
Pak Damar, meliburkan dua hari Fabian dari kantor. Karena Fabian hari ini akan meluncur ke Bali untuk bulan madu bersama istrinya di sana.
Fabian sudah tidak bisa menolak lagi dengan keputusan ayahnya itu.
Fabian dan Syanum sejak tadi masih mengepaki barang-barang yang akan mereka bawa untuk ke Bali.
"Mas, kamu mau bawa baju yang mana?" Syanum masih menatap ke dalam lemari Fabian.
"Terserah Syanum. Ambilkan aku baju santai saja. Di sana kan kita mau refreshing, bukan mau kerja."
"Iya."
Syanum kemudian mengambil beberapa baju untuk Fabian.
"Lho. Banyak amat Syanum bawa bajunya?"
"Yah, siapa tahu di sana kamu mau berselancar Mas. Kan kamu akan lebih sering ganti baju."
"Apa! berselancar? aku nggak suka berselancar. Itu bukan hobi aku Syanum. Nggak usah bawa banyak-banyak. Bawa sedikit aja bajunya. Kita kan cuma mau dua hari aja di sana."
"Iya Mas."
Syanum kemudian mengepaki baju-bajunya dengan baju suaminya ke dalam koper. Sementara sejak tadi, Fabian masih duduk manis di sisi ranjang tanpa membantu istrinya beres-beres.
"Mas, kamu mau mandi sekarang? atau aku duluan yang mandi?" tanya Syanum.
"Kamu duluan aja deh Syanum."
"Baiklah. Kalau gitu, kamu pergi dari kamar aku sekarang!"
"Untuk apa aku pergi? kenapa kamu mengusir aku dari kamar aku sendiri."
"Aku nggak ngusir kamu Mas. Tapi aku mau mandi, dan ganti baju. Kalau kamu masih di sini terus, gimana caranya aku ganti baju?"
"Yah, tinggal ganti baju aja. Apa susahnya sih. Aku lagi malas ke luar kamar."
"Ya tapi kan ada kamu. Aku nggak bisa ganti baju."
"Masalahnya apa kalau ada aku? aku nggak akan gigit kamu juga kan. Ganti baju aja sana di dalam kamar mandi. Repot amat sih"
Syanum menghela nafasnya dalam. Dia kemudian mengambil handuk dan bajunya. Setelah itu, dia buru-buru melangkah pergi meninggalkan Fabian.
"Kamu mau ke mana Syanum?" tanya Fabian.
"Aku mau mandi di kamar mandi belakang, sekalian mau ganti baju di kamar aku," ucap Syanum.
Syanum kemudian melangkah ke luar kamar dan menuruni anak tangga.
"Lho, Syanum. Kamu mau ke mana?" tanya Kak Dila yang sudah berada di ruang tengah.
"Aku mau mandi Kak," jawab Syanum.
"Mandi di mana?"
"Di kamar mandi belakang."
"Apa! kamu mau mandi di kamar mandi pembantu? untuk apa Syanum. Di kamar Fabian kan ada kamar mandi."
__ADS_1
"Em, tapi itu Kak. Mas Fabian mau mandi juga. Jadi aku nyari kamar mandi lagi. Nggak mungkinkan kalau kita mandi bareng-bareng," ucap Syanum.
"Ya nggak apa-apa, kalian itu kan suami istri," ucap Kak Dila.
Syanum jadi malu sendiri.
"Syanum. Kamar mandi di sini banyak. Nggak perlu kamu mandi di kamar mandi pembantu. Kalau kamu mau, kamar mandi di kamar kakak juga kosong. Kamu bisa mandi di sana dan ganti baju juga," lanjut Kak Dila.
Syanum tersenyum.
"Boleh emangnya aku numpang mandi di kamar mandi kakak?"
"Boleh dong Syanum. Sekarang kamu itu istrinya Fabian. Sama saja kamu itu adik aku. Nggak usah sungkan-sungkan Syanum untuk minta bantuan dari aku."
"Iya Kak."
"Sudah sana, kalau mau mandi."
Syanum kemudian buru-buru melangkah ke kamar Dila untuk numpang mandi di kamar Dila.
Syanum dan Fabian tampak sudah rapi. Mereka sudah siap untuk berangkat ke bandara. Saat ini, Syanum dan Fabian masih berada di teras depan rumah. Pak Damar yang akan mengantar mereka sampai ke bandara.
