Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Hamil.


__ADS_3

Satu bulan setelah kepergian ayahnya, Syanum masih tampak berduka. Kematian Pak Herman, yang tiba-tiba itu, masih menyisakan duka yang mendalam bagi Syanum dan semua keluarga besar Fabian. Terutama untuk Pak Damar. Dia masih sangat kehilangan Pak Herman.


Pak Herman yang sering sekali bersamanya dan menjadi sopir setianya. Bahkan sampai mereka menjadi seorang besan pun, Pak Herman tidak pernah berhenti menjadi sopir Pak Damar.


Pak Damar, masih duduk di ruang tengah. Dia masih ditemani Bu Reva di sisinya. Cidera di kaki Pak Damar pun, sudah mulai membaik setelah satu bulan penuh dia terapi ke rumah sakit.


"Ma, Syanum dan Fabian belum pulang?" tanya Pak Damar menatap Bu Reva lekat.


Bu Reva menggeleng. "Belum Pa."


"Mereka sebenarnya ke mana sih?" tanya Pak Damar.


"Katanya sih, mereka mau ke mall. Dan mereka juga pergi, nggak cuma berdua. Dimas dan Dila juga ikut Pa." Bu Reva menjelaskan.


"Ke mall? mau ngapain?" tanya Pak Damar.


"Namanya anak muda. Mungkin mereka mau shopping-shopping. Dila memang sengaja sering mengajak Syanum jalan-jalan. Supaya dia bisa melupakan kenangan tentang ayahnya," ucap Bu Reva.


"Yang Papa lihat belakangan ini, Fabian juga sudah mulai sayang ya sama Syanum Ma," ucap Pak Damar.


Bu Reva tersenyum.


"Iya. Mama juga lihatnya begitu Pa. Fabian jadi lebih perhatian gitu sama Syanum. Sejak Pak Herman meninggal, Fabian jadi berubah lembut sama Syanum. Tidak seperti biasanya, yang sering sekali membentak-bentak Syanum."


"Iya Ma. Papa juga ikut senang melihatnya." Pak Damar tersenyum saat membayangkan bagaimana perhatian Fabian pada Syanum sekarang.


Beberapa saat kemudian, Syanum , Fabian, Dila, dan Dimas, melangkah masuk ke dalam.


"Oma... Opa...!" seru Dimas sembari berlarian menghampiri Oma dan Opanya.


Dengan sekejap, Dimas sudah duduk di tengah-tengah Bu Reva dan Pak Damar.


"Dimas. Kamu udah pulang? dari mana aja?" tanya Pak Damar sembari mengelus rambut Dimas.


"Aku barusan jalan-jalan ke mall sama Tante Syanum, Mama, dan Om Abi," jawab Dimas.


"Wah, seneng dong. Beli apa aja?" tanya Pak Damar lagi.


"Em, banyak Opa. Aku beli Ice cream, baju baru, sepatu baru, dan masih banyak lagi yang aku beli Opa," Dimas menyebut satu persatu barang yang dibelinya.


"Wah, cucu Oma, udah pintar shoping rupanya." Bu Reva hanya senyam-senyum sendiri saat mendengar cerita cucunya.


"Dimas. Kamu kan belum mandi. Ayo kita mandi dulu! Udah sore." ucap Dila setelah sampai di ruang tengah.


"Iya Ma." Dimas menurut. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri mamanya.


Dila kemudian mengajak Dimas untuk ke kamar. Karena sejak tadi siang, Dimas memang belum mandi. Sementara Syanum dan Fabian berbaur duduk di dekat Pak Damar dan Bu Reva.


"Aduh, kepala aku..." ucap Syanum tiba-tiba, sembari memegangi kepalanya.


"Syanum. Kamu kenapa?" tanya Bu Reva khawatir.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa Ma. Tapi belakangan ini, aku sering sekali tiba-tiba sakit kepala," jelas Syanum.


"Syanum. Kita istirahat aja ya," ucap Fabian.


Syanum mengangguk.


"Bi. Nanti kamu telpon dokter langganan kita saja Bi,untuk memeriksa Syanum. Istri seperti itu, kok malah dibiarkan aja sih," gerutu Pak Damar.


"Iya Pa,"


Fabian kemudian menggandeng Syanum sampai ke kamar.


Hoek... Hoek... Hoek..


"Tuh kan, mulai lagi deh," ucap Fabian.


Syanum kemudian buru-buru melangkah ke kamar mandi untuk menuntaskan muntahnya.


Sudah beberapa hari ini, Syanum sering mual dan muntah-muntah. Tapi Fabian sama sekali tidak merasa khawatir. Fabian fikir, mual dan muntah-muntah itu hal yang biasa saat dirasakan orang yang sedang masuk angin. Fabian fikir, Syanum mual, muntah dan kepala pusing itu karena masuk angin.


