
Sore ini, Mentari dan Fabian masih duduk bersisian di taman tempat favorit mereka. Mereka masih saling diam. Sejak tadi, Mentari belum mau bicara dengan Fabian.
Fabian menatap lekat wajah Mentari. "Mentari."
Mentari menoleh.
"Apa Bi?"
"Sebenarnya kamu kemana aja selama ini Mentari? kenapa kamu menghilang di saat pernikahan kita?"
Mentari sudah bisa menebak kalau Fabian masih akan menanyakan hal itu.
"Apa aku harus jujur Bi sama kamu?" tanya Mentari.
"Iya Mentari. Kita kan dulu sudah janji, kalau kita akan selalu terbuka untuk hal apapun. Dan tidak ada yang kita tutup-tutupi lagi."
"Tapi aku yakin Bi, seandainya aku jujur sama kamu, kamu pasti akan sangat membenci aku dan kamu tidak akan pernah mau bertemu lagi denganku."
"Apa maksud kamu? kenapa aku harus membencimu?" tanya Fabian tidak mengerti.
Mentari bangkit berdiri. Dia menghela nafas dalam. Rasanya sangat sulit untuk dia menceritakan hal menjijikkan itu sama Fabian.
'Mungkin ini saatnya, aku harus jujur sama kamu Bi. Kalau aku nggak cerita-cerita sama kamu, kamu pasti akan ngejar-ngejar aku terus untuk minta penjelasan. Mungkin setelah aku jelasin semuanya ke kamu, kamu nggak akan ngejar-ngejar aku terus.' batin Mentari.
"Aku pergi karena..." Mentari menggantungkan ucapannya. Membuat Fabian semakin penasaran.
Fabian berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Mentari.
"Karena?" Fabian menatap lekat wajah cantik itu.
"Karena aku tidak pantas buat kamu lagi Bi," ucap Mentari.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" tanya Fabian semakin penasaran.
"Karena..." Mentari kembali menggantungkan ucapannya. Dia bingung dari mana dia akan memulai untuk bercerita.
"Karena apa Mentari? katakan! jangan membuat aku tambah penasaran!" tanya Fabian dengan nada tinggi. Dia tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Mentari.
"Karena semua hidup aku sudah hancur Bi...!" Mentari menaikan nada suaranya.
"Hancur? apa maksud kamu?"
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Mentari. Hati Mentari rasanya sangat nyeri, lidahnya kelu untuk bicara. Fikirannya kembali mengenang kejadian itu.
Ingin rasanya dia menangis di pelukan Fabian. Namun dia sadar, sekarang Fabian sudah menjadi milik wanita lain.
__ADS_1
Mentari tidak bisa membendung lagi air mata itu. Tetesan air mata itu mengalir dengan deras dari pelupuk matanya. Dia tidak bisa menahannya.
Hiks...hiks...hiks...
"Mentari kenapa kamu menangis? apa yang terjadi sebenarnya Mentari? aku yakin, kalau kamu pergi pasti karena ada sesuatu ha kan?" Fabian sudah mulai serius.
"Iya. Itu menang benar Bi. Aku sudah menjadi wanita kotor Bi. Dan aku ngga mau membuat kamu kecewa Bi...!" Mentari sudah tidak berani untuk menatap Fabian.
Fabian masih belum mengerti.
"Apa maksud kamu?" Fabian sudah memegang kedua bahu Mentari dan menatapnya lekat.
"Katakan Mentari...!"
"Aku sudah diperkosa Bi. Aku sudah diperkosa...! Hiks...hiks..." Tangis Mentari semakin kencang saja.
"Apa! diperkosa?" Fabian terkejut mendengar ucapan Mentari.
Mentari mengangguk. Dia menangis dan masih menundukkan kepalanya karena malu. Dia tidak berani untuk menatap wajah Fabian lagi.
Fabian menghela nafas dalam. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya benar-benar merasa terpukul dengan pengakuan Mentari.
Rasa kecewa dan penyesalan, sudah menyelimuti hatinya saat ini. Dia menyesal karena dia tidak bisa menjaga Mentari calon istrinya. Dia kecewa karena semua impian yang sudah dia cita-citakan bersama Mentari, musnah begitu saja.
"Siapa lelaki yang sudah menghancurkan hidup kamu Mentari? siapa?" tanya Fabian dengan suara lembut.
Hiks...hiks...hiks...
