
Hongkong.
Seorang gadis, masih berdiri di sisi jendela apartemennya. Sejak tadi dia masih menatap dari atas apartemen, kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
Dia adalah Aira. Saudara sepupu Mentari yang tak lain adalah mantan kekasih Fabian. Bisa di bilang Aira adalah cina pertama Fabian semasa remaja.
"Pasti sekarang Mentari sudah nikah sama Fabian," gumam Aira.
Air mata Aira, menetes dari pelupuk matanya. Dia tidak sanggup membayangkan lelaki yang dicintanya itu menikah dengan wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan hatinya, wanita itu adalah adik sepupunya sendiri.
"Aira," Bu Novi mama Aira menepuk pelan bahu anaknya.
Aira mengusap kasar air matanya.
"Ada apa Ma?"
"Kamu nangis? kenapa?" tanya Bu Novi.
"Aku nggak apa-apa Ma," bohong Aira.
"Kamu bohong. Pasti kamu lagi mikirin sesuatu ya?"
Aira menggeleng dengan cepat. Aira tidak mau sampai mamanya tahu kalau sekarang dia sedang memikirkan Fabian. Karena Aira sudah janji, kalau dia tidak akan mengingat lagi tentang Fabian dan Mentari.
"Aku nggak lagi mikirin apa-apa Ma."
"Sini duduk," ucap Bu Novi mengajak Aira duduk di sofa.
"Ada sesuatu yang mau Mama bicarakan Aira."
"Apa?" tanya Aira menatap mamanya penasaran.
"Kamu tahu, kalau pernikahan Mentari dan Fabian itu gagal. Mereka nggak jadi menikah Aira," Bu Novi menuturkan.
Aira terkejut mendengar ucapan mamanya.
"Apa? yang benar Ma? mama tahu dari mana soal itu?"
"Tadi Om Riko nelpon Mama. Katanya Mentari itu menghilang di hari pernikahannya. Dan pernikahan mereka gagal."
__ADS_1
"Jadi, Mentari dan Fabian nggak jadi nikah? karena Mentari pergi? lalu, untuk apa Mentari pergi Ma?"
"Nah, itu yang jadi tanda tanya semua orang. Mentari pergi dan menghilang tanpa jejak. Dan sampai sekarang Om kamu, belum menemukan keberadaannya."
Aira bangkit berdiri. Dia masih tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Masa sih Mentari pergi. Apakah dia memang sengaja pergi? atau dia memang ada yang sengaja menculik dia Ma?" Aira menatap mamanya lekat.
"Menculik? siapa yang akan menculik Mentari Ra. Mentari itu pergi membawa baju-bajunya juga. Bisa jadi kan dia kabur dengan lelaki lain. Mungkin saja dia itu sudah punya lelaki simpanan."
"Aku masih nggak percaya. Mentari itu sangat cinta sama Fabian. Kenapa dia bisa pergi meninggalkan Fabian. Mungkinkah dia pergi dengan lelaki lain."
"Nah itu Ra, yang menjadi teka-teki untuk kita semua. Mentari pergi dan menghilang. Dan sampai sekarang dia belum ditemukan."
"Tidak mungkin Mentari pergi, tanpa alasan. Dia pergi pasti karena ada alasannya. Tapi, apa alasan Mentari pergi meninggalkan Fabian," ucap Aira.
Aira masih diam. Dia masih memikirkan Fabian juga Mentari. Sebenarnya Aira masih sangat mencintai Fabian. Sejak dulu sampai sekarang, cinta Aira tidak pernah berubah walau Fabian lebih memilih untuk bersama Mentari dari pada bersamanya.
Kenapa kamu harus pergi Mentari. Padahal aku sudah mengalah pergi dari kehidupan kamu dan Fabian. Aku tidak mau menjadi pengganggu hubungan kamu lagi dengan Fabian.
"Aira. Apa kamu masih punya perasaan ke Fabian?" tanya Bu Novi.
Aira tidak mungkin memaksa Fabian untuk mencintainya. Cinta Fabian ke Mentari sangat besar. Dan belum ada wanita yang bisa menggantikan Mentari di hati Fabian.
"Aira, kalau kamu masih mencintai Fabian, kejarlah cintamu kembali Nak. Mama tidak mau, kamu menderita seperti ini. Sekarang Mentari sudah pergi, dan tidak ada lagi penghalang untukmu Nak. Kamu bisa dekati lagi Fabian."
Aira menatap mamanya lekat.
"Maksud Mama?"
"Mama tahu, kalau kamu belum bisa move on kan dari Fabian. Mama salut sama cinta kamu untuk Fabian Nak."
