Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Rindu


__ADS_3

Malam ini, bulan purnama. Fabian masih berada di halaman depan rumahnya. Sejak tadi dia masih duduk di kursi yang ada di taman depan.


Fabian masih menatap ke atas langit. Sejak di kantor siang tadi, dia tidak pernah bisa berhenti untuk memikirkan Mentari.


"Mentari. Kenapa sejak kemarin perasaan aku jadi nggak enak begini. Aku kangen sayang sama kamu. Di mana kamu sekarang. Sampai sekarang, polisi belum menemukanmu. Padahal kamu sudah sebulan lebih menghilang," gumam Fabian di sela-sela lamunannya.


Di sisi lain, Syanum masih berbaring di atas tempat tidurnya. Dia mengerjapkan matanya dan menatap ke sofa. Fabian tampak tidak ada di sofa. Syanum buru-buru beringsut duduk.


Hoaammm...


"Kemana Mas Fabian," ucap Syanum.


Syanum turun dari tempat tidurnya. Setelah itu, dia melangkah ke arah jendela kamarnya. Dia membuka gorden jendela dan melihat ke bawah. Tampak Fabian sedang duduk di taman depan rumah.


"Mas Fabian, malam-malam gini, kenapa ada di situ. Lagi ngapain dia di sana," gumam Syanum.


Syanum memutar tubuhnya. Setelah itu, dia melangkah ke luar dari kamarnya untuk menghampiri suaminya yang ada di luar.


Syanum mulai menuruni anak tangga. Dia melangkah ke ruang tamu. Setelah itu, dia membuka pintu ruang tamu.


Syanum melangkah untuk menghampiri suaminya.


" Tuhan! adilkah ini. Kenapa Engkau harus pisahkan hamba dengan wanita yang sangat hamba cintai. Dan kenapa pula Engkau jodohkan hamba dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai seperti Syanum," gumam Fabian di sela-sela lamunannya.


"Tuhan. Tunjukan di mana keberadaan kekasihku. Aku sangat merindukan dia. Tolong kembalikan dia padaku. Aku tidak sanggup hidup jauh darinya," ucap Fabian lagi.


Mata Syanum sudah mulai berkaca-kaca saat mendengar ucapan suaminya. Dia benar-benar sedih saat tahu kalau suaminya itu sedang memikirkan wanita lain.


Setetes air mata Syanum mengalir jatuh ke pipinya. Syanum menghela nafas dalam dan dia buru-buru menyeka air matanya. Dia tidak boleh kelihatan sedih di depan suaminya. Syanum tidak mau Fabian tahu dengan perasaannya.


'Aku mencarinya sejak tadi. Tapi ternyata dia di sini, sedang memikirkan Mentari. Sebenernya aku juga tidak mau terlalu berharap lebih darinya. Tapi, hati ini tidak bisa dibohongi kalau aku, sudah mulai suka dengannya. Aku sadar dengan perasaanku, waktu aku sakit hati saat melihat Mas Fabian dekat dengan wanita lain.' batin Syanum.


Syanum yang sejak tadi berdiri di belakang Fabian, melangkah menghampiri suaminya. Tanpa permisi, dia duduk di sisi suaminya.


Fabian terkejut saat melihat Syanum yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya.


"Syanum. Ngapain kamu di sini?" tanya Fabian menatap Syanum tajam.


Syanum tersenyum.


"Kamu lagi ngapain di sini Tuan muda?" tanya Syanum menatap Fabian lekat.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu. Dan lagian, kenapa kamu nyusulin aku ke sini?"


"Nggak usah geer. Siapa juga yang nyusulin kamu ke sini. Aku ke sini cuma mau lihat bulan dan bintang," ucap Syanum sembari menatap ke atas langit.


Fabian dan Syanum sama-sama terdiam sembari menatap ke atas langit.


"Bulannya indah ya," ucap Syanum.


Fabian hanya melirik Syanum sejenak. Lalu dia menatap lagi ke atas.


"Kalau aku sih, dingin banget di sini. Apa Tuan muda nggak kedinginan?" tanya Syanum.


Fabian diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Syanum. Syanum memang sengaja berbasa-basi dengan Fabian. Dia benar-benar tidak suka melihat sikap Fabian yang selalu dingin padanya. Dia ingin Fabian bersikap biasa seperti dulu, sebelum mereka menikah.


Sebelum Fabian menikah dengan Syanum, sikap Fabian ke Syanum tidak sedingin ini. Dia sangat ramah pada Syanum. Dan sering sesekali mengajaknya ngobrol.


