Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Membayar hutang


__ADS_3

Bu Adela diam. Bu Adela bingung dengan apa yang akan dia katakan pada Bu Novi.


"Bu... kenapa Bu?" tanya Bu Novi


"Oh. Nggak apa-apa. Mario..." Bu Adela menggantungkan ucapannya.


"Sebenarnya Mario itu sedang nggak ada di rumah sekarang Ma," ucap Aira menimpali.


Aira tampaknya ingin membantu Bu Adela untuk menjelaskan pada ibunya. Kalau saat ini, Mario memang tidak ada.


"Oh. Terus dia ke mana?" tanya Bu Novi penasaran.


"Dia pergi dari rumah Bu. Dan dia belum kembali," jawab Bu Adela.


Bu Novi terkejut. Dia mengernyitkan alisnya bingung.


"Apa! pergi dari rumah? emang kenapa?" ucap Bu Novi yang sudah meninggikan nada suaranya.


"Karena, ayahnya sudah sempat mengusir Mario dari rumah. Dan selama beberapa bulan ini, dia pergi dan saya tidak tahu di mana keberadaan dia sekarang," jelas Bu Adela.


"Ya ampun," ucap Bu Novi.


"Mario itu sebenernya sudah sejak dulu jadi anak yang sulit untuk di atur. Padahal dia itu anak kami satu-satunya dan dia satu-satunya anak yang kami harapkan untuk menjadi penerus ayahnya di perusahaan," lanjut Bu Adela.


"Oh. Gitu ya Bu." Bu Novi manggut-manggut tampak mengerti.


Sejak tadi, Mentari hanya diam mendengar percakapan ibu Mario dan Tantenya. Sebenarnya Mentari tahu, di mana keberadaan Mario sekarang. Tapi dia enggan untuk mengatakannya. Dia takut, kalau Bu Adela akan memaksa Mentari untuk menikah dengan Mario.


Oek..oek...oek...


Tiba-tiba saja Dani menangis.


"Kayaknya, Dani lapar deh," ucap Bu Adela.


Bu Adela kemudian menatap Mentari.


"Mentari. Anak kamu, kayaknya lapar. Ini Mentari, susui anak kamu dulu," ucap Bu Adela.


"Maaf Tan. Dani sudah nggak menyusu ke aku."


Bu Adela tampak terkejut dengan ucapan Mentari. Bagaimana mungkin bayi yang belum genap dua bulan sudah tidak menyusu lagi pada ibunya.


"Lho. Kenapa Mentari. Terus Dani kamu kasih susu formula?" tanya Bu Adela.


"Iya. Lebih baik begitu kan Tan. Aku malas menyusuinya. Karena sakit Tan kalau dia menyusu ke aku," ucap Mentari.


"Maksud kamu apa? Dani sudah nggak menyusu di kamu lagi? dia pakai susu formula ya. Apa ASI kamu nggak keluar?" Bu Adela sudah melontarkan beberapa pertanyaan pada Mentari.


Mentari hanya bisa diam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Bu Adela.


Bu Adela masih heran saja sama Mentari. Kenapa dia bisa bicara seperti itu. Padahal Dani itu anak kandungnya. Dan usia Dani juga belum ada dua bulan.


"Mentari. Namanya seorang ibu, awal-awal menyusui juga seperti itu. Merasakan sakit. Tapi lama-lama juga nggak kok," Bu Adela tampak menasihati.


"Tan aku malas Tan. Menyusui anak itu. Aku capek," ucap Mentari sinis.


"Lho. Kamu kok bicara begitu. Ini anak kamu lho Tar," ucap Bu Adela.


Mentari bangkit berdiri. Tanpa banyak basa-basi lagi, Mentari melangkah pergi meninggalkan Tantenya, sepupunya, dan ibunya Mario di ruang tengah.


"Mentari. Kamu mau ke mana?" tanya Bu Novi.

__ADS_1


Bu Novi merasa tidak enak sendiri dengan Bu Adela, karena sikap Mentari yang ketus.


"Em, Bu Adela. Maafkan sikap ponakan saya ya," ucap Bu Novi.


Bu Adela tersenyum.


"Oh. Nggak apa-apa Bu Novi. Mungkin Mentari lagi capek."


Oek...oek...oek...


Tangis Dani semakin kencang saja. Membuat Bu Adela bingung untuk menenangkannya.


"Ra. Tolong Ra. Buatkan Dani susu!"pinta Bu Novi


"Iya Ma."


Aira melangkah untuk ke dapur membuatkan susu untuk Dani. Sementara Bu Novi bangkit berdiri. Dia melangkah ke arah Bu Adela dan mengambil Dani dari pangkuan Bu Adela.


