Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Di labrak Mama


__ADS_3

"Apa-apaan ini Abi. Dua malam kamu nggak pulang ternyata kamu ada di sini? nungguin Mentari melahirkan?" ucap Bu Reva yang membuat Mentari dan Fabian terkejut.


Fabian dan Mentari lantas bersamaan menatap ke arah Bu Reva dan Luna.


"Mama." Fabian bangkit dari duduknya. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah ibunya.


Bu Reva mendekat ke arah Fabian.


Plak...


Satu tamparan yang sangat keras, tiba-tiba mendarat di pipi Fabian. Fabian hanya bisa meringis menahan sakit.


"Dari kemarin, di telponin nggak pernah aktif. Dua malam nggak tidur di rumah. Ternyata kamu lagi mesra-mesraan dengan wanita ngga tahu diri ini, di sini?" Bu Reva menunjuk ke arah Mentari.


"Maaf Tan.Ini salah aku. Aku yang sudah ...!"


"Diam kamu Mentari...! siapa yang mengajak kamu bicara hah..!" Bu Reva menatap tajam Mentari.


Bu Reva merebut mangkuk yang ada di tangan Fabian. Dia langsung membantingnya.


Prang...


Suara benda jatuh sudah menggema di ruang rawat Mentari. Membuat bayi Mentari kaget dan menangis.


Ooeeek ooeeek...


"Fabian. Pulang...!"


"Tapi Ma!"


"Fabian. Kamu nggak mau kan membuat mama semakin marah. Kamu mau pilih menemani Mentari di sini, atau ikut Mama pulang. Kalau kamu tetap mau di sini, lebih baik kamu nggak usah pulang sekalian."


"Iya Ma. Aku akan pulang."


"Mama akan tunggu di depan Abi. Pulang dan jangan pernah kamu temui wanita ini lagi."


"Iya Ma iya. Aku akan pulang."


'Hehe...rasain tuh Kak di marahi Tante. Emang enak.' batin Luna.


Sebelum pergi, Bu Reva menatap tajam ke arah Mentari.


"Mentari. Jangan pernah kamu ganggu anak saya lagi. Kamu kan tahu Mentari. Kalau Fabian ini sudah punya istri. Masih aja di gangguin."


"Maaf Tan"


"Tuh. Bayi kamu nangis. Bisa kan kamu diamin anak kamu. Nggak usah hubungin Fabian lagi. Kamu urus tuh anak kamu sendiri...!"


Setelah berkata seperti itu, Bu Reva kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Mentari diikuti Luna di belakangnya.

__ADS_1


Fabian menatap Mentari.


"Aku pulang dulu ya Mentari. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?"


"Aku nggak apa-apa Bi. Aku bisa kok jaga diri aku baik-baik."


Fabian tersenyum. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan Mentari.


Fabian melangkah ke luar dari rumah sakit. Dia menghampiri ibunya yang sekarang sudah berada di dalam mobil Luna.


"Ma. Aku naik mobil sendiri Ma. Lebih baik, Mama pulang duluan aja sama Luna," ucap Fabian.


Bu Reva tiba-tiba saja turun dari mobil Luna.


"Mama mau ikut mobil kamu aja Bi."


"Iya. Aku juga udah mau pulang kok," ucap Luna.


"Ya udah. Kenapa Mama harus masuk mobil Luna," ucap Fabian.


Luna masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, Luna meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Sementara Fabian dan Bu Reva masuk ke dalam mobil Fabian. Mereka juga meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah kepergian Fabian, Mentari hanya bisa menangis.


"Tante Reva jadi kasar banget sekarang. Padahal nggak ada niat aku untuk merebut Abi dari istrinya. Aku cuma lagi butuh bantuan dia aja," ratap Mentari.


"Cup cup cup sayang. Jangan nangis. Ini Mama sayang. Kamu jangan khawatir ya. Walau Om Abi pulang, kamu masih ada Mama Nak, di sini. Mama akan jagain kamu, dan nggak akan membiarkan siapapun nyakitin kamu."


