
Satu minggu kemudian.
Fabian turun dari mobilnya, setelah dia sampai di sebuah mall, pusat perbelanjaan yang ada di dekat kantornya.
Fabian melangkah masuk ke dalam mall. Sepertinya, dia ingin membeli sesuatu. Fabian sejak tadi, masih berjalan sendiri menyusuri mall.
Dia menghentikan langkahnya dan tersenyum, saat dia berhenti tepat di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Dia masih saja teringat dengan istrinya.
"Ada perlengkapan bayi. Aku belum pernah membelikan Syanum perlengkapan bayi. Atau perlengkapan melahirkan. Kalau aku beli dan aku berikan ke Syanum, aku yakin, Syanum tidak akan mau menerimanya. Gimana caranya ya aku bisa memberikan sesuatu ke Syanum. Aku ingin membelikan sesuatu untuk Syanum," gumam Fabian.
"Hai..."
Fabian terkejut saat tiba-tiba saja, ada seseorang yang menepuknya dengan lembut dari belakang.
Fabian buru-buru menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Abi, kamu ada di sini?" tanya Mentari yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Fabian.
"Mentari, kamu juga kenapa bisa ada di sini?" tanya Fabian.
"Bi. Aku mau belanja kebutuhan untuk baby aku Bi. Kamu, kenapa berdiri aja di sini?" tanya Mentari.
"Aku juga mau beli kebutuhan bayi aku."
Mentari terkejut.
"Kebutuhan bayi kamu? emang istri kamu, sudah di temukan? apa dia sudah melahirkan?" tanya Mentari.
"Belum sih. Tapi..."
"Tapi apa Bi?"
"Ya, mau aku simpan aja Tar. Siapa tahu, nanti Syanum mau pulang ke rumah aku lagi. Jadi, aku sudah membelikan semua perlengkapan bayi untuk calon anak aku."
"Ya udah. Masuk yuk! kamu mau beli apa aja. Nanti, aku pilihkan buat bayi kamu." Mentari sudah menggenggam lengan Fabian dengan erat.
"Tidak perlu Tar. Lain kali aja kali ya." Fabian melepaskan genggaman tangan Mentari.
"Aku pergi dulu ya," ucap Fabian.
Fabian memutar tubuhnya untuk pergi. Namun, Mentari buru-buru mencekal tangannya.
__ADS_1
"Bi. Aku pengin bicara penting sama kamu."
Fabian menoleh kebelakang.
"Bicara apa?"
"Soal hutang-hutang Papa."
"Maaf Tar. Aku nggak ada waktu."
"Bi. Tolong. Kali ini aja berikan aku waktu. Kita cari tempat yang enak aja untuk bicara."
"Baiklah. Tapi sebentar saja ya. Soalnya aku masih banyak urusan."
Mentari mengangguk.
"Biar lebih enak, gimana kalau kita bicara sambil makan aja. Kamu pasti baru pulang dari kantor dan belum makan kan?"
"Iya deh."
"Oh iya. Di dekat sini, ada cafe. Kita ke sana aja ya."
Fabian mengangguk.
****
Fabian dan Mentari sejak tadi masih berada di dalam cafe. Mereka masih menghabiskan waktu mereka di cafe untuk makan malam bersama. Karena kebetulan, Fabian juga sangat lapar, jadi dia tidak menolak menerima ajakan Mentari.
Waktu saat ini, sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam. Sudah satu jam lebih Mentari dan Fabian berada di dalam cafe.
Setelah menghabiskan makanannya, Fabian mengambil ponselnya. Dia sejak tadi masih diam. Tidak mau bicara dengan Mentari, wanita yang sekarang ada di depannya.
'Aku nggak suka, Abi cuekin aku seperti ini. Padahal, kemarin-kemarin sikapnya juga nggak gini-gini amat. Ada apa sih sama dia. Aku ngerasa sudah kehilangan Abi ku yang dulu. Dia seperti bukan Abi,' batin Mentari.
Fabian menyeruput minumannya. Dia kemudian menatap Mentari.
"Sebenarnya kamu ngajak aku ke sini, mau ngajak makan malam, atau mau bicara sesuatu yang penting sih?" tanya Fabian.
"Dua-duanya Bi," jawab Mentari singkat.
"Kalau kamu ngajak aku cuma untuk makan malam saja, aku mau pulang aja sekarang. Aku mau pulang, kalau kita di sini, hanya mau buang-buang waktu saja."
__ADS_1
"Jangan pulang sekarang Bi...! aku masih ingin bersama kamu."
Mentari tiba-tiba menggenggam tangan Fabian dengan erat. Membuat Fabian risih.
"Bi. Kamu sekarang berubah," ucap Mentari tiba-tiba.
"Padahal, kemarin-kemarin aja, kamu masih baik sama aku. Kamu masih perhatian sama aku. Tapi, kenapa sekarang kamu jadi dingin banget begini Bi. Aku ngerasa, kamu itu bukan Abi yang aku kenal," lanjut Mentari.
Fabian melepaskan genggaman tangan Mentari.
"Mentari. Tolong, mulai sekarang kamu berhentilah untuk menghubungi aku lagi. Aku ingin memperbaiki hubungan aku dengan istri aku. Jika kamu masih terus ganggu aku, aku nggak tahu Syanum masih mau balik lagi atau nggak sama aku."
"Maksud kamu apa Bi?" tanya Mentari menatap Fabian tajam.
"Mentari. Kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi Mentari. Aku sekarang sudah punya istri. Dan sebentar lagi, aku juga akan punya anak dari istri aku. Aku ingin berubah Mentari," ucap Fabian menjelaskan.
"Bi. Bukankah kamu bilang waktu itu, kamu tidak pernah cinta sama istri kamu. Terus, kenapa kamu bicara begitu sama aku. Aku fikir, setelah aku kembali dan Syanum pergi, kamu akan membuka lembaran yang baru bersama aku. Tapi kenapa kamu jadi berubah begini?"
"Mentari. Kapan aku pernah bilang begitu?" tanya Fabian.
"Kamu kan pernah bilang, waktu aku baru kembali ke rumah, kalau kamu, menikah dengan istri kamu itu, karena paksaan orang tua kamu. Dan kamu akan secepatnya meninggalkan dia," ucap Mentari.
"Dan sekarang dia sudah pergi dari hidup kamu Abi. Itu artinya, kamu udah bisa bebas kan Bi dari pernikahan paksