Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Tanda merah


__ADS_3

Fabian melangkah dan menuruni anak tangga. Dia kemudian sampai di ruang keluarga.


"Selamat pagi Ma," sapa Fabian yang melihat ibunya sudah duduk di ruang keluarga.


Bu Reva tersenyum.


"Pagi Bi. Kamu udah mau berangkat ke kantor ya?" tanya Bu Reva.


"Iya Ma. Maaf, aku kesiangan."


"Nggak apa-apa Bi."


Fabian menatap ke sekeliling.


"Ma, sepi amat. Di mana Kak Dila?" tanya Fabian.


"Dia kan sedang mengantar Dimas sekolah."


"Oh iya. Aku sampai lupa."


"Kamu mau langsung ke kantor aja Bi? nggak mau makan dulu?" tanya Bu Reva.


"Nggak usah Ma. Aku makan di kantin kantor aja."


"Mana istri kamu?" tanya Bu Reva yang tidak melihat Syanum ada bersama Fabian. Karena biasanya, setiap pagi, Syanum selalu mengantar suaminya sampai di depan rumah.


"Dia tadi masih di kamar. Katanya lagi malas bangun Ma," jelas Fabian.


"Ya udah. Nggak apa-apa."


Fabian kemudian mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu, dia melangkah pergi


meninggalkan rumah.


Fabian mengendarai mobilnya sampai ke kantor. Setelah itu, dia memarkirkan mobilnya di parkiran kantor. Setelah dia memarkirkan mobilnya, Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam kantor.


Fabian kemudian masuk ke dalam ruangannya. Setelah itu, Fabian duduk di kursi yang ada di ruangan kerjanya.


Fabian diam. Dia masih memikirkan kejadian tadi malam.


"Kenapa bisa ya, aku melakukan itu sama Syanum. Bagaimana kalau istriku hamil dong. Aku tidak mungkin bisa meninggalkan dia, jika sampai dia punya anak dariku," gumam Fabian.


Fabian teringat saat ibunya menghampiri kamarnya dan memberikan Fabian dua gelas susu.


"Setelah aku minum susu hangat dari mama, kepalaku mendadak menjadi pusing dan tubuhku merasakan panas. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Obat apa yang sudah Mama campurkan ke dalam minuman aku. Apa jangan-jangan, Mama sengaja mencampurkan obat perangsang dalam susu itu. Kenapa mama melakukan itu sih," gumam Fabian.


Fabian menghela nafasnya dalam. Dia tidak mau terlalu memikirkan kejadian tadi malam. Dia sekarang hanya ingin fokus pada kerjannya.


Dan dia tidak mau dimarahi ayahnya lagi, gara-gara membuat kesalahan dalam pekerjaannya. Fabian juga tidak ingin kalah dari Ryan. Anak bau kencur yang di tempatkan di posisi yang sama seperti Fabian oleh Pak Damar.


Pak Damar memang tidak langsung memberikan Fabian jabatan tinggi di kantornya. Dia ingin anaknya memulai dari nol. Dari karyawan paling bawah. Itu semua biar Fabian dan Ryan tahu, betapa sulitnya bekerja dari nol sampai menjadi orang sukses.

__ADS_1


Karena dulu Pak Damar juga bekerja mulai dari karyawan paling bawah sampai sekarang dia menjadi seorang direktur utama di perusahaannya sendiri.


****


Sore ini, Bu Reva dengan ke dua pembantunya masih berada di dapur. Mereka tampak sedang memasak untuk persiapan makan malam nanti malam.


Sepertinya nanti malam, akan ada tamu penting yang akan datang ke rumah mereka.


"Hem, wangi banget Nya, masakannya," puji Mbak Fani.


Bu Reva tersenyum.


"Nyonya ini memang jago banget masaknya. Tapi sayangnya, dia tidak pernah terjun ke dapur," ucap Mbak Asih.


"Tapi, masakanku, masih kalah dengan masakan Syanum. Dia kalau masak lebih enak dari masakan siapapun," puji Bu Reva.


Mbak Fani dan Mbak Asih hanya terkekeh. Memang Syanum itu jago masak. Dan belum ada yang bisa menandingi masakannya. Karena ibu Syanum dulu, memang pemilik warung makan terkenal di kampungnya.


Sebelum ibu Syanum meninggal, dia sudah mengajarkan resep-resep istimewa pada Syanum anaknya.


Sebelum Syanum ikut Pak Herman tinggal di rumah Pak Damar, Syanum sudah lebih dulu bersama ibunya membuka warung makan di kampung. Dan warung makan itu laris manis.


Sejak SMA, Syanum sudah bisa memasak seperti masakan ibunya. Tapi semenjak ibu Syanum sakit, warung makan itu tutup. Pak Herman dan Syanum, harus mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan ibu Syanum waktu itu.


