
Setelah Syanum pergi meninggalkan kamarnya, Fabian meraba bibirnya sendiri. Dia tampak menyesali semua perbuatannya tadi. Tidak seharusnya dia memaksa Syanum untuk berciuman.
Sebenarnya, Fabian memang emosi saat dia sempat melihat Syanum ketawa-ketawa saat ngobrol dengan Ryan. Dan Fabian juga sepertinya sangat cemburu pada Syanum. Namun, Fabian tidak pernah mau mengakuinya. Mungkin, hanya hatinya saja yang tahu, kalau sebenarnya dia sudah mulai mencintai istrinya.
"Syanum, sama sekali tidak mau membalas ciumanku. Ternyata dia sangat bodoh dalam hal seperti itu. Apa dia memang tidak pernah ciuman dengan seorang lelaki. Atau dia belum pernah pacaran sebelumnya," gumam Fabian sembari meraba bibirnya sendiri.
Fabian berdiri di depan cermin. Dia menundukkan wajahnya. Setelah itu dia bercermin lagi.
"Ah, kenapa aku harus berbuat sebodoh itu. Pasti Syanum akan mikir macam-macam tentang aku. Bisa saja Syanum akan berfikir kalau aku sudah mulai mencintainya. Bodoh kamu Fabian...!" ucap Fabian sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya Fabian memang sudah mencintai Syanum. Tapi, dia tidak mau mengakui dan selalu menolak perasaan itu. Perasaan benci dan cinta itu memang beda tipis. Dan Fabian tidak bisa membedakan kedua perasaan itu.
Namun, berbeda dengan Syanum. Syanum sudah mau mengakui perasaannya sendiri. Karena setiap berada di dekat suaminya, jantungnya selalu berdebar-debar. Dan dia juga selalu cemburu saat Fabian dekat dengan wanita lain. Apalagi saat Fabian selalu saja mengingat tentang Mentari.
Fabian melangkah ke arah tempat tidur. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.
Dia menatap ke arah, di mana Syanum sering berbaring di sana. Dan dia meraba ke samping.
"Maaf kan aku Syanum."
Fabian menatap ke langit-langit kamar. Bayangan-bayangan Syanum selalu berkelebat di dalam fikirannya dan memenuhi semua ruang di dalam fikiran Fabian.
"Ah, kenapa aku harus selalu memikirkan Syanum sih. Aku nggak boleh sampai jatuh cinta sama wanita itu. Aku harus fokus mencari Mentari. Aku nggak boleh memikirkan wanita lain," gumam Fabian.
Fabian kemudian mulai memejamkan matanya. Dia tidak mau selalu memikirkan Syanum. Walau dihatinya, sudah timbul rasa penyesalan yang dalam saat dia merebut dengan paksa ciuman Syanum.
Di sisi lain, Syanum ke luar dari kamar mandi. Dia kemudian melangkah ke kamar Mbak Fani kembali. Mbak Fani, tampak sudah tidur nyenyak.
Syanum berbaring di sisi Mbak Fani. Walau sempit, tapi tidak masalah untuk Syanum. Karena Syanum malu, jika dia harus kembali ke kamar suaminya.
Syanum benar-benar malu, karena tadi, dia sempat menikmati ciuman itu sebentar.
Syanum masih memegangi bibirnya. Dia sejak tadi juga masih memegangi dadanya. Debaran-debaran jantung Syanum, masih sangat terasa walau dia sudah jauh dari sisi suaminya.
Syanum tidak bisa tidur malam ini. Dia hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya ke samping kiri, lalu balik lagi ke samping kanan.
"Kenapa aku jadi resah begini ya. Aku nggak betah tidur di sini tanpa melihat wajah Tuan muda. Apa yang terjadi dengan aku. Aku tidak mau, terlalu dalam mencintai suamiku. Karena aku takut kecewa kalau suamiku tidak mau membalas cinta aku. Karena aku tahu, cinta dia sangat besar untuk Mentari. Mana mungkin dia sampai mencintai gadis kampung seperti aku."
__ADS_1
Syanum mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, dia tetap saja tidak bisa tidur. Fikiranya masih di penuhi bayang-bayang suaminya.
'Berhentilah, untuk memikirkan lelaki itu Syanum...! Aku nggak boleh jatuh cinta sama dia. Aku harus belajar untuk melupakan cinta ini. Karena jika Non Mentari kembali, pasti Tuan muda akan kembali lagi sama dia.' batin Syanum.
****
Kicau burung di cakrawala sudah mulai bersahut-sahutan. Cahaya mata hari sudah mulai menerobos masuk ke dalam celah-celah jendela kamar Fabian.
