Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pembatas


__ADS_3

Fabian menyeruput kopinya kembali sembari menatap ke arah ponselnya. Ternyata sejak tadi, Fabian masih menatap foto Mentari.


"Sayang, aku kangen. Aku kangen banget sama kamu. Bagaimana sekarang keadaan kamu sayang? aku pengin banget ketemu kamu. Kenapa Mentari, kamu tega meninggalkan aku. Apa salah aku selama ini. Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku, apa salah aku sama kamu. Sehingga sampai membuat kamu pergi," gumam Fabian.


Fabian mengusap-usap foto Mentari yang ada di layar ponselnya. Setelah itu dia mencium foto Mentari.


"Aku mau tidur sayang. Selamat malam sayang. Selamat tidur, emmuah."


Fabian kemudian bangkit berdiri. Setelah dia berteleponan dengan Aira, Fabian melangkah ke arah kamarnya. Dia akan kembali tidur di sana.


Sesampainya di kamar, Fabian tidak langsung berbaring di sofa. Tapi Fabian melangkah ke jendela kamarnya. Dia kemudian menatap ke luar jendela.


"Mentari, aku nggak bisa tidur Mentari. Aku teringat kamu terus. Aku rindu sama kamu sayang," ucap Fabian.


Tak terasa, setetes air mata Fabian membasahi pipinya. Fabian segera mengusapnya kasar. Setelah itu, dia melangkah mendekat ke arah istrinya.


Fabian duduk di dekat Syanum dan menatap Syanum lekat.


"Maafkan aku Syanum. Karena aku tidak bisa memberikan sedikitpun hati aku untuk kamu. Selamanya, hati aku hanya untuk Mentari. Dan tidak akan pernah ada wanita lain, yang bisa menggantikan Mentari di hati aku. Maafkan aku Syanum. Karena aku tidak bisa memberikan kamu nafkah batin seperti suami lain, yang memberikan nafkah batin untuk istrinya. Tapi aku janji, selama pernikahan kita, aku tidak akan berbuat kasar sama kamu. Apalagi sampai main tangan. Karena aku tahu, kamu nggak salah sama sekali dalam hal ini," ucap Fabian.


Fabian terkejut saat Syanum tiba-tiba saja mengerjapkan matanya.


"Tuan muda. Kamu kenapa ada di sini?" tanya Syanum sembari beringsut duduk.


Fabian tampak gugup. Dia takut, kalau Syanum akan salah faham lagi sama dia.


"Aku nggak mau ngapa-ngapain. aku... aku cuma... emm... aku mau..."


"Kenapa? kamu kedinginan? kamu mau tidur di sini? Biar aku tidur di sofa," ucap Syanum yang seakan tahu, apa yang sedang di rasakan Fabian.


Fabian tersenyum.


"Syanum. Sebenarnya, tidur di sofa itu sempit. Aku nggak mau kamu tidur di sofa. Dan aku, juga sebenarnya nggak mau tidur di sofa."


"Ya udah. Kalau gitu, kita tidur bareng aja," celetuk Syanum.


"Apa, tidur bareng? sama kamu?" Fabian tampak terkejut.


Dia kemudian terdiam sejenak.


"Heuumm... aku tahu, apa yang ada di fikiran kamu Tuan muda. Kamu pasti lagi berfikiran mesum ya."


"Apa! nggak. Siapa yang sedang berfikiran mesum. Kamu kali,"


"Tuan muda. Aku tahu, ini kamar kamu. Kalau kamu mau tidur juga, di samping aku, aku juga nggak apa-apa kok. Kita buat aja pembatas."


"Pembatas?" Fabian mengernyitkan keningnya bingung.


"Iya pembatas. Seperti ini."


Syanum mengambil dua guling sekaligus dan meletakan guling itu di tengah-tengah tempat tidurnya.


"Ini adalah pembatas kita. Dan kamu boleh tidur di samping aku, asal kamu tidak boleh melewati batasan kamu," ucap Syanum.


"Baiklah." Fabian akhirnya menyetujui ide Syanum.


"Aku tidur di sini, hanya untuk malam ini saja Syanum. Tidak dengan hari-hari lain. Karena entah kenapa, tubuhku mendadak nggak enak banget begini. Kalau aku sudah bisa ambil kunci kamar tamu dari tangan Papa. Aku mau tidur di kamar tamu aja. Aku akan berikan kamar ini untuk kamu."


Syanum hanya mengangguk.


"Oke. Selamat tidur Tuan muda."


Syanum kemudian berbaring kembali dan membelakangi Fabian. Sementara Fabian, naik ke atas ranjang, dan berbaring membelakangi Syanum. Mereka kemudian tidur dalam satu ranjang.


****


Mentari di pagi ini, sudah bersinar cerah. Syanum mengerjapkan matanya dan terkejut saat melihat jam dinding sudah menunjukkan ke angka tujuh.

__ADS_1


"Ya ampun, aku kesiangan. Tuan Fabian, juga kesiangan. Bagaimana ini. Tuan Fabian kan harus ke kantor," ucap Syanum.


Syanum turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian melangkah menghampiri jendela kamarnya. Dia membuka gorden dan jendelanya.


"Duh, matahari juga udah terbit lagi," ucap Syanum.


Syanum kemudian membangunkan Fabian suaminya.


"Tuan muda, kamu nggak mau ke kantor?" tanya Syanum.


Fabian mengerjapkan matanya dan mengucek matanya.


"Syanum. Aku nggak enak badan. Aku nggak bisa bangun. Kepalaku pusing banget."


'Duh, jangan-jangan Tuan Fabian sakit lagi,' batin Syanum.


"Tuan Fabian sakit?" tanya Syanum.


