
"Pasien atas nama Syanum di mana ya Sus?" tanya Dila setelah sampai di depan resepsionis.
"Oh, dia masih ada di ruangan UGD Mbak," jawab suster.
"Oh. Makasih ya Sus," ucap Dila lagi.
"Iya Mbak. Sama-sama."
Dila kemudian melangkahkan kakinya untuk sampai ke ruangan UGD. Di depan ruang UGD, Dila melihat Luna masih duduk di depan ruangan itu.
"Lun. Bagaimana Lun keadaan Syanum?" tanya Dila khawatir.
"Aku belum tahu Kak. Dokter belum keluar," jawab Luna.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Syanum sih Lun? kenapa dia bisa pendarahan?" tanya Dila.
"Kak. Maafkan aku. Karena aku tidak bisa menjaga Kak Syanum dengan baik. Dia pendarahan karena dia tadi terjatuh waktu di kamar mandi. Dia terpeleset Kak." Luna menjelaskan.
"Kok bisa sih Syanum sampai terpeleset. Kamar mandinya licin ya. Jarang dibersihin ya?"
"Nggak juga sih Kak. Mungkin lagi musibah aja kali Kak. Kalau di bersihin sih, hampir tiap hari. Karena aku juga punya karyawan untuk bagian bersih-bersih. Termasuk bersih-bersih toilet."
Beberapa saat kemudian, Dokter Anita yang terkenal sebagai dokter kandungan terbaik di rumah sakit itu, ke luar dari ruangan UGD.
"Dokter. Bagaimana kondisi Syanum Dok?" tanya Luna.
Dokter Anita tersenyum.
"Kalian nggak usah khawatir. Syanum dan kandungannya masih bisa diselamatkan. Tadi dia memang kehilangan banyak darah. Tapi, kami sudah menggantinya dengan transfusi darah. Untunglah stok darah di rumah sakit ini masih banyak."
"Alhamdulillah. Untunglah, kalau dia tidak apa-apa," ucap Dila.
"Untung Mbak Luna membawa Syanum tepat waktu ke sini. Kalau tidak, besar kemungkinan, bayi yang ada di dalam kandungan Mbak Syanum tidak akan selamat. Karena kebanyakan pendarahan itu akan mengakibatkan keguguran."
"Iya Dok. Makasih banyak ya Dok. Terus, apa saya boleh lihat adik ipar saya Dok?" tanya Dila.
"Maaf. Untuk sekarang, anda belum bisa melihat dia Mbak. Dia masih pingsan. Dan mungkin sebentar lagi, suster akan membawanya ke ruang perawatan. Dan anda bisa temui dia di sana."
"Baiklah Dok."
"Iya. Saya permisi dulu kalau gitu."
Dila dan Luna hanya mengangguk. Setelah berpamitan pada Dila dan Luna, dokter Anita kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum dan Luna yang masih berada di depan ruang UGD.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Kak Syanum tidak apa-apa. Aku khawatir banget sama dia tadi," ucap Luna.
"Aku juga Lun. Fikiran aku sudah ke mana-mana tadi." Dila menimpali.
****
Malam ini, Mentari sama sekali tidak bisa tidur. Dia sejak tadi masih berdiri di sisi jendela kamarnya. Sejak kepindahannya ke rumah tantenya, Mentari seperti orang bingung. Dia juga tidak terlalu perhatian lagi sama anaknya yang bayi.
Mentari masih menatap tajam ke arah bayinya. Bayinya sejak tadi rewel. Dani sejak tadi masih menangis dan tidak mau berhenti. Membuat Mentari sang ibu, merasa kesal sendiri.
"Ih. Kamu ini ya. Benar-benar menyebalkan tahu nggak. Kenapa sih dari tadi kamu nangis terus. Mama kan sudah ngasih susu buat kamu," omel Mentari.
Bayi itu masih saja menangis. Bukan ditenangin oleh Mentari, malah diomelin.
Setelah usia Dani memasuki dua minggu, Mentari tidak mau lagi memberikan ASI pada Dani. Dia lebih memilih untuk memberikan dia susu formula.
Setelah rumah Almarhum Pak Riko berhasil di jual satu hari yang lalu, Mentari kemudian di boyong Bu Novi untuk tinggal di rumahnya. Dan uang hasil jual rumah, belum Mentari bayarkan untuk hutang-hutang almarhum Pak Riko.
Mentari lebih memilih untuk menyimpan uang itu untuk keperluan hidupnya dengan anaknya dari pada untuk membayar hutang-hutangnya ke bank ataupun Fabian.
Oek...oek... oek...
Sejak tadi Dani menangis. Namun Mentari masih saja membiarkannya. Dia sama sekali tidak mau menyentuh anaknya itu.