"Maaf ya Bu Adela. Kalau Dani nangis dan nggak bisa di diamin. Biasanya kalau seperti ini, dia lagi lapar, atau haus. Bisa juga karena dia ngompol," ucap Bu Novi.


Bu Novi kemudian menggendong Dani dan mencoba untuk menenangkan Dani.


"Oh. Iya saya tahu. Namanya juga bayi." Bu Adela memaklumi.


Beberapa saat kemudian, Aira melangkah ke arah ruang tengah.


"Ini Ma, susunya." Aira menyodorkan botol susu ke arah ibunya. Bu Novi mengambilnya dan lekas memberikan susu formula itu pada Dani.


Setelah Dani mulai diam, Bu Adela berpamitan untuk pulang.


"Ya udah. Kalau begitu saya pulang dulu ya. Nanti saya akan ke sini lagi," ucap Bu Adela.


"Oh. Iya Bu." Bu Novi mengangguk.


"Nggak usah Aira. Di depan juga masih banyak taksi kok."


"Benar, Tante mau naik taksi aja?"


"Iya."


Bu Novi tiba-tiba saja, memberikan Dani pada Aira.


"Ibu mau antar Bu Adela sampai ke depan. Tolong gendong dulu Daninya."


"Iya Ma."


Setelah Dani berada di dalam gendongan Aira, Bu Novi kemudian melangkah ke depan untuk mengantar Bu Adela sampai ke teras.


"Saya permisi dulu ya Bu Novi," ucap Bu Adela sebelum pergi.


"Oh iya."


"Saya nanti akan ke sini lagi untuk melihat Dani. Saya juga ingin tes DNA Dani juga. Saya ingin tahu, sebenarnya Dani itu benar-benar anak Mario atau bukan."


"Oh. iya."


Bu Adela kemudian melangkah ke jalan raya untuk menunggu taksi.


****


Ring ring ring...

__ADS_1


Suara telpon Fabian berdering.


"Aira. Mau ngapain dia telpon," ucap Fabian.


Fabian kemudian mengangkat telpon dari Aira.


"Bi. Bisa nggak nanti kita ketemuan di kantin."


"Ketemuan. Mau ngapain?"


"Aku mau bicara penting."


"Bicara soal apa?"


"Soal hutangnya Om Riko."


"Kita mau di kantin aja ketemuannya?"


"Iya. Di kantin juga nggak apa-apa kan? lagian aku lagi malas untuk ke luar."


"Ya udah.Aku lagi banyak kerjaan nih Ra. Aku lagi mau fokus kerja dulu. Nanti jam istirahat aku ke kantin deh. Kebetulan dari pagi aku belum makan."


"Oh. Iya Bi."


Fabian mematikan saluran teleponnya. Setelah itu dia menatap ke arah monitornya kembali.


Fabian yang sejak tadi masih fokus dengan kerjaanya, menatap jam tangannya.


"Lho. Ternyata sudah jam istirahat. Aku fikir, ini masih pagi," gumam Fabian.


Fabian menutup layar monitornya. Setelah itu dia bangkit berdiri. Fabian melangkah ke luar dari ruangannya untuk ke kantin menemui Aira.


Sesampai di kantin, dia menatap ke sekeliling. Tidak dilihatnya orang-orang ada di kantin.


"Kok masih sepi. Pada ke mana ini orang-orang kantor," ucap Fabian.


Beberapa saat kemudian, Aira datang.


"Bi."


Fabian menoleh ke arah Aira.


"Eh Ra. Kamu udah datang."


"Duduk yuk Bi!" Aira mengajak Fabian duduk.


Fabian mengangguk. Aira dan Fabian kemudian duduk bersama di kantin kantor.


"Kamu mau bicara apa Ra?" Fabian sudah mulai serius.


"Aku cuma mau mengembalikan ini," ucap Aira sembari meletakan amplop coklat di atas meja.


"Apa ini?"


"Sebelum Om Riko meninggal, dia sudah mengamanati ke aku, untuk membayar semua hutang-hutangnya termasuk ke kamu."


"Oh."


"Dan aku cuma mau mengembalikan separuhnya dulu."


"Duh Ra. Kenapa harus buru-buru untuk mengembalikannya sih. Siapa tahu, kamu dan Mentari masih membutuhkan uang itu."

__ADS_1


"Nggak Bi. Kamu harus terima uang ini. Ini uang hasil dari penjual rumah. Ini baru ada sepuluh juta. Sisanya nanti ya Bi. Kalau sudah ada uang lagi."


"Iya Ra."


__ADS_2