
"Ya Allah, Non Syanum...!" tubuh Mbak Asih bergetar hebat, saat melihat Syanum tergeletak tak berdaya di tengah jalan raya.
Banyak orang yang menontonnya. Semua barang-barang yang Syanum bawa, seperti sayuran dan buah-buahan, berserakan di tengah jalan. Gara-gara kecelakaan itu, jalanan menjadi macet.
Mbak Asih, buru-buru menghampiri Syanum. Dia bersimpuh dan memangku kepala Syanum.
"Ya Allah Non. Kenapa Non bisa seperti ini?" Mbak Asih sudah berlinangan air mata. Dia menyaksikan sendiri bagaimana sebuah mobil melaju kencang sampai membuat Syanum kecelakaan.
"Ini semua gara-gara mobil itu," ucap salah seorang lelaki yang menjadi saksi, bagaimana brutalnya sebuah mobil yang ugal-ugalan melintas di jalan raya.
Beberapa orang, melangkah menghampiri mobil yang sudah membuat Syanum jatuh pingsan.
"Hei, keluar kamu...!" ucap orang-orang itu.
'Duh, bagaimana ini. Jangan sampai mereka menghakimi aku dan melaporkan aku ke polisi. Aku tidak mau di penjara,' batin Lisa.
Lisa bingung dengan apa yang harus dia perbuat. Dia sudah tidak bisa kabur lagi dari tempat itu.
"Lisa. Ayo turun sayang...! kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu," ucap Fadlan.
"Mas, aku takut. Banyak orang di sini." Lisa menatap Fadlan lekat.
"Turunlah, Lis. Percaya sama aku. Tidak akan terjadi apa-apa sama kamu."
Lisa membuka pintu mobilnya. Setelah itu dia turun dari mobil.
"Heh, Mbak. Bisa nggak sih bawa mobil. Gara-gara kamu, wanita itu jadi kecelakaan. Kamu harus tanggung jawab dong...!" seru salah seorang ibu-ibu yang ada di tempat itu.
"Maafkan aku," ucap Lisa. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maaf, maaf, bagaimana kalau wanita ini mati? apa kamu masuk penjara heh...!" seru seorang lagi.
"Maafkan aku," ucap Lisa lagi.
Lisa tidak bisa membela diri. Karena dia memang salah. Lisa hanya bisa mengatakan maaf.
"Saya mau minta maaf, atas nama Mbak ini. Dia sudah salah karena mengendarai mobil dengan ugal-ugalan di jalan raya. Dan kalau soal wanita itu, biar kami yang urus. Kebetulan saya seorang Dokter. Saya akan ikut bertanggung jawab untuk mengobati pasien sampai sembuh."
__ADS_1
"Benar ya Mas? kamu akan bertanggung jawab? coba sekarang kamu periksa wanita itu. Dia mati, atau pingsan. Bisa jadi, dia terluka parah karena ulah calon istri Mas ini." Seorang ibu menunjuk ke arah Lisa.
"Iya. Saya akan segera memeriksanya." Fadlan melangkah mendekati Syanum.
Dia memeriksa denyut nadi Syanum dan nafasnya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan gadis ini. Dia masih hidup, dan dia tidak terluka begitu parah." ucap Fadlan.
Mbak Asih mengusap air matanya kasar.
"Benarkah begitu?"
Fadlan mengangguk. "Ya udah. Saya akan bawa dia ke rumah sakit. Lisa, kamu ikut saya ya," ucap Fadlan.
Lisa mengangguk.
"Saya juga ikut. Saya takut terjadi apa-apa dengan istri majikan saya." Mbak Asih bangkit berdiri.
Fadlan kemudian menggotong tubuh Syanum dan memasukkan Syanum ke dalam mobilnya. Setelah itu Fabian masuk ke dalam mobil di ikuti Mbak Asih dan Lisa. Mereka menuju ke rumah sakit.
Sementara di depan ruangan itu, Mbak Asih masih menangis.
"Kenapa sih, Non Syanum harus ikut Mbak belanja ke pasar. Andi dia mau nurut di rumah aja. Pasti nggak akan begini kejadiannya. Bagaimana kalau Tuan Damar dan Nyonya Reva memarahi saya, Hiks...hiks..."
Mbak Asih masih menangis sesenggukan di depan ruangan Syanum di rawat. Sementara Lisa, sejak tadi masih diam. Dia juga masih syok dengan semua masalah itu.
