Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Ke kampung


__ADS_3

"Syanum...! cepat sedikit dong...!" seru Fabian.


Sejak tadi, Fabian masih menunggu Syanum di bawah. Hari ini, mereka akan pergi ke Surabaya tempat Syanum dilahirkan. Syanum akan main ke rumah neneknya sekaligus berziarah ke makam ibunya yang ada di Surabaya.


"Iya Mas. Iya...!" seru Syanum.


Syanum kemudian buru-buru bergegas ke luar dari kamarnya. Suaminya sudah menunggunya di depan pintu kamar.


"Syanum. Kebiasaan banget sih! lama sekali kalau di tungguin," gerutu Fabian.


"Maaf Mas. Emang, banyak yang harus aku bawa. Aku juga bawa oleh-oleh untuk keluarga ibuku yang ada di sana."


"Ya udah. Cepetan...!"


Fabian dan Syanum kemudian melangkah untuk turun ke bawah. Mereka akan pergi bersama Pak Herman juga. Karena sudah lama Pak Herman belum pernah pulang ke Surabaya.


Pak Herman sudah berada di depan. Dia sejak tadi masih tampak menunggu anak dan menantunya ke luar.


Sebelum pergi, Fabian dan Syanum berpamitan pada Kak Dila, Bu Reva, dan Pak Damar. Setelah berpamitan, mereka kemudian melangkah pergi ke depan rumah.


"Ayah. Apa barang-barang aku, sudah ayah masukan mobil?" tanya Syanum.


"Udah. Apa kalian sudah siap?" tanya Pak Herman.


"Iya. Kami sudah siap ayah."


Syanum dan Fabian kemudian masuk ke dalam mobil mereka. Pak Herman juga mengikuti anak dan menantu masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, mereka pergi meninggalkan Jakarta untuk sampai ke Surabaya.


****


Sore ini, Syanum dan Fabian sudah sampai di halaman depan rumah Nek Retno. Nek Retno adalah ibu dari almarhumah Bu Asti ibu kandung Syanum yang sudah meninggal.


Pak Herman, Syanum, dan Fabian, turun dari mobil mereka. Setelah itu, mereka bertiga melangkah ke arah teras depan rumah Nek Retno.


Syanum mengetuk pintu Nek Retno.


"Assalamualaikum," ucap Syanum.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita tua yang tak lain adalah Nek Retno, membuka pintu rumahnya. Dia menatap ke arah Syanum.


"Kamu, siapa?" tanya Nek Retno. Sepertinya Nek Retno pangling saat melihat Syanum.


"Nek. Ini aku Nek. Syanum. Masak nenek lupa sih sama aku? kan baru kemarin kita pisah."


Nek Retno tersenyum saat melihat cucunya. Cucunya sekarang jadi sangat cantik. Penampilannya sangat berbeda jauh dengan Syanum yang dulu.


"Ya Allah... kamu cantik sekali Syanum." Nek Retno menangkup wajah Syanum.


Dia kemudian mencium pipi Syanum bolak-balik.


"Nek. Aku kangen sama nenek," ucap Syanum.


"Nenek juga kangen sama kamu."


Nek Retno menatap ke arah Herman.


"Herman, apa kabar?" tanya Nek Retno.


"Alhamdulillah kabar aku baik Bu. Maaf Bu, aku baru bisa main ke sini," ucap Pak Herman pada mertuanya.

__ADS_1


Nek Retno kemudian menatap ke arah Fabian. Dia tampak tidak mengenali Fabian.


"Dia siapa?" tanya Nek Retno.


"Ini namanya Fabian. Suami Syanum," ucap Pak Herman memperkenalkan Fabian pada Nek Retno.


"Apa!" Nek Retno tampak terkejut saat mendengar ucapan menantunya.


"Syanum sudah menikah? kenapa di sini tidak ada yang tahu kalau Syanum sudah menikah," ucap Nek Retno.


"Herman. Kenapa kamu tidak ngundang-ngundang ibu, ke pernikahan anak kamu?" lanjut Nek Retno.


"Maaf Bu. Pernikahan ini juga persiapannya sangat mendadak. Jadi saya juga tidak bisa mengundang kalian semua untuk datang ke acara pernikahan Syanum," ucap Pak Herman.


Nek Retno melangkah menghampiri Fabian.


"Syanum pinter banget milih suami. Dia ganteng. Dia seperti pemuda kota ya?"


"Iya Nek," ucap Fabian.


Fabian kemudian mencium punggung tangan Nek Retno yang keriput itu.


"Syanum, Herman, dan siapa namanya?" Nek Retno tampak lupa dengan nama Fabian.


"Fabian Nek," ucap Syanum


"Oh. Iya. Fabian. Ayo masuk!"


