Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Semobil dengan mantan


__ADS_3

'Syanum hamil? nggak mungkin. Kenapa Syanum bisa secepat itu hamil sih. Aku belum siap punya anak' batin Fabian.


Bu Reva buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar Syanum. Syanum tampak masih berbaring di atas tempat tidurnya. Bu Reva menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Syanum.


"Syanum, Mama seneng banget Syanum. Akhirnya kamu hamil juga," ucap Bu Reva tampak bahagia.


"Iya Ma. Syanum juga nggak nyangka kalau Syanum akan menjadi seorang ibu." Syanum mengusap perutnya yang masih rata.


Dokter Edo dan Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam kamar menyusul Bu Reva.


Dokter menatap ke arah Syanum.


"Syanum. Kamu harus jaga benar-benar kandungan kamu. Kamu jangan terlalu banyak fikiran, dan jangan melakukan aktifitas berat dulu." Dokter Edo menasihati.


"Iya Dok."


"Orang hamil itu,tidak boleh sampai stres dan kecapean. Apa lagi, ini kan kehamilan pertama kamu."


"Iya Dok.Saya akan jaga kandungan saya baik-baik."


"Saya akan kasih resep vitamin ya untuk Syanum. Nanti kamu bisa tebus obatnya di apotik Fabian," ucap Dokter Edo.


Fabian mengangguk.


Dokter Edo kemudian menulis resep untuk Syanum. Setelah itu, Dokter Edo pamit untuk pulang.


"Kalau begitu, saya pulang dulu. Masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan."


"Iya," ucap Fabian dan Syanum bersamaan.


"Iya Dokter, mari saya antar ke depan, " ucap Bu Reva.


Bu Reva kemudian melangkah ke depan bersama Dokter Edo. Sementara Fabian duduk di sisi Syanum.


Fabian dan Syanum tampak canggung. Mereka sejak tadi diam, tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.


"Kenapa kamu harus hamil Syanum? aku belum siap punya anak," ucap Fabian tiba-tiba.


Syanum beringsut duduk.


"Kalau kamu nggak siap, ya udah nggak apa-apa. Biar aku aja yang ngurus anak aku. Anak itu kan rezeki. Seharusnya kita bersyukur, karena Allah udah mau ngasih kita anak."


Fabian diam.


"Coba saja kamu lihat. Diluaran sana, banyak pasangan yang menginginkan punya anak Mas. Mereka berobat ke sana kemari demi ingin mendapatkan keturunan. Masak kita yang baru beberapa bulan di kasih malah ngeluh."


"Tapi kan kita bisa menundanya dulu, sampai tahun depan."


Fabian sejak tadi tampak masih bingung. Entah kenapa dengan Fabian. Dia tidak tahu, harus bahagia atau tidak dengan kehamilan Syanum.


Dia juga masih bingung dengan perasaannya ke Syanum. Mungkinkah rasa perhatian dan sayangnya ke Syanum adalah bentuk rasa cinta Fabian selama ini.


Syanum meraih tangan Fabian dan meletakkan tangan Fabian di atas perutnya.


"Mas, kok kamu diam aja sih. Kamu seneng kan kita akan punya anak?"


Syanum sepertinya sangat bahagia. Sementara suaminya bingung dan setengah tidak percaya dengan kehamilan istrinya.


Beberapa saat kemudian, Kak Dila tiba-tiba masuk ke dalam kamar Syanum dan Fabian. Dila tersenyum sembari menghampiri Syanum.

__ADS_1


"Syanum. Tadi kakak dengar dari Dokter Edo. Kalau kamu hamil. Apa itu benar?"


"Iya Kak. Mudah-mudahan aja itu benar. Kata Dokter Edo, kalau kita mau tahu persis keadaan kandungan aku, aku harus periksa ke dokter kandungan," ucap Syanum menuturkan.


"Ya udah. Nanti kita periksa aja. Kalau Fabian nggak mau. Nanti kakak yang akan antar kamu."


Fabian menatap kakaknya tajam. Tanpa berucap sepatah katapun dia ke luar meninggalkan Syanum di kamarnya.


Dila duduk di sisi Syanum. Dia kemudian menatap lekat Syanum.


"Alhamdulillah, akhirnya doa aku terkabul Syanum. Kamu tahu nggak, kalau Dimas ingin sekali punya dedek bayi. Dia pasti akan senang banget kalau tahu kamu hamil."


