Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Donor darah


__ADS_3

"Saya sebagai ketua RT di sini, sangat menyayangkan dengan apa yang sudah Mentari perbuat. Dia sudah melakukan percobaan bunuh diri. Dan yang saya khawatirkan, bagaimana anak yang ada di dalam kandungan Mentari?" ucap Pak Iwan, ketua RT setempat.


"Ini kali ke dua dia akan melakukan percobaan bunuh diri," ucap Fadlan yang membuat orang-orang menatapnya.


"Maksudnya? apa sebelumnya, dia juga sudah pernah melakukan hal yang sama seperti tadi?" Bu Sella menatap Fadlan lekat.


"Saya pernah menemukan dia di pinggir jembatan. Dia akan terjun ke sungai."


Beberapa orang saling menatap.


"Dan sepertinya, karena pemerkosaan itu, membuat kejiwaan Mentari terganggu. Mungkin dia syok saat dia tahu kalau pemerkosaan itu sampai membuatnya hamil. Dan dia mencoba untuk mengulangi perbuatan itu lagi. Padahal, saya sudah sering bilang, dan menasihati dia. Agar dia tidak mengulang hal itu lagi. Tapi ternyata dia masih melakukan hal yang sama seperti apa yang dulu pernah dia lakukan," lanjut Fadlan.


"Begitulah, kalau orang yang lemah iman. Dia tidak akan bisa berfikiran jernih," ucap Pak RT.


"Kalau masalahnya seperti itu, saya tidak akan tega untuk mengusir Mentari dari rumah kontrakan saya walaupun dia sudah hamil di luar nikah. Saya justru sangat iba melihat kondisinya yang sekarang."


"Bu Sella, Pak RT, saya minta maaf, karena saya harus kembali ke rumah sakit. Saya harus kembali bekerja dan sekalian, saya mau melihat kondisi Mentari."


Semua orang hanya mengangguk. Mereka kenal betul siapa dokter Fadlan. Dokter Fadlan sudah terkenal di kalangan mereka. Dokter Fadlan adalah dokter yang terkenal sangat baik.


Dia punya klinik kecil yang letaknya lumayan jauh dari rumah kontrakan Mentari. Dokter Fadlan selalu memberikan fasilitas gratis untuk orang-orang tak mampu. Seperti berobat gratis, dan jika pasien tidak punya uang, Dokter Fadlan rela memeriksa mereka secara cuma-cuma. Dan mereka akan membayar setelah mereka punya uang.


Di sekitar rumah kontrakan Mentari, banyak pasien-pasien langganan Dokter Fadlan. Seperti Bu Sela.


"Iya Dokter. Hati-hati di jalan," ucap Bu Sela.


Setelah berpamitan pada Bu Sella dan orang-orang yang ada di depan rumah kontrakan Mentari, Dokter Fadlan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah kontrakan itu.


Fadlan masuk ke dalam mobilnya dan lekas meluncur meninggalkan rumah kontrakan itu.


Sesampainya di rumah sakit, Fadlan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Fadlan turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster. Di mana pasien yang tadi di bawa ambulans ke mari?" tanya Fadlan pada suster penjaga resepsionis.


"Dia sedang ditangani oleh Dokter Zahra. Dan sekarang, dia ada di ruangan UGD."


Fadlan buru-buru melangkah pergi ke ruangan UGD. Fadlan buru-buru masuk ke dalam ruangan itu, untuk melihat Mentari dan membantu Dokter Zahra menangani Mentari.


"Bagaimana keadaan Mentari?" tanya Fadlan pada Zahra rekan kerjanya.


"Denyut jantungnya melemah. Dia kehilangan banyak darah. Tapi..."


"Tapi apa Dokter Zahra?"


"Kita kehabisan stok darah untuk golongan darah AB."

__ADS_1


"Golongan darah Mentari AB?"


"Iya dokter Fadlan. Di rumah sakit ini, stok darah memang sudah habis."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita harus mencari pendonor dengan golongan AB."


Fadlan tampak berfikir. Dari mana dia bisa mendapatkan donor dengan golongan darah AB. Sementara Fadlan saja, sampai sekarang tidak tahu siapa yang bergolongan darah AB.


"Dokter. Kita harus cepat melakukan transfusi darah.Kalau tidak, nyawa Mentari tidak akan tertolong. Apakah Mentari punya ayah, ibu, adik, atau kakak dengan golongan darah yang sama?"


"Aku tidak tahu, keluarga Mentari. Karena sebelumnya, aku juga tidak mengenal gadis itu. Dan gadis itu, tidak mau cerita apa-apa tentang keluarganya."


"Terus. Apa yang harus kita lakukan?"


