Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kejutan di pagi hari


__ADS_3

Pagi ini, Mbak Asih dan Mbak Fani sudah berada di dapur. Seperti biasa rutinitas mereka setiap pagi, mereka memasak untuk sarapan majikan mereka.


"Fan. Ada kabar gembira," ucap Mbak Asih tiba-tiba.


"Kabar gembira apa?" tanya Mbak Fani sembari menatap Mbak Asih lekat.


"Non Syanum sudah melahirkan," jawab Mbak Asih .


Mbak Fani terkejut.


"Apa! yang benar? Non Syanum sudah melahirkan. Mbak Asih tahu dari mana soal itu?"


"Semalam Tuan muda pergi ke rumah sakit. Dan kata dia, dia akan menemui istrinya di sana," jelas Mbak Asih.


"Oh ya! sejak kapan Tuan muda berhubungan lagi dengan istrinya. Bukankah Non Syanum itu sudah lama pergi dari rumah?"


"Ternyata Non Syanum itu, selama ini ada di rumahnya Non Luna Fan."


"Oh iya? jadi selama ini, Non Syanum ada di rumahnya Non Luna?"


"Iya."


"Terus jenis kelamin bayinya apa?"


"Laki-laki."


"Wah, pasti ganteng ya kalau bayi laki-laki. Persis seperti Tuan muda," ucap Mbak Fani.


"Iya. Kalau mirip mamanya, juga pasti ganteng. Kan Non Syanum juga cantik."


Di sela-sela Mbak Asih dan Mbak Fani mengobrol, Bu Reva datang.


"Mbak Asih, ke mana Fabian? kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Bu Reva.


Sepertinya sejak tadi Bu Reva mencari Fabian.


Mbak Asih dan Mbak Fani menatap ke arah Bu Reva. Mbak Asih mendekat ke arah Bu Reva.


"Begini Nya. Tadi malam Tuan muda izin pergi ke rumah sakit. Dan katanya istrinya mau melahirkan," ucap Mbak Asih menjelaskan.


Bu Reva membelalakkan matanya. Dia tampak terkejut mendengar ucapan Mbak Asih.


"Oh ya? kok saya tidak tahu. Jam berapa dia pergi?" tanya Bu Reva.


"Sekitar jam sebelas malam Nya," jawab Mbak Asih .


"Ya udah. Saya akan hubungi dia sekarang."


Bu Reva kemudian melangkah pergi untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam kamarnya. Dia kemudian menelpon Fabian.


"Halo Ma."


"Halo Bi. Apa benar kalau kamu ada di rumah sakit sekarang?"


"Iya Ma. Syanum sekarang sudah melahirkan."


"Abi, kenapa kamu semalam nggak ajak mama sekalian ke rumah sakit."


"Maaf Ma. Abi panik. Abi juga kasihan kalau harus membangunkan Mama dan Kak Dila."

__ADS_1


"Aduh, kamu ini gimana sih. siapa yang menghubungi kamu semalam? Luna?"


"Iya Ma. Katanya Luna semalam menghubungi Mama dan Kak Dila. Tapi kalian nggak ada yang angkat telpon Luna. Makanya Luna telpon aku. Aku fikir, Mama dan Kak Dila itu capek. Makanya aku cuma titip pesan aja ke Mbak Asih. Dan membangunkan kalian berdua."


"Sekarang bagaimana kondisi Syanum dan bayinya?"


"Mereka alhamdulillah baik."


"Apa jenis kelamin bayi Syanum?"


"Laki-laki Ma."


"Alhamdulillah. Ya udah. Mama mau bilang sama kakak kamu. Nanti kita akan ke sana."


"Iya Ma."


Setelah menelpon Fabian, Bu Reva kemudian melangkah ke kamar Dila.


Bu Reva mengetuk pintu kamar Dila.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, Dila membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Ma?" tanya Dila.


"Dila. Kamu udah siap mau ke kantor?" tanya Bu Reva menatap lekat Dila yang sudah memakai baju kantor.


"Iya Ma. Ada apa memangnya Ma?"


"Syanum sudah melahirkan Dil. Dan sekarang dia ada di rumah sakit." Bu Reva menuturkan.


Dila melebarkan senyumnya.


"Katanya, bayinya laki-laki."


"Wah, ya ampun. Aku seneng banget deh Ma. Akhirnya Fabian punya anak juga. Mudah-mudahan saja, setelah anaknya lahir, Fabian akan berubah menjadi lebih dewasa lagi dan bisa benar-benar melupakan Mentari."


"Mama rasa, Fabian itu sudah melupakan Mentari. Karena semalam aja, dia ada di rumah sakit menunggui istrinya melahirkan."


Dila membelalakkan matanya.


"Fabian sudah ada di sana? kok bisa?" Dila tampak tidak menyangka.