Bagaimana kalau wanita itu mati. Tapi kata Mas Fadlan dia baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius.
Sejak tadi Lisa masih menatap ke arah Mbak Asih. Lisa menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Mbak Asih.
"Maafkan saya, atas semua kesalahan saya Mbak," ucap Lisa.
Mbak Asih mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Lisa dan mengangguk.
"Saya memang sudah ceroboh, karena membawa mobil ugal-ugalan di jalan raya. Saya benar-benar menyesal. Dan saya janji, saya akan bertanggung jawab. Saya akan tanggung semua biaya pengobatan gadis itu."
"Iya. Namanya Syanum. Dia istri majikan saya," jelas Mbak Asih.
__ADS_1
"Oh..."
Beberapa saat kemudian, Fadlan membuka pintu ruang perawatan di mana Syanum di rawat. Dia kemudian mendekat ke arah Lisa dan Mbak Asih.
"Syanum tidak apa-apa. Dia tidak mengalami luka parah. Mungkin ada sedikit luka di bagian siku dan kepalanya yang terbentur aspal. Tapi saya sudah memperbannya. Mungkin sebentar lagi, dia akan segera siuman. Kita tunggu saja ya," Fadlan menjelaskan.
"Benarkah Dok? alhamdulillah..." Mbak Asih tampak lega saat mendengar penjelasan Fadlan.
Dari tadi, Mbak Asih sudah panik, dan sangat mengkhawatirkan kondisi Syanum. Dia takut akan terjadi apa-apa pada Syanum. Mbak Asih juga tidak ingin di salahkan oleh Pak Herman dan keluarga besar Pak Damar, karena Mbak Asih yang sudah membawa Syanum sampai ke pasar.
Fadlan menatap kekasihnya lekat. Dia kemudian meraih tangan kekasihnya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Mas, lepaskan...! kamu mau bawa aku ke mana Mas?" Lisa masih meronta minta dilepaskan.
Fadlan kemudian menghentikan langkahnya. Dia menatap Lisa tajam.
"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan tadi heh...!" Fadlan menatap tajam ke arah Lisa.
"Lepaskan aku Mas, sakit tangan aku." Lisa mencoba melepaskan cengkraman tangan calon suaminya.
Fadlan kemudian melepaskan cengkeramannya.
"Kamu tahu nggak, dengan kamu kebut-kebutan di jalan, bisa membahagiakan nyawa kamu dan nyawa orang lain. Bagaimana kalau kamu tadi benar-benar menabrak Syanum dan membuat wanita itu meninggal? kamu bisa di tuntut dan masuk penjara Lisa...!"
"Tapi aku tadi, tidak menabraknya Mas. Karena aku sudah ngerem kuat-kuat. Aku nggak tahu, kenapa dia bisa pingsan begitu aja. Padahal aku nggak nabrak dia Mas."
"Tapi kamu sudah membuat dia jatuh. Dan sekarang kepala dan tangannya terluka. Kamu bilang nggak nabrak dia heh...!"
"Mas, kamu tahu nggak. Semua ini tuh gara-gara kamu Mas. Kamu yang sudah membuat aku seperti ini. Kamu udah jahat sama aku. Kamu sudah membawa wanita simpanan kamu ke apartemen kamu. Kamu sudah tidur bersama, sama wanita itu dalam satu atap,"cerocos Lisa yang membuat Fadlan menatap ke sekeliling.
Fadlan takut, kalau akan ada orang yang mendengar pembicaraan Lisa. Fadlan tidak mau orang-orang juga ikutan salah faham seperti Lisa. Dia tidak mau nama baiknya sebagai seorang Dokter di rumah sakit itu,hancur begitu saja karena Lisa.
"Ssstttt. Bisa nggak sih, kamu bicaranya pelan-pelan aja. Ini tempat umum Lisa. Bagaimana kalau ada orang yang dengar ucapan kamu. Mereka juga bakalan salah paham juga sama aku."
"Kenapa Mas? kamu takut? iya?." Kamu takut, kalau orang-orang dengar semua kebusukan kamu selama ini. Biar saja orang lain tahu keburukan kamu Mas. Aku nggak perduli!"
"Lisa. Aku kan sudah bilang kalau kamu cuma salah paham saja sama aku. Aku dan Mentari tidak punya hubungan apa-apa. Aku cuma mau menolong Mentari saja."
__ADS_1