"Mama, aku memang masih cinta sama Fabian. Fabian itu cinta pertama aku, dan sejak dulu sampai sekarang, belum ada yang bisa menggantikan posisi Fabian di hati aku Ma."
"Kamu sudah terlalu banyak mengalah untuk Mentari. Kamu sudah terlalu banyak mengalah. Dan mama tidak tega melihat penderitaan kamu Nak."
"Mama, aku nggak tahu Ma. Kenapa sejak dulu aku nggak bisa melupakan Fabian. Padahal aku, sudah mencoba untuk melupakannya. Bahkan aku sampai bela-belain ambil kuliah di sini, hanya untuk melupakannya. Tapi aku ngga bisa Ma. Hiks...hiks..."
Aira tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis sesenggukan di depan mamanya.
__ADS_1
"Sabar ya sayang."
Bu Novi memeluk anaknya dengan erat.
"Mama ingin kamu akhiri penderitaan kamu Nak. Kejarlah Fabian kembali. Jangan kamu mengalah lagi. Kamu juga berhak untuk bahagia dengan lelaki yang kamu cintai." Bu Novi menangkup wajah anaknya dan menatapnya lekat.
Selama ini, cuma Bu Novi orang tua satu-satunya yang Aira punya. Bu Novi sangat sayang sama Aira. Anak yang sudah lama di sia-siakan oleh ayahnya. Karena ayah Aira sudah menikah lagi dengan wanita lain sejak Aira masih SMP.
'Aira. Sebenarnya Mama tidak mau, kamu merebut lelaki yang sudah menjadi milik wanita lain. Mama tidak ingin kamu merebut Fabian dari Mentari. Karena itu sama saja kamu seperti seorang pelakor. Dan Mama tidak suka itu. Tapi sekarang Mentari sudah pergi. Itu artinya, Mentari sudah meninggal Fabian. Dan mungkin udah saatnya kamu mendekati Fabian lagi. Pasti sekarang dia sedang terpuruk karena kepergian Mentari.' Bu Novi menatap Aira lekat.
"Aira. Kamu belum makan kan Nak?" tanya Bu Novi.
Aira menggeleng. "Belum Ma."
"Kita makan malam dulu yuk," ajak Bu Novi.
"Iya Ma."
Aira dan Bu Novi kemudian melangkah ke ruang makan. Aira kemudian duduk di ruang makan. Sementara Bu Novi, mengambil piring untuk menyajikan makanannya yang baru di belinya tadi.
"Kamu jangan fikirkan macam-macam. Sekarang kamu itu sudah lulus kuliah. Nilai kamu juga sangat bagus. Kamu sangat berprestasi. Tunjukan pada Fabian, kelebihan kamu Nak. Tunjukan sama dia kalau kamu itu juga bisa berprestasi seperti Mentari. Mama yakin, kalau kamu mau mengambil hati Fabian, Fabian juga bisa mencintai kamu lagi seperti dulu."
Aira mengangguk. Sudah lama dia berada di Hongkong untuk kuliah di Hongkong. Dan kebetulan, waktu lulus SMA, Aira mendapatkan beasiswa S1 di Hongkong. Itu merupakan kebanggaan tersendiri untuk Aira. Dan Aira sangat memanfaatkan waktu-waktu itu. Dan sekarang dia sudah lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan.
"Apa kita akan kembali ke Indonesia Ma?" tanya Aira.
"Iya, tentu. Mama akan selalu mendukung kamu Nak. Sekarang Mentari sudah pergi jauh dari Fabian. Kamu harus bisa membuat Fabian jatuh cinta lagi. Ini kesempatan bagus untukmu. Mama yakin, kalau sekarang Fabian itu sedang terpuruk. Karena dia sudah dikecewakan oleh Mentari. Dia pasti sekarang lagi galau sendirian."
"Iya Ma. Aku janji, aku akan mengejar cinta aku. Aku akan membuat Fabian jatuh cinta padaku. Karena sekarang sudah tidak ada penghalang lagi untuk aku mendekati Fabian. Karena Mentari sudah pergi."
Bu Novi mengangguk.
"Yang pasti, bukan aku kan Ma, yang membuat Mentari pergi? bukan aku kan Ma, yang membuat pernikahan mereka berantakan?"
"Iya Nak. Mungkin Fabian dan Mentari nggak berjodoh. Mungkin jodoh Fabian itu kamu Nak."
"Iya Ma."
Aira dan Bu Novi tersenyum. Mereka tidak tahu saja, kalau sebenarnya Fabian sudah menikah dengan wanita lain.
__ADS_1