
"Mentari. Aku sudah mendapatkan rumah kontrakan untuk kamu," ucap Dokter Fadlan.
Mentari tersenyum.
"Yang benar Dok? Dokter sudah mendapatkan rumah kontrakan untuk aku?" tanya Mentari.
Fadlan mengangguk.
"Iya. Dan mulai besok, kamu sudah bisa menempati rumah itu."
Mentari tampak berfikir.
'Jika aku ngontrak rumah, aku mau bayar pakai apa setiap bulannya. Aku aja, nggak punya pekerjaan tetap sekarang. Kalau harus pakai uang tabungan aku, lama-lama juga uang itu pasti akan habis. Dan bagaimana nanti ke sananya.'
Mentari tiba-tiba saja menjadi sedih saat mengingat bagaimana caranya dia bayar kontrakan. Mentari tidak mungkin mengandalkan uang tabungannya untuk bayar kontrakan. Karena uang itu pasti akan habis jika di gunakan untuk kebutuhan hidup Mentari selama beberapa bulan ke depan.
"Mentari. Kamu kenapa? kenapa kamu sedih?" tanya Dokter Fadlan.
"Dokter, aku bingung kalau harus ngontrak rumah. Aku saja, sekarang nganggur nggak ada kerjaan. Kalau ngontrak rumah, bagaimana caranya aku bayar kontrakan?" Mentari menatap Dokter Fadlan lekat.
"Kalau soal itu, kamu tenang aja. Aku pasti akan bantu kamu. Selama kamu ngontrak rumah, biar aku yang akan bayarin rumah kontrakan kamu."
"Jangan Dok! Dokter sudah terlalu baik sama aku. Dokter sudah mau menolong aku dan mengizinkan aku untuk tinggal di sini aja, itu sudah lebih dari cukup untuk aku. Aku nggak mau, terlalu banyak berhutang budi sama Dokter."
"Mentari. Kamu ini bicara apa sih. Aku menolong kamu itu ikhlas. Kamu jangan merasa serba nggak enak begitu dong."
"Iya Dok. Setelah ini, aku mau nyoba nyari kerjaan. Aku nggak mau ngerepotin Dokter terus. Aku juga belum ada niat untuk pulang ke rumah ayahku. Aku ingin berlatih hidup mandiri tanpa ketergantungan lagi dengan ayah."
Dokter Fadlan tersenyum.
"Nah gitu dong. Semangat ya!"
Mentari mengangguk. Setelah itu dia menatap Fadlan lekat.
"Dokter, bagaimana dengan Lisa? apa dia masih marah sama kamu?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Nggak usah fikirkan dia. Dia memang suka begitu. Tapi, nanti kita juga baikan lagi kok. Kami memang sering berantem seperti ini. Karena Lisa itu wanita yang sangat pencemburu."
"Iya Dok. Mungkin itu tandanya, kalau Lisa itu sangat mencintai Dokter. Aku juga suka gitu. Dan Begitulah Dok, orang pacaran. Aku dulu sama pacar aku, juga suka begitu. Cemburu yang nggak jelas. Hehhe..."
Walau Mentari sudah jauh dari Fabian, tapi dia tetap masih sering mengingat momen-momen indah bersama Fabian.
"Ya udah Mentari. Udah malam. Kamu tidur aja sana di kamar kamu. Aku juga capek banget nih pengin tidur," ucap Dokter Fadlan.
"Iya Dok."
Fadlan dan Mentari kemudian bangkit berdiri. Setelah itu, Mentari dan Fadlan, melangkah ke arah kamar mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar, Mentari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia kemudian mengambil foto Fabian yang selalu di selipkan di bawah bantalnya. Hanya foto itu yang menjadi pengobat rindu Mentari pada Fabian pujaan hatinya itu.
Setiap mau tidur, Mentari selalu mengajak bicara foto itu.
"Abi sayang. Lagi ngapain kamu di sana sayang? aku kangen sama kamu Bi. Aku sangat merindukanmu. Aku pengin ketemu sama kamu. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa Bi. Aku benar-benar masih trauma dengan kejadian itu. Kamu kemana waktu itu Bi. Kenapa kamu tidak datang menolongku, waktu aku diperkosa Mario," ucap Mentari sembari masih menatap lekat foto Fabian.
Tetesan air mata Mentari, sudah mulai berjatuhan membasahi bantal Mentari. Mentari sangat sedih saat membayangkan kejadian itu. Bayangan itu, setiap hari selalu saja muncul saat Mentari sedang sendiri seperti saat ini.
Sakit di bagian tubuh Mentari memang bisa hilang. Namun, tidak dengan luka yang ada di hati Mentari. Selamanya kejadian pemerkosaan itu, akan selalu tersimpan dalam ingatan Mentari. Trauma dan luka di hati Mentari, tidak akan bisa di sembuhkan.