Fabian mengangguk. Syanum mendekat ke arah Fabian dan memegang keningnya.


"Ya ampun, panas banget tubuh kamu Tuan muda," ucap Syanum.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar kamar Fabian terdengar.


"Fabian, Syanum, mau sampai kapan kalian di dalam? udah siang banget begini kenapa kalian masih di dalam. Meja makan udah mau di beresin. Apa kalian nggak mau sarapan?" seru Bu Reva dari luar kamar Syanum.


"Iya Ma iya..." Syanum buru-buru turun dari ranjangnya dan melangkah untuk membuka pintu.


Tampak Bu Reva sudah berdiri di depan kamar Syanum.


"Mama."


CK ck ck ck. "Dasar pengantin baru. Suka banget bangun siang," celetuk Bu Reva.


Bu Reva hanya senyam-senyum sendiri saat melihat Syanum.


"Tuan muda, lagi sakit Ma. Semalam, dia kehujanan. Dan tubuhnya panas."


"Apa! Fabian juga sakit?"


Syanum mengangguk.


"Iya Ma. Oh iya. Mama mau ke mana? kok pagi-pagi udah rapi banget?" tanya Syanum.


"Mama mau ajak Dila ke rumah sakit. Untuk kontrol kesehatannya."


Syanum manggut-manggut. "Oh. "


"Ya udah. Kamu mau sarapan nggak? tuh Mbak Asih mau beresin meja makan."


"Beresin aja Ma. Kalau aku dan Tuan muda mau makan, nanti kita ambil sendiri."


"Ya udah. Mama mau pergi dulu sekarang."


"Dimas ikut Mama?" tanya Syanum.


"Iya. Kami mau di antar ayah kamu ke rumah sakitnya," ucap Bu Reva.


"Oh, ayah udah pulang? jadi dia udah ngantar Papa ke kantor? Ya udah. Hati-hati di jalan ya Ma."


"Iya. Tolong jagain Fabian ya."


Syanum mengangguk. Setelah itu Bu Reva pergi meninggalkan kamar Syanum.


Syanum menutup pintunya kembali. Setelah itu dia melangkah ke arah Fabian.

__ADS_1


"Tuan muda. Apa Tuan muda mau makan?" tanya Syanum.


"Aku lagi nggak enak makan Syanum."


"Terus Tuan muda mau apa? mau aku belikan obat?"


"Aku juga nggak mau minum obat."


"Lalu? apa yang harus aku lakukan agar Tuan muda bisa cepat sembuh? Kalau makan dan minum obat nggak mau, kapan Tuan muda akan sembuh? kalau begitu, aku kompres aja ya."


"Terserah kamu."


Syanum kemudian melangkah ke luar dari kamarnya untuk mengambil alat-alat kompres untuk mengompres suaminya.


Beberapa saat kemudian, Syanum kembali ke kamar untuk mengompres Fabian yang tubuhnya sangat panas.


"Aku kompres dulu ya Tuan muda. Biar demam kamu, semakin menurun."


Syanum kemudian menempelkan handuk kecil ke kening Fabian. Dia merawat suaminya dengan sangat telaten. Karena seperti apapun perlakuan Fabian padanya, Fabian tetap suaminya. Dan sudah kewajiban Syanum untuk merawat Fabian saat dia sakit.


"Tuan muda. Makan ya. Nanti aku ambilkan," ucap Syanum.


Fabian menggeleng.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku nggak mau makan. Aku nggak lapar dan nggak ingin makan Syanum."


"Tapi Tuan muda. Tuan muda harus makan. Kalau nggak makan, nanti Tuan muda, akan tambah sakit."


"Syanum. Jangan paksa aku untuk makan. Karena aku lagi nggak enak makan."


"Kalau gitu, Tuan muda minum obat ya. Aku akan belikan obatnya di apotik di depan sana."


"Nggak usah Syanum. Kamu tetap di sini. Kamu nggak boleh pergi."


"Ya udah. Aku akan minta Mbak Asih atau Mbak Fani untuk belikan kamu obat."


"Terserah kamu lah Syanum."


Syanum kemudian melangkah pergi untuk memanggil pembantunya.


"Mbak Fani. Bisa minta tolong nggak?" tanya Syanum pada Fani pembantu barunya.


"Tolong apa Non?"


"Tolong, belikan obat untuk suamiku."


"Di mana Non?"


"Di depan jalan sana kan ada apotik. Mbak bisa membelinya di sana."


"Tapi saya nggak tahu jalannya Non. Kan saya baru di sini."


"Biar sama saya saja. Saya akan tunjukan jalan ke apotik sama kamu Mbak Fani," ucap Mbak Asih yang tiba-tiba saja sudah berada di antara Mbak Fani dan Syanum.


Mbak Fani tersenyum.


"Iya Mbak Asih. Terimakasih," ucap Mbak Fani.


"Ngomong-ngomong, Tuan muda sakit? sakit apa Non?" tanya Mbak Asih.


"Dia demam. Sepertinya dia sakit karena kehujanan semalam," jawab Syanum.


"Jadi, semalam Tuan muda kehujanan? Dan pulang jam berapa Tuan muda semalam?" tanya Mbak Asih.


"Jam, sembilan malam," jawab Syanum.


"Makasih banyak ya. Maaf, aku sudah ngerepotin kalian. Soalnya, Tuan muda lagi nggak mau di tinggal." Syanum menatap Mbak Asih dan Mbak Fani bergantian.

__ADS_1


"Ah, biasa. Namanya juga pengantin baru," goda Mbak Asih.


"Apaan sih Mbak. Suka banget, ngeledek aku kayak gitu," ucap Syanum semakin malu.


__ADS_2