Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kesabaran seorang istri


__ADS_3

"Pergi dari kamar aku Syanum...!" Fabian mengusir Syanum. Syanum yang sejak tadi masih diam mematung di depannya.


"I-iya Tuan. Saya akan pergi."


Syanum masih diam. Dia belum mau pergi meninggalkan kamar suaminya. Syanum sejak tadi masih memikirkan ucapan ayah mertuanya. Ayah mertuanya meminta Syanum untuk menyiapkan baju kerja dan sarapan untuk Fabian.


Kenapa Tuan Fabian mengusirku sih. Aku ke sini cuma mau menyiapkan baju kerjanya saja. Tidak ada yang lain, batin Syanum


"Syanum. Kamu dengar aku ngomong nggak sih? kenapa kamu malah bengong. Ayo, pergi dari sini Syanum...!"


Syanum tersentak. Dia kemudian buru-buru melangkah pergi meninggalkan suaminya.


Syanum berlari ke kamarnya yang ada di belakang. Dia masuk ke dalam kamarnya dan menangis.


Hiks...hiks...hiks...


"Kenapa tuan muda, jahat banget sama aku. Apa salah aku sama dia," gumam Syanum di sela-sela tangisannya.


****


Ting.


Suara notifikasi dari ponsel Fabian berbunyi. Fabian mengambil ponselnya. Sudah banyak chat yang masuk ke ponselnya.


Fabian membuka chat dari ayahnya.


(Fabian. Cepat datang ke kantor. Meeting akan segera di mulai)


"Papa. Nyuruh aku ke kantor sekarang. Tapi aku belum siap-siap," gumam Fabian.


Fabian mengambil baju kemejanya. Dia melangkah pergi meninggalkan kamarnya sembari memakai kemejanya.


"Mbak Asih...! Mbak Asih...!" seru Fabian sembari menuruni anak tangga.


Fabian menatap ke sekeliling. Namun Mbak Asih tampak tidak ada di dalam rumah.


"Ah, ke mana sih Mbak Asih."


Fabian kemudian melangkah ke belakang untuk mencari Mbak Asih. Tidak terasa, Fabian sudah berada di depan kamar Syanum. Samar-samar,Fabian mendengar suara tangisan Syanum.


Hiks...hiks...hiks...


"Kenapa hidup aku jadi seperti ini, kenapa Tuhan," gumam Syanum.


Sejak tadi Fabian hanya bisa mendengar ratapan Syanum dari luar kamar Syanum.


Apa aku sudah keterlaluan ya sama dia, batin Fabian.


Fabian memutar tubuhnya. Dia akan melangkah untuk meninggalkan kamar Syanum.


Tiba-tiba saja,


Bruaak...


Fabian tersandung dan jatuh.


Syanum yang mendengar sesuatu dari luar kamarnya, segera melangkah ke luar. Dia terkejut saat melihat suaminya.


"Tuan muda. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Syanum.


Syanum buru-buru melangkah untuk menolong Fabian. Namun, dengan sigap Fabian langsung menghempaskan tangan Syanum.

__ADS_1


"Aku tidak perlu bantuanmu Syanum...!" Fabian menatap tajam Syanum.


Syanum mengangguk. Syanum bangkit berdiri. Begitu juga dengan Fabian.


"Maafkan aku Tuan. Aku cuma mau membantumu," ucap Syanum.


Fabian melangkah pergi meninggalkan Syanum. Dia kemudian duduk di ruang makan.


Sementara Syanum masih di buat bingung dengan suaminya.


"Kenapa Tuan muda tiba-tiba saja ada di sini. Mau ngapain dia ke kamar aku. Mungkin dia sedang butuh sesuatu."


Syanum kemudian melangkah pergi untuk menyusul suaminya.


"Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Syanum tiba-tiba.


Fabian menoleh ke arah Syanum.


"Aku cuma lagi nyari Mbak Asih. Siapa tahu dia ada di belakang."


"Mbak Asih ya. Mbak Asih bukannya sudah ke pasar."


"Huh, lagi-lagi ke pasar. Lagi-lagi ke pasar," gerutu Fabian.


"Tuan muda, kalau mau perlu sesuatu bisa kan Tuan muda panggil saya."


"Aku harus ke kantor sekarang. Aku lapar, pengin sarapan."


"Baik. Aku akan siapkan makanan untuk kamu."


Syanum kemudian segera bergegas untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sementara Fabian, menunggu di ruang makan.


Beberapa saat kemudian, Syanum menghidangkan makanan di meja makan untuk Fabian. Selesai itu, Syanum berdiri di samping Fabian.


Fabian meletakkan ponselnya di atas meja makan. Setelah itu dia menatap Syanum tajam.


