Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Ke Butik.


__ADS_3

"Baiklah. Saya tidak akan lama-lama berada di sini. Saya ke sini, sebenarnya cuma mau mengingatkan Mentari saja. Tolong, jauhin Fabian Mentari. Dia itu sudah punya istri sekarang. Dan istrinya sedang hamil. Tolong Om mohon, jauhin Fabian! Biarkan Fabian dengan istrinya bahagia Mentari," ucap Om Damar dengan memohon.


Mentari mengusap air matanya. Dia kemudian menatap lekat wajah Pak Damar.


"Iya Om. Sekarang aku dan Abi, sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi Om. Aku akan berusaha untuk menjauhi anak Om. Aku juga tidak mau, menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Om tenang saja dan nggak usah khawatirkan soal itu. Aku nggak akan pernah merebut lelaki yang sudah punya istri," ucap Mentari menegaskan.


"Baguslah, kalau kamu mau mengerti Syanum," ucap Pak Damar.


"Pak Damar tenang saja. Saya pastikan, kalau anak saya tidak akan pernah menjadi pengganggu rumah tangga anak anda Pak."


"Baiklah Pak Riko, Mentari. Kalau begitu, saya permisi pulang dulu."


Pak Damar bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Mentari.


Pak Damar masuk kembali ke dalam mobilnya. Setelah itu, dia melajukan mobilnya sampai ke rumahnya.


****


Syanum masih berdiri di sisi jendela kamarnya. Setelah seminggu lebih dia berada di rumah Luna, tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Karena setiap hari, dia selalu mual-mual, membuat dia jadi tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Padahal dia sangat ingin ikut membantu Luna, mengerjakan pekerjaan rumah.


Luna membuka pintu kamarnya. Dia menatap ke arah Syanum dan mendekatinya.


"Kak."


Syanum menoleh ke arah Luna dan tersenyum.


"Luna. Ada apa?"


"Mau ikut aku nggak?"


"Ikut ke mana?"


"Dari pada kakak bengong aja di rumah, mending Kakak ikut aku aja yuk!"


"Ikut ke mana?" tanya Syanum lagi.


"Ada deh, nanti kakak juga tahu sendiri."


"Baiklah. Aku akan ikut kamu Lun. Aku juga jenuh banget kalau di rumah cuma bengong aja dan nggak ngelakuin apa-apa."


"Ya udah, tunggu apa lagi. Kakak ganti baju, aku tunggu di depan ya. Setelah itu, nanti kita berangkat."


"Iya."


Luna kemudian melangkah ke luar dari kamarnya. Sementara Syanum, lekas bersiap-siap untuk ikut Luna pergi.


Setelah mereka berdua siap, Luna dan Syanum kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur ke luar dari rumah.

__ADS_1


"Kita sebenarnya mau ke mana sih Lun?" tanya Syanum. Dia tidak tahu, Luna akan mengajaknya ke mana.


"Aku mau ke butik baru aku Kak," ucap Luna di sela-sela menyetirnya.


"Butik baru? kamu punya butik?"


"Iya Kak. Aku emang punya butik Kak. Dan baru tiga bulan ini berjalan. Dan aku punya beberapa karyawan di sana."


"Oh iya? wah, hebat banget kamu Lun! masih muda, udah bisa berbisnis ternyata."


"Ya, gitulah Kak. Aku pengin jadi wanita mandiri Kak. Aku nggak mau besok nikah, aku harus mengandalkan suami terus. Mending kalau suami baik. Gimana kalau rumah tangga aku sama seperti kakak. Nggak semulus yang aku bayangkan."


Syanum tersenyum.


"Kamu jangan bilang gitu Lun. Ngga semua lelaki seperti itu. Kebetulan aku dan Fabian itu nggak saling cinta. Jadi percuma aku bertahan dengan dia. Lebih baik kita melepaskan dari pada kita harus bertahan, tapi banyak makan ati."


"Benar Kak. Aku jadi takut nikah. Kalau suaminya seperti Kak Fabian.Egois, dan nggak pernah mau disalahkan."


Saat ini, Syanum memang sedang belajar untuk melupakan cintanya pada Fabian. Walau hal itu memang sangat sulit. Terlebih, sekarang dia sedang mengandung anak Fabian. Tapi tekad Syanum sudah bulat. Jika anak itu lahir, dia ingin bercerai dengan Fabian.


Dan Syanum akan membawa anak itu ke kampung ibunya. Karena di sanalah Syanum lahir dan dibesarkan. Syanum yakin, Syanum pasti bisa menjadi single mom yang baik untuk anaknya.


Syanum menghela nafas dalam. Pandangannya mengarah ke luar mobil. Saat dia terdiam, entah kenapa bayangan suaminya selalu muncul dalam fikirannya.


