
"Kenapa? kenapa kamu nggak mau menceraikan aku? kata kamu, aku jelek, aku kampungan, dan aku nggak akan bisa menyaingi wanita-wanita yang ada di kota ini, dan aku nggak pantas buat kamu. Lalu, kenapa kamu masih mau mempertahankan pernikahan ini Tuan muda. Kenapa...!"
Sebenarnya Syanum tersinggung sekali, jika Fabian menghinanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Fabian itu anak majikan. Syanum tidak berani macam-macam dengan Fabian.
Padahal hatinya sudah sangat kesal sekali , menghadapi sikap suaminya selama ini. Tapi untuk saat ini, Syanum tidak bisa melakukan apapun. Apa lagi, untuk menggugat cerai Fabian. Syanum tidak akan berani melakukan itu.
"Syanum. Cukup...! jangan pernah kamu membicarakan perceraian lagi di depanku!" sentak Fabian.
"Ingat satu hal Syanum. Sebelum aku menjadi seorang pengusaha sukses, sebelum aku bisa menyaingi ayahku sendiri, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku akan menceraikan kamu, nanti setelah aku sudah bisa mandiri dan bisa membangun perusahaan sendiri. Jika aku sampai menceraikan kamu sekarang, aku akan kehilangan semua kepercayaan Papa aku. Aku akan kehilangan semuanya termasuk mobil, handphone dan semua yang aku punya akan Papa ambil."
"Oh. Jadi itu, alasan kamu bertahan dengan pernikahan ini. Aku doakan, semoga kamu selamanya tidak akan pernah jadi orang sukses!"
ucap Syanum sembari melangkah pergi meninggalkan Fabian.
"Lho, kamu kok malah doanya seperti itu. Itu artinya, kamu pengin kita bersama terus dong. Kalau gitu, ngapain kamu minta cerai. Dasar wanita aneh, nggak jelas banget sih," gerutu Fabian setelah kepergian Syanum.
****
Malam ini, Syanum sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Sementara Fabian, masih berada di teras depan rumahnya.
"Duh, kenapa bisa basah semua seperti ini," gerutu Fabian sembari menatap tubuhnya yang basah.
Jam sembilan malam, Fabian baru pulang dari kantor. Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ruang tamu, sudah tampak gelap. Dan di luar, hujan juga belum mereda.
Fabian menyalakan lampu ruang tamu. Setelah itu, dia melangkah ke dalam dan mulai menaiki anak tangga. Fabian menuju ke kamarnya.
Syanum yang merasakan kehadiran Fabian, mengerjapkan matanya. Dia beringsut duduk dan mengucek matanya.
"Kamu baru pulang? kenapa sampai malam begini?" tanya Syanum pada suaminya.
"Aku kehujanan. Dan dingin banget." Fabian tampak menggigil.
Syanum tidak tega melihat suaminya itu menggigil kedinginan. Syanum kemudian buru-buru turun dari tempat tidurnya dan mendekat ke arah suaminya.
"Kamu basah banget Tuan muda. Kamu kan pakai mobil. Kenapa bisa basah kuyup begini sih?" tanya Syanum.
"Tadi di kantor, waktu aku mau ke parkiran, aku nggak pakai payung. Aku lupa bawa payung."
"Kenapa nggak tunggu hujannya reda."
"Aku pengin cepat-cepat pulang ke rumah Syanum."
"Ya udah. Kamu tunggu di sini. Aku akan ambilkan handuk untuk mengeringkan rambut kamu."
"Iya."
Syanum kemudian mengambil handuk. Setelah itu, dia melangkah ke arah suaminya untuk mengeringkan rambut suaminya.
"Tuan muda. Maaf ya, aku akan keringkan rambut kamu dulu. Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa."
Syanum kemudian menggosok-gosokan rambut suaminya dengan handuk. Syanum berharap, rambut Fabian akan cepat kering, agar Fabian tidak lagi kedinginan. Setelah di rasa cukup kering, Syanum melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju tidur Fabian.
"Tuan muda, ini baju kamu. Aku taruh di sini ya. Sekarang lebih baik, kamu ke kamar mandi dulu. Dan mandi air hangat."
__ADS_1
Fabian menatap Syanum lekat.
'Ternyata, Syanum perhatian juga sama aku,' batin Fabian.
"Makasih Syanum."
Syanum tersenyum dan mengangguk. Sementara Fabian lekas masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa handuknya.
Beberapa saat kemudian, Fabian ke luar dari kamar mandi. Dia melihat Syanum masih berada di atas tempat tidur.
"Syanum. Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Fabian.
"Terus, aku harus ke mana?"
"Ya kamu ke luar dulu lah. Aku kan mau ganti baju."
"Tapi, aku ngantuk banget Tuan muda. Aku pengin tidur lagi."
"Tapi aku mau ganti baju. Apa kamu mau lihat aku ganti baju?"