Syanum melihat suaminya tampak kedinginan. Syanum membuka jaketnya. Setelah itu dia memberikannya ke suaminya.


"Untuk apa jaket itu?" tanya Fabian.


"Sepertinya Tuan kedinginan."


Syanum berdiri dan melangkah ke belakang Fabian duduk. Dia kemudian memakaikan jaketnya ke tubuh belakang Fabian. Setelah itu Syanum kembali duduk di sisi Fabian.


Fabian melirik istrinya. Syanum hanya tersenyum.


"Makasih," ucap Fabian.


"Sama-sama."


Sejenak mereka saling diam.


"Tuan. Apa yang sedang kamu fikirkan sekarang? apa kamu sedang memikirkan tentang Non Mentari? kamu kangen ya sama dia?" tanya Syanum.


"Iya. Aku sangat merindukan dia," jawab Fabian.


"Oh. Gitu ya. Aku yakin, Non Mentari di sana juga lagi rindu sama kamu. Dia pasti sekarang juga lagi mikirin kamu seperti kamu yang sedang mikirin dia."


"Sok tahu."


"Yah, siapa tahu kan. Kalau Non Mentari juga lagi ngelihatin bulan itu malam ini. Enak ya, jadi Non Mentari."

__ADS_1


"Enak gimana?"


"Karena dia selalu ada di dalam fikiran Tuan muda. Beruntung banget dia mendapatkan cinta lelaki sebaik Tuan muda."


"Kamu bicara apa sih. Aku mau masuk ke dalam."


Fabian mencopot jaket Syanum dari tubuhnya. Setelah itu, dia memakaikan jaket itu ke tubuh Syanum.


"Aku tidak butuh jaket kamu. Dan aku juga tidak pantas memakai jaket kamu."


"Tapi, jaket ini bisa untuk lelaki bisa juga untuk perempuan."


"Aku tahu. Tapi aku mau masuk ke dalam. Dan kamu juga harus ikut masuk ke dalam. Di luar dingin. Nanti kamu bisa masuk angin."


Syanum dan Fabian kemudian bangkit berdiri. Setelah itu mereka melangkah bersama untuk masuk ke dalam.


Sesampai di kamar, Syanum dan Fabian menghentikan langkahnya. Syanum naik ke atas tempat tidur, sementara Fabian naik ke atas sofa. Mereka masih saling menatap.


"Kenapa kamu harus ikut-ikutan ke luar sih. Udah tahu di luar dingin. Kenapa kamu harus ikut ke luar. Kalau kamu masuk angin nanti gimana. Udah pakai baju tanpa lengan gitu. Sok pehatian lagi sama aku. Pakai acara nutupin tubuh aku pakai jaket."


Syanum menghela nafas dalam.


'Sebenarnya. Aku merasa hampa kalau tidak ada kamu di kamar ini Mas Fabian. Makanya aku susulin kamu ke luar. Kalau nggak aku susulin, nanti di luar kamu akan terus-terusan mikirin Mentari. Bisa-bisa sampai pagi kamu nggak kembali ke kamar,' batin Syanum.


"Kok malah bengong. Udah sekarang kamu tidur. Nggak usah mikirin apa-apa."


Syanum hanya mengangguk. Setelah itu dia lekas berbaring. Syanum memejamkan matanya. Setelah itu dia terlelap. Sementara Fabian sejak tadi tidak bisa tidur. Entah apa yang sedang terjadi padanya. Rasanya fikirannya saat ini, benar-benar tidak enak.


Fabian menatap istrinya yang sudah terlelap. Dia kemudian melangkah menghampiri Syanum. Fabian tersenyum saat melihat wajah Syanum.


"Kalau lagi tidur begini, dia terlihat sangat cantik. Tapi, dia itu sangat menyebalkan. Dia sering sekali membuat aku marah," gumam Fabian.


Fabian kemudian menyelimuti tubuh Syanum. Setelah itu dia menyingkirkan rambut Syanum yang menutupi mata.


"Selamat tidur Syanum."


Fabian kembali ke sofa. Dia kemudian menatap foto Mentari yang ada di ponselnya.


"Mentari. Aku janji, mulai besok, aku akan kembali mencari kamu sayang. Walau aku sudah menikah dengan Syanum. Tapi, aku masih tetap cinta sama kamu. Karena kamu tidak akan pernah tergantikan sayang."


Fabian kemudian tidur dengan memeluk foto Mentari yang ada di ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2