"Maafkan aku Bi. Aku tidak bisa menjaga kesucianku sebagai seorang wanita. Aku benar-benar sedih Bi. Aku sekarang sudah menjadi wanita kotor karena Mario. Hampir saja aku melakukan kesalahan fatal dengan bunuh diri. Untunglah Bi, ada lelaki baik seperti Dokter Fadlan yang mau menolongku dan mengingatkan aku untuk tidak melakukan kesalahan itu. Andai saja tidak ada dokter itu, mungkin aku sudah mati Bi. Mati dan meninggalkan kenangan kita." Mentari masih mengelus-elus foto Fabian.
Dia masih menangis dalam kesendirian. Sampai tak terasa, bantal yang ditindihnya basah karena genangan air matanya. Mentari mengecup foto Fabian sebelum dia tidur. Dia kemudian memeluk erat foto itu. Mentari akhirnya terlelap sembari mendekap foto kekasihnya.
****
"Lisa...! Lisa...!" seru Bu Ratih mama Lisa dari luar kamar Lisa.
Sudah beberapa hari ini, Lisa tidak mau ke luar kamar. Lisa juga tidak mau makan dan tidak mau minum. Kesehatan Lisa, juga sampai menurun gara-gara Lisa masih memikirkan calon suaminya.
Lisa yang di panggil ibunya, masih diam di kamarnya. Beberapa saat kemudian, Bu Ratih membuka pintu kamar Lisa. Bu Ratih melangkah dan mendekat ke arah anaknya.
"Lisa. Kamu kenapa nggak mau makan Nak? sudah sejak semalam kamu nggak mau makan. Makan ya Nak!" pinta Bu Ratih.
__ADS_1
"Aku nggak mau makan Ma."
"Kamu itu sebenarnya kenapa sih? kenapa kamu tidak mau makan? kamu masih marahan sama Fadlan hem?"
Lisa yang sejak tadi masih tengkurap, segera bangun dan duduk menghadap ke arah ibunya. Sementara Bu Ratih, menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang.
"Sebenarnya, apa sih masalah kamu sama Fadlan Nak? kenapa kamu sampai seperti ini?" tanya Bu Ratih.
Dia masih tidak mengerti dengan anaknya. Sejak kemarin, Lisa jadi berubah. Dia jadi lebih sering banyak ngurung diri di kamar.
"Ma, wanita mana yang nggak kesal Ma, kalau calon suami kita itu membawa wanita lain tinggal bersama di apartemennya. Aku kesal Ma, aku marah, dan aku cemburu. Mas Fadlan itu sudah membawa seorang wanita tinggal bersamanya di apartemennya." Lisa mulai menjelaskan.
"Apa? kamu serius?" tanya Bu Ratih.
"Aku serius Ma. Kemarin aku lihat sendiri, saat aku ke apartemen Mas Fadlan."
"Astaga, terus siapa wanita itu?"
"Aku juga nggak tahu siapa wanita itu. Coba sekarang Mama fikir, seorang lelaki mengajak wanita yang bukan muhrimnya untuk tinggal satu atap berdua dalam sebuah apartemen. Pasti kan ada apa-apanya Ma."
Bu Ratih mencoba untuk mencerna ucapan anaknya.
"Emang kamu lihat sendiri, ada seorang wanita ada di apartemen Fadlan? Mama rasa, Fadlan tidak mungkin mengkhianati kamu Lis."
"Ma, kalau Mama nggak percaya, cek aja sendiri ke sana. Hati aku itu sakit Ma, sakit banget...!" Lisa memegang dadanya dengan salah satu tangganya.
Dia tidak sanggup untuk menahan tangisnya. Air mata Lisa, tiba-tiba saja, sudah mulai berjatuhan di pipi mulus Lisa.
"Ya terus Fadlan bilang apa?" tanya Bu Ratih.
"Mas Fadlan bilang, Mas Fadlan itu nggak punya hubungan apa-apa sama wanita itu Ma. Kata Mas Fadlan, dia cuma mau menolong wanita itu. Tapi aku nggak percaya Ma. Mana ada sih, lelaki yang mau menolong seorang wanita dengan memasukkannya ke dalam apartemennya dan tinggal bersama. Mereka pasti ada apa-apanya Ma. Mereka pasti punya hubungan."
"Benar-benar keterlaluan si Fadlan. Mama harus laporkan masalah ini pada orang tua Fadlan. Fadlan itu sudah keterlaluan. Mama akan cek, ke apartemen Fadlan. Kalau benar apa yang kamu katakan itu, Mama akan bikin perhitungan sama Fadlan."
Lisa masih terisak, sembari mengusap-usap air matanya. Dia benar-benar tidak sanggup melihat lelaki yang di cintainya dekat dengan wanita lain. Hatinya sangat sakit, saat kemarin dia datang ke apartemen Fadlan dan melihat Mentari.
__ADS_1
'Mudah-mudahan saja, Mas Fadlan nggak khilaf sama Mentari karena mereka tinggal dalam satu atap. Aku nggak rela, kalau Mas Fadlan dekat dengan wanita lain. Walaupun kata Mas Fadlan, dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Mentari. Aku tetap saja nggak rela, kalau Mas Fadlan dekat dengan wanita itu. Aku akan singkirkan Mentari agar dia mau menjauh dari calon suamiku,' batin Lisa.