Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Cerita Fabian.


__ADS_3

Sore ini, Fabian masih berada di dalam mobilnya. Dia sejak tadi, masih bergumam sendiri.


"Aku nggak habis fikir, sama Mentari. Kenapa sih dengan dia. Kenapa dia jadi menghindari aku. Aku itukan cuma pengin dia jelasin kenapa dia pergi waktu itu. Kalau dia sudah tidak cinta sama aku, aku juga nggak akan maksa dia kok, untuk kembali denganku," gerutu Fabian yang sejak tadi masih menyetir.


Fabian masih bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya dengan Mentari. Apa yang sudah terjadi pada Mentari. Kenapa Mentari sama sekali tidak mau bertemu dengan Fabian.


"Besok, aku akan ke rumah Om Riko lagi. Aku yakin, kalau Mentari itu tadi ada di rumahnya. Orang aku lihat sendiri kok, dia turun dari taksi dan masuk ke rumah. Tapi dia pasti nggak mau ketemu sama aku. Makanya tadi Om Riko ngusir aku dan bilang Mentari tidak ada."


Beberapa saat kemudian, Fabian sampai di depan rumahnya. Dia menatap ke sekeliling.


"Mobil Ryan udah nggak ada di sini. Pasti sekarang, Luna dan Ryan sudah pada pulang," gumam Fabian.


Fabian turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah dan masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, tampak sepi. Mungkin orang-orang rumah sedang berada di dalam kamar atau sedang ke luar. Karena dia tidak melihat mobil ayah dan ibunya ada di luar.


"Mama dan papa, apa pergi ya. Mobilnya nggak ada di luar."


Fabian kemudian naik ke lantai atas. Di mana kamarnya berada. Sebelum sampai di depan pintu, Syanum sudah membuka pintu kamarnya.


Syanum tersenyum pada suaminya.


"Mas," ucap Syanum.


Syanum mengulurkan tangannya, yang membuat Fabian bingung. Tida biasanya, Syanum mengajaknya bersalaman.


Syanum meraih tangan Fabian dan mencium punggung tangannya.


'Kenapa ini cewek. Tumben amat dia nyium tangan aku,' batin Fabian.


"Kamu dari mana aja Mas?" tanya Syanum.


"Bukan urusan kamu. Untuk apa kamu tanya-tanya," ucap Fabian yang tampak acuh.


Dia kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya dan melewati Syanum begitu saja.


Syanum hanya menghela nafas dalam.


"Mas Fabian kenapa sih. Dia kok semakin cuek aja. Kan dia juga udah ngajak aku makan malam. Seharusnya, dia udah bisa lebih romantis dong."


Syanum melangkah masuk ke dalam kamar mengikuti suaminya.

__ADS_1


Fabian membuka jaketnya. Setelah itu, dia melepaskan topinya. Dia kemudian duduk di atas tempat tidurnya.


"Mas, kamu capek ya? kamu dari mana aja sih? sejak tadi pagi, kamu pergi gitu aja, nggak izin dulu sama aku."


"Izin gimana. Kamu aja lagi asyik ngobrol sama Ryan. Senang kamu digodain Ryan?" Fabian menatap tajam ke arah Syanum.


"Kamu kenapa sih bicara seperti itu. Ryan nggak godain aku kok. Dan aku juga ngobrol biasa aja sama dia. Dan sekarang dia juga sudah pulang dengan adiknya."


"Mau pulang, mau nggak, bukan urusan aku."


Syanum menghela nafas dalam. Dia ingin mencoba lebih sabar lagi menghadapi suaminya. Fabian memang kasar sama Syanum dan cuek sekali sama dia. Tapi, Syanum tidak boleh bersikap sebaliknya. Dia harus bisa merayu Fabian seperti apa yang dikatakan Luna.


"Mas, kamu mau aku buatkan minum? atau kamu mau makan? biar aku siapkan."


Sebenarnya, Fabian memang lapar. Sejak tadi pagi, dia tidak makan. Dia marah sama Syanum, sampai membuat selera makanya menghilang.


"Sebenarnya, aku juga lapar sih. Boleh deh, kamu siapkan aku makan. Tapi aku mau makan di sini. Kamu bawa aja makanannya ke sini?"


"Baik Mas."


