Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kepergian Dani


__ADS_3

"Gimana?" Bu Reva menatap lekat Mbak Fani.


"Tuan muda, lagi menuju ke sini Nya," jawab Mbak Fani.


"Ya udah. Kamu boleh pergi," ucap Pak Damar.


"Iya Tuan."


"Eh, Mbak Fani tunggu. Tolong masukan barang-barang saya ke kamar ya. Itu ada baju-baju kotor juga," ucap Bu Reva.


"Iya Nya."


Mbak Fani kemudian pergi ke kamar menyajikannya, sesuai permintaan Bu Reva sembari membawa barang-barang Bu Reva ke kamar Bu Reva


Beberapa saat kemudian, Fabian dan Syanum melangkah menghampiri Bu Reva dan Pak Damar. Mereka kemudian duduk berbaur bersama dengan orang tuanya.


"Bi. Gimana perkembangan kasus Firen? apa kamu sudah lapor polisi?" tanya Pak Damar.


Fabian menggeleng.


"Bagaimana mungkin aku akan lapor polisi Pa. Kalau penculiknya aja selalu mengancam ku akan menyakiti Firen. Bagaimana kalau Firen disakiti sama penculik itu?" ucap Fabian.


"Astaghfirullah. Kenapa bisa seperti ini. Siapa yang sudah dendam pada keluarga kita sebenernya Bi. Perasaan selama ini, Papa selalu baik sama orang. Dan Papa juga nggak pernah punya musuh," ucap Pak Damar.


"Abi juga nggak pernah ngerasa punya musuh."


"Menurut Mama, nggak mungkin dia menculik Firen secara cuma-cuma. Pasti dia punya alasan tersendiri kenapa dia tega menculik anaknya Fabian. Mungkin, penculiknya itu punya dendam dengan kita. Pasti semua ini sudah ada yang merencanakan," ucap Bu Reva.


"Tapi siapa Ma?" ucap Fabian.


"Ya itu yang harus kita selidiki. Kita cari tahu siapa sebenarnya dalang yang ada dalam semua masalah ini."


Di depan rumah Pak Damar, deru mobil sudah terdengar. Adam dan Dila turun dari mobilnya, setelah mereka memarkirkan mobilnya.


Semakin hari, hubungan mereka semakin dekat saja. Namun, dari ke dua orang tua Dila, belum ada yang tahu dengan hubungan Dila dan Adam.


"Mas, masuk yuk ke dalam," ajak Dila.


Adam mengangguk.


Adam dan Dila kemudian masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap Dila dan Adam bersamaan.


Pak Damar, Bu Reva dan Fabian saling menatap.


"Itu pasti Dila pulang," ucap Pak Damar.


Beberapa saat kemudian, Dila dan Adam masuk melangkah sampai ke ruang tengah. Mereka terkejut saat melihat Bu Reva dan Pak Damar.


"Papa, Mama, kalian sudah pulang?" tanya Dila.


Bu Reva dan Pak Damar mengangguk.


"Lelaki siapa yang kamu bawa Dil?" tanya Pak Damar.


"Ini Mas Adam. Dia teman aku Ma, Pa"

__ADS_1


"Selamat malam Om, Tante," ucap Adam.


Adam kemudian bersalaman dengan Pak Damar dan Bu Reva.


"Malam," ucap Pak Damar dan Bu Reva kompak.


"Saya ke sini, cuma mau mengantar Dila pulang. Tadi Dila kemalaman. Tadi dia nyuruh saya untuk menjemputnya ke kantor, karena dia nggak bawa mobil," jelas Adam.


"Mas Adam ini, teman waktu aku sekolah Pa, Ma."


"Oh. Gitu ya. Ayo duduk dulu Nak Adam!" pinta Bu Reva


"Oh. Nggak Tante. Saya mau langsung pulang saja. Udah malam, takut anak saya nungguin."


"Oh. Gitu ya?"


Setelah berpamitan pada keluarga Dila, Adam kemudian memutuskan untuk pulang. Setelah Adam pulang, Dila duduk berbaur bersama keluarganya.


"Kalian mau pulang kok nggak bilang-bilang sih?" tahap Dila.


"Bagaimana kami bisa tenang, kalau keadaan di rumah aja kaca seperti ini Dil," ucap Bu Reva.


"Papa akan cari Firen dengan cara papa. Fabian ini nggak bisa di andalkan. Mencari anaknya saja nggak bisa.Dia malah takut sama penculiknya. Untuk masalah Firen, papa yang akan tangani."


"Oh gitu ya Pa. Ya udah Pa. Dila ke kamar dulu ya. Uda malam. Dila juga uda ngantuk."


Bu Reva dan Pak Damar mengangguk. Setelah itu Pak Damar dan Bu Reva juga memutuskan untuk ke kamarnya.


Di ruang tengah masih ada Syanum dan Fabian


"Sayang. Kita masuk yuk! kamu kelihatan lelah sekali."