****


"Bi. Mama bilang apa ke kamu dulu Bi. Jangan kamu temui dan dekati Mentari lagi kalau kamu ingin bertahan dengan Syanum," ucap Bu Reva di dalam perjalanan pulang.


"Maaf Ma. Aku ke sana, nggak ada maksud untuk dekat lagi dengan Mentari. Aku cuma kasihan aja sama dia Ma."


"Kamu dan Mentari sekarang sudah punya kehidupan masing-masing Abi. Mentari juga pasti punya saudara, atau teman yang mau nolongin dia, saat dia kesusahan. Ngapain dia harus hubungi kamu lagi. Status kalian itu sudah mantan Abi. Nggak pantas kalau di lihat orang kamu itu dekat lagi dengan Mentari. Karena sekarang kamu itu sudah punya Syanum."


Di sepanjang perjalanan pulang, Bu Reva tidak berhenti bicara. Sejak tadi dia masih menasihati anaknya.


Fabian sejak tadi masih fokus menyetir, walau telinganya sudah panas karena ucapan-ucapan Bu Reva.


Fabian ingin buru-buru cepat sampai rumah, agar dia tidak diceramahi ibunya lagi.


Beberapa saat kemudian, Fabian sudah sampai di depan rumahnya. Fabian menghentikan laju mobilnya.


Fabian dan Bu Reva kemudian turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aku mau langsung ke kamar Ma. Dari kemarin aku belum mandi," ucap Fabian.

__ADS_1


"Ya udah. Sana."


Fabian kemudian melangkah pergi ke kamarnya. Dia masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Duh, sakit banget. Baru pernah mama nampar aku sesakit ini," gumam Fabian yang masih memegangi pipinya yang masih memerah.


Fabian kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah mandi, Fabian membuka lemarinya. Dia memakai bajunya dan kemudian dia duduk di sisi ranjang.


"Aku harus melakukan sesuatu. Kasihan Mentari kalau dia di tinggal sendiri."


Fabian tiba-tiba saja teringat dengan Aira.


Fabian kemudian menelpon Aira.


"Halo..."


"Halo Ra. Kamu lagi ada di mana?"


"Di kantor lah Bi. Ada apa? tumben kamu nelpon. Dan dua hari ini kamu kok nggak keliatan. Kamu di mana aja Bi?"


"Aku. Em..."


"Halo Bi..."


"Ra. Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus kamu tahu."


"Apa?"


"Om Riko. Dia ada di rumah sakit. Sudah dua hari ini dia sakit. Dan Mentari dia udah lahiran dan masih ada di rumah sakit."


"Lho. Kok aku baru tahu ya. Mentari dan Om Riko nggak pernah ngabarin aku ataupun Mama."


"Kamu kan sepupunya Ra. Kamu bisa kan bantu mereka. Mereka nggak ada yang jagain. Apalagi Om Riko itu baru selesai operasi. Dan Mentari juga nggak bisa merawat ayahnya karena ada bayi."


"Oh gitu. Ngomong-ngomong, kenapa Om Riko bisa sampai masuk rumah sakit?"


"Tadinya sih, dia itu terjatuh di kamar mandi. Ternyata dia punya penyakit komplikasi. Dan semalam dia baru di operasi. Dan kebetulan, Mentari juga lahiran."


"Ya ampun. Aku nggak tahu deh sama Om Riko dan Mentari. Mereka jadi jauh banget gitu sama keluarga aku."


"Ya udah. Kamu bisa kan suruh ibu kamu ke rumah sakit? atau kamu sepulang kerja bisa kan mampir ke rumah sakit untuk jenguk mereka "


"Iya Bi. Makasih ya Bi. Untuk infonya. Ya udah Bi. Aku lagi banyak kerjaan nih. Aku tutup dulu ya telponnya."


"Iya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."

__ADS_1


Fabian menutup saluran telponnya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Mata Fabian sudah tidak bisa berkompromi. Dua malam Fabian kurang tidur. Akhirnya,Fabian pun terlelap juga di atas tempat tidurnya.


__ADS_2