
"Kamu kenapa Lun? dari tadi, kamu diam aja?" tanya Syanum sembari menutup majalahnya.
"Aku lagi malas banget ke butik Kak."
"Ya udah. Kalau nggak mau ke butik, nggak usah ke sana. Kamu lagi nggak enak badan ya? muka kamu kelihatan pucat. Apa kamu lagi sakit?"
"Iya. Entah kenapa, dari semalam kepala aku pusing."
"Ya udah. Kamu istirahat aja di kamar. Atau kamu mau aku antar periksa?"
Luna menatap Syanum.
"Aku nggak biasa periksa Kak. Paling juga cuma sakit ringan aja. Nggak perlu periksa. Emang, stok obat di rumah udah habis? kalau ada obat, aku mau minum obat aja."
"Kayaknya sih, udah nggak ada obat. Apa mau aku belikan obat untuk kamu ke apotik?"
"Kalau kakak nggak keberatan, nggak apa-apa deh. Kalau kakak mau belikan aku obat di apotik."
"Ya udah. Aku siap-siap dulu ya."
"Kak Syanum mau naik apa?"
"Naik taksi aja, nggak apa-apa kok."
"Makasih ya Kak."
Syanum mengangguk. Setelah itu, dia melangkah ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke apotik untuk membelikan obat buat Luna.
Setelah siap, Syanum melangkah ke arah Luna yang ada di ruang tengah.
"Kamu tunggu di kamar aja sana. Istirahat."
Luna menggeleng.
"Nggak Kak. Aku di sini aja. Kalau di kamar, nanti aku bisa ketiduran. Ini kan masih pagi. Nggak baik tidur pagi itu untuk kesehatan."
"Ya udah. Aku pergi dulu ya."
Luna mengangguk.
Syanum kemudian pergi meninggalkan rumah untuk ke apotik membeli obat buat Luna.
****
Jalanan di pagi ini, begitu sangat macet. Jam setengah delapan, Fabian sudah berada di jalan raya untuk menuju ke kantornya.
__ADS_1
"Kenapa jalanan macet banget begini sih. Ada apa sebenarnya. Biasanya juga nggak macet-macet amat," gerutu Fabian.
Sejak tadi, mobil Fabian masih berhenti di lampu merah. Fabian menatap ke samping. Fabian terkejut saat menatap ke sampingnya. Fabian mengucek matanya. Dia tidak percaya kalau dia akan melihat Syanum.
"Bukankah itu Syanum. Ternyata Syanum masih ada di Jakarta. Aku fikir, dia sudah pulang kampung."
Lampu hijau, tiba-tiba saja menyala. Taksi yang ditumpangi Syanum melaju kembali setelah beberapa saat, taksi itu berhenti di lampu merah.
Fabian tidak tinggal diam. Setelah lampu hijau menyala, Fabian lekas mengejar taksi yang ditumpangi Syanum.
"Aku harus kejar Syanum. Aku nggak boleh kehilangan jejak."
Fabian buru-buru melajukan mobilnya untuk mengikuti taksi yang di tumpangi Syanum.
"Sebenarnya, Syanum mau ke mana sih. Dan dia sekarang tinggal di mana?" gumam Fabian.
Beberapa saat kemudian, taksi yang di tumpangi Syanum, berhenti saat berada di depan apotik.
Fabian masih berada di dalam mobil. Dia menunggu Syanum ke luar dari taksi.
"Aku harus bisa pastikan dia itu Syanum atau bukan."
Beberapa saat kemudian, Syanum turun dari mobilnya. Fabian terkejut saat melihat perubahan pada istrinya. Syanum sekarang sangat cantik.
Mungkin perubahan pada diri Syanum, semua itu karena Luna. Luna yang sudah membuatnya menjadi cantik. Luna yang punya salon sendiri, mungkin sering mengajak Syanum ikut perawatan di salonnya.
Dan Luna juga sering memberikan baju-baju bagus untuk Syanum pakai. Dan juga, mungkin kehamilan Syanum yang pertama ini, menjadikan Syanum tampak lebih cantik dan wajahnya berseri-seri.
"Benarkah dia istriku? tapi bagaimana kalau salah. Tapi mana mungkin aku salah lihat. Syanum itu memang sedang hamil. Dan wanita itu juga sedang hamil," gumam Fabian yang sejak tadi masih ada di dalam mobil. Memperhatikan gerak gerik wanita yang turun dari taksi.
Fabian buru-buru turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah mengikuti Syanum. Syanum tampak masih berada di dalam apotik. Sementara sejak tadi suaminya masih memperhatikannya dari kejauhan.
Setelah Syanum membeli obat, dia memutar balik tubuhnya dan ke luar dari apotik. Sementara Fabian bersembunyi di balik tembok.