"Iya Kak."


Syanum tiba-tiba saja menjadi sedih.


"Kamu kenapa?" tanya Syanum.


"Sepertinya, Mas Fabian nggak suka dengan kehamilan aku Kak. Katanya dia belum siap punya anak."


"Halah, biarin aja si Fabian. Kalau nggak siap punya anak, kenapa dia harus tidurin kamu. Udah, cuekin aja. Banyak kok, yang masih menanti anak kamu, seperti Kakak dan Mama."


"Makasih ya Kak."


****


Fabian duduk di teras depan rumah.


Dia sejak tadi masih diam. Entah apa yang sekarang sedang dia fikirkan.


Ring ring ring...


Fabian kemudian mengangkat telponnya.


"Halo..."


Tak ada suara dari balik telpon.


"Halo... Halo.. ini siapa ya?"


Lagi-lagi, tak terdengar suara dari balik telpon. Tiba-tiba saja, telpon itu terputus.


"Ah, sial. Siapa sih, orang yang iseng sama aku."


Tiba-tiba saja, Fabian teringat dengan Mentari.


"Apa jangan-jangan, tadi itu Mentari," gumam Fabian.


Fabian berdiri dan dia melangkah ke dalam. Fabian mengambil jaket dan kunci mobil.


"Mau ke mana Bi?" tanya Bu Reva.


"Mau nebus obatnya Syanum Ma."


"Oh ya udah. Kenapa nggak dari tadi sih."


Fabian ke luar dan melangkah ke arah garasi untuk mengambil mobilnya. Setelah itu Fabian bergegas masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Fabian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia menuju ke apotik untuk membeli vitamin untuk istrinya.

__ADS_1


Sesampai di apotik, Fabian turun dari mobilnya. Dia terkejut saat pandangannya terpaku pada sosok wanita yang selama ini dicintainya. Yah, dia Mentari.


Fabian mencekal tangan Mentari dari belakang. Membuat Mentari terkejut dan langsung menoleh ke arah Fabian.


"Abi..." ucap Mentari.


Sejenak, Fabian dan Mentari saling beradu pandang.


Fabian tersenyum.


"Kamu nggak bisa pergi lagi dari aku Mentari."


"Sekarang ikut aku Mentari!" Fabian menyeret tangan Mentari untuk ikut bersamanya.


Fabian kemudian mengajak Mentari dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


Mentari tidak bisa menolak ajakan Fabian.


Mentari dan Fabian, sejak tadi masih saling diam. Mereka masih larut dalam fikiran mereka masing-masing.


"Mentari. Kenapa sejak tadi kamu diam aja?" tanya Fabian yang masih sesekali melirik ke arah Mentari.


Mentari bingung. Apa yang akan dia katakan pada Fabian.


"Bi. Kamu mau bawa aku ke mana?"


"Kita akan ke taman Mentari."


"Untuk apa kita ke taman?"


"Udah lama kan kita tidak bertemu. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan Mentari."


Mentari menghela nafas dalam. Mungkinkah dia sekarang harus jujur dengan keadaannya yang sekarang.


"Kamu kenapa bisa ada di apotik Mentari? kamu mau beli obat?" tanya Fabian.


"Iya Bi. Papa aku sakit."


"Sakit apa?"


"Komplikasi Bi. Asma, ginjal, dan asam lambung."


"Apa! jadi Om Riko itu sakit?"


Mentari mengangguk.


"Papa aku juga lagi sakit Mentari."


Mentari menatap Fabian.


"Sakit apa Bi?"


"Satu bulan yang lalu, dia kecelakaan. Dan kakinya cedera. Makanya Papa aku harus lama duduk di kursi roda. Dan sekarang dia sudah bisa jalan dengan tongkat"


"Oh gitu ya Bi."


Beberapa saat kemudian, mobil Fabian berhenti tepat di depan taman. Fabian dan Mentari kemudian turun dari mobilnya.


Kehamilan Mentari sekarang memang sudah memasuki usia enam bulan. Tapi sampai sekarang, belum ada yang tahu kehamilannya kecuali Pak Riko. Karena perut Mentari masih kecil dan belum begitu kelihatan. Apalagi Mentari selalu memakai jaket longgar, setiap dia mau pergi untuk menutupi perutnya yang sudah semakin membesar. Fabian pun tidak menaruh curiga dengan perubahan tubuh Mentari.

__ADS_1


__ADS_2