Jam enam pagi, Fabian terbangun. Dia tidak menemukan istrinya ada di kamar. Fabian beringsut duduk. Dia kemudian mengusap wajahnya.
Fabian menghela nafas dalam.
"Syanum beneran tidur di kamar pembantu. Kan di sana ada Mbak Fani. Kenapa dia harus tidur di sana sih," gumam Fabian.
Fabian turun dari tempat tidurnya. Setelah itu, dia melangkah ke luar kamar dan langsung menuju ke dapur.
Di dapur, sudah tampak Mbak Asih dan Mbak Fani sedang memasak. Sementara Syanum tidak ada di dapur.
"Kalian nggak lihat istri aku?" tanya Fabian.
"Tuan muda. Non Syanum ada di kamar Mbak, Tuan muda,"ucap Mbak Fani
"Dia semalam tidur di sana?" tanya Fabian.
"Iya. Semalam dia menangis. Dan sepertinya tadi dia masih tidur di kamar."
"Oh."
Tanpa menunggu waktu lama, Fabian langsung melangkah ke arah kamar Mbak Fani. Dia akan membangunkan istrinya.
Tanpa mengetuk pintu, Fabian masuk ke dalam kamar Mbak Fani. Dia kemudian duduk di sisi ranjang sempit yang sekarang Syanum tempati.
"Kamu betah Syanum tidur di sini? Ini kamar kan seharusnya untuk satu orang." Fabian menatap ke atas.
"Nyenyak banget kamu Syanum tidurnya. Kasihan kalau dibangunin. Mending, nggak usah dibangunin lah. Aku tunggu dia bangun sendiri aja. Sebentar lagi, dia juga pasti bangun."
Fabian meraih rambut Syanum dan meletakan rambut Syanum di belakang telinga. Rambut panjang Syanum, selalu saja menutupi matanya kalau dia sedang tidur.
__ADS_1
"Gadis ini cuma cantik kalau dia sedang tidur saja. Kalau dia sudah bangun, pasti dia sangat menyebalkan. Di suruh-suruh, pasti dia nggak mau. Kenapa ya, aku harus mau nikah sama dia. Dia sangat berbeda sekali dengan Mentari. Dia tidak punya pengalaman apa-apa."
Beberapa saat kemudian, Syanum mengerjapkan matanya. Fabian pura-pura cuek dengan Syanum. Padahal sejak tadi dia tidak berhenti menatap istrinya. Dia menatap ke arah lain saat Syanum bangun.
Syanum terkejut saat melihat Fabian sudah berada di kamar pembantu. Syanum langsung mengambil bantal untuk menutupi wajahnya.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Syanum yang masih berlindung di belakang bantal.
"Aku cuma mau..."
"Jangan macam-macam di sini Tuan muda. Aku bisa aja memukul kamu sekarang. Pergi dari sini sekarang...!" Syanum mengusir Fabian. Namun, Fabian tetap dengan pendiriannya. Dia tidak mau beranjak sedikitpun dari duduknya.
"Kenapa kamu ngusir aku? dan kenapa kamu tutupi wajah kamu dengan bantal?"
"Aku nggak mau, nanti tiba-tiba kamu mencium aku seperti semalam."
Fabian mengambil bantal Syanum dan meletakannya di sampingnya duduk. Fabian kemudian meraih ke dua tangan Syanum dan menatapnya.
"Kenapa kamu harus tidur di sini? kenapa semalam kamu lari dari aku dan datang ke sini? bagaimana nanti kalau orang tua aku tahu. Mereka pasti akan berfikir macam-macam tentang aku."
"Aku nggak mau tidur di kamar kamu. Aku nggak mau kejadian semalam akan terulang lagi."
"Maaf. Aku nggak akan mengulanginya lagi. Sekarang kita kembali ke kamar. Dan jangan bilang macam-macam soal kejadian tadi malam sama siapapun. Termasuk sama Mama dan Papa."
Syanum menggeleng. Dia masih dengan pendiriannya. Dia tidak mau diajak ke kamar suaminya lagi.
"Syanum? aku kan sudah minta maaf tadi. Ayo kita kembali ke kamar! aku tidak akan memaksa-maksa kamu lagi. Apalagi untuk hal yang semalam."
Syanum menghela nafas dalam.
"Kamu janji, nggak akan marah lagi sama aku?" tanya Syanum.
Fabian mengangguk.
"Ayo...!" Fabian mengulurkan tangannya. Dan langsung disambut oleh Syanum.
Syanum dan Fabian bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kamar pembantu.
__ADS_1