Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Mimpi


__ADS_3

"Dimas bangun ya Kak?" tanya Syanum.


"Iya. Dia memang sering sekali bangun jam segini. Kalau kamu, mau ngapain di sini? mau ambil minum juga?" tanya Dila.


"Sebenarnya bukan aku sih Kak yang mau ambil minum. Tapi, Tuan muda yang minta aku untuk ambilkan dia minum."


"Astaga, Syanum. Kenapa kamu mau sih di suruh Fabian. Dia kan bisa ambil minum sendiri. Kan kamu lagi sakit. Seharusnya, dia yang ngambil minum untuk kamu. Bukan kamu, Syanum yang ngambil minum untuk dia."


"Nggak apa-apa Kak. Lagian, aku ini kan istrinya. Jadi sudah kewajiban aku untuk melayaninya."


"Iya sih. Tapi kalau kayak gini, dia udah keterlaluan namanya. Istri sakit, bukannya di suruh tidur, malah di suruh ambil minum."


"Nggak apa-apa Kak. Kakak mau ke kamar? biar Syanum antar ke kamar ya?"


Dila tersenyum. "Boleh deh. Tolong antar kakak ke kamar ya Syanum."


Syanum kemudian mendorong kursi roda Dila sampai ke kamar Dila.


"Mama, kenapa lama sekali?" tanya Dimas setelah dia melihat ibunya masuk ke kamar.


"Maaf ya sayang, kalau mama kelamaan," ucap Dila.


Syanum mengambil gelas yang ada di tangan Dila.


"Dimas. Kamu pasti haus banget ya. Ini minuman kamu." Syanum menyodorkan gelas yang berisi air putih pada Dimas.


Dimas kemudian mengambil gelas itu dan meminum air putih itu sampai habis.


"Makasih Tan." Dimas mengembalikan gelas itu pada Syanum.


"Iya Dimas."


Syanum mengambil gelas itu kembali dan meletakannya di atas nakas.


"Kak Dila mau berbaring lagi? biar Syanum bantu Kak."


"Nggak usah Syanum. Kakak bisa sendiri kok. Kamu ke kamar lagi aja Syanum. Nanti Fabian mencarimu."


"Oh. Ya ampun iya Kak. Sampai lupa aku Kak. Aku pergi dulu ya."


Syanum kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Dila. Dia kemudian kembali ke dapur. Sesampainya di dapur, Syanum kemudian menuang air putih ke dalam gelas dan membawanya sampai ke kamar.


"Tuan muda ternyata udah tidur. Untunglah, coba saja kalau dia belum tidur. Aku pasti sudah di marahi habis olehnya."


Syanum meletakan gelasnya di atas nakas. Syanum terkejut saat tiba-tiba saja, Fabian mencekal tangannya.


"Mentari, jangan pergi! tetaplah di sini. Aku mohon Mentari...!" Fabian mengigau sembari menggenggam tangan istrinya erat.


"Kenapa harus Non Mentari yang hadir dalam mimpi kamu Tuan muda? Kenapa tidak aku saja yang hadir dalam mimpi-mimpi kamu," ucap Syanum.

__ADS_1


Entah kenapa, Syanum merasa sedih saat Fabian memanggil nama Mentari dalam mimpinya. Syanum merasa hatinya sakit sekali. Mungkinkah, sekarang Syanum sudah punya rasa pada Fabian.


Fabian tiba-tiba saja, menarik tangan Syanum yang membuat Syanum jatuh di atasnya.


"Auh...!" pekik Syanum.


Fabian memeluk Syanum dengan erat. Membuat nafas Syanum sesak karena saking eratnya pelukan itu.


"Tuan muda, lepaskan aku Tuan muda!" Syanum mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Fabian.


"Tu-an mu-da, a-aku nggak bisa nafas nih."


Beberapa saat kemudian, Syanum berhasil melepaskan tangan Fabian dan menyingkirkan tangan suaminya.


"Tuan muda benar-benar mau membuat aku mati," gerutu Syanum.


Syanum kemudian kembali ke sofa. Dia berbaring dan langsung memejamkan matanya untuk tidur.


***


"Mas Ridho... Mas... kamu mau ke mana Mas...?"


"Mas Ridho... tolong, jangan pergi Mas! Jangan tinggalkan aku dan Dimas...!"


"Mas Ridho... Mas... Mas...!"


"Ya ampun, ternyata aku cuma mimpi." Dila mengusap wajahnya yang penuh keringat.


Dia kemudian menatap Dimas.


