Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Syarat dari Mentari


__ADS_3

"Fabian...! Syanum...!" seru Kak Dila dari luar kamar Syanum.


Fabian yang baru selesai mandi, ke luar dari kamarnya.


"Ada apa Kak?" tanya Fabian dengan tubuh yang masih basah.


"Dimas ada di sini nggak?"tanya Dila yang tampak khawatir.


"Nggak ada Kak," jawab Fabian.


"Terus, dia ke mana dong." Aku cari-cari ke mana-mana, dia nggak ada." Dila menjelaskan.


"Ke taman belakang atau ke kolam renang kak. Biasanya dia kan mainan di situ. Kalau nggak, mungkin dia main di luar sama teman-temannya," ucap Fabian.


"Iya. Mungkin saja."


Dila menatap Fabian.


"Kamu baru mandi ya."


"Iya Kak. Tadi sepulang kerja, aku capek banget. Terus, aku ketiduran deh. Maklumlah kalau malam harus begadang temani Syanum dan bayi aku."


"Ya udah. Sana ganti baju. Basah banget begitu."


"Iya Kak."


Dila kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Fabian . Dia kemudian mencari Dimas ke depan rumahnya. Dila menatap ke segala arah. Namun, dia tidak juga menemukan Dimas.


Dia sudah tanya pada anak-anak yang ada di depan komplek perumahannya. Tapi, dari mereka, tidak ada yang tahu Dimas ada di mana.


"Kalian ada yang tahu Dimas kemana nggak?" tanya Dila pada segerombolan anak kecil yang ada di jalan kompleks perumahannya.


"Kami nggak tahu dia kemana Tante. Tapi aku lihat Dimas lari ke arah jalan raya."


"Ya ampun Dimas. Makasih ya dek."


"Iya Tan"


Dila kemudian melangkah sampai ke jalan raya untuk mencari Dimas.


"Ke mana sih kamu Dimas," ucap Dila.


"Dimas...! Dimas...!" seru Dila.


"Ke mana sih, Dimas. Nggak biasanya dia main jauh sekali," ucap Dila.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sudah berhenti tepat di depan Dila.


Dila menatap ke dalam mobil. Tampak Dimas ada di dalam mobil. Dila membelalakkan matanya saat melihat Dimas.


Seorang lelaki turun dari dalam mobil. Dia kemudian melangkah menghampiri Dila.


Dila terkejut saat melihat lelaki itu.


"Mas Adam ya," ucap Dila.


Adam tersenyum saat melihat Dila.


"Kamu Dila kan?"


"Iya Mas. Aku Dila."


Dimas tiba-tiba saja turun dari mobil Adam. Dia langsung melangkah menghampiri ibunya dan memeluk ibunya.

__ADS_1


"Mama..." ucap Dimas.


"Lho Mas. Kok anak aku, bisa sama kamu ya?" tanya Dila menatap Adam lekat.


"Oh. Tadi dia mainan di tengah jalan sana. Tadi dia hampir ke tabrak mobil aku. Jadi aku antar dia pulang. Untungkan , anak kamu nggak apa-apa. Aku kaget banget tadi," ucap Adam menuturkan.


"Astaghfirullah, Dimas. Apa yang kamu lakukan Nak? kamu sudah membuat mama khawatir. Ini sudah hampir maghrib. Kamu masih mainan di tengah jalan. Gimana kamu kamu kenapa-kenapa Nak."


"Maaf Ma. Aku cuma lagi mau ngejar layangan aku."


"Tapi nggak usah mainan di keramaian sayang. Biarkan saja layangannya."


Dila menatap Adam.


Adam adalah kakak kelas Dila waktu Dila SMA. Kebetulan, mereka juga pernah menjadi sahabat karib.


"Maafin anak aku ya Mas. Dia ini, benar-benar susah sekali untuk di atur. Dan terimakasih sudah mengantar Dimas sampai sini. Kalau gitu, aku pulang dulu ya Mas."


"Iya. Sama-sama. Rumah kamu di mana Dil?" tanya Adam.


"Agak jauhan sih Mas dari sini. Mungkin sepuluh menit kalau harus jalan kaki," jawab Dila.


"Ya udah. Sekalian aku antar aja kalian berdua pulang.Dari pada kalian jalan kaki kan capek."


"Tapi apa nggak ngerepotin Mas?" tanya Dila.


"Oh. Tentu saja nggak ngerepotin."


"Ya udah. Kalau gitu. Makasih banyak ya Mas."


"Ya udah yuk. Masuk mobil."


