Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Malam pertama


__ADS_3

Pagi ini, mata hari sudah bersinar cerah. Sinar itu, sudah mulai merambat memasuki kamar Syanum dan Fabian, dua insan yang semalam telah memadu cinta di kamar yang selalu menjadi saksi pertengkaran mereka setiap hari.


Dan semalam, tidak ada lagi pertengkaran. Namun yang terdengar, hanya ada ******* dan erangan yang bersahut-sahutan yang terlontar dari bibir Syanum dan Fabian.


Setelah melewati lebih dari tiga bulan pernikahan mereka, akhirnya mereka bisa melakukan malam pertama dengan penuh cinta. Dan semua itu, tidak akan terjadi tanpa campur tangan Bu Reva.


Sejak Bu Reva mendengar obrolan Syanum dan Luna, dia berinisiatif untuk membeli obat perangsang dan memasukannya ke dalam minuman Fabian dan Syanum. Tapi sayangnya, hanya Fabian yang meminum susu itu. Tidak dengan Syanum.


Makanya semalam, hanya Fabian yang sangat bersemangat sekali sampai dia tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi. Namun, Syanum pasrah saja. Dia tidak berteriak, tidak lari, dan tidak pergi dari kamar. Dia hanya bisa ikut menikmati permainan Fabian malam tadi.


Saat ini, Syanum dan Fabian masih berada di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh mereka. Fabian merasa lelah, dengan pertempurannya semalam. Mereka tidak merasa, kalau hari ini, mereka sudah kesiangan. Jam di dinding juga sudah menunjuk ke angka sembilan.


Syanum yang merasakan silau, mengerjapkan matanya. Lengan besar suaminya, sejak tadi masih melingkar di atas tubuhnya.


Rasa sakit di bagian bawah sana, masih sangat terasa dalam tubuh Syanum. Dan itu tidak lain, karena ulah Fabian dan reaksi obat perangsang itu yang membuat Fabian tidak bisa berhati-hati untuk melakukannya.


"Duh, kepalaku pusing banget begini. Tubuh aku, juga rasanya sakit banget," ucap Syanum.


Syanum beringsut duduk. Dia menyingkap sedikit selimutnya untuk melihat di bawah selimut. Tampak bercak darah sudah berceceran di atas sprei.


Syanum menghela nafas dalam. Dia kemudian menatap suaminya.


"Kenapa Mas Fabian tidak melakukannya dengan pelan-pelan saja. Dia sudah menyakiti aku," gumam Syanum.


Syanum akan melangkah turun dari ranjang. Syanum terkejut saat tangan Fabian sudah merengkuh tubuhnya dan merobohkan Syanum lagi di atas ranjang. Padahal, matanya saja masih terpejam.


Fabian kembali memeluk Syanum dengan erat.


"Mas, apa kita akan peluk-pelukan seperti ini terus. Coba kamu lihat jam berapa sekarang. Udah jam sembilan Mas," ucap Syanum. Entah Fabian mendengar ucapan Syanum atau tidak.


Fabian hanya bisa menggeliat dan semakin mengeratkan pelukannya.


Syanum menatap wajah suaminya yang tampak sejuk. Baru kali ini, Syanum merasakan bahagia yang tidak terkira. Dia sudah melepas keperawanannya untuk lelaki yang dicintainya.


Syanum mengusap pipi suaminya.


"Aku nggak akan pernah, melupakan hal yang semalam Mas," ucap Syanum.


Fabian tiba-tiba saja mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Syanum berbaring di depannya.


Fabian buru-buru beringsut duduk dan menatap ke bawah selimut.

__ADS_1


Fabian tampak gugup, saat melihat dirinya tanpa busana. Dia mencoba untuk memberanikan diri menatap istrinya.


"Syanum. Kenapa dengan kita. Kenapa kita jadi seperti ini? apakah semalam kita..." ucapan Fabian menggantung saat melihat Syanum menganggukkan kepala.


"Iya Mas. Kita semalam sudah melakukanya," ucap Syanum.


"Apa!" Fabian membelalakkan matanya.


Sejak tadi, dia masih sesekali menatap tubuhnya yang tanpa busana. Dia juga menatap istrinya yang masih berbaring di sisinya tanpa busana.


"Nggak mungkin. Kamu pasti bohong kan. Kamu pasti sekarang sedang menjebak aku kan? semalam aku tidak ingat apa-apa."


