Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Keberadaan Mentari


__ADS_3

Sejak tadi, gadis itu masih menatap ke luar jendela apartemen. Dia masih diam. Fikirannya sangat kacau saat ini.


Beberapa hari yang lalu, dia hampir saja melakukan bunuh diri dengan terjun ke sungai. Untunglah, ada seseorang yang mau menolongnya.


Mentari masih belum mau bicara dengan seseorang yang menolongnya itu.


"Dari kemarin kamu masih diam. Apa kamu tidak mau cerita denganku tentang semua masalah-masalahmu?" tanya Fadlan seorang lelaki yang sudah menolong Mentari saat Mentari akan melakukan percobaan bunuh diri.


"Aku tahu, pasti sekarang kamu sedang punya masalah besar yang sulit untuk kamu hadapi," lanjut Fadlan.


Fadlan berdiri tepat di sisi Mentari. Matanya juga menerawang ke depan.


Saat ini, Mentari berada di apartemen seorang lelaki yang bernama Fadlan. Fadlan adalah seorang dokter yang menolong Mentari saat Mentari akan melakukan percobaan bunuh diri di pinggir jembatan.


Fadlan tahu persis apa yang sedang dialami Mentari saat ini. Fadlan yakin, ada masalah besar yang sedang menimpa Mentari, sehingga membuat Mentari serapuh ini dan hampir saja melakukan bunuh diri.


"Tidak baik, memendam masalah sendiri. Lebih baik kamu ceritakan masalah kamu ke aku. Siapa tahu, dengan kamu menceritakan semua masalah kamu ke orang lain, itu akan membuat beban yang ada di hati kamu sedikit berkurang," ucap Fadlan.


Mentari menatap lelaki yang ada di sampingnya. Lelaki berkaca mata, berkulit putih, yang dari segi penampilannya, dia seperti anak orang kaya. Sama seperti Fabian. Dan profesinya sekarang menjadi seorang dokter.


"Kenapa kamu harus menolongku?" Mentari menatap lelaki itu tajam.


"Aku cuma tidak mau, melihat ada orang bunuh diri di depanku. Bunuh diri itu sesuatu hal yang sangat konyol. Dan selamanya, bunuh diri itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Aku akan menjadi orang terbodoh di dunia ini, seandainya aku membiarkan kamu bunuh diri. Aku tidak mungkin, membiarkan kamu terjerumus ke dalam lembah dosa yang tidak akan pernah terampuni."


"Seharusnya kamu biarkan aku mati saja. Aku sudah tidak pantas berada di dunia ini lagi. Aku ini sudah kotor. Aku sudah tidak suci lagi. Aku yakin, kalau Fabian tahu aku seperti ini, dia tidak akan pernah mau lagi denganku," ucap Mentari dengan nada tinggi.


Fadlan tersenyum. Sedikit-sedikit, gadis itu sudah mau menceritakan tentang masalahnya. Fadlan yakin, lama-lama gadis itu akan menceritakan semua masalahnya pada Fadlan.


"Aku benci dunia ini, aku benci...!" Tiba-tiba saja Mentari berteriak yang membuat Fadlan terkejut.


"Berteriaklah, jika kamu ingin berteriak. Menangislah jika kamu ingin menangis. Jika itu yang membuat kamu merasa tenang, maka lakukanlah. Agar bisa mengurangi beban yang ada dalam hati kamu. Aku yakin, seberat apapun masalah kamu, kamu pasti bisa untuk melewatinya. Jangan pernah putus asa. Yakinlah, kalau semua masalah pasti akan ada hikmahnya," ucap Fadlan panjang lebar.


Fadlan sedikit-sedikit mencoba untuk menasihati Mentari, agar jalan fikiran Mentari itu bisa terbuka. Agar dia tidak lagi, melakukan hal konyol seperti waktu itu.


Mentari menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak akan menangis dan aku juga tidak akan berteriak. Karena Itu hanya akan membuang energiku saja."


Mentari melangkah pergi meninggalkan Fadlan. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa yang ada di dalam apartemen Fadlan.


Begitu juga dengan Fadlan. Dia hanya bisa mengikuti Mentari. Fadlan kemudian duduk di sisi Mentari.


Fadlan masih menatap Mentari. Gadis yang sudah satu minggu lebih berada di apartemennya.


Fadlan belum bisa membawa Mentari pulang, karena dia tidak tahu di mana alamat rumah orang tua Mentari. Mentari pergi, tidak membawa kartu identitasnya. Dia hanya membawa sedikit baju-baju yang ada di koper kecilnya.