****


Dari tadi, Bu Novi masih cemas memikirkan Dani. Tubuh Dani panas. Dari kemarin, panasnya juga ngga turun-turun. Dari kemari juga, Bu Novi sudah bicara sama Aira dan meminta Aira untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Namun, Aira masih tampak sibuk dan belum mau mengantar ibunya dan ponakannya itu ke rumah sakit.


"Ra. Kamu mau ke kantor lagi?" tanya Bu Novi.


"Iya Ma," jawab Aira


"Antar mama dulu yuk Ra. Untuk memeriksakan Dani."


"Lah Ma, kenapa nggak di kasihkan ke orang tuanya aja sih. Kenapa Mama harus repot-repot segala sih ngurusin dia."


"Mama juga nggak tahu di mana Mentari sekarang Ra. Kasihan anak ini. Masak iya mama akan membiarkan saja Dani. Dani itu masih bayi. Belum tahu apa-apa."


"Ma, kasihkan aja ke orang tua Mario Ma. Biar dia di rawat oleh Mario. Kan Mario juga ayahnya. Mentari aja nggak mau ngurus anaknya. Gila banget itu cewek."


Tok tok tok ..


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Aira. Aira buru-buru melangkah untuk melihat ke depan. Aira terkejut saat melihat Mario.


"Pagi Aira."


"Eh, Mario. Ada apa?" tanya Aira.


"Saya ke sini, mau mencari Mentari," jawab Mario.

__ADS_1


"Mentari nggak ada di sini."


"Terus, dia ke mana?"


"Ya mana aku tahu. Ada juga cuma anak kamu doang," ucap Mario.


"Di mana anak aku?"


"Tuh, ada sama mama aku. Bawa kek sana anaknya. Urusin tuh anaknya. Bikin repot orang tua aku aja sih.*


"Lah, kan ada ibunya Ra. Itu kan anak Mentari. Kalau aku bawa-bawa dia, nanti gimana kalau Mentari melapor kepolisi," ucap Mario.


"Lah, bukannya itu anak kamu juga. Sana tuh, masuk. Dia lagi panas demam. Dan ibunya nggak perduli. Bawa aja nggak apa-apa kali. Ibunya aja nggak mau ngurusin."


"Kalau Mentari benar-benar ngga mau mengurus anaknya, aku benar-benar akan membawa Dani ikut dengan aku."


"Ya udah bagus kalau gitu. Namanya kamu kamu tanggung jawab. Sana, itu ada mama aku di dalam."


Mario kemudian masuk ke dalam rumah Aira.


"Tante. Bagaimana kabar anak aku?" tanya Mario.


"Dia demam Mario. Dan harus di bawa ke dokter. Sudah dari kemarin dia panas tinggi. Tapi, Tante belum sempat untuk membawanya ke dokter," ucap Bu Novi.


"Ya udah. Ayo Tan. Tunggu apa lagi. Ikut aku, dan bawa Dani ke rumah sakit sekarang juga" ucap Mario.


"Iya. Kamu mau ngantar Tante?"


Mario mengangguk.


"Ya udah. Tante siap-siap dulu ya."


Setelah Bu Novi siap, Bu Novi kemudian melangkah untuk menghampiri Mario.


"Ayo Mario!" ucap Bu Novi sembari masih menggendong Dani.


"Iya Tan."


Mario kemudian membawa Bu Novi dan anaknya ke rumah sakit.


****


Mario dan Bu Novi masih menunggu Dani yang sekarang masih berada di ruang UGD.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter ke luar dari ruangan itu.


"Dokter. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mario khawatir.


"Maaf, saya sudah melakukan yang terbaik. Tapi rupanya, Tuhan terlalu sayang sama anak itu. Dani tidak bisa di selamatkan," ucap Dokter


"Apa!"


"Kalian sudah terlambat membawanya ke sini. Tadi di dalam Dani kejang-kejang dan dia meninggal."


"Inalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..." ucap Mario dan Bu Novi bersamaan.


Tubuh Mario mendadak melemas. Mario tiba-tiba saja bersimpuh di atas lantai rumah sakit. Rasanya pedih sekali hatinya saat mendengar anaknya meninggal. Padahal baru saja dia ingin membawanya ke rumah dan mengajak Dani untuk tinggal di rumahnya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia menghendaki Dani pergi dari kehidupan Mario dan Mentari. Mungkin setelah kepergian Dani, Mario akan sadar kalau Mentari itu bukan wanita yang baik.

__ADS_1


'Ini semua gara-gara Mentari. Gara-gara Mentari, aku kehilangan anak kandung aku sendiri. Mulai hari ini aku janji. Aku akan melupakan cinta aku ke Mentari. Dia itu wanita jahat. Dia sudah tidak perduli lagi dengan anak kandungnya. Dan sekarang Dani meninggal. Dan semua itu karena Mentari yang tidak mau perduli pada Dani.'


__ADS_2