Sebelum pergi, Syanum dan Fabian berpamitan dulu pada Bu Reva dan Kak Dila.
Syanum memeluk ibu mertuanya.
"Ma, aku pergi dulu ya Ma,"ucap Syanum.
Bu Reva melepas pelukannya dan menatap menantunya lekat.
"Hati-hati di jalan ya."
"Hati-hati di jalan Syanum," ucap Dila.
"Iya Kak."
Setelah Fabian dan Syanum berpamitan pada Dila dan Bu Reva, Pak Damar mendekat ke arah mereka.
"Syanum, Fabian, apa kalian sudah siap?" tanya Pak Damar.
"Sudah Pa," jawab Syanum.
"Ya udah. Masukan barang-barang kalian juga ke dalam!"
Fabian kemudian memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobilnya.Setelah itu, Fabian melangkah ke arah ayahnya.
"Papa atau aku yang mau nyetir Pa?" tanya Fabian.
"Kamu aja Bi yang nyetir. Papa cuma akan mengantar kalian ke bandara."
"Baiklah" ucap Fabian.
"Silahkan kamu duduk di depan bersama istri kamu!" pinta Pak Damar.
Fabian hanya mengangguk. Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan meluncur ke bandara.
****
__ADS_1
Siang ini, Fabian dan Syanum sudah sampai di hotel, Syanum dan Fabian sejak tadi masih duduk manis di atas sofa yang ada di dalam hotel.
Mereka bingung, akan melakukan apa di sana. Sejak tadi, Syanum masih membolak-balikkan majalah tampak bosan.
"Kamu kenapa?" tanya Fabian saat melihat Syanum tampak resah.
"Entah kenapa, aku jadi lapar begini ya."
"Kalau lapar ya makan dong."
"Tapi, nggak ada makanan apa-apa di sini," ucap Syanum.
"Syanum. Ini hotel, bukan restauran. Hotel digunakan hanya untuk tempat menginap. Kalau mau makan, kita harus pesan dulu atau kita keluar," ucap Fabian.
"Iya aku tahu."
Fabian bangkit berdiri. Setelah itu dia mengajak Syanum pergi meninggalkan hotel.
"Kita mau ke mana Mas?"
"Sudah, nggak usah banyak tanya. Katanya kamu lapar."
Fabian dan Syanum melangkah ke luar dari hotel. Fabian kemudian mengajak Syanum sampai ke jalan raya untuk menunggu taksi.
Fabian kemudian mengajak Syanum naik taksi. Dan mereka pergi untuk berkunjung ke pantai Kuta salah satu tempat wisata yang ada di Bali.
Syanum dan Fabian sudah ke luar dari taksi. Mereka kemudian menuju ke pantai yang tempatnya tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Syanum berdecak kagum saat menatap gulungan ombak yang ada di sekitar pantai Kuta.
"Wah, ternyata kamu mau ngajak aku ke sini?" Syanum menatap lekat suaminya.
Fabian hanya mengangguk. Tatapannya menerawang jauh ke lautan lepas.
"Sudah lama aku nggak ke sini," ucap Fabian.
"Sudah berapa kali kamu ke sini?" tanya Syanum.
"Ini tempat favorit aku dengan Mentari dulu. Kami sering sekali berlibur ke sini sewaktu kami masih kuliah."
Syanum menghela nafas dalam.
'Kenapa sih, di saat-saat berdua seperti ini, kamu masih saja menyebut nama Mentari. Apakah sepenting itu dia untuk kamu. Dia saja sudah meninggalkan kamu Mas. Kamu mengingat dia, belum tentu dia mengingat kamu' batin Syanum.
"Dulu, di kampung aku juga sering pergi ke sungai untuk mancing," ucap Syanum.
"Mancing? kamu suka memancing?" Fabian menoleh ke arah Syanum.
"Iya. Apalagi dulu aku ini, terkenal bandel dan tomboy"
"Tomboy?"
"Iya. Coba bayangin, sampai lulus SMA, aku masih main sama teman-teman cowok."
"Tapi, aku kok nggak pernah melihat kalau kamu itu tomboy?"
"Aku memang sudah berubah, dan aku berubah karena seseorang."
__ADS_1
"Oh, seseorang? apakah itu aku?"
"Hehe... geer aja," ucap Syanum sembari melangkah pergi meninggalkan suaminya.