"Mentari kemana sih. Anaknya nangis kok di diamin aja," ucap Bu Novi.
Bu Novi bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia melangkah untuk melihat Dani yang masih ada di kamarnya.
Sesampai di kamar Mentari, Bu Novi terkejut. Karena sejak tadi Mentari hanya mainan ponsel. Sementara anaknya dibiarkannya menangis.
"Mentari. Kamu lagi ngapain sih? itu Daninya sejak tadi nangis, kenapa kamu biarkan begitu aja sih?" ucap Bu Novi kesal.
"Aku lagi malas Tan, buatkan susu untuk dia. Sudah habis satu botol, masih aja rewel."
"Ya kamu berikan dia ASI dong. Emang ASI kamu nggak ke luar."
"Ke luar sih Tan. Tapi aku nggak mau Tan. Aku nggak mau ngasih dia ASI lagi. Sakit Tan aku."
Bu Novi hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat ponakannya. Mentari memang sangat keras kepala. Dia susah sekali untuk di atur. Sama saja dengan Aira anaknya. Mereka anak-anak yang keras kepala.
"Mentari. Awalnya memang sakit. Tapi lama-lama juga nggak akan terasa sakit lagi. Kasihan anak kamu nangis kayak gitu." Bu Novi tampak memberi nasihat.
"Biarinlah Tan. Kalau Tante mau, gendong aja sana. Aku capek Tan. Dari pagi sampai malam, aku harus ngurusin dia."
__ADS_1
"Ya ampun Mentari. Itu anak darah daging kamu. Kenapa kamu bicara seperti itu. Kasihan dia."
Bu Novi mendekat ke arah Dani dan mengendongnya. Dia mencoba untuk menenangkan Dani.
'Sebenarnya aku malas banget ngelihat anak itu. Kalau aku melihat ana itu, bawaannya aku jadi ke ingat sama Mario. Aku benci Mario. Seandainya itu anak Fabian, aku pasti akan seneng banget dan akan sayang banget sama anak itu. Dia itu, sama sekali tidak aku inginkan ada di dunia ini. Seharusnya dia itu sudah mati. Ini semua karena si Fadlan dokter rese itu,' batin Mentari.
Bu Novi kemudian melangkah pergi meninggalkan Mentari. Dia memaklumi keadaan ponakannya saat ini. Dia hamil dan melahirkan tanpa seorang suami. Memang tidak mudah, untuk Mentari menjalani hidupnya sekarang. Setiap dia ke luar dari rumah dan membawa anak itu, pasti akan ada yang bertanya tentang ayah bayi itu.
Setelah Bu Novi menggendong Dani ke luar, Mentari menangis. Dia menangis sesenggukan di dalam kamarnya.
"Kenapa hidup aku jadi begini. Dan Abi, kenapa sekarang dia cuek banget sama aku. Aku sudah sering kali menelpon dia dan chat dia. Tapi, dia nggak pernah mau balas dan angkat telpon dari aku. Apa mungkin, sekarang dia sudah mulai mencintai istrinya. Tapi dulu dia bilang, kalau dia tidak pernah mencintai Syanum dan tidak akan pernah mencintai dia. Tapi sekarang, dia berubah banget. Padahal saat ini, aku sangat membutuhkan dia untuk ada di samping aku."
Hiks...hiks ..hiks...
Bu Novi membawa Dani sampai ke ruang tengah. Beberapa saat kemudian, ketukan pintu dari luar rumah terdengar.
Bu Novi buru-buru membawa Dani melangkah ke depan untuk membuka pintu.
"Aira. Kamu baru pulang?" tanya Bu Novi.
"Jam berapa ini. Tumben banget kamu pulang malam?"
Aira tersenyum.
"Aku lagi lembur Ma. Capek banget."
Aira melangkah masuk begitu saja melewati ibunya. Dia tahu, kalau sekarang ibunya itu sedang menggendong Dani. Bu Novi menutup pintunya kembali dan melangkah mengekor di belakang Aira.
Aira duduk di ruang tengah dan meletakan tasnya di sampingnya duduk.
"Kamu lembur?"
"Iya Ma. Banyak kerjaan soalnya di kantor."
"Lho. Kok Dani sama Mama? ke mana Mentari?"
"Mentari ada di kamarnya Ra. Mungkin dia kelelahan karena seharian dia harus mengurus Dani. Jadi, biarkan aja lah dia. Kasihan."
Aira manggut-manggut mengerti.
"Ma, aku ke kamar dulu ya. Capek banget nih aku Ma."
"Iya Ra."
__ADS_1
Aira bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah pergi untuk ke kamarnya.