Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pulang ke rumah


__ADS_3

"Oh iya. Ngomong-ngomong, kenapa penampilan lu seperti ini sih. Udah kayak preman aja," ucap Aira yang sejak tadi masih menatap Mario.


"Gue diusir sama bokap Ra," jawab Mario.


"Diusir? kok bisa? kenapa?"


"Entahlah Ra. Semua barang-barang gue juga di sita oleh orang tua gue. ATM gue, mobil gue, ponsel gue, semuanya Ra."


"Nggak mungkin orang tua lu itu bisa ngusir lu, tanpa alasan yang jelas. Apa mungkin, lu itu masih jadi anak nakal seperti dulu?"


Mario diam. Dia justru mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya. Gimana Mentari? apa sudah ada kabar sejak menghilangnya dia?" tanya Mario.


Aira menggeleng.


"Belum ada kabar apa-apa Mario. Gue juga nggak tahu di mana Mentari sekarang."


'Ke mana kamu Mentari. Kenapa kamu menghilang begitu aja. Maafkan aku karena sudah membuat kamu hancur dan susah. Semua itu aku lakukan, karena aku nggak rela kamu hidup bahagia bersama Fabian. Aku tidak mau menderita sendiri.'


Sejak tadi Mario masih diam. Saat ini, dia memang sedang memikirkan Mentari.


"Mar. Apa yang sedang lu fikirin?" tanya Aira.


"Gue sedang mikirin Mentari Aira," jawab Aira.


"Oh iya. Ngomong-ngomong, lu masih suka ya sama Mentari?"


Mario menoleh ke arah Aira.


"Yah, begitulah. Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan."


Aira diam. Memang benar apa yang dikatakan Mario. Aira pun merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Mario.


Aira mencintai lelaki yang sama sekali tidak mencintainya. Begitu juga dengan Mario, mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintainya.


"Mar. Gue harus pulang nih. Tapi mobil gue gimana ya," ucap Aira.


"Mobil lu? coba gue cek."


Mario bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke arah mobil Aira. Begitu juga dengan Aira yang masih mengikuti Mario di belakangnya.


Mario kemudian menghampiri mobil Aira. Dia memeriksa bagian depan mobil Aira.


"Coba Ra. Sekarang kamu masuk dan nyalakan mobilnya."


Aira melangkah dan membuka pintu mobil. Dia kemudian menyalakan mesin mobil itu. Namun, mobil Aira masih tetap belum bisa menyala.


"Gimana Ra?"


Aira melongok ke luar. "Belum bisa menyala Mar."


Mario melangkah menghampiri Aira.


"Sekarang kamu turun! dan kamu dorong mobilnya!"

__ADS_1


"Lho. Kok aku yang dorong?"


"Mau aku bantuin nggak?"


"Iya deh iya."


Aira turun dari mobilnya. Setelah itu, Mario masuk ke dalam mobil Aira.


"Ih, masa aku yang harus dorong mobil sih...!" gerutu Aira.


****


Syanum dan Fabian masih tampak berada di dalam taksi. Setelah sampai di bandara, mereka naik taksi untuk sampai ke rumahnya.


Syanum sejak tadi masih bersandar di bahu suaminya dengan mata yang masih terpejam. Syanum sejak tadi, tidur di sisi suaminya. Mungkin dia kelelahan setelah dua hari berada di Bali.


Fabian masih membiarkan istrinya bersandar di bahunya. Sepertinya, Fabian sudah mulai baik dengan istrinya. Mungkin saja, suatu hari nanti, Fabian benar-benar mau menerima Syanum menjadi istrinya dan melupakan Mentari. Dan dia mau memberikan hak nafkah batin untuk istrinya.


"Ah, Syanum. Maunya enaknya sendiri. Sejak perjalanan pulang, dia tidur melulu. Pakai acara bersandar begini lagi. Emang dia fikir, nggak berat apa kepalanya," gerutu Fabian.


"Tapi nggak apa-apalah, mungkin emang dia lagi capek," ucap Fabian setelah itu.


Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Syanum dan Fabian sampai di depan rumah.


"Syanum bangun, udah nyampe nih." Fabian menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.


Syanum mengerjapkan matanya dan langsung menegakan tubuhnya.


"Eh, di mana ini?"


"Iya. Kita turun yuk!" ajak Syanum.


Syanum dan Fabian kemudian turun. Begitu juga dengan sopir taksi. Dia juga ikutan turun. Dia melangkah ke arah bagasi untuk mengambilkan koper Fabian dan Syanum.


"Ini Mas, Mbak, barang-barang kalian."