"Kata Fabian, semalam Luna nelpon ke handphon kita. Tapi kita sudah tidur. Coba deh, kamu cek handphon kamu Dil. Pasti banyak panggilan masuk dari Luna."


"Ya udah. Kalau gitu, sekarang kita ke sana Ma. Kita lihat kondisi Syanum dulu."


"Iya Dil."


****


Fabian sejak tadi masih berdiri di depan ruang rawat Syanum. Dia tampak ragu untuk masuk ke dalam ruangan Syanum.


"Masuk apa nggak ya, aku takut Syanum malah akan ngusir aku kalau tahu aku ada di sini. Duh, di dalam, Luna lagi ngobrolin apa sih dengan Syanum." Fabian tampak penasaran.


Fabian sebenarnya ingin masuk ke dalam ruangan istrinya. Namun dia takut untuk bertemu Syanum. Sejak semalam, Fabian tidak tidur karena dia harus menjaga Syanum dan bayinya yang ada di dalam sebuah ruangan khusus.


Namun, setelah Syanum sadar, justru Fabian menjauh ke luar dari ruang rawat Syanum. Mungkin dia masih belum siap untuk bertemu Syanum. Dia takut, ancaman Syanum yang dulu tidak main-main. Syanum mengancam akan menggugat cerai Fabian setelah anak itu lahir.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Syanum tampak masih mengobrol dengan Luna.


"Selamat ya Kak. Akhirnya, kakak udah melahirkan dengan selamat. " ucap Luna memberi selamat.


"Di mana bayi aku?" tanya Syanum.


"Bayi kakak lahir prematur. Dan dia ada di ruangan khusus kak. Belum bisa di bawa ke sini. Tapi mungkin, nanti sore atau besok, dia akan di bawa ke sini oleh suster." Luna menjelaskan.


"Oh gitu."


Di sisi lain, dokter Anita melangkah ke arah Fabian. Dia menghentikan langkahnya setelah sampai di depan Fabian.


"Kamu...!" Dokter Anita menatap ke arah Fabian. Sepertinya dia belum lupa dengan wajah Fabian.


Fabian lelaki yang pernah menemani melahirkan salah satu pasien dokter Anita.


"Dokter," ucap Fabian.


"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Dokter Anita. Dia sama sekali tidak tahu kalau Fabian itu adalah suami Syanum.


Fabian bangkit berdiri.


"Saya suaminya Syanum," jawab Fabian singkat.


Dokter Anita terkejut.


"Suami Syanum? kamu yang waktu itu menemani Mentari lahiran kan?"


"Iya betul Dok. Mentari itu teman saya."


Dokter Anita manggut-manggut.


"Jadi, Syanum wanita yang kamu maksudkan itu? wanita yang katanya pergi dari rumah dan nggak mau kembali ke rumah kamu?"


"Dokter ingat aja sih sama cerita saya," ucap Fabian.


"Bagaimana saya nggak ingat, waktu itu kan kamu pernah cerita ke saya soal istri kamu. Dan ternyata istri kamu itu Syanum. Pasien ku juga? sempit banget ya ternyata dunia ini."


Fabian sebenarnya takut, kalau Dokter Anita cerita ke Syanum tentang Fabian, yang waktu itu pernah menemani Mentari lahiran. Fabian takut dokter Anita akan cerita ke Syanum soal itu.


"Dok. Apa dokter mau janji sama saya?" tanya Fabian tiba-tiba.


Dokter Anita mengernyitkan alisnya.


"Janji apa?" tanya dokter Anita penasaran.


"Dokter. Tolong jangan bilang ke Syanum kalau aku pernah nungguin Mentari lahiran."


"Kenapa?"


"Aku nggak mau, Syanum tambah marah dan tambah membenci aku. Kalau dia tahu, aku pernah nungguin wanita lain melahirkan. Aku sebenarnya ingin memperbaiki rumah tangga aku sama istri aku."


Dokter Anita tersenyum.


"Tenang aja. Aku nggak akan bilang-bilang ke Syanum. Terus kenapa kamu malah berdiri aja di sini. Ayo masuk! aku juga mau memeriksa istri kamu."


"Nggak ah Dok. Nanti aja. Dokter duluan aja yang masuk."


"Ya udah. Nanti kamu masuk ya. Biasanya seorang wanita yang baru melahirkan itu, pasti akan sangat membutuhkan kasih sayang seorang suami dan keluarga terdekatnya. Makanya sekarang lah waktu yang tepat untuk menunjukan perhatian kamu ke istri kamu. Tunjukkan lah pada istri kamu, kalau kamu sayang dan cinta sama dia. Jangan jauhin Syanum. Dekati dia."

__ADS_1


"Iya Dok."


Dokter Anita kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Syanum untuk memeriksa kondisi Syanum.


__ADS_2