"Sebenarnya kamu itu mau pergi ke mana? kenapa kamu bawa-bawa koper segala? " tanya Fadlan


Sejak Fadlan membawa seorang gadis ke apartemennya, Fadlan sama sekali belum mengenal nama gadis itu. Mentari pergi tidak membawa kartu identitasnya. Dan Mentari masih bungkam dengan identitas dan alamat rumahnya.


Sebenarnya Fadlan sudah ingin tahu siapa sebenarnya gadis yang ditolongnya itu. Dia ingin membawa Mentari pulang. Tapi sampai saat ini, Mentari tidak mau memberi tahu, di mana alamat rumahnya. Dia juga tidak mau memberi tahu siapa namanya.


Sampai satu minggu lebih, Mentari diam dan dia juga tidak pernah mau menceritakan semua masalahnya. Padahal jika Mentari mau bercerita, Fadlan akan tulus membantunya. Termasuk menyelesaikan semua masalah Mentari.


"Aku tidak tahu, aku akan pergi ke mana. Dan aku juga tidak tahu, apa tujuan hidupku sekarang," ucap Mentari.


Mentari menatap Fadlan lekat.


"Untuk apa kamu tahu namaku?"


"Aku ingin kamu kembali ke rumahmu. Pasti orang tuamu sangat mengkhawatirkan keadaanmu."


Mentari menghela nafas dalam.


"Aku sama sekali tidak ingin pulang."


"Kenapa?" Fadlan menatap manik mata Mentari. Fadlan melihat ata kesedihan yang tersimpan di sana.


"Aku tidak mau, ada orang yang tahu tentang masalah ini. Aku benar-benar malu. Apalagi sama calon suamiku." Mentari menundukkan pandangannya. Tampak kesedihan sudah menyelimuti wajahnya.


Fadlan mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?"


"Sebenarnya aku kabur dari pesta pernikahanku. Dan aku meninggalkan orang yang aku cintai." Mentari menjelaskan.


"Kamu pergi meninggalkan pesta pernikahanmu? kenapa?" tanya Fadlan.


"Hidupku sudah hancur, saat lelaki itu sudah merenggut semua kesucianku. Dia lelaki yang sangat jahat."


"Lelaki yang sangat jahat? siapa?"


"Dia adalah lelaki yang selama ini menggilaiku. Namanya Mario. Dia sudah menodaiku dua hari sebelum pernikahanku dengan kekasihku di mulai."


"Lalu kenapa kamu pergi meninggalkan kekasihmu? Kenapa kamu tidak lanjutkan saja pernikahan kamu itu?"


"Aku pergi, karena aku tidak mau mengecewakannya. Dia lelaki yang sangat baik. Dia tidak pantas mendapatkan istri sepertiku. Aku sudah kotor. Aku tidak pantas bersanding dengannya. Jika dia tahu keadaan aku seperti ini, dia pasti akan kecewa sama aku. Karena aku sudah tidak suci lagi."


Fadlan manggut-manggut. Dia tampak mengerti dengan kondisi yang di alami gadis itu. Dan Fadlan lega, akhirnya gadis itu mau juga bercerita tentang masalahnya.


Mentari bangkit berdiri.


"Namaku Mentari."


"Mentari?"


"Iya. Kamu bisa panggil aku apa saja, dokter Fadlan." Mentari menatap Fadlan lekat.


"Oke. Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang? apakah kamu akan selalu berlari untuk menghadapi semua kenyataan ini? apa kamu akan bersembunyi terus seperti ini?"


"Aku sudah hancur. Aku tidak mungkin kembali ke rumah. Aku malu dengan aibku ini dokter Fadlan. Aku juga tidak mau sampai ayahku tahu, kalau aku sudah di nodai oleh lelaki jahat itu. Begitu juga aku tidak mau, kekasihku tahu dengan keadaanku."


"Aku tahu, apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Tapi kenapa kamu tidak temui kekasihmu saja dan bilang yang sejujurnya sama dia. Aku rasa, dia akan menerima apapun kekurangan kamu, jika dia memang tulus mencintaimu."


"Tapi itu sama saja aku membuka aibku sendiri. Dan aku tahu, kalau kekasihku tidak akan mungkin menerima kalau calon istrinya itu sudah tidak perawan."


Fadlan tersenyum. Sekarang dia tahu, apa yang sedang jadi masalah Mentari sampai-sampai dia mau terjun ke sungai.

__ADS_1


"Ya sudahlah. Untuk sementara, aku bolehkan kamu untuk tinggal di sini. Terserah kamu mau tetap di sini, atau kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu.Yang penting, jangan pernah kamu punya fikiran untuk terjun ke sungai lagi."


__ADS_2