Namun Syanum selalu berusaha untuk menepis bayangan-bayangan itu.


"Kak. Kita turun yuk!" ajak Luna.


Syanum diam. Dia masih tampak melamun.


"Kak Syanum..! apa yang kamu fikirkan lagi?"


Syanum menoleh ke arah Luna.


"Eh Lun. Kok berhenti. Udah sampai ya?"


"Iya Kak. Ayo kita turun!" ajak Luna.


"Iya."


Syanum dan Luna kemudian turun dari mobil mereka.Seorang wanita berusia tiga puluhan, tiba-tiba saja menghampiri Luna dan Syanum.


"Mbak Luna. Dari kemarin, kenapa baru datang Mbak?" tanya Ismi seorang wanita yang Luna jadikan manager di butiknya.


"Oh. Iya Mbak Ismi. Aku lagi banyak kerjaan. Aku juga baru buka salon baru. Dan harus mengurusnya dulu," jawab Luna.


"Oh gitu ya Mbak."

__ADS_1


"Gimana kondisi butik?" tanya Luna.


"Alhamdulillah Mbak. Masih ramai seperti dulu."


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya. Kenalkan. Ini istri kakak sepupu aku. Namanya Syanum." Luna memperkenalkan Syanum pada Ismi.


Syanum dan Ismi kemudian bersalaman.


"Saya Ismi karyawannya Mbak Luna."


"Saya Syanum."


"Syanum. Kita ke dalam yuk! barang kali kamu mau lihat-lihat baju-baju di dalam!" ajak Luna.


"Iya."


Syanum dan Luna kemudian masuk ke dalam butik.


"Wah, keren banget ya Lun. Di usia semuda kamu, kamu udah bisa punya salon dan butik. Kamu juga punya karyawan."


"Iya dong. Dan ini semua juga berkat bantuan orang tua aku. Orang tua aku, yang memberikan aku modal untuk buka butik dan salon. Kalau Kak Syanum mau belajar dengan aku. Aku akan ajari kakak. Agar kakak bisa menjadi wanita mandiri dan nggak selalu mengandalkan Kak Fabian."


"Hehe... aku cuma bisa jadi karyawannya saja Lun. Kalau untuk seperti kamu, aku tidak mungkin bisa. Karena aku aja cuma lulusan SMA. Nggak punya pengalaman sama sekali dalam bisnis seperti ini. Kalau kamu itu kan, sudah lulus kuliah."


"Kak Syanum. Semua orang pasti bisa seperti aku. Asal dia mau belajar. Nggak ada yang nggak mungkin Kak. Kalau Tuhan sudah menghendaki, semua pasti akan terjadi. Kalau kakak mau belajar berbisnis bersama aku, aku akan ajari kakak."


"Tapi aku nggak punya modal."


"Kak, kakak itu kan menantu orang paling kaya. Kalau modal mah, minta aja ke Om Damar. Dia pasti akan memberikannya untuk kakak. Apalagi di dalam rahim kakak, ada cucunya."


"Yah, kita lihat ajalah nanti Lun."


****


Kring... kring... kring ...


Jam alarm Fabian sudah berbunyi. Fabian mengerjapkan matanya. Dia kemudian mengambil jam kecil yang ada di sampingnya tidur. Waktu sudah menunjukkan jam lima pagi. Fabian membuka matanya dan beringsut duduk. Dia kemudian mematikan alarmnya.


Hoaamm...


Fabian menatap ke dinding dan menatap foto pengantinnya dengan Syanum.


Setelah bingkai foto itu pecah berkeping-keping, Fabian mengganti bingkai foto itu dengan yang baru.


"Syanum. Kenapa kamu pergi Syanum. Kenapa kamu ninggalin aku di saat-saat aku membutuhkan kamu. Sekarang, siapa lagi orang yang mau melayani aku. Aku kangen Syanum sama kamu. Nggak ada kamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri aku," gumam Fabian.


Dalam hatinya yang terdalam, Fabian memang sangat merindukan Syanum. Dia ingin Syanum kembali di sisinya. Tapi Fabian terkadang selaku berfikir, kalau Syanum mungkin bukan jodohnya.

__ADS_1


"Syanum. Mungkinkah selama ini kamu tidak pernah bisa mencintaiku. Padahal dulu, kamu bilang sama aku. Kalau kita akan mencoba untuk saling menerima dan mencoba untuk saling mencintai. Tapi nyatanya kamu ingkari sendiri ucapan kamu itu Syanum. Kamu sekarang malah pergi dan nggak tahu kabarnya lagi. Mungkin kamu dan Mentari memang bukan jodoh aku."


__ADS_2