
"Ryan, gimana kabar Mama dan Papa kamu?" tanya Bu Reva.
"Mereka baik kok Tan. Alhamdulillah," jawab Ryan.
"Syukurlah kalau gitu. Mereka ada di Jakarta juga?" tanya Bu Reva lagi.
Ryan menggeleng.
"Aku cuma sama Luna di sini. Di rumah yang lama Tan," jelas Ryan.
"Oh, gitu."
Beberapa saat kemudian, Dila mendatangi Bu Reva dan Ryan. Dila kemudian duduk berbaur bersama adik sepupunya dan ibunya.
"Ryan. Sebentar ya, Syanum lagi buatin kamu minum. Kamu datangnya kemalaman sih, jadi pembantu juga udah pada Istirahat," ucap Dila.
"Aku kan barusan ikut meeting di kantor Kak, sama Om Damar. Kan dua hari ini, Kak Fabian juga nggak masuk kantor," ucap Ryan.
"Iya. Mungkin dia masih capek. Habis ke Bali. Dari tadi pagi aja, dia belum ke luar kamar," ucap Bu Reva.
"Namanya juga pengantin baru," ucap Dila.
Beberapa saat kemudian, Syanum datang sembari membawa teh hangat untuk orang-orang yang ada di ruang keluarga.
"Syanum. Banyak amat buat minumnya," ucap Bu Reva.
"Barang kali, Mama, Kak Dila, atau Papa mau sekalian minum."
Syanum kemudian meletakan beberapa gelas teh hangat di atas meja.
Syanum menatap ke sekeliling. Sepertinya dia sedang mencari sosok tamu yang dilihatnya tadi.
"Mana tamunya tadi? kok cuma ada Mama sama Kak Dila doang ?" tanya Syanum.
"Oh, Ryan ada di teras. Katanya dia mau lihat-lihat di depan. Mungkin dia mau ngobrol-ngobrol di depan sama Papa. Sana, bawa saja minuman ini ke teras!" pinta Bu Reva.
Syanum mengangguk. Dia kemudian melangkah untuk ke teras, sembari membawa satu gelas minuman teh hangat untuk Ryan.
"Ini, aku bawa minuman hangat buat kamu." Syanum meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja.
Ryan menoleh ke arah Syanum. Sejak tadi dia belum berhenti menatap Syanum.
'Cantik sekali cewek ini, siapa ya dia,' batin Ryan.
Syanum menegakan tubuhnya dan menatap ke arah Ryan. Sejenak dia menatap wajah lelaki itu.
'Benarkan kalau lelaki ini, yang pernah aku jumpai di kantor Papa,' batin Syanum.
"Hai..." sapa Ryan.
Syanum hanya membalas Ryan dengan senyum.
"Kamu siapa?" tanya Ryan.
'Duh, ternyata lelaki ini belum kenal dengan aku,' batin Syanum.
Syanum mengulurkan tangannya.
"Aku Syanum. Kalau kamu siapa?" tanya Syanum.
Ryan membalas uluran tangan Syanum.
"Namaku Ryan. Aku adik sepupunya Kak Fabian. Lebih tepatnya kakaknya Luna."
"Aku istrinya Fabian," ucap Syanum yang membuat Ryan terkejut.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu istrinya Kak Fabian. Tapi, kenapa beda ya."
Ryan sejak tadi masih mengamati wajah Syanum.
"Tunggu dulu. Aku ingat. Dulu itu kan calon istrinya Kak Fabian kalau nggak salah namanya Mentari ya. Kenapa namanya jadi Syanum?"
"Iya. Itu dulu. Tapi sekarang Mas Fabian sudah menikah denganku. Bukan dengan Mentari."
"Oh, maaf ya. Aku nggak tahu. Adik aku nggak pernah cerita soal ini."
Syanum tersenyum.
"Nggak apa-apa. Silahkan ya di minum. Aku mau masuk ke dalam dulu," ucap Syanum.
Ryan hanya mengangguk. Syanum kemudian melangkah untuk masuk ke dalam. Namun, sebelum dia masuk, Ryan sudah memanggilnya.
"Kak Syanum," ucap Ryan yang membuat Syanum menoleh ke arahnya.
Syanum menghadapkan tubuhnya ke arah Ryan.
"Kak Syanum mau nggak temani aku di sini? kita ngobrol-ngobrol di sini. Aku pengin kenal istrinya Kak Fabian lebih jauh. Nggak apa-apa kan temani aku di sini?"
Syanum mengangguk. Dia kemudian melangkah kembali dan duduk di sisi Ryan.
"Kak Syanum kenapa jam segini belum tidur? dan di mana suaminya. Kenapa sejak tadi aku nggak ngelihat Kak Fabian."
Syanum duduk di dekat Ryan.
"Mas Fabian sudah tidur di kamar. Oh iya. Jangan panggil aku Kak! panggil Syanum aja Ryan. Sepertinya kita juga sepantaran."
"Iya. Cantik," ucap Ryan yang sejak tadi belum mau berkedip saat menatap Syanum.
Sepertinya Ryan masih terpesona dengan Syanum yang sangat natural kecantikannya. Namun selama ini, Fabian suaminya belum pernah sadar kalau istrinya itu punya kecantikan yang sangat alami. Tanpa make up pun, Syanum sudah terlihat cantik.
"Aku nggak bilang apa-apa kok. Kenapa aku panggil Kak, karena kamu itu kan istrinya Kak Fabian. Jadi kamu juga sama-sama kakak sepupu aku."
