya.
Malam ini, suasana di ruang makan masih hening. Hanya suara sendok dan garpu saja, yang sejak tadi masih saling bersahut-sahutan.
"Bagaimana Fabian dengan tawaran Papa yang tadi sore. Kamu mau kan pergi ke Bali untuk bulan madu dengan Syanum?" tanya Pak Damar membuka pembicaraan.
"Wah, ceritanya pengantin baru mau ke Bali nih?" Dila menatap Syanum dan Fabian bergantian.
"Iya Dil. Papa itu kan punya dua voucher gratis untuk nginap di salah satu hotel bintang lima di Bali. Jadi Papa akan berikan dua voucher itu untuk Syanum dan Fabian," jelas Pak Damar.
"Oh. Gitu?" Dila manggut-manggut tampak mengerti.
"Iya Dil. Nggak mungkin kan dua voucher gratis itu untuk kami. Kami sudah tua-tua untuk apa kami pakai acara nginap di Bali. Di sini aja kerjaan banyak," ucap Pak Damar.
"Bagaimana Syanum? kamu mau kan, kalau besok kamu dan Fabian ke Bali?" tanya Pak Damar meminta persetujuan dari anak menantunya.
__ADS_1
Syanum menatap Bu Reva dan Pak Damar.
"Mama dan Papa yakin mau ngajakin aku ke Bali?"
"Bukan kami yang mau ke Bali. Tapi kamu dan Fabian. Tiketnya kan cuma ada dua" ucap Bu Reva.
"Aku boleh nggak ngajakin Dimas?" tanya Fabian.
"Lho. Kok jadi bawa-bawa anak aku sih Bi. Kan yang mau bulan madu kamu dan Syanum. Untuk apa ngajakin Dimas segala," celetuk Dila.
"Tapi, aku malas kalau harus berangkat hanya berdua bersama Syanum aja," ucap Fabian dengan malas.
"Fabian. Nggak boleh seperti itu. Namanya pengantin baru itu pasti harus bulan madu. Menikmati malam-malam indah bersama. Kalau di Bali, kalian itu tidak akan terganggu," ucap Pak Damar.
"Syukur-syukur, nanti pulang kalian bawa kabar baik untuk Mama," ucap Bu Reva.
"Kabar apaan Ma?" tanya Dila.
"Mudah-mudahan saja setelah bulan madu Syanum hamil dan Mama bisa gendong cucu lagi," ucap Bu Reva yang membuat Syanum terkejut.
Uhuk uhuk uhuk...
Syanum tersedak makanannya sendiri saat mendengar ucapan ibu mertuanya. Syanum buru-buru mengambil minum dan meminum air putih yang ada di gelasnya.
"Hati-hati Syanum minumnya," ucap Kak Dila.
Fabian sejak tadi, tampak tidak mau menghiraukan ucapan keluarganya. Dia masih disibukan dengan ponsel yang ada di tangannya.
Ting.
Suara notifikasi tiba-tiba saja terdengar. Fabian buru-buru membuka chat dari Aira.
(Bi. Lagi ngapain Bi?)
'Ah, Aira lagi, Aira lagi. Apa dia nggak tahu apa kalau aku lagi kumpul sama Mama dan Papa.' batin Fabian.
Fabian juga tidak mau menghiraukan chat dari Aira. Dia mulai menghabiskan makanannya. Setelah makanan habis, Fabian memutuskan untuk meninggalkan ruang makan.
"Aku mau ke kamar Ma, Pa," ucap Fabian.
"Fabian. Besok ya kamu berangkatnya," ucap Pak Damar.
"Terserah Papa. Atur aja sendiri apa yang menjadi keinginan Papa," ucap Fabian sembari pergi.
"Ih. Dasar anak nggak sopan banget sih. Main pergi begitu aja," ucap Kak Dila.
"Udah Dil. Biarkan saja dia," ucap Bu Reva.
Setelah menghabiskan makanannya, Syanum kemudian menatap ke arah mertuanya.
"Syanum juga ke kamar dulu ya Ma, Pa."
"Oh. Iya Syanum," ucap Pak Damar.
__ADS_1
Syanum kemudian bangkit berdiri. Dia melangkah pergi mengikuti suaminya ke kamar.