Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Baby sitter untuk Firen


__ADS_3

Setelah pemakaman Aletta selesai, semua orang bergegas untuk pulang. Begitu juga dengan ke dua orang tua Aletta. Mereka juga sudah akan pulang.


Bu Sarah dan suaminya masih menatap ke arah Luna dan Ryan.


"Ryan, Luna, kami mau pulang. Apa kalian mau pulang juga?" tanya Bu Sarah.


"Aku sebentar lagi Tan," ucap Ryan.


"Ya udah. Kalau begitu, kami pulang dulu ya," ucap ayah Aletta.


"Iya Om," ucap Ryan.


Setelah berpamitan pada Ryan dan Luna, Bu Sarah dan suaminya kemudian pergi meninggalkan makam Aletta. Sekarang hanya tinggal Luna dan Ryan yang masih berada di sisi makam Aletta.


"Kak, ayo kita pulang!" ajak Luna.


Ryan menatap Luna.


"Kamu duluan aja Lun. Kalau kamu mau bawa mobil kakak, silahkan saja. Kakak pulang naik taksi saja," ucap Ryan.


"Oh. Iya Kak."


"Ini kuncinya," Ryan menyodorkan sebuah kunci mobil pada adiknya. Luna menerimanya.


"Aku pergi dulu ya Kak."


"Iya. Hati-hati di jalan. Kalau kamu mau ke butik, pergi aja."


"Iya Kak."


Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan makam setelah dia berpamitan pada kakaknya. Sementara Ryan masih menatap batu nisan Aletta.


"Aletta. Maafkan aku. Karena selama ini, aku cuma main-main saja dengan hubungan kita. Aku tidak pernah mencintai kamu. Tapi entah kenapa, setelah kepergian kamu, aku merasa sangat sedih sekali," ucap Ryan.


Ryan sejak tadi, masih mengajak makam itu bicara sendiri.


"Mulai hari ini, aku akan berubah Aletta. Aku ingin berubah menjadi lelaki setia. Aku ingin cari wanita yang benar-benar mencintai aku dengan tulus. Aku ingin belajar mencintai satu wanita. Dan seharusnya kamu wanita itu Aletta. Cuma kamu, wanita yang mencintai aku dengan tulus," ucap Ryan.


Sebenarnya, saat ini Ryan memang sedang kecewa berat dengan Syanum. Entah kenapa, dari banyaknya wanita, cuma Syanum yang bisa membuat Ryan jatuh cinta.


"Aku juga akan melupakan Syanum. Karena aku tahu, dia itu sekarang sudah kembali lagi pada suaminya," ucap Ryan.


Seorang lelaki dari kejauhan masih mengintai makam Aletta. Sejak tadi, dia masih berada di balik pohon yang ada di makam


"Aletta. Aku nggak nyangka kalau kamu akan melakukan hal ini. Maafkan aku dan teman-temanku atas semua perbuatan yang sudah kami lakukan padamu. Kami tidak tahu, kalau kejadian itu, akan membuat kamu sebegitu frustasinya," ucap Rei.

__ADS_1


Lelaki yang bernama Rei itu, sejak tadi masih bersembunyi di balik pohon untuk melihat pemakaman Aletta. Dia juga merasa bersalah dengan Aletta. Dia dan teman-teman segengnya, sudah menodai gadis itu.


Rei meneteskan air matanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Rei mengusap air matanya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Pandangan Ryan terpaku, pada sosok lelaki berbaju serba hitam, melangkah menjauhi makam.


"Siapa lelaki itu. Apa jangan-jangan, itu si Rei?"


"Sudahlah, aku nggak mau perduli lagi dengan urusan Aletta, Aletta juga sudah tiada. Lebih baik, sekarang aku akan putuskan semua pacar-pacar aku. Sudah waktunya aku untuk seriusan sama seorang wanita."


Ryan kemudian melangkah pergi meninggalkan makam.


****


Deru mobil sudah terdengar dari luar rumah. Syanum melangkah mendekat ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang.


"Mobil Mas Fabian tuh," ucap Syanum.


Syanum terkejut saat melihat seorang wanita cantik turun dari mobil Fabian. Syanum membelalakkan matanya.


"Mas Fabian bawa cewek siapa? kenapa hati aku jadi bergemuruh begini," ucap Syanum.


Syanum kemudian buru-buru melangkah ke luar dari kamarnya. Dia kemudian melangkah turun ke bawah dan melangkah ke depan rumahnya.