"Apa! menjebak? Mas, kamu fikir aku wanita apaan. Aku juga nggak mungkin mau melakukannya kalau kamu tidak maksa."


Fabian mengusap wajahnya kasar. Dia seperti ketakutan. Entah apa yang ditakutkannya.


"Apakah benar aku sudah memaksa kamu Syanum?"


Syanum hanya mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Maafkan aku ya," ucap Fabian.


"Nggak apa-apa Mas."


Syanum beringsut duduk. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Untuk apa aku harus marah. Kamu itu suami aku. Berdosa jika aku tidak mau melayani kamu Mas."


Fabian diam.


"Lagian, kita itu kan sudah halal. Kita itu sudah sah menjadi suami istri. Dan pernikahan kita, juga sudah banyak dihadiri oleh teman-teman kamu dan rekan-rekan bisnis ayah kamu. Kita menikah di depan penghulu dan di depan dua orang saksi. Lalu untuk apa kamu seperti orang ketakutan begitu," lanjut Syanum.


Fabian tampaknya masih mengingat-ingat kejadian semalam. Sementara sejak tadi, Syanum masih menatap wajah suaminya.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Syanum.


Fabian menatap ke arah jam dinding. Dia terkejut saat melihat jam yang sudah menunjuk ke angka sembilan. Fabian menatap ke jendela kamarnya.


"Syanum. Aku ke siangan. Hari ini kan aku harus ke kantor. Kenapa kamu nggak bangunin aku sih!"


Fabian mengambil baju-bajunya yang berserakan di atas tempat tidur. Dia kemudian buru-buru memakainya. Fabian kemudian turun dari ranjangnya. Dia mengambil handuk dan melangkah untuk ke kamar mandi. Sementara Syanum, dia kembali berbaring, karena dia masih tampak lelah. Semalam dia memang kewalahan saat menghadapi suaminya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Fabian melangkah dan mendekat ke arah Syanum. Tubuh Fabian, tampak masih basah. Dia masih bertelanjang dada dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.


"Syanum. Kenapa kamu masih berbaring? kamu nggak mau, bantu aku menyiapkan baju kerja aku?"


"Mas, ini udah jam berapa. Ini udah siang, kamu yakin mau ke kantor? nggak mau libur dulu?"


"Syanum. Aku ambil sendiri aja deh."


Fabian kemudian melangkah ke lemari bajunya. Dia mengambil baju, dan berganti baju.


Setelah rapi, Fabian mendekat ke arah istrinya dan duduk di sisi istrinya. Fabian menatap lekat ke arah Syanum


"Kamu mau tiduran terus begini? kamu nggak mau bangun?" tanya Fabian.


"Aku... em..."


"Kamu kenapa?" Fabian tampak bingung.


"Aku masih sakit Mas," ucap Syanum.


"Ha... apa! sakit? apanya yang sakit?"


Syanum menghela nafasnya dalam. Fabian memang benar-benar menyebalkan.


"Kamu, bermain dengan kasar semalam," ucap Syanum.


Fabian menatap leher Syanum yang penuh tanda merah.


'Apakah tanda merah itu, juga aku yang telah membuatnya. Astaga, apa yang aku lakukan pada wanita ini. Aku sudah merenggut kesuciannya. Tapi dia sama sekali tidak marah dan kecewa. Kenapa aku bisa melakukan hal itu. Tapi, aku benar-benar tidak ingat apa-apa semalam.'


"Mas, kamu kok masih bengong aja di sini. Kalau kamu mau ke kantor, ya udah berangkat aja."


"Tapi kamu nggak apa-apa sendiri di sini? kamu masih bisa jalan kan? atau kamu, nggak bisa jalan karena aku?"


Syanum tersenyum. Pipinya merona merah semerah buah tomat. Syanum memang malu, jika dia harus mengingat kejadian semalam. Tapi, Syanum selalu berharap, kejadian tadi malam, akan membuahkan hasil.


Dia ingin sekali punya anak dari suaminya. Siapa tahu, dengan punya anak, Syanum bisa mengikat hati Fabian. Karena Syanum tahu kalau Fabian itu sangat sayang sekali dengan anak-anak.


"Aku berangkat dulu ya Syanum," ucap Fabian.


Syanum mengangguk. Setelah itu, Syanum mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada istrinya, Fabian kemudian pergi meninggalkan kamar. Dia akan berangkat ke kantor sekarang.


__ADS_2