Adam kemudian menyuruh Dila untuk masuk mobilnya. Dila dan Dimas kemudian masuk ke dalam mobil Adam. Setelah itu Adam masuk ke dalam mobil dan meluncur untuk sampai ke rumah Dila.


"Ini rumah kamu?" tanya Adam.


"Iya Mas. Sebenernya sih, ini rumah orang tua aku. Tapi, aku masih ikut orang tua aku tinggal di sini."


"Oh. Gitu."


"Ya udah. Turun yuk Mas. Kita mampir dulu ke dalam."


" Oh. Tidak usah. Aku mau langsung pulang aja. Takut anak aku sudah nungguin di rumah."


"Oh. Emang di rumah nggak ada ibunya?" tanya Dila.


"Nggak ada. Karena ibunya sudah meninggal."


"Oh. Maaf ya Mas. Aku nggak tahu, kalau istri kamu sudah meninggal."


"Nggak apa-apa. Santai aja."


"Ya udah. Kalau gitu aku turun dulu ya Mas."


Dila dan Dimas kemudian turun.


"Terimakasih mas sekali lagi untuk tumpangannya."


"Iya. Aku pergi dulu ya."


"Iya. Hati-hati di jalan."


Adam kemudian melajukan kendaraannya meluncur pergi meninggalkan rumah Dila. Sementara Dila dan Dimas masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


****


Satu minggu kemudian.


Mario masih berada di rumah sakit dengan Mentari yang masih menemaninya.


Mario tiba-tiba saja, meraih tangan Mentari dan menggenggamnya erat.


"Mentari. Apa kamu mau menikah dengan aku?" tanya Mario.


"Aku mau nikah sama kamu. Tapi ada syaratnya," ucap Mentari


Dia ingin mengajukan syarat, sebelum menerima Mario menjadi suaminya.


Mario menatap lekat Mentari.


"Apa syaratnya?" tanya Mario.


"Kamu harus mau kerja sama dengan aku," jawab Mentari.


"Kerja sama apa?" Mario tampak bingung.


"Kita harus hancurkan Fabian dan istrinya."


Mario terkejut saat mendengar ucapan Mentari.


"Apa! aku nggak mau. Aku aja baru sembuh dari sakit. Dan aku sudah janji sama bunda dan ayahku, kalau aku akan menjadi orang baik." Mario menolak mentah-mentah keinginan Mentari.


"Ya udah. Jauhkan fikiran kamu untuk menikahi aku. Karena sampai kapan pun, aku nggak mau menikah dengan kamu," ucap Mentari dengan ketus.


"Tapi Tari. Aku itu cinta sama kamu. Dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah sedikitpun perasaan aku ke kamu. Apakah kamu tidak mau mencoba untuk membuka hati kamu untuk aku dan menerima aku?" tanya Mario.


"Kalau kamu mau menerima aku, aku janji aku akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi," lanjut Mario.


Dari dulu dia sangat berharap, Mentari mau menerima cintanya.


"Tapi aku tetap dengan keputusan aku. Aku punya syarat yang harus kamu lakukan sebelum kita menikah. Kamu harus culik bayinya Fabian. Aku ingin merasakan Syanum kehilangan orang yang di sayangi seperti aku yang sudah kehilangan cinta Fabian."


Mario hanya bisa menghela nafasnya dalam.


"Iya. Tapi kasih aku waktu. Agar aku sehat kembali seperti dulu. Kalau dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa. Untuk lari pun aku tidak akan sanggup."


"Iya. Aku akan tunggu sampai kamu bisa pulih seperti sedia kala."


"Oh iya. Di mana Dani anak kita? kamu nggak ajak dia ke sini? aku pengin melihatnya lagi. Entah kenapa aku merasa sayang pada anak itu setelah melihatnya," ucap Mario.


"Biasa. Aku titipkan dia sama Tante aku. Dia ada di rumah Tante aku."


"Oh. Kamu sekarang tinggal sama Aira?" tanya Mario.


Mentari mengangguk. "Iya."


"Kalau boleh tahu, kenapa?" Mario tampak penasaran.


"Papa aku sudah meninggal Mario. Dia meninggal karena sakit," ucap Mentari.


"Aku turut prihatin dengan kondisi kamu Tari. Kamu yang sabar ya."


"Iya. Ya udah Mar. Aku mau ke toilet dulu ya. Nanti aku ke sini lagi. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?"


"Iya. Nggak apa-apa."


Mentari kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Mario. Dia malas jika harus berlama-lama dengan Mario. Karena dia memang membenci Mario. Makanya dia selalu mencari alasan saat Mario meminta Mentari untuk menikah dengan Mario.

__ADS_1


****


__ADS_2