Fabian menyeringai.


"Ini Lili sayang namanya. Dia aku bawa dari yayasan. Dan dia yang nanti akan jadi baby sitter untuk Firen," jelas Fabian.


Syanum melotot ke arah suaminya. Dia kemudian menyeret suaminya menjauh dari Lili.


"Kamu yakin, dia wanita yang akan kamu pekerjakan di rumah kita hah...!" Syanum menatap tajam ke arah Fabian.


"Iya sayang, kenapa memang?"


"Kenapa kamu pilih yang masih muda? kenapa kamu tidak pilih suster yang sudah tua aja. Seperti Mbak Asih gitu," ucap Syanum.


"Nggak ada sayang. Dari semua yang ada di yayasan, masih muda-muda semua. Bahkan ada yang masih bocah. Baru lulus SMP. Dan itu aku juga udah milih yang terjelek kok. Aku yakin, kalau aku bawa yang cantik, nanti kamu cemburu."


"Apa! terjelek kamu bilang? dia itu cantik Mas. Dan dia masih muda banget. Gimana nanti kalau kamu suka sama dia," ucap Syanum.


"Haha..." Fabian tergelak.


"Kamu cemburu sama Lili sayang? kenapa? kamu fikir aku itu Ryan. Aku Fabian sayang. Ingat, aku Fabian. Bukan Ryan. Dan aku hanya akan setia pada satu wanita,"


Syanum menatap Fabian tajam.

__ADS_1


"Siapa? Mentari?"


Fabian tersenyum.


"Lho. Kok Mentari? wanita itu kamu sayang."


"Benar?"


"Iya bener sayang. Aku berani sumpah. Dan aku juga udah janji kan, kalau aku nggak akan nyakitin kamu lagi."


Syanum menghela nafas dalam. Tiba-tiba saja, Fabian sudah menarik hidung Syanum yang mancung itu.


"Auh...! Mas. Sakit tahu," pekik Syanum.


"Tapi aku suka sayang melihat kamu cemburu. Itu artinya kamu benar-benar cinta sama aku. Kalau Mbak Fani mau cuti, lain kali, aku akan bawa pembantu yang lebih cantik lagi dari Lili."


"Apa! itu artinya kamu sengaja Mas. Biar kamu bisa godain dia."


"Hei...jangan marah-marah. Nanti cepat tua lho. Kamu nggak ingat, kalau sekarang kamu sudah punya satu anak. Dan beberapa bulan lagi, akan menyusul adiknya Firen."


"Apa! kamu ingin aku hamil lagi? Firen aja masih kecil Mas."


"Hehe..."


Akhir-akhir ini, Fabian memang suka sekali iseng dan jail dengan istrinya. Entah kenapa, dia suka aja, meledek Syanum.


Fabian kemudian melangkah ke arah Lili. Wanita yang masih berusia dua puluh tahunan itu. Begitu juga dengan Syanum. Dia juga mengikuti suaminya melangkah ke arah Lili.


"Lili. Bawa tas kamu masuk ke dalam. Di sana, kamu bisa tidur dengan Mbak Fani atau Mbak Asih!" pinta Fabian.


"Baik Pak."


"Jangan panggil bapak. Panggil suamiku dengan sebutan Tuan muda. Soalnya, pembantu di sini juga memanggilnya Tuan muda."


"Hehe... sudah, panggil aku Pak juga nggak apa-apa. Tapi, aku itu belum tua-tua banget ya, nggak pantas di panggil Pak. Tapi terserah Lili mau panggil apa. Yang penting, jangan panggil Mas. Nanti, istriku cemburu," ucap Fabian.


Syanum tiba-tiba saja mencubit perut Fabian dengan keras.


"Auh... sayang. Kamu jadi galak banget sih sekarang. Syanumku dulu, nggak seperti ini lho. Kenapa kamu jadi sering banget sih, cubit-cubitin aku."


Syanum menatap Lili. Dia kemudian merangkul bahu Lili.


"Ayo Li. Aku antar kamu ke kamar kamu," ucap Syanum.


"Dasar cewek aneh. Tadi dia cemburu sama Lili. Sekarang dia malah baik-baikin Lili. Entahlah, aku nggak tahu apa yang ada di fikiran istriku. Sekarang dia jadi susah untuk ditebak."

__ADS_1


__ADS_2