
Fabian masih berada di teras depan rumahnya. Dia masih kefikiran dengan Mentari. Dia juga sejak tadi, masih menunggu ke dua orang tuanya.
"Ke mana ya, mama dan papa? Kenapa mereka lama sekali? ada apa sebenarnya? kenapa mereka meninggalkan hapenya dan tidak menghubungiku? kalau ada masalah penting, kenapa mereka tidak mengabariku?"
Fabian sejak tadi masih mondar-mandir di teras. Matanya sesekali menatap ke luar gerbang rumahnya. Berharap kalau ayah dan ibunya akan datang.
Ring ring ring ...
Suara ponsel Fabian berdering. Syanum yang sejak tadi masih berkutat di dapur, menghampiri ponsel suaminya yang tergeletak di atas meja makan.
"Kemana sih suamiku? dari tadi hapenya bunyi, kenapa nggak di angkat-angkat ya."
Syanum mengambil ponsel suaminya. Dia menatap nama yang tertera di hape suaminya.
"Ternyata Non Dila yang nelpon," ucap Syanum.
Syanum kemudian memberanikan diri untuk mengangkat telpon dari nomer Dila.
"Halo. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Syanum, di mana Fabian? papa mau bicara penting sama dia."
"Tunggu Pa. Syanum cari dulu. Tadi Tuan muda pergi ke luar."
Syanum kemudian buru-buru melangkah ke luar rumah untuk menghampiri suaminya yang ada di teras. Syanum menghentikan langkahnya saat dia sudah berdiri di belakang Fabian.
"Tuan Fabian. Papa nelpon," ucap Syanum.
Fabian tersenyum. Setelah itu dia mengambil hape yang ada di tangan Syanum.
"Halo Pa. Papa ke mana aja sih Pa? Papa sudah membuatku khawatir tahu nggak."
"Maafkan papa ya Fabian. Papa sekarang ada di rumah sakit."
"Di rumah sakit! siapa emang yang sakit?"
"Ada kabar buruk untuk keluarga kita Fabian. Kakak kamu. Kakak kamu dan suaminya mengalami kecelakaan kemarin sore."
"Terus, bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Kakak kamu masih belum sadarkan diri. Dia masih kritis dan sekarang dia ada di ruang ICU."
"Terus, bagaimana dengan Kak Ridho dan Dimas?"
"Dimas sudah di pindahkan ke ruang rawat. Karena lukanya tidak terlalu parah. Tapi kalau ayah Dimas, nyawanya sudah tidak bisa di selamatkan lagi."
"Apa! jadi, Kak Ridho sudah meninggal?"
Syanum yang ada di belakang Fabian langsung menutup mulutnya karena terkejut. Dia langsung menghampiri Fabian.
"Ada apa Tuan muda?"
Fabian diam. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun karena masih syok.
"Terus, bagaimana dengan jenasah Kak Ridho? dia mau di makamkan di mana?"
"Jenasahnya, mau di bawa ke rumah orang tuanya. Nanti, kamu ke rumah orang tua Ridho. Kamu bantu orang-orang di sana untuk mengurus pemakaman kakak ipar kamu."
"Terus mama dan papa, kapan kalian akan pulang?"
__ADS_1
"Mama kamu nggak bisa pulang. Dia harus menemani Dimas di sini. Dimas baru bangun. Dia masih rewel. Dia sejak tadi, masih menanyakan orang tuanya. Dan mungkin sebentar lagi, papa juga akan ke rumah orang tuanya Ridho untuk melihat pemakaman Ridho."
"Ya udah. Aku ke rumah sakit sekarang ya."
"Jangan! Papa kan sudah bilang tadi, kamu ke pemakaman kakak iparmu dulu. Papa juga mau ke sana. Nanti setelah selesai, barulah kita ke rumah sakit."
"Baiklah Pa."
Setelah bertelponan dengan ayahnya, fikiran Fabian mendadak kacau. Dia sejak tadi, masih syok. Tubuhnya merasa lemas sekali. Dia hampir saja terjatuh dan menyenggol tubuh istrinya.
"Auh..!" pekik Syanum saat kakinya terinjak oleh kaki Fabian.
"Tuan muda. Apa yang terjadi?"
Fikiran Fabian masih setengah sadar dan setengah tidak. Syanum kemudian segera membawa Fabian untuk duduk di kursi teras. Tanpa fikir panjang, Syanum melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum.
"Tuan muda, minum dulu." Syanum menyodorkan segelas air putih pada Fabian.
Fabian kemudian meminumnya sedikit.
"Makasih Syanum."
Syanum mengangguk.
"Syanum. Bersiap-siaplah. Temani aku ke rumah mertua Kak Dila. Kita harus ke sana sekarang. Kak Ridho meninggal dunia."
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, meninggal kapan Tuan muda?"
"Kak Ridho meninggal sejak tadi malam, Kak Dila kritis, dan Dimas, dia sedang dalam perawatan. Mereka kecelakaan pesawat tadi sore."
"Astaghfirullahaladzim. Baik. Tunggu dulu Tuan muda. Aku mau ganti baju dan siap-siap."
"Iya Tuan."
Syanum melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Fabian menunggunya di teras depan.
"Duh, Syanum kemana sih. Lama sekali," gerutu Fabian.