Untunglah, Pak Herman mempunyai majikan yang baik hati seperti Pak Damar dan Bu Reva. Mereka selalu senantiasa mau ikut membantu biaya pengobatan istrinya Pak Herman.


Namun, takdir berkata lain, mungkin Tuhan lebih sayang pada ibu Syanum. Sehingga, ibu Syanum harus meninggal di usia yang masih muda karena sebuah penyakit yang di deritanya.


Syanum menuruni anak tangga. Dia kemudian melangkah ke arah dapur.


"Hemm... wangi banget masakan Mama," ucap Syanum yang sudah berdiri di belakang Mbak Fani, Mbak Asih, dan Bu Reva.


Mereka menoleh ke belakang dan menatap ke arah Syanum.


Mbak Fani tampak terkejut saat melihat leher Syanum. Syanum memang tidak menyadari kalau Fabian telah membuat tanda kepemilikan di lehernya.


"Non.


Leher Non kenapa? Non lagi kena gatal ya?" ucap Mbak Fani.


Mbak Asih langsung menginjak kaki Mbak Fani yang membuat Mbak Fani memekik.


"Auh...! kok Mbak Asih nginjak kaki aku," ucap Mbak Fani.


"Bisa diam nggak kamu?" bisik Mbak Asih.


Maklum sajalah, Mbak Fani juga belum pernah pengalaman soal hal itu. Karena Mbak Fani masih lajang. Usia Mbak Fani memang sudah tiga puluh tahun, tapi dia belum menikah. Mungkin, karena sejak gadis, dia selalu kerja terus dan bergonta-ganti majikan. Makanya sampai saat ini, dia belum menikah.


Bu Reva tersenyum sembari mengaduk-aduk masakannya. Dia tahu, kalau rencananya tadi malam itu berhasil. Sementara Syanum meraba lehernya.


'Ada apa dengan leher aku. Aku ngerasa nggak gatal kok,' batin Syanum.

__ADS_1


"Non, Non nggak usah bantu kita. Non tunggu dulu aja di ruang tengah. Non pasti belum makan kan? kalau Non mau makan, nanti Mbak Asih ambilkan," ucap Mbak Asih.


"Nggak perlu Mbak. Aku bisa ambil sendiri. Tapi aku nggak lapar kok. Nanti kalau udah lapar, aku ambil sendiri aja."


Syanum kemudian melangkah ke arah ruang tengah dan duduk di sofa ruang tengah.


Beberapa saat kemudian, suara Dimas dari luar rumah terdengar.


"Ma, nanti kita jalan-jalan lagi ya Ma," ucap Dimas pada mamanya.


"Iya. Nanti kalau kamu nurut, Mama akan belikan kamu ice cream yang banyak," ucap Dila sembari melangkah masuk ke ruang tengah.


Dila kemudian duduk berbaur bersama Syanum.


"Kak, baru pulang?" tanya Syanum.


"Iya Syanum."


Dimas kemudian duduk di sisi ibunya.


"Tumben sampai sore," ucap Syanum.


"Kakak baru ngantar Dimas les. Dan ini hari pertama dia les. Jadi, kakak pulangnya sampai sore. Sekalian ngajak dia jalan-jalan."


"Oh..." Syanum manggut-manggut.


Dila menatap ke arah Syanum. Dia senyum-senyum sendiri saat melihat tanda merah di leher Syanum.


"Kenapa kak?" tanya Syanum yang masih belum sadar, dengan tanda di lehernya.


"Nggak apa-apa. Oh iya. Kamu udah berapa bulan sih, nikah sama adik aku?" tanya Dila basa-basi.


"Sudah mau menginjak empat bulan," jawab Syanum.


"Tapi kenapa kamu belum hamil-hamil ya?"


'Gimana aku akan hamil. Mas Fabian aja menyentuhku baru semalam.' batin Syanum.


"Em, mungkin Tuhan belum mau ngasih Kak."


"Iya iya. Semoga, kamu bisa cepat hamil ya. Karena kakak dulu hamilnya juga cepat. Baru dua bulan kakak langsung hamil. Semoga kamu bisa cepat ngasih adik buat Dimas."


Dila tahu, apa yang terjadi dengan


Fabian dan Syanum. Karena Bu Reva sempat cerita ke Dila soal hubungan Syanum dengan Fabian. Kalau selama ini, Fabian dan Syanum belum pernah melakukan malam pertama. Dan Dila yang mengusulkan untuk membeli obat perangsang itu.


'Huh, dasar adik aku itu memang aneh. Di kasih obat, barulah dia mau beraksi.' batin Dila.


"Syanum. Kakak ke kamar dulu ya. Kakak mau mandi. Sekalian mau mandiin Dimas."


"Iya Kak."

__ADS_1


Dila kemudian mengajak Dimas ke dalam kamarnya.


__ADS_2