"Kenapa ya Nak, Papa kamu nggak ke sini mencari kita dan menjemput kita. Di mana sebenarnya dia. Aku ingin ketemu Mas Ridho. Aku harus tahu, bagaimana kondisi dia sekarang."


Dila beringsut duduk. Setelah itu dia mengambil foto Ridho yang ada di atas nakas.


"Mas, kamu di mana sekarang Mas? kenapa kamu, mama kamu,dan papa kamu, nggak ada yang datang ke sini untuk melihat aku dan Dimas. Apa kalian semua sudah tidak sayang sama kami," ucap Dila sembari mengelus foto mendiang suaminya.


Dila kemudian lekas berbaring lagi sembari mendekap foto itu.


"Aku rindu sama kamu Mas. Aku pengin kita berkumpul bersama lagi," ucap Dila sembari memejamkan matanya. Dia kembali untuk tidur.


Ring ring ring...


Suara alarm jam berdering. Dila mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam.


"Ternyata udah jam lima. Cepat banget paginya," ucap Dila.


Dila turun dari tempat tidurnya. Dia mencoba untuk berdiri dan dengan pelan-pelan, dia melangkah ke arah jendela kamarnya.


Dila menatap ke luar jendela.

__ADS_1


"Masih gelap banget di luar," ucap Dila.


Dila kemudian melangkah dengan pelan-pelan untuk naik ke kursi rodanya.


Sebenarnya Dila bisa berjalan tanpa kursi roda. Tapi, kakinya terkadang masih lemas untuk di bawa berjalan.


Di sisi lain, Syanum sudah terbangun. Dia sejak tadi masih menatap suaminya.


"Huh, kenapa sih hidup aku jadi susah begini, semenjak nikah. Kenapa juga aku harus mau nikah sama lelaki egois seperti Tuan Fabian. Kata orang, cinta itu akan datang setelah pernikahan. Dan cinta bisa datang dengan sendirinya karena kebersamaan. Tapi, ternyata yang di ucapkan orang itu salah. Bukan cinta yang datang setelah pernikahan. Tapi malah kebencian," gerutu Syanum.


Syanum masih kesal saja, dengan sikap Fabian. Dia bisa enak, tidur leluasa di atas ranjang empuk, sementara Syanum harus tidur di sofa yang sempit.


'Benar-benar makan ati aku satu kamar dengan Tuan Fabian. Aku nggak tahu deh, akan bagaimana nanti pernikahanku dengan dia kalau terus-terusan seperti ini. Kalau besok Tuan Fabian masih egois seperti itu. Mending aku pindah ke kamar pembantu ajalah seperti dulu.'


Syanum bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke kamar mandi. Seperti biasa, dia akan melakukan rutinitasnya setiap pagi yaitu melaksanakan sholat subuh.


Fabian membuka matanya saat melihat Syanum sudah tidak ada lagi di sofa.


"Ke mana si Syanum. Kok ngilang begitu aja," ucap Fabian sembari beringsut duduk. Dia sejak tadi masih mencari-cari istrinya.


Fabian mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Pasti dia lagi mandi deh," ucap Fabian.


Fabian kemudian kembali berbaring.


Klek....


Syanum membuka pintu kamar mandi. Fabian, langsung memejamkan matanya. Pura-pura tidur, saat istrinya ke luar dari kamar mandi.


"Duh, gini amat ya, punya suami bangunnya siang. Nggak pernah sholat subuh lagi, mau jadi apa dia ini," ucap Syanum. Sejak tadi dia hanya bisa menatap Fabian. Dia tidak tahu saja kalau saat ini, Fabian sudah terbangun.


Syanum kemudian melaksanakan sholat, di sisi tempat tidurnya. Setelah selesai, dia terkejut saat melihat Fabian sudah menatapnya.


"Tuan muda. Kamu sudah bangun?"


"Dari mana kamu semalam? kenapa lama sekali ambil minum?" tanya Fabian.


"Semalam? semalam aku bantuin Mbak Dila mengambilkan minum untuk Dimas. Dan setelah itu, aku balik lagi ke dapur untuk mengambil minum untuk kamu. Tapi sampai kamar ternyata kamu udah tidur. Dan semalam..."


Syanum menggantungkan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan bicara pada Fabian, kalau semalam Fabian memeluknya.


"Semalam apa hah?!" Fabian menatap Syanum penasaran.


"Ng... nggak jadi deh."


"Huh, dasar cewek aneh." Fabian mendengus kesal.


Fabian kemudian melangkah turun dari tempat tidurnya. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2