Mentari yang ditanya, hanya bisa menangis. Dia masih kelu untuk mengatakan semua kebenarannya. Kalau dia sudah dijebak satu malam oleh Mario. Lelaki yang selama ini menggilainya.
Fabian sejak tadi masih mendesak untuk mengatakan siapa lelaki yang sudah mengambil kesucian Mentari. Namun, Mentari belum mau bicara.
"Mentari. Katakan! jangan diam aja! katakan siapa lelaki yang sudah memperkosamu...!"
Mentari masih belum mau menjawab.
"Mentari katakan sama aku Mentari...! siapa lelaki itu...!" ucap Fabian setengah berteriak.
"Dia..."
"Dia siapa...!"
Emosi Fabian sudah memuncak. Hatinya begitu sangat kesal dengan kebiadaban lelaki yang sudah menodai Mentari.
"Di-dia Mario Bi."
__ADS_1
"Apa! Mario...!" Fabian membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Mentari.
"Jadi selama ini, Mario lelaki yang sudah menghancurkan kamu?"
Mentari mengangguk.
"Kurang ajar Mario....!"
Fabian mengepalkan tangannya geram. Rahangnya juga sudah mulai mengeras. Hanya dendam yang ada di dalam fikirannya saat ini. Jika saja dia bertemu Mario, dia ingin segera menghabisinya saat ini juga.
'Jadi dia yang sudah menjadi dalang kehancuran pernikahan aku dengan Mentari. Aku akan menghabisinya dan tidak akan pernah memaafkannya.'
Fabian menghela nafas dalam. Dia menatap Mentari. Fabian kemudian, mengusap air mata Mentari.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku soal ini? kenapa kamu harus menyembunyikan ini semua dari aku?"
"Karena aku tau, jika aku mengatakannya sama kamu, kamu tidak akan mau menerima aku menjadi istrimu Bi. Aku takut, kamu akan mencampakkan aku setelah kamu tahu aku sudah dinodai oleh lelaki lain."
"Apa kamu fikir, aku akan setega itu sama kamu Mentari? aku itu cinta dan sayang sama kamu. Aku tulus mencintai kamu tanpa memandang kekurangan kamu. Andai waktu itu kamu jujur sama aku. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu Mentari. Pernikahan kita akan tetap berjalan, dan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu," ucap Fabian panjang lebar.
Fabian kemudian menghapus sisa-sisa air mata Mentari. Dan tiba-tiba saja, Fabian memeluk Mentari.
Degup jantung Mentari begitu terasa saat dia mendapat pelukan Fabian. Lelaki yang selama ini dia rindukan. Rasanya, hati Mentari begitu sangat nyaman saat ini.
Andai saja Mentari tahu kalau Fabian masih akan menerimanya dalam kondisi apapun, Mentari pasti tidak akan kabur meninggalkan rumah. Dan pernikahannya akan berjalan dengan semestinya. Tapi sekali lagi, Mentari tidak ingin membuat Fabian kecewa. Fabian sudah terlalu baik dengannya. Tidak pantas Fabian mendapatkan wanita sisa lelaki lain.
"Sudah lama, aku menunggu kamu Mentari. Aku mencarimu sampai aku hampir gila karena aku tidak bisa menemukan kamu."
Mentari yang sejak tadi masih menikmati pelukan hangat itu, tiba-tiba saja dia mendorong tubuh Fabian.
"Bi. Kita tidak boleh seperti ini. Kamu sudah punya istri Bi. Bagaimana kalau istri kamu tahu, kamu menemui aku di sini."
"Istri aku nggak akan pernah tahu kita di sini Mentari."
"Bi. Aku nggak mau, menjadi perusak hubungan kamu dan istri kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang, dan temui istri kamu. Dia pasti saat ini sedang menunggumu."
"Mentari. Sebelum aku pulang, aku akan mengantarkan kamu dulu pulang. Aku nggak tega membiarkan kamu pulang sendiri."
"Tapi Bi. Bagaimana kalau ada orang lihat kita berdua. Apa tidak akan menimbulkan masalah nantinya."
"Nggak akan Mentari. Tidak ada yang lihat kita. Ayo aku antar kamu pulang."
Fabian merangkul bahu Mentari dan mengajaknya kembali ke mobil.
Mentari bukanlah Aira. Mentari wanita yang tahu diri. Dia tidak akan pernah mau menjadi perusak rumah tangga orang lain. Walau dia masih sangat mencintai Fabian, tapi dia akan sebisa mungkin untuk melupakan Fabian. Walau mungkin itu sulit.
__ADS_1