
Waktu sudah menunjukkan jam 2 malam. Bu Reva dan suaminya masih terlelap di kamarnya.
Ring ring ring...
Suara ponsel Bu Reva sejak tadi masih berdering. Bu Reva mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ke atas nakas dan mengambil ponselnya.
"Ah, siapa sih yang malam-malam begini nelpon. Ganggu orang aja,'' gerutu Bu Reva.
Bu Reva kemudian mengangkat nomer tak di kenalnya.
"Halo..."
"Halo... benar ini dengan keluarga suadari Dila?"
"Iya. Saya mamanya Dila. Ada apa?"
"Saya dari pihak rumah sakit, mau memberi tahu, kalau Mbak Dila, suami dan anaknya, sekarang berada di rumah sakit. Mereka kecelakaan pesawat sejak sore tadi."
Bu Reva membelalakan matanya. Dia syok saat mendengar kabar itu. Bu Reva, tampak masih tidak percaya kalau Dila anak sulungnya kecelakaan.
Bu Reva sejak tadi masih bengong. Dia menjatuhkan ponsel yang di pegangnya.
"Halo... halo... halo..."
Bu Reva menatap suaminya yang masih terlelap. Dia kemudian membangunkan suaminya.
"Pa, bangun Pa. Ayo bangun! Anak kita Pa. Anak kita."
Pak Damar mengerjapkan matanya dan langsung beringsut duduk. Dia kemudian mengucek matanya dan menata ke arah istrinya.
"Ada apa sih Ma? kamu kok kelihatan panik begitu?" tanya Pak Damar.
"Dila Pa. Dila... hiks...hiks..."
"Lho, kok mama malah nangis?"
Bu Reva tampak kelu untuk bicara. Dia hanya bisa menangis.
Pak Damar menatap ponsel yang ada di depan Bu Reva. Pak Damar kemudian mengangkat telpon itu.
"Halo. Ini siapa?"
"Halo Pak. Kami dari pihak rumah sakit. Ingin memberi tahukan… kalau Mbak Dila kecelakaan pesawat bersama suami dan anaknya."
"Apa! kecelakaan pesawat? kapan?"
"Kecelakaannya sejak tadi sore Pak. Dan sekarang Mbak Dila sudah di berada di rumah sakit."
Pak Damar sejak tadi masih menjawab telpon dari pihak rumah sakit. Sementara Bu Reva tidak bisa menahan tangis. Doa sejak tadi masih menangis.
"Pa, kita harus segera ke sana sekarang Pa. Aku takut terjadi apa-apa sama Dila. Dan bagaimana dengan keadaan Dimas cucu kita."
"Iya Ma, iya."
Pak Damar kemudian mengakhiri pembicaraannya di telpon.
"Baik, terimakasih atas informasinya. Saya dan istri saya akan segera ke sana sekarang."
__ADS_1
Pak Damar dan Bu Reva bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Mereka akan melihat kondisi Dila, anak dan suaminya. Mereka takut, akan terjadi apa-apa sama keluarga kecil Dila.
Pak Damar dan istrinya kemudian melangkah ke luar kamar dan menuju ke depan. Mereka langsung menuju garasi untuk mengambil mobil.
"Masuk Ma." Pak Damar membuka pintu mobilnya.
Setelah itu, Bu Reva masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Pak Damar. Dia ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur ke rumah sakit tempat Dila berada.
"Pa, ayo Pa. Cepat sedikit. Mama sangat mengkhawatirkan Dila. Bagaimana kondisi dia sekarang."
"Iya Ma, iya. Ini juga udah cepat Ma. Kita jangan terlalu terburu-buru. Kita juga harus hati-hati di jalan. Karena ini masih malam hari Ma. Dan kondisi papa juga baru bangun tidur. Nggak mungkin papa ngebut-ngebut."
"Tapi mama takut terjadi apa-apa dengan anak kita Pa."
"Ma, jangan panik Ma. Kita berdoa saja, semoga Tuhan memberikan keselamatan untuk Dila, anak dan suaminya."
Bu Reva sejak tadi, memang masih panik. Sebelum dia bertemu dan melihat kondisi Dila, dia tidak akan pernah bisa tenang.
Sesampai di rumah sakit, Bu Reva dan Pak Damarpun kemudian turun dari mobil mereka. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Mereka melangkah ke arah resepsionis.
"Suster. Pasien atas nama Dila, di rawat di mana ya?" tanya Pak Damar.
"Dila korban kecelakaan pesawat?"
"Iya benar," ucap Bu Reva.
"Dia sekarang masih berada di ruang UGD. Kalau Dimas, anaknya sudah di pindah ke ruangan Melati."
"Oh, makasih banyak ya sus."
Di ruang UGD, tampak seorang dokter, keluar dari ruangan itu. Pak Damar dan Bu Reva segera menghampiri dokter itu.
"Dokter. Bagaimana kondisi Dila?" tanya Bu Reva.