"Kenapa kamu masih ada di sini? pergi sana! asal kamu tau ya, selera makanku jadi hilang kalau kamu tetap di sini. Dasar gadis kampung!" maki Fabian dengan nada kesal.


Syanum hanya mengangguk. Dia sudah biasa mendapatkan makian dari suaminya. Dan Syanum akan membiasakan diri dengan itu. Karena dia juga tidak akan mungkin bisa lepas dari lelaki itu, tanpa persetujuan majikannya.


Syanum melangkah pergi dengan gontai. Lagi-lagi lelaki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu memaki-makinya.


Sebenarnya Syanum sudah tidak tahan mendapatkan perlakuan kasar dari Fabian. Tapi apa yang bisa dia lakukan sekarang? menggugat cerai Fabian? itu rasanya sangat tidak mungkin. Kecuali Fabian yang menceraikan dan melepaskannya. Karena sampai kapan pun Fabian adalah orang yang berkuasa. Sementara Syanum tidak ada apa-apanya di banding keluarga besar Fabian.


Syanum menghela nafasnya dalam. Dia mencoba untuk menahan amarahnya. Dia tidak akan terus menerus menangis hanya karena Fabian. Masih banyak hal positif yang bisa dia lakukan agar dia bisa melupakan amarahnya pada Fabian.


Syanum tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Dia segera menghapusnya kasar.


"Aku nggak boleh nangis. Aku harus kuat demi ayah," gumam Syanum.


Syanum terkejut saat tiba-tiba saja klakson mobil terdengar. Syanum menatap ke depan.


"Ayah," ucap Syanum.


Syanum buru-buru mendekat ke arah ayahnya.


Pak Herman turun dari mobilnya dan mendekat ke arah Syanum.


"Syanum. Ngapain kamu berdiri di sini?" tanya Pak Herman.


"Aku cuma lagi bingung aja Yah mau ngerjain apa. Kenapa ayah pulang?" tanya Syanum.

__ADS_1


Syanum mencium punggung tangan ayahnya.


"Sebenarnya ayah ke sini, di suruh jemput Tuan Fabian."


Syanum mengernyitkan alisnya.


"Mau ke mana?" tanya Syanum.


"Ke kantor Syanum. Sudah jam sepuluh, tapi Tuan muda nggak datang-datang juga. Dia udah di tunggu dari tadi oleh Tuan Damar."


"Oh, tapi tadi dia lagi makan Yah."


"Iya. Bisa kamu panggilkan dia?"


Syanum mengangguk.


Syanum kemudian buru-buru melangkah masuk ke dalam untuk memanggil suaminya.


Syanum terkejut saat melihat suaminya sedang terlelap di sofa ruang tengah. Syanum fikir, setelah makan, Fabian akan segera ke kantor. Tapi dia malah asyik tidur lagi.


"Ya ampun. Kenapa dia malah tidur lagi. Di kantor dia kan sudah di tunggu papa."


Syanum mendekat ke arah Fabian. Dia ingin membangunkan suaminya. Tapi, Syanum tidak berani setelah apa yang suaminya tadi lakukan.


"Kalau aku bangunin dia, bagaimana nanti kalau dia marah lagi."


Syanum masih ragu untuk membangunkan suaminya. Dia takut kalau Fabian akan marah lagi padanya.


Ring ring ring...


Suara ponsel Fabian sejak tadi masih berdering. Namun, Fabian tidak mengangkat ponselnya karena dia sangat nyenyak sekali tidurnya sehingga dia tidak mendengar suara telpon.


Syanum menatap ponsel Fabian. Syanum segera mengangkat ponselnya saat dia tahu kalau yang menelpon adalah ayah mertuanya.


"Halo..."


"Halo Syanum. Mana Fabian? Kenapa sudah jam segini dia belum sampai ke kantor?"


"Tuan muda, tidur lagi Pa."


"Apa! tidur lagi?"


"Iya. Tadi sih dia udah bangun, udah mandi, dan udah sarapan. Tapi dia tidur lagi sofa ruang tengah."


"Bangunin. Cepat bangunin dia. Kebiasaan banget sih anak itu. Suka sekali membuatku marah."


"Baik Pa."


Syanum kemudian buru-buru membangunkan suaminya. Dia tidak mau membuat ayah mertuanya tampak murka.


"Tuan muda, bangun. Ini ada telpon dari papa." Syanum menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


Hoaaammm.


Fabian terkejut saat melihat Syanum. Fabian buru-buru beringsut duduk.


"Ada apa Syanum?"


"Ini Tuan muda. Ada telpon dari papa. Katanya kamu di suruh cepat-cepat ke kantor."


Fabian bangkit berdiri dengan malas. Dia kemudian meraih dengan paksa ponsel yang di pegang Syanum. "Sini handphoneku."

__ADS_1


Fabian kemudian pergi meninggalkan Syanum.


__ADS_2