Fabian mendekat ke arah Syanum yang ada di kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Syanum melangkah ke luar dari kamar mandi.


"Syanum. Kalau kamu masih sakit, harusnya kamu bilang dong sama aku. Jadikan, kita tidak perlu ikut Kak Dila shopping."


"Mas, perut aku sakit."


"Ya udah. Pakai aja minyak angin. Nanti juga sembuh sendiri kok."


"Mas, bisa nggak kamu bantuin aku untuk olesin minyak angin itu, di tubuh bagian belakang aku?"


"Iya. Ya udah, sekarang kamu duduk di sofa, dan lepas baju kamu!"


Syanum terkejut.


"Lho. Kok dilepas?"


"Maksud aku, lepas jaket kamu. Kalau baju dalam kamu sih nggak usah."


"Iya."


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu sudah terdengar di depan kamar Syanum.


"Hah, siapa sih. Ganggu orang aja!" gerutu Fabian.


Dengan malas, Fabian melangkah untuk membuka pintu kamarnya.


Fabian terkejut saat melihat ibunya sudah berdiri di depan kamarnya bersama Dokter Edo. Dokter langganan keluarga Fabian.


"Mama, kok ada Dokter Edo sih di sini?" tanya Fabian.


"Mama sengaja nelpon dokter Edo, untuk memeriksa kondisi Syanum," jawab Bu Reva.

__ADS_1


"Syanum nggak apa-apa kok. Dia cuma masuk angin aja," ucap Fabian.


"Masuk angin, tidak boleh dibiarkan terus menerus Fabian. Kata Mbak Asih, dia sering melihat Syanum mual dan muntah-muntah di kamar mandi. Kamu ini gimana sih. Istri sakit dibiarkan aja. Diam lagi, nggak mau bilang sama Mama."


"Ma, aku kan sudah bilang. Syanum cuma masuk angin. Dan sakitnya juga nggak parah kok."


"Bi. Mana Syanum sekarang? biarkan dokter Edo memeriksanya Bi," ucap Bu Reva.


"Ya udah, masuk!" Fabian kemudian mempersilahkan Bu Reva dan dokter masuk ke dalam kamarnya.


Syanum melangkah menghampiri Bu Reva.


"Ada apa ini Ma, rame-rame?" tanya Syanum.


"Ini dokter Edo. Dokter langganan keluarga kita." Bu Reva memperkenalkan Dokter Edo pada menantunya.


"Oh."


"Kedatangannya ke sini, karena dia mau memeriksa kondisi kamu Syanum," jelas Bu Reva.


"Tapi, Syanum nggak apa-apa kok Ma," ucap Syanum.


"Syanum. Kamu harus diperiksa. Siapa tahu setelah ini, akan ada kabar bahagia," ucap Bu Reva lagi.


Syanum dan Fabian tidak tahu apa maksud ucapan Bu Reva. Sementara Bu Reva, deg degan untuk menunggu hasilnya. Karena Bu Reva selalu berfikir, kalau mual dan pusing yang dirasakan Syanum itu, karena gejala kehamilan.


"Ya udah. kalau begitu, kalian bisa ke luar dulu. Biar saya memeriksa Syanum."


Fabian dan Bu Reva menggangguk. Setelah itu, mereka pergi untuk menunggu di luar.


Beberapa saat kemudian,


Dokter Edo ke luar dari kamar Syanum.


"Sudah selesai Dok?" tanya Bu Reva.


Dokter Edo mengangguk. "Iya."


"Istri saya tidak sakit kan Dok?"


"Tidak. Cuma Fabian, kamu harus lebih ekstra lagi untuk menjaga istri kamu. Karena di usia kandungan yang masih muda, masih rawan mengalami keguguran." Dokter Edo memegang salah satu pundak Fabian.


Fabian terkejut saat mendengar ucapan Dokter.


"Apa! Syanum hamil?"


"Jadi maksud dokter, menantu saya hamil?"


"Iya Bu Reva. Syanum hamil. Dan sepertinya, usia kandungannya sudah memasuki empat minggu. Kalau mau lebih jelasnya, bisa anda periksakan ke dokter kandungan di rumah sakit."


"Alhamdulillah... akhirnya. Benarkan Bi dugaan Mama. Gejala pusing dan mual yang dirasakan Syanum itu, memang gejala kehamilan. Bukan masuk angin," ucap Bu Reva tampak bahagia.

__ADS_1


Sementara sejak tadi, Fabian masih bengong karena Syok. Dia tidak menyangka kalau Syanum bisa hamil secepat itu. Padahal, cuma beberapa kali saja mereka berhubungan.


__ADS_2