"Kalian keluarga pasien?"
"Iya Dok. Saya ibunya. Dan ini ayanya Dila." Bu Reva menujuk suaminya.
Dokter diam. Sepertinya ada sesuatu yang sangat serius mengenai kondisi Dila.
"Dokter, apa yang terjadi Dok?" tanya Pak Damar.
"Kondisi Mbak Dila saat ini kritis. Dia kehilangan banyak darah. Dan dia harus di rawat intensif dulu. Karena sampai sekarang dia belum sadarkan diri."
"Dokter, tolong Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya."
"Iya Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Tapi, maafkan kami, karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Mbak Dila."
Pak Damar dan Bu Reva saling menatap.
"Apa? jadi maksudnya Dila hamil? dan sekarang dia keguguran?"
Dokter mengangguk.
"Tapi saya mohon. Jika pasien sadar, jangan bilang apa-apa dulu sebelum kondisinya membaik. Saya takut, kejadian ini akan menganggu keadaan jiwanya."
"Baik Dok."
__ADS_1
"Terus, bagaimana kondisi menantu dan cucu saya."
"Suami Mbak Dila, sempat di bawa ke rumah sakit ini. Tapi nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit."
"Inalilahi wa Inna ilaihi raji'un," ucap Pak Damar.
Bu Reva terkejut saat mendengar kabar itu. Dia hampir saja jatuh pingsan. Tubuh Bu Reva terhuyung ke belakang. Untung saja Pak Damar dengan sigap menangkapnya.
"Mama. Duduk dulu Ma," pak Damar membawa Bu Reva untuk duduk.
Hiks...hiks...
Tangis Bu Reva semakin kencang saja saat mendengar peristiwa tragis yang menimpa anak dan menantunya.
"Dokter, terus kalau Dimas anaknya Dila? bagaimana kondisinya."
"Alhamdulillah, Dimas baik-baik saja. Dia tidak mengalami luka yang terlalu parah seperti ke dua orang tuanya. Dan dia sudah ada di ruang rawat."
"Dokter, apa dokter sudah memberi tahu keluarga Ridho, menantu saya."
"Iya Pak. Saya sudah memberi tahu mereka. Dan mungkin mereka bisa datang besok pagi, sekalian akan membawa jenazah pulang ke rumah duka."
"Makasih banyak ya Dok. Untuk informasinya. Kalau begitu, saya akan ke ruangan Dimas."
"Iya. Silahkan Bu, Pak."
Pak Damar kemudian mengajak Bu Reva untuk menemui Dimas yang sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat.
"Pa, kenapa semuanya jadi seperti ini?"
"Sabar Ma. Semua ini mungkin adalah ujian untuk keluarga kita."
"Kemarin Mentari yang pergi. Sekarang, menantuku juga pergi. Kenapa cobaan menimpa keluarga kita dengan bertubi-tubi."
"Mungkin ini teguran Ma, untuk kita. Karena selama ini, kita sudah melupakan Allah."
"Iya. Mungkin ya Pa."
Pak Damar, merangkul istrinya untuk menemui Dimas. Sesampai di depan ruangan Dimas, mereka membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
Pak Damar dan Bu Reva menatap Dimas lekat. Mereka merasa iba melihat kondisi Dimas saat ini. Dimas anak yang masih berusia lima tahun itu, sudah harus mengalami peristiwa yang tragis. Dia juga sudah kehilangan ayahnya dan menjadi yatim.
Pak Damar mendekat ke arah cucunya. Dia kemudian memeluk cucunya erat dan menciumnya.
"Dimas sayang, ini Opa Dimas. Cepat sadar ya Dimas. Opa kangen sama kamu. Udah lama, kamu tidak pulang ke rumah Opa," ucap Pak Damar sembari mengelus rambut Dimas.
Pak
Bu Reva dan Pak Damar sejak tadi masih berdiri di sisi cucunya. Mereka benar-benar tidak tega melihat kondisi cucunya saat ini.
Wajah mulus Dimas, penuh luka. Kepalanya juga harus di perban akibat benturan benda keras yang mengenai kepalanya. Sementara Bu Reva dan Pak Damar, belum bisa melihat kondisi anak perempuannya yang masih berada di UGD.
Bu Reva bersandar di bahu suaminya. Dia menghela nafas dalam.
"Kasihan Dila dan Dimas Pa. Kenapa suami Dila, harus meninggal secepat itu. Mama nggak tega. Mama harus bicara apa, pada Dimas kalau dia terbangun. Dan bagaimana kalau Dila sadar, apa yang harus kita katakan sama dia. Dia sudah kehilangan dua orang sekaligus. Suami dan calon bayinya."
"Sabar Ma. Semua cobaan, pasti akan ada hikmahnya." Pak Damar hanya bisa memberi kekuatan pada istrinya juga pada dirinya sendiri. Dia akan berusaha sabar menerima semua cobaan ini.
__ADS_1