
Dila tersenyum sinis dan dia menatap tajam ke arah Fabian.
"Kenapa Bi? kamu takut hah!"
"Nggak. Aku nggak takut. Silahkan, silahkan laporkan saja ke Syanum. Aku juga udah nggak perduli sama Syanum," ucap Fabian tampak menantang.
Fabian bangkit berdiri. Setelah itu, dia pergi begitu saja tanpa makan ataupun minum. Saat ini, dia memang sedang sangat kesal dengan kakaknya, karena Dila sudah memotretnya diam-diam waktu di makam ayahnya Mentari.
"Kenapa si Abi? dia kok belum makan udah pergi?" tanya Bu Reva.
"Nggak usah fikirkan dia Ma. Dia kan memang menyebalkan," gerutu Dila.
Fabian melangkah pergi ke luar dari rumahnya. Dia kemudian menuju ke arah garasi untuk mengambil mobilnya.
"Benar-benar menyebalkan Kak Dila." Fabian tiba-tiba saja menendang ban mobilnya.
Dia menatap ke arah ban mobilnya.
"Pakai acara kempes lagi. Malas banget kalau aku harus lama-lama di sini. Aku pengin cepat-cepat ke kantor," gerutu Fabian.
Fabian tidak tinggal diam. Dia kemudian naik taksi untuk sampai ke kantornya. Fabian melangkah ke jalan raya untuk menunggu taksi. Fabian kemudian masuk ke dalam taksi itu.
"Jalan Pak!" pinta Fabian.
"Baik Mas."
Beberapa saat kemudian, Fabian sampai di depan kantornya. Fabian turun dari taksi setelah membayar ongkos taksi.
Fabian melangkah masuk ke dalam kantornya. Sesampai di dalam ruangannya, dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang kerjanya.
Fabian bersandar di kursi. Dia kemudian mengambil foto Syanum yang diam-diam dia simpan di dalam laci mejanya.
Fabian meletakan foto Syanum di meja dan dia kemudian menatap foto itu lekat.
"Aku benar-benar nggak ngerti dengan jalan fikiran kamu Syanum. Kenapa kamu pergi begitu saja, dan sekarang kamu menginginkan kita bercerai. Padahal, kita kan bisa saja, memulai semuanya dari awal. Apakah sudah tidak ada kesempatan lagi untuk aku bersama kamu lagi Syanum," gumam Fabian.
Fabian bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke jendela ruangan kerjanya.
Fabian menatap ke bawah. Di mana dia bisa melihat jalanan dari lantai lima. Karena ruangan Fabian ada di lantai lima.
Fabian terkejut saat melihat sosok Ryan ke luar dari mobil. Dia ternyata tidak sendiri. Tapi dia bersama Syanum dan Luna.
Fabian menatap dengan seksama ke arah wanita yang ada di dalam mobil.
"Syanum. Benarkah itu Syanum," ucap Fabian.
Fabian mengucek matanya. Dia takut kalau dia akan salah lihat. Tapi ternyata benar, kalau ternyata yang ada di dalam mobil itu Syanum dan Luna.
'Oh, aku tahu. Jadi selama ini, Syanum ada sama Luna. Dan selama ini, mereka semua menyembunyikan semua ini dari aku. Aku yakin, kalau mama, papa, dan Kak Dila, pasti tahu semua ini.' batin Fabian.
"Apa sebenarnya yang sedang mereka semua rencanakan dari aku. Selama ini Syanum ada bersama Luna, kenapa aku nggak pernah tahu. Benar-benar menyebalkan."
Fabian sejak tadi, tampak resah. Dia masih mondar-mandir di dalam ruangannya. Entah kenapa belakangan ini, dia masih terus saja memikirkan Syanum.
__ADS_1
Sejak pertemuannya dengan Syanum saat di apotik, membuat Fabian setiap hari galau. Dia takut, kalau ucapan Syanum benar-benar menjadi nyata. Kalau mereka akan cerai.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu ruangan sudah terdengar dari luar ruangan Fabian.
"Masuk...!" seru Fabian.
Beberapa saat kemudian, Hera wanita muda yang selama ini menjadi sekretaris Pak Damar, masuk ke dalam ruangan Fabian.
"Permisi Pak," ucap Hera.
"Bu Hera. Ada apa?" tanya Fabian.
"Bapak sudah di tunggu Pak Damar di ruangannya," Jawab Hera.
"Papa nunggu aku? mau ngapain?" tanya Fabian lagi.
"Sebentar lagi, meeting akan segera di mulai Pak. Dan Pak Damar, menyuruh anda untuk segera ke ruangannya," jelas Hera.
"Iya. Saya ke sana sekarang."
Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangannya diikuti Hera di belakangnya.
Fabian melangkah ke ruangan ayahnya. Dia terkejut saat melihat Ryan juga sudah ada di sana.