Fabian memang lelaki yang tidak suka menunggu terlalu lama. Dia juga bukan tipe lelaki yang penyabar.
"Syanum...! Syanum...! cepat sedikit Syanum...!" seru Fabian.
"Tuan muda, lagi nunggu Non Syanum ya. Kalau di teriakin dari sini, mana dia dengar Tuan muda. Kan kamar Non Syanum jauh banget di belakang. Lebih baik, Tuan muda samperin aja dia di kamarnya," ucap Mbak Asih.
"Aku samperin dia di kamarnya? dia itukan lagi ganti baju Mbak."
"Hehe... Tuan muda lupa, kalau dia itu sekarang istrinya Tuan muda. Kalian sudah halal, melakukan apapun. Jadi, untuk apa malu-malu lagi," goda Mbak Asih.
Fabian diam.
'Memang benar, Syanum sekarang istriku. Dan aku boleh ngapain aja sama dia.'
Tanpa berkata apapun, Fabian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia melangkah ke belakang untuk menghampiri Syanum.
"Syanum...! Syanum...!" suara Fabian sudah menggema di ruangan dapur.
Beberapa saat kemudian, Syanum menghampirinya.
"Tuan muda, maaf lama."
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain aja sih?! Ayo cepat...!" Fabian meraih tangan Syanum. Setelah itu dia menggandeng istrinya itu sampai ke depan.
Di depan, tampak Pak Herman sedang duduk di halaman depan. Dia menatap Syanum dan Fabian. Setelah itu dia melangkah ke arah mereka.
"Kalian berdua mau ke mana?" tanya Pak Herman.
"Ada kabar buruk Pak Herman. Suaminya Kak Dila meninggal dunia. Kak Dila kritis dan Dimas, sekarang dia rawat di rumah sakit, karena kecelakaan pesawat."
"Innalilahi. Kapan itu kejadiannya Tuan muda?"
"Tadi sore. Maaf Pak Herman, aku nggak bisa lama-lama. Aku akan pergi sekarang bersama Syanum."
"Apa perlu saya antar?"
"Tidak perlu. Aku bisa nyetir sendiri kok Pak Herman."
"Baiklah kalau begitu."
Pak Herman kemudian mendekat ke arah gerbang, dan membuka pintu gerbangnya. Sementara Syanum dan Fabian sudah masuk ke dalam mobilnya dan siap meluncur pergi.
***
Sesampai di rumah Ridho
kakak iparnya, Fabian dan Syanum turun dari mobilnya. Mereka kemudian melangkah ke depan rumah Ridho. Di sana, sudah tampak banyak orang yang melayat. Jenasah Ridho, tampak sudah siap untuk di bawa ke pemakaman.
Di dalam rumah, ke dua orang tua Ridho masih sesenggukan menangis. Syanum dan Fabian melangkah mendekati ke dua orang itu.
"Tante, Om. Saya turut berduka cita ya atas meninggalnya Kak Ridho," ucap Fabian.
Ayah dan ibu Ridho hanya mengangguk. Mereka tampak masih syok, dan belum bisa di ajak ngobrol. Kepergian anaknya itu sangat mendadak sekali, sehingga membuat keluarga Ridho yang lain, masih syok. Mereka merasakan duka yang mendalam atas kepergian Ridho.
Kesedihan masih menyelimuti orang-orang yang hadir dalam rumah duka, termasuk Fabian dan Syanum. Mereka juga ikut menangis saat melihat usungan jenasah itu. Mereka tidak menyangka kalau Ridho akan begitu cepat meninggalkan mereka.
Setelah pemakaman selesai, Syanum dan Fabian pamit untuk pulang.
"Tante, Om, aku dan Syanum pergi dulu ya. Kami harus segera ke rumah sakit. Karena kami juga sangat mengkhawatirkan kondisi Kak Dila dan Dimas."
"Iya. Hati-hati ya kalian. Jangan ngebut bawa mobilnya. Tolong, selalu kasih kabar ke kami, tentang perkembangan kondisi cucu dan menantu saya," ucap ayah Ridho.
"Iya. Itu pasti Om."
Setelah berpamitan dengan orang tua Ridho, Fabian kemudian mengajak Syanum ke rumah sakit.
Seandainya ada Mentari, mungkin bukan Syanum yang di ajak untuk menemani Fabian. Tapi Mentari. Dan entah, apa yang akan Fabian lakukan saat Mentari kembali nanti. Mungkinkah dia akan mempertahankan Syanum, atau kembali lagi dengan Mentari.
Syanum dan Fabian masih menatap ke depan. Fabian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sejak tadi masih diam. Begitu juga dengan Syanum. Rasa canggung sudah menyelimuti keduanya.
Syanum menatap ke luar jendela kaca mobilnya. Dalam perjalanan, dia tidak berucap sepatah katapun. Mungkin dia takut salah bicara.
"Kita mau langsung ke rumah sakit?" tanya Syanum tiba-tiba.
Fabian hanya mengangguk pelan.
"Iya Syanum. Aku ingin melihat kondisi kakakku. Katanya dia masih berada di ruangan ICU."
"Sabar ya Tuan muda. Semua ini mungkin cobaan untuk kita semua."
"Iya."
__ADS_1
****