Fabian buru-buru mengejar Syanum. Setelah dekat, dia langsung mencekal tangan Syanum.
"Kamu nggak akan bisa pergi lagi dari aku Syanum," ucap Fabian.
Syanum menoleh ke arah Fabian dan terkejut.
"Mas, kamu kok, bisa ada di sini?"'
Fabian terdiam. Dia masih menggenggam erat pergelangan tangan istrinya. Sepertinya Fabian terpesona pada penampilan Syanum yang sekarang.
"Lepasin tangan aku Mas...!" Syanum sejak tadi masih meronta meminta untuk Fabian melepaskannya.
__ADS_1
Fabian menggeleng.
"Aku nggak akan pernah melepaskan kamu. Kamu harus pulang ikut aku Syanum," ucap Fabian dengan tegas.
"Aku nggak mau ikut kamu pulang Mas." Syanum menatap tajam suaminya.
"Kenapa heh...! aku ini suami kamu. Kamu itu istri aku. Aku masih berhak atas kamu Syanum. Kamu harus ikut aku...!" Fabian sudah mulai meninggikan nada suaranya.
"Tapi aku nggak mau ikut sama kamu Mas. Lepaskan aku!" Syanum kembali meronta.
"Nggak. Aku nggak akan melepaskan kamu." Fabian masih tetap kekeh.
"Mas, aku mohon. Biarkan aku pergi."
Fabian tiba-tiba saja memeluk tubuh istrinya di depan umum.
"Syanum. Kamu itu milik aku Syanum. Aku tidak mau kamu pergi lagi dari hidup aku."
"Hiks...hiks...hiks...aku nggak mau Mas. Hidup sama lelaki yang hatinya saja hanya untuk wanita lain. Aku nggak mau. Aku tahu, kamu itu masih mencintai Mentari." Tangis Syanum sudah mulai terdengar. Air matanya menetes deras sampai membasahi baju Fabian.
Fabian melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap istrinya.
"Syanum. Kamu bicara apa?" tanya Fabian.
"Aku tahu, kamu itu cuma cinta sama Mentari. Aku tahu Mas, cinta kamu hanya untuk Mentari. Jadi, untuk apa aku harus bersama kamu lagi. Kalau di dalam pernikahan tidak ada cinta, untuk apa di lanjutkan lagi. Lebih baik kita cerai aja Mas. Dan kamu bisa menikah dengan Mentari dan bahagia dengannya." Syanum mengusap air matanya dengan salah satu tangannya.
"Syanum. Gampang sekali kamu ngomong seperti itu. Kalau kita cerai, dan aku menikah dengan Mentari. Lalu, bagaimana dengan anak kita?" Fabian menatap perut Syanum.
"Untuk apa Mas, kamu harus fikirkan anak kita. Kamu saja nggak suka dengan kehadiran anak ini kan. Yang ada di fikiran kamu itu sekarang cuma Mentari dan Mentari. Mana pernah Mas, kamu mikirin aku, mikirin perasaan aku. Jujur sajalah Mas, kalau kamu masih cinta dan belum bisa melupakan Mentari."
Syanum menghela nafas dalam. Sejak tadi sebenarnya dia ingin kabur dari Fabian. Tapi, Fabian belum mau melepaskan tangannya.
"Syanum. Aku tahu, kalau aku belum bisa melupakan Mentari sepenuhnya. Tapi, aku tidak mau cerai dari kamu. Aku nggak mau mengorbankan anak kita Syanum. Anak kita masih butuh orang tua yang lengkap."
"Mas. Nggak usah kamu menjadikan anak ini sebagai alasan Mas. Aku udah nggak mau bertahan dengan lelaki yang tidak pernah mencintai aku. Aku udah muak Mas, dengan semua sandiwara kamu."
"Syanum. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau kita bercerai."
"Tapi aku tetap akan menggugat cerai kamu, setelah anak ini lahir Mas."
"Kalau begitu kamu egois Syanum. Kamu hanya mentingin diri kamu sendiri. Tapi kamu nggak pernah sayang sama anak kita. Kalau kita cerai, lalu bagaimana dengan anak kita? apa kamu nggak kasihan sama anak kita. Dia masih butuh kita.'
"Kamu yang egois Mas. Kamu yang nggak pernah ngerti perasaan aku. Aku selama ini sudah mencoba menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku mencoba bertahan untuk mendapatkan cinta dari kamu. Aku selalu mencoba untuk mencintai kamu. Tapi apa yang aku dapatkan dari kamu Mas. Kamu selalu bersikap kasar sama aku. Dan kamu juga tidak pernah menghargai aku sebagai istri kamu."
.
__ADS_1