"Oh iya Pak. Terimakasih banyak ya," ucap Fabian.


Fabian kemudian membayar ongkos taksi. Setelah itu, dia bersama Syanum masuk ke halaman depan rumahnya.


Mbak Asih tampak tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.


"Tuan muda, Non Syanum, kalian sudah pulang?"


Syanum tersenyum.


"Iya Mbak. Kami sudah pulang. Di mana Mama dan Kak Dila? mereka ada di dalam kan?" tanya Syanum.


"Mereka baru saja pergi. Katanya sih mau daftarin Dimas sekolah," jelas Mbak Asih.


"Dimas mau daftar sekolah?" tanya Syanum.


"Iya. Sekolah TK katanya," jawab Mbak Asih.


"Emang dia udah mau sekolah?" tanya Syanum.

__ADS_1


"Dia yang minta sendiri Non."


"Syukurlah, itu artinya dia sudah bisa melupakan sedikit-sedikit tentang ayahnya," ucap Fabian.


"Tuan muda, biar saya bawakan kopernya."


"Iya Mbak."


Mbak Asih meraih koper yang ada di tangan majikannya. Setelah itu, dia membawakan koper Syanum dan Fabian masuk ke dalam.


"Mas, perasaan rumah kamu, kenapa sepi banget ya," ucap Syanum.


"Hei, kamu itu kan baru saja dari Bali. Di sana ramai, dan kamu ngelihat di sini, ya sepilah. Emang rumah aku ini tempat wisata? mau ramai tuh di pasar," ucap Fabian sembari melangkah pergi meninggalkan istrinya.


"Iya ya. Mungkin ayah dan Papa sekarang ada di kantor. Dan tadi kata Mbak Asih, Kak Dila sama Mama juga lagi ngantar Dimas daftar sekolah TK."


Syanum kemudian masuk ke dalam untuk menyusul suaminya.


Sesampai di kamar, Fabian membanting tubuhnya di atas kasur. Dia telentang sembari menatap ke atas langit-langit kamar.


Tiba-tiba saja, fikirannya melintas ke kejadian yang terjadi saat di Bali. Dia masih teringat dengan jelas bagaimana dia memberikan nafas buatan untuk Syanum dengan menempelkan bibirnya ke bibir Syanum.


'Bibir Syanum, ternyata manis juga. Dan ciuman itu, seperti masih terasa di sini,' batin Fabian sembari memegang bibirnya.


Sejak tadi dia masih mengusap-usap bibirnya. Entah kenapa saat ini, dia masih saja membayangkan dan memikirkan Syanum.


Ceklek.


Syanum tiba-tiba saja membuka pintu kamar. Dia menyeret kopernya juga sampai ke kamar. Syanum tiba-tiba saja melayangkan tas kecilnya ke tempat tidur sehingga tas Syanum mengenai wajah tampan suaminya.


"Aduh...!" Lamunan Fabian buyar seketika gara-gara ulah Syanum.


Fabian bangkit duduk dengan menggenggam tas milik Syanum.


"Apa-apaan sih kamu. Kamu sengaja ya, melempar aku pakai tas ini heh...!" sentak Fabian sembari melotot ke arah Syanum.


Syanum diam. Dia sebenarnya tidak sengaja juga melempar tasnya sampai mengenai wajah suaminya.


Syanum hanya bisa menegak ludahnya saat menatap wajah menyeramkan suaminya.


'Matilah, aku.' batin Syanum.


Fabian turun dari tempat tidurnya dan dia melangkah mendekat ke arah Syanum.


Dengan nafas yang naik turun dan dada yang berdebar-debar, Syanum mundur beberapa langkah hingga dia mentok sampai ke pintu.


Namun, Fabian tidak berhenti di situ, dia mendekat ke arah Syanum, hingga tinggal jarak beberapa centi saja dengan Syanum


"Maaf," ucap Syanum mengiba.


"Aku nggak sengaja Mas. Maafkan aku."


Syanum tiba-tiba saja memeluk tubuh suaminya. Dia reflek memeluk tubuh Fabian karena takut dimarahi Fabian. Dia tahu seperti apa Fabian jika marah. Dan baru pertama kalinya Fabian mendapatkan pelukan dari sang istri dan kemarin dia mendapatkan ciuman juga.


Mungkin Fabian adalah satu-satunya lelaki yang berhasil mencuri ciuman gadis desa itu. Karena selama ini, Syanum belum pernah punya pacar. Apalagi berciuman. Dia sama sekali tidak punya pengalaman soal itu. Makanya sejak Syanum tahu, Fabian memberikan nafas buatan, membuat Syanum benar-benar resah waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2