Syanum kemudian ke luar dari kamar Fabian untuk mengambil makan dan minum. Dia harus bisa merebut hati Fabian sedikit demi sedikit. Dia tidak boleh sama-sama egois seperti Fabian. Kalau mereka sama-sama egois, rumah tangga mereka tidak akan mungkin ada perubahan. Dan kapan mereka akan menyadari kalau sebenarnya, mereka itu sudah bisa mulai saling mencintai.


Beberapa saat kemudian, Syanum masuk ke dalam kamar sembari membawa makanan untuk Fabian. Syanum meletakan makanannya di meja yang ada di dekat sofa.


Syanum duduk di sofa.


"Mas Fabian, sepertinya sedang mandi di dalam," ucap Syanum.


Beberapa saat kemudian, Fabian membuka pintu kamar mandi. Fabian melangkah ke luar dari kamar mandi dan menghampiri Syanum. Dia yang masih berdada telanjang, langsung duduk di sisi Syanum.


"Mas, kamu nggak mau ganti baju dulu? kamu masih basah gitu," ucap Syanum.


"Aku lapar banget,"ucap Fabian.


Fabian kemudian mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk. Dia kemudian langsung menyantap nasi itu dengan lahap.


Syanum sejak tadi, hanya bisa melihat suaminya makan. Fabian menatap ke arah Syanum.


"Kenapa ngelihatin aku seperti itu? kamu mau makan juga?" tanya Fabian.

__ADS_1


Syanum menggeleng.


"Nggak. Buat kamu aja Mas."


Setelah makan, Fabian kemudian bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju. Fabian kemudian ganti baju. Setelah itu dia kembali melangkah ke arah istrinya yang masih duduk di sofa.


"Kamu tahu nggak Syanum, siapa yang sudah aku temui tadi?" tanya Fabian.


"Siapa emang?" tanya Syanum.


"Tadi pagi aku ke taman. Dan aku tidak menyangka kalau aku akan ketemu dengan Mentari."


Syanum terkejut bukan main saat mendengar ucapan suaminya.


"Men-ta-ri? kamu ketemu Mentari?" tanya Syanum.


"Iya. Mentari sekarang berubah. Dia sekarang berubah jadi agak gemukan," jelas Fabian. Fabian tidak tahu saja kalau Mentari sekarang sedang hamil anak Mario.


"Terus, kamu ngobrol apa aja sama dia?" tanya Syanum lagi.


"Aku nggak ngobrol apa-apa. Karena waktu aku samperin dia, dia lari. Dia seperti mau jauhin aku. Kenapa ya Syanum. Ada apa dengan Mentari. Apa dia memang sudah tidak mau ketemu aku."


"Mungkin saja Mas," ucap Syanum tampak sedih.


"Tapi aku nggak tahu, apa salah aku ke Mentari. Dan sampai sekarang aja, aku nggak tahu apa yang sudah terjadi pada Mentari. Apa benar yang dikatakan Aira, kalau Mentari itu sudah punya lelaki yang dia cintai. Tapi siapa?"


Syanum menghela nafas dalam. Pedih sekali hatinya terasa. Saat suaminya bercerita tentang Mentari di depannya. Seharusnya suaminya itu sudah melupakan Mentari dan masa bodoh dengan gadis itu. Tapi kenapa suaminya malah mengejarnya.


"Kenapa kamu harus mengejarnya Mas? apa kamu masih mengharapkan dia kembali?" tanya Syanum.


"Aku, cuma mau tahu aja, bagaimana perasaan dia sama aku. Dan aku cuma penasaran aja sama dia Syanum."


'Tega sekali kamu bicara seperti itu di depanku Mas. Aku ini istrimu. Kamu selalu bilang ke aku, kalau aku harus bisa menghargai kamu sebagai suamiku. Tapi kapan kamu bisa menghargai aku sebagai istri.'


"Kamu mau kembali lagi sama dia?" Syanum menatap tajam ke arah suaminya.


"Kenapa kamu harus mengejarnya? kamu mau ceraikan aku Mas setelah dia kembali?" Beberapa pertanyaan sudah terlontar dari mulut Syanum.


Syanum takut, kalau kehadiran Mentari akan membuat hubungan rumah tangganya dengan Fabian berantakan.

__ADS_1


--


__ADS_2