Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Siapa ayah kandung Dani


__ADS_3

"Jadi maksud kamu apa Bi?" tanya Mentari.


"Kamu nggak dengar tadi aku ngomong apa? aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Karena sekarang aku sudah mencintai Syanum," ucap Fabian memperjelas perkataannya.


Mentari mengusap air matanya.


"Kamu sekarang mencintai Syanum? istri kamu yang kampungan itu?" Mentari menatap Fabian dengan berderaian air mata.


"Mentari. Jangan hina istri aku seperti itu! karena dia tidak seperti apa yang kamu katakan." Fabian tampak membela Syanum.


"Kamu bohong kan Bi. Kamu masih cinta kan sama aku? kamu masih sayang kan sama aku. Aku tahu, kalau perasaan kamu itu ke aku, tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Karena kita sudah pernah janji kan Bi, dulu. Kalau kita tidak akan pernah saling melupakan. Kita udah janji, kalau kita akan saling mencintai dan kita akan bawa cinta kita sampai mati. Lalu, kenapa kamu bisa mengatakan itu ke aku? apa maksud semua ini Bi?"


Fabian menghela nafas dalam. Sebenarnya Fabian tidak tega, untuk mengatakan itu semua pada Mentari. Tapi, Fabian harus katakan itu. Supaya Mentari bisa sadar, kalau Fabian sudah tidak lagi mencintainya. Fabian tidak mau, memberikan harapan palsu pada Mentari.


"Lalu, perhatian kamu selama ini ke aku apa? kamu peluk aku waktu di makam, kamu temani aku waktu lahiran, kamu pinjamin aku uang waktu aku membutuhkan. Maksud kamu apa?"


Hiks...hiks...hiks...


Tangis Mentari semakin kencang saja. Membuat Fabian bingung. Karena sejak tadi, mereka masih menjadi bahan perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya duduk.


"Tar. Jangan nangis di sini Tar. Malu dilihatin orang," ucap Fabian sembari melirik kanan kiri.


"Biarin. Biar semua orang tahu, kalau selama ini kamu cuma PHP in aku. Aku benci Bi sama kamu." Mentari sudah menatap Fabian tajam.


"Aku cuma kasihan aja sama kamu Mentari. Aku membantu kamu, karena kamu itu teman aku. Wajar dong, kalau aku membantu kamu. Lagian sudah kewajiban aku, untuk membantu sesama manusia. Kamu aja, yang udah kebawa perasaan dengan sikap aku."


"Tapi selama ini, kamu itu udah memberikan aku harapan palsu Bi. Aku fikir, kamu itu masih cinta sama aku dan mau kembali sama aku. Tapi nyatanya, semua itu palsu."


Mentari bangkit berdiri. Setelah itu dia berlari meninggalkan Fabian di dalam cafe. Mentari melangkah ke arah jalan raya untuk menunggu taksi.


Air mata Mentari sudah membasahi pipinya.


Beberapa saat kemudian, sebuah taksi sudah sampai di depan Mentari. Mentari buru-buru masuk ke dalam taksi.


"Jalan Pak."


"Baik Mbak."

__ADS_1


Taksi itu kemudian jalan meninggalkan cafe.


Fabian diam. Dia tampak bingung. Seumur-umur, Fabian belum pernah membuat Mentari menangis sampai seperti itu.


"Maafkan aku Mentari. Kalau semua orang itu menganggap bentuk perhatian aku ke Mentari adalah sebuah cinta, itu salah. Aku sudah sejak dulu, mencintai Syanum. Tapi, aku nggak pernah merasakan kehadiran cinta itu. Setelah aku benar-benar mengabaikan dia, baru aku sadar. Kalau dia sangat berharga untuk aku. Begitu juga dengan bayi yang ada di dalam kandungan Syanum. Dia harta yang paling berharga untuk aku sekarang."


Fabian tidak mau berlama-lama berada di dalam cafe. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan cafe untuk pulang ke rumahnya.


****


Bu Novi, masih menimang-nimang bayi yang ada di dalam gendongannya. Bu Novi sangat geram, pada Mentari.


Sudah sejak tadi sore, Mentari belum pulang ke rumahnya.


"Kemana sih Mentari. Dari tadi, anaknya nangis nggak mau diam. Keluyuran ke mana anak itu," gerutu Bu Novi.


Aira melangkah ke arah ibunya.