Syanum dan Fabian kemudian masuk ke dalam rumah Nek Retno. Sementara Pak Herman, dia melangkah ke arah mobil untuk mengambil barang-barangnya yang ada di dalam mobil.


"Kalian itu, kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang ke sini?" tanya Nek Retno setelah Syanum dan Fabian duduk.


"Nggak apa-apalah Nek, kalau Syanum buat kejutan sekali-kali."


"Kamu kenal di mana Syanum dengan Nak Fabian?" tanya Nek Retno.


Nek Retno masih tidak menyangka kalau sekarang Syanum sudah menikah dan punya suami. Padahal, Syanum selama ini, tidak pernah punya pacar dan tidak pernah pacaran.


Fabian dan Syanum saling menatap.


"Em, nggak kenal di mana-mana kok Nek," ucap Syanum.


Nek Retno menatap Syanum dan Fabian bingung.


"Fabian ini, anak majikan saya Bu," ucap Pak Herman yang tiba-tiba saja sudah masuk dan berbaur bersama Syanum dan Fabian.


Nek Retno tampak terkejut.


"Kamu yang menjodohkan mereka Herman?" tanya Nek Retno.


"Nggak Bu. Mereka tiba-tiba aja menikah," ucap Pak Herman.


"Lho kok bisa tiba-tiba nikah. Bagaimana ceritanya?" tanya Nek Retno.


"Ceritanya panjang banget Nek. Mendingan nggak usah di ceritain. Karena kami capek banget baru nyampe. Ceritanya nanti saja ya Nek," ucap Syanum.


Nek Retno mengangguk. Dia kemudian menatap ke arah barang-barang yang dibawa Pak Herman.


"Lho, itu barang-barang kalian?" tanya Nek Retno.


"Iya Bu. Katanya Syanum ingin nginap di sini untuk satu minggu. Dan semua ini, adalah oleh-oleh untuk ibu, dan semua saudara yang ada di sini. Dan sisanya barang-barang Syanum dan Fabian," jelas Pak Herman.

__ADS_1


"Oh.." Nek Retno manggut-manggut mengerti.


"Ya udah. Sekarang bawa masuk aja Herman, barang-barang itu ...!"


"Iya Bu."


Pak Herman kemudian membawa masuk barang-barang bawaannya itu.


"Duh, Syanum. Rumah nenek masih berantakan Syanum. Kalau kamu mau nginap di sini, ada kamar kosong di dalam. Kamu bisa tempati kamarnya," ucap Nek Retno.


Syanum mengangguk. "Baik Nek."


Nek Retno benar-benar bahagia setelah beberapa tahun dia tidak bertemu cucunya, sekarang cucunya ke tempatnya dan membawa seorang lelaki yang diperkenalkan sebagai suaminya.


Nek Retno bangkit dari duduknya.


"Kalau kalian capek, kalau mau istirahat, istirahat saja di kamar. Tapi nanti tunggu dulu. Nenek akan beresin kamarnya dulu."


Nek Retno kemudian melangkah ke dalam dan masuk ke kamar. Dia kemudian membereskan kamar yang akan ditinggali cucunya nanti malam.


"Tunggu di sini Mas. Aku mau bantuin nenek dulu," ucap Syanum.


Syanum berdiri dan langsung melangkah menyusul neneknya.


"Aku bantu ya Nek."


"Oh iya Syanum."


Syanum menatap foto Bu Asti yang masih terpajang di dinding kamar itu. Dulu, kamar itu adalah kamarnya Bu Asti sewaktu Bu Asti masih tinggal di rumah Nek Retno.


Mungkin foto itu dipajang, karena Nek Retno yang sering merasa kangen dengan almarhumah Bu Asti ibunya Syanum.


Syanum menatap ke dinding dimana foto Bu Asti terpajang.


"Nenek masih memajang foto ibu aku?" tanya Syanum.


"Iya Syanum. Hanya itu kenangan nenek satu-satunya. Nenek kangen sama ibu kamu."


"Aku juga kangen Nek, sama ibu. Ibu terlalu cepat meninggalkan kita."


"Andai dia tahu, kalau sekarang kamu itu sudah menikah, pasti dia akan sangat bahagia Syanum."


"Iya Nek."


"Syanum. Kapan kamu nikahannya? ayah kamu, nggak pernah cerita kalau kamu itu udah nikah."


"Sudah lama Nek. Mungkin sudah menginjak empat bulanan lah Nek."


"Oh. Terus, kamu udah hamil?" tanya Nek Retno.


Syanum menggeleng.


"Belum," jawab Syanum.


"Jadi kamu belum hamil?"


"Belum Nek. Mungkin Tuhan belum mau ngasih aku anak."


"Kalau kamu hamil. Nanti kabarin nenek ya. Biar nenek bisa main ke Jakarta. Ke rumah kamu."


"Iya Nek."

__ADS_1


__ADS_2