"Oh iya Ryan. Terserahlah kamu mau panggil aku dengan sebutan apa. Tapi, diminum dulu dong, teh manis hangatnya. Mumpung masih hangat. Di luar kan dingin banget. Siapa tahu teh itu bisa menghangatkan tubuh kamu," ucap Syanum.
"Makasih ya."
Ryan meraih gelas yang ada di atas meja. Setelah itu, dia menyeruput teh manis hangat buatan Syanum itu.
"Hemm, tehnya manis banget. Seperti orangnya," gumam Ryan sembari meletakkan gelasnya kembali di atas meja..
"Apa!" ucap Syanum.
Ryan tersenyum.
"Nggak apa-apa. Aku nggak bilang apa-apa kok."
Syanum dan Ryan masih saling diam. Pandangan mereka masih ke depan.
"Kita pernah ketemu kan sebelumnya," ucap Syanum.
Ryan menatap ke arah Syanum.
"Oh iya. Di mana?"
Ryan tampak berfikir.
"Waktu di kantor Papa."
"Waktu di kantor Om Damar. Kapan ya, aku lupa."
"Oh, ya udahlah, nggak apa-apa. Kalau mungkin kamu lupa. Lupakan sajalah."
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Fabian mengerjapkan matanya.
"Duh, kenapa haus banget begini ya," ucap Fabian.
"Syanum...! Syanum...! ambilkan aku minum dong...!" seru Fabian.
Syanum yang dipanggil, tampaknya tidak ada di tempat tidurnya.
"Syanum...! kamu udah tidur ya," ucap Fabian.
Fabian menatap jam dinding.
"Masih jam sepuluh," ucap Fabian.
Fabian turun dari sofa dan bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke arah tempat tidur Syanum.
Fabian membuka selimut Syanum.
"Apa! ke mana Syanum!" Fabian terkejut saat melihat bukan Syanum yang ada di tempat tidur. Melainkan bantal guling.
"Benar-benar wanita menyebalkan. Pergi ke mana dia malam-malam begini," gerutu Fabian dengan tampang marah.
Fabian buru-buru melangkah ke luar kamar untuk mencari istrinya. Fabian kemudian turun ke bawah.
Di bawah, tampak sudah sepi. Tidak ada siapa-siapa di bawah. Sepertinya, semua orang memang sudah tidur dan masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Mungkin tinggal Syanum dan Ryan yang sejak tadi masih tampak berbincang-bincang di ruang yamu.
Fabian menatap ke arah ruang tamu. Dilihatnya lampu di ruang tamu tampak masih menyala.
"Kok lampunya nyala. Apa ada orang di sana," gumam Fabian.
Fabian buru-buru melangkah ke ruang tamu. Fabian terkejut saat melihat Syanum sedang ngobrol dengan Ryan. Tanpa banyak basa-basi lagi, Fabian menghampiri Ryan dan Syanum.
"Kalian berdua. Lagi ngapain kalian berduaan di sini?" tanya Fabian menatap tajam ke arah Syanum dan adik sepupunya.
"Kak Fabian. Kami cuma ngobrol-ngobrol biasa aja kok. Kenapa Kak?" tanya Ryan.
Fabian menunjuk wajah Ryan.
"Diam kamu Ryan!" sentak Fabian.
Fabian kemudian menatap istrinya tajam.
"Syanum. Kenapa jam segini kamu belum tidur? Kenapa kamu ninggalin aku di kamar sendiri? Dan kenapa juga kamu berduaan dengan dia...!"
Syanum bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah dan mendekat ke arah suaminya.
"Mas, kamu kenapa sih ? kenapa kamu tiba-tiba marah-marah begini."
"Syanum. Ini sudah malam. Nggak pantas wanita malam-malam ada di luar. Apalagi sama lelaki yang bukan muhrimnya. Pakai acara berdua-duaan lagi."
"Mas, Ryan itu kan adik sepupu kamu. Bukan lelaki lain. Dan kita juga baru pernah bertemu. Jadi wajar kan, kalau kita ngobrol-ngobrol. Mama dan papa juga malah nyuruh kita ngobrol-ngobrol biar tambah semakin saling kenal dan dekat."
"Syanum. Kenapa kamu ke luar tanpa izin dari aku. Seharusnya kalau kamu mau ke luar, bangunin aku dan izin dulu sama aku."
Syanum mengernyitkan alisnya bingung. Tida tahu, kenapa dengan suaminya.
"Mas, suka banget sih Mas, kamu buat aturan dengan sepihak. Emang ada aturan setiap aku keluar kamar harus izin dulu sama kamu. Kalau aku ke luar kamar terus, jadi aku harus bangunin kamu terus gitu?emangnya kamu mau, di ganggu terus tidurnya. Nggak kan? aneh kamu tahu nggak sih Mas."
"Ngga usah banyak bicara. Aku ingin minum. Aku haus. Sekarang cepat ambilkan aku minum!"
"Mas, kamu itu kan bukan Dimas, kamu udah dewasa. Kamu punya tangan dan kaki. Kenapa kamu harus nyuruh-nyuruh istri untuk ambilkan minum sih. Kenapa nggak ambil sendiri aja sih."
Fabian meraih pergelangan tangan Syanum dan mencengkeramnya. Fabian kemudian menyeret Syanum untuk ikut dengannya.
__ADS_1