"Apa!" pekik Syanum yang sudah mulai berfikiran yang aneh-aneh tentang suaminya.
"Kalau kamu masih di sini, kapan aku bisa ganti baju. Keluar dulu lah. Kalau nggak mau ke luar, pejamkan mata kamu, atau menghadaplah ke sana."
"Baiklah. Aku akan menghadap ke sana. Dan aku janji, aku nggak akan ngintip."
"Bagus. Lakukan sekarang!"
Syanum kemudian membalikkan badannya ke arah jendela membelakangi suaminya. Dia mulai memejamkan matanya, tidak mau berfikiran mesum, dan membayangkan yang aneh-aneh.
Beberapa saat kemudian.
Tak ada jawaban dari Syanum.
"Syanum, Syanum, kamu tidur lagi?"
Fabian naik ke atas tempat tidurnya untuk memastikan kalau Syanum sudah tidur.
"Benarkan kalau kamu tidur," ucap Fabian.
Fabian kemudian turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah sofa.
"Tadinya sih, aku pengin minta di buatkan minuman hangat. Tapi, Syanum malah udah tidur. Ya udahlah, buat sendiri aja."
Fabian kemudian melangkah ke luar dari kamarnya. Fabian melangkah ke arah dapur untuk menyeduh kopi kesukaannya.
Ring ring ring....
Suara ponsel Fabian tiba-tiba saja berdering. Fabian mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia kemudian menatap ponselnya dan melihat nama Aira terpampang di sana.
"Aira. Mau ngapain sih, dia nelpon aku," gumam Fabian.
Fabian kemudian mengangkat telpon dari Aira.
"Halo Ra, ada apa? kenapa kamu malam-malam gini nelpon?"
"Halo Bi. Maaf ya, kalau aku ganggu."
__ADS_1
"Oh, nggak apa-apa kok."
"Kamu lagi ngapain Bi?"
"Ini. Lagi nyeduh kopi. Karena dingin banget malam ini. Jadi aku buat minuman hangat."
"Kamu belum tidur Bi?"
"Belum Ra. Aku belum ngantuk. Aku aja baru pulang dari kantor."
"Oh. Ngelembur ya?"
"Iya. Kamu sendiri, kenapa belum tidur?"
"Aku lagi nggak bisa tidur Bi. Entah kenapa."
"Oh, kalau gitu sama dong. Aku juga nggak bisa tidur."
"Apa boleh Bi. Aku temani kamu begadang malam ini?"
"Oh. Boleh banget. Lama juga kan kita nggak ngobrol-ngobrol bareng."
"Iya Bi."
Fabian melangkah ke arah meja makan sembari membawa secangkir kopi dan handphonenya. Dia meletakkan kopi panasnya di atas meja. Fabian kemudian mendekatkan kembali ponselnya di dekat telinganya.
"Maaf ya Ra. Aku pindah tempat duduk nih. Aku malas tadi di dapur berdiri terus."
"Iya Bi. Aku seneng deh, malam ini, bisa dengar suara kamu lagi."
"Iya sama Ra. Aku juga udah lama nggak bertemu kamu. Waktu aku baru pertama kali melihatmu waktu di jalan, sumpah Ra. Aku pangling banget sama kamu. Kalau kamu nggak bilang kalau diri kamu itu Aira, aku mungkin, nggak akan ngenalin kamu."
"Hehe... kalau kamu, masih tetap sama seperti dulu Bi. Tampan. Dan menurut aku, belum ada lelaki yang bisa menandingi ketampanan kamu Bi."
"Ah, bisa aja kamu Ra. Aku biasa aja kok. Kamu Ra, yang sekarang jadi cantik."
"Masa sih. Aku biasa aja kok. Mungkin, tubuhku aja yang berubah. Dulu aku gendut sekarang nggak."
"Tapi wajah kamu, berubah Ra. Apa kamu sering ikut perawatan wajah ya selama di Hongkong."
"Ah, nggak juga Bi."
Selama hampir satu jam, Fabian bertelepon dengan Aira. Sudah lama mereka tidak bertemu, membuat mereka ingin ngobrol-ngobrol lebih lama lagi.
Hoaammm...
"Ra. Udahan dulu ya telponnya. Aku ngantuk banget nih."
"Bi. Besok ada acara nggak?"
"Nggak tahu Ra."
"Kalau nggak ada acara, kita makan di luar yuk! agar kita bisa ngobrol-ngobrol lebih lama lagi. Aku ngerasa, ngobrol di telpon itu kurang nyaman Bi. Kalau di luar kan, kita bisa sambil jalan-jalan gitu."
"Ya udah. Kapan-kapan deh ya Ra. Kalau akhir-akhir ini, aku itu lagi banyak kerjaan. Hari ini aja, aku ngelembur. Aku lagi sibuk banget di kantor."
"Ya udah. Nanti kita sambung lagi ya Bi."
__ADS_1
"Iya Ra. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."