"Ma. Berisik amat sih Dani. Nangis terus sejak tadi," ucap Aira.


"Ra. Bisa nggak kamu gendong Dani dulu? Mama mau ke toilet dulu ya. Kebelet banget," ucap Bu Novi.


Aira kemudian mengangkat Dani dari gendongan ibunya. Setelah Dani sudah berada di gendongan Aira, Bu Novi kemudian melangkah pergi untuk ke toilet.


"Cup cup cup.. Dani sayang, ikut Tante ya. Jangan nangis ya, kalau sama Tante. Soalnya, Tante nggak suka Dani berisik. Paham kan Dani...!"


Aira masih menatap bayi mungil yang ada di gendongannya. Dia kemudian melangkah pergi ke kamarnya untuk menenangkan Dani di sana.


Sebenarnya Aira kasihan sama Dani. Karena ibu kandungnya sendiri, sekarang sudah tidak perduli lagi padanya. Bahkan untuk menyusui anaknya saja, Mentari enggan. Dia lebih memilih untuk pergi menyibukkan diri entah kemana.


Setiap hari, Mentari selalu ke luar rumah dan meninggalkan anaknya sendiri bersama Bu Novi. Terkadang, Bu Novi juga merasa lelah. Tapi,mau bagaimana lagi, mengusir Mentari dari rumahnya itu juga tidak mungkin.


Karena dia sudah berjanji pada almarhum Pak Riko kalau dia akan menjaga Mentari seperti dia menjaga anak kandungnya sendiri. Dan dia juga tidak tega, membiarkan Mentari dan bayinya terlantar karena tidak punya tempat tinggal.


"Sebenarnya, siapa sih bapak biologis kamu Dani? kalau saya tahu, siapa bapak kandung kamu, saya akan samperin dia ke rumahnya. Dan saya akan kasihkan kamu ke dia. Ih, kok nangis terus sih...!"


Aira sejak tadi kesal, sama Dani. Karena Dani tidak mau diam. Dia masih menangis. Sepertinya Dani lapar dan haus. Susu yang tadi Bu Novi buatkan juga sudah habis.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Bu Novi membuka pintu kamar Aira.


"Ra. Daninya masih nangis?" tanya Bu Novi.


"Iya Bu."


"Ini. Mama sudah buatkan susu buat Dani." Bu Novi menyodorkan susu yang sudah dibuatnya untuk Dani.


Aira kemudian memberikan susu itu pada Dani.


"Ke mana sih, Mentari?" ucap Aira.


"Mama juga nggak tahu dia ke mana. Katanya dia mau beli popok untuk Dani. Tapi sampai malam begini, dia belum pulang-pulang juga."


"Mama udah telpon dia?"


"Udah dari tadi. Chat juga udah. Tapi Mentari nggak mau angkat telponnya. Dan chat pun, dia tidak mau membalasnya. Cuma di baca doang."


"Ih, benar-benar menyebalkan ternyata ya Mentari. Untung aja dia masih sepupu aku. Kalau bukan, udah aku tendang dia dari rumah ini."


"Sabar Ra. Kita harus sabar menghadapi Mentari."


"Satu-satunya cara, kita harus tahu, siapa ayah kandung bayi ini. Agar kita bisa tuntut dia untuk menikahi Mentari."


"Iya Ra. Tapi, kita mau cari di mana lelaki itu. Mentari aja masih bungkam, mengenai ayah kandung anak ini."


"Aku tahu bagaimana caranya untuk mencari ayah bayi ini."


"Gimana caranya Ra?" tanya Bu Novi menatap tajam ke arah anaknya.


"Cuma Fabian yang tahu, siapa ayah kandung bayi ini."


Bu Novi tampak terkejut.


"Apa! Fabian tahu, ayah kandung bayi ini kamu serius Ra?" tanya Bu Novi lagi.


"Iya. Dulu Abi sempat cerita tentang Mentari. Dan sepertinya, dia tahu siapa ayah kandung bayi ini."

__ADS_1


"Ya udah. Kamu besok tanyakan langsung aja ke Fabian. Kamu desak dia, untuk bicara jujur. Siapa sebenarnya lelaki yang sudah menghamili Mentari itu."


"Iya Ma. Nanti kalau di kantor, aku akan bicara sama Abi. Aku yakin, Abi pasti menyimpan rahasia Mentari selama ini."


__ADS_2