"Selamat pagi Pa."
"Pagi Bi. Silahkan duduk Bi." Pak Damar mempersilahkan Fabian untuk duduk.
"Ada apa papa manggil aku ke sini?" tanya Fabian
"Saya cuma mau membicarakan soal pekerjaan dengan kamu dan Ryan," ucap Pak Damar.
Pak Damar menatap Ryan dan Fabian bergantian.
"Akhir-akhir ini, perusahaan sedang mengalami penurunan. Dan hari ini, akan ada tamu penting di kantor kita. Dia Pak Jonathan yang akan menjalin kerja sama dengan kantor kita. Dan Papa minta sama kamu dan Ryan, untuk menyiapkan semuanya dari sekarang, sebelum meeting di mulai."
"Iya Om," ucap Ryan.
"Saya nggak mau, meeting ini sampai gagal, dan Pak Jonathan membatalkan begitu saja kerja samanya. Saya cuma berharap, untuk kalian berdua, tolong jaga kekompakan kalian. Jangan bikin rusuh atau apapun itu yang membuat kita gagal lagi seperti waktu itu."
"Baik Om," ucap Ryan lagi.
Sejak tadi, Fabian hanya diam. Cuma Ryan yang bicara dan mendengarkan. Entah ke mana fikiran Fabian saat ini.
"Fabian. Kamu mengerti kan dengan apa yang papa ucapkan?" tanya Pak Damar.
"Iya. Aku ngerti Pa."
"Kamu ini kenapa sih. Beberapa hari ini, kerja nggak pernah fokus."
"Maaf Pa. Aku memang lagi ada yang aku fikirin."
__ADS_1
Pak Damar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya.
****
Siang ini, Syanum masih berada di butik Luna. Beberapa hari ini, butik Luna memang lagi ramai pembeli. Seperti hari-hari biasanya, butik itu juga selalu ramai.
Luna merasa, kalau Syanum itu adalah gadis yang membawa keberuntungan untuk butiknya. Karena sejak Syanum tinggal bersamanya, butik itu semakin hari, semakin ramai saja. Dan omset yang di dapatkan meningkat pesat.
Syanum juga merasa bahagia, karena sejak dia membantu Luna di butik Luna, Luna sering sekali memberikan uang kepadanya sebagai upah karena Syanum sudah sering sekali membantu Luna di butiknya.
Syanum masih berdiri dan ngobrol dengan pelanggan Luna.
"Sudah berapa bulan kandungannya?" tanya seorang ibu memegang perut Syanum.
Syanum tersenyum.
"Sudah lima bulan Bu. Mau menginjak enam bulan," jawab Syanum.
"Wah, cepat ya ternyata."
"Iya Bu."
"Udah nggak mual-mual lagi kan seperti dulu?"
Syanum menggeleng. "Nggak Bu."
"Ya udah. Ibu doakan, nanti bayinya lahir dengan selamat ya."
Syanum tersenyum."Makasih Bu."
Luna menatap dari kejauhan Syanum dan Bu Dahlia pelanggan tetap butiknya.
"Aku seneng deh, Kak Syanum sekarang sudah semangat lagi. Tapi, bagaimana nanti kalau dia udah cerai dari Kak Abi. Aku nggak mau, Kak Syanum itu pergi ke kampungnya lagi. Nanti, aku nggak punya teman dong. Dan siapa yang mau bantu-bantu aku di butik. Aku pengin Kak Syanum itu sama aku terus. Karena dia itu wanita yang rajin. Dan aku suka dengan kinerjanya," gumam Luna.
Luna melangkah mendekat ke arah Syanum. Dia kemudian menatap Bu Dahlia yang ada di depannya Syanum.
"Bu Dahlia. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna.
"Oh. Iya. Saya cuma mau ngobrol sebentar sama Syanum. Dia sekarang kelihatan jadi lebih cantik ya Lun. Padahal waktu pertama kali aku lihat dia itu nggak secantik ini."
"Iya Bu. Syanum itu kan sekarang ikut perawatan juga. Makanya dia jadi kelihatan lebih glowing."
"Hehe...kamu memang hebat Lun. Masih muda, tapi sudah bisa membuka banyak bisnis salon dan butik," puji Bu Dahlia.
"Iya. Harus gitu dong Bu. Biar nggak ngerepotin orang tua."
"Iya. Aku dukung kamu terus Lun." ucap Bu Dahlia.
"Iya. Aku juga jadi pengin seperti Luna. Jadi wanita yang mandiri. Tanpa tergantung sama suami dan orang tua. hehe..." ucap Syanum terkekeh.
"Bisa, kalau ada keinginan yang kuat dalam diri kita. Iya kan Bu."
"Iya. Kamu bekerja di sini, sekalian aja belajar sama Luna," ucap Bu Dahlia.
__ADS_1
"Iya Bu."