"Kita cari orang yang bergolongan darah AB," ucap Fadlan.


Fadlan tidak tinggal diam. Dia harus mendapatkan donor darah untuk Mentari saat ini juga. Fadlan kemudian buru-buru keluar dari ruang UGD. Dia terkejut, saat di depan ruangan itu, sudah ada Lisa tunangannya.


"Lisa. Kamu ngapain ke sini?" tanya Fadlan.


"Mas, aku ke sini mau tahu, keadaan Mentari. Bagaimana kondisi Mentari sekarang Mas?" tanya Lisa.


"Emang, darah apa yang cocok untuk Mentari?"


"AB."


"Mas, golongan darah aku juga AB. Bagaimana kalau kamu ambil saja darah aku untuk Mentari."


Fadlan menatap lekat calon istrinya.


"Kamu yakin, akan mendonorkan darah kamu untuk Mentari?"


"Iya Mas. Kasihan dia. Dia harus bisa diselamatkan."


"Iya. Apalagi sekarang dia sedang hamil."


Lisa terkejut saat mendengar ucapan suaminya.


"Hamil?"


"Iya Lis. Karena pemerkosaan itu, Mentari hamil. Dan saat dia tahu kalau dirinya hamil, dia mencoba untuk bunuh diri lagi."


"Sekarang Mas. Lakukan sekarang sebelum terlambat! Mentari harus bisa diselamatkan begitu juga dengan bayi yang ada dalam kandungannya."

__ADS_1


Fadlan mengangguk. Dia sangat bersyukur karena ternyata golongan darah Lisa itu sama dengan golongan darah Mentari. Dan Lisa mau dengan senang hati, mendonorkan darahnya untuk Mentari.


"Makasih ya sayang. Kamu wanita yang sangat baik. Beruntung aku mendapatkan wanita sebaik kamu."


"Iya Mas."


Fadlan dan tunangannya, kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan UGD.


***


Di sisi lain, Pak RT dan Bu Sella masih bercakap-cakap di depan rumah kontrakan Mentari setelah semua orang bubar dari tempat itu.


Pak RT menghela nafas dalam.


"Saya sangat prihatin dengan kondisi Mentari. Sepertinya dia itu memang gadis yang baik. Dia pendiam dan tidak banyak bicara. Kasihan dia harus bernasib seperti ini. Kenapa ya tidak ada yang lapor polisi untuk kasus ini," ucap Pak RT.


"Kalau bukan karena dokter baik itu, saya tidak akan mungkin mengizinkan gadis itu untuk ngontrak di rumah saya. Karena saya takut, akan ada banyak masalah lagi setelah ini," ucap Bu Sella.


"Maksud Bu Sella apa?" tanya Pak RT.


"Dokter Fadlan saja tidak tahu, siapa Mentari dan asal-usulnya Pak RT. Saya takut terlibat dalam masalah Mentari, seandainya keluarganya sampai menemukan dia ada di sini. Bagaimana kalau mereka fikir, saya yang sudah menyembunyikan Mentari selama ini."


Pak RT menatap tajam ke arah Bu Sella. Dia masih belum mengerti maksud ucapan Bu Sella.


"Maksud ibu apa? apa ibu sudah tahu banyak tentang Mentari?"


"Kata Dokter Fadlan, Mentari itu kabur dari pesta pernikahannya. Dan dia tidak mau dipulangkan ke rumah orang tuanya. Alasannya ya itu. Dia malu dengan aibnya. Karena sebelum pernikahannya terjadi, Mentari diperkosa oleh seorang lelaki. Dan tidak ada satu orang pun yang mengetahui hal itu, karena Mentari sudah kabur duluan. Tanpa cerita-cerita pada orang lain."


"Oh."


"Terus apa yang ibu takutkan?"


"Saya takutnya, Mentari itu bukan anak orang sembarangan. Barangkali dia anak orang kaya. Kita tidak ada yang tahu kan. Dan bagaimana kalau keluarga Mentari menyangka saya yang menyembunyikan Mentari. Dan mereka menuntut saya."


Hehe...


"Jangan berfikiran seperti itu Bu Sella. Fikiran Bu Sella sudah terlalu jauh. Kalau ada salah satu keluarga Mentari datang, bilang aja yang sejujurnya. Kenapa harus takut. Ya udah. Saya mau pulang dulu. Masih banyak kerjaan di rumah."


"Iya Pak RT."


Pak RT kemudian pergi meninggalkan Bu Sella yang masih duduk di teras rumah kontrakan Mentari.


Bu Sella bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap ke dalam rumah itu.


"Darahnya banyak sekali. Saya harus pel semua lantai yang ada di rumah ini," ucap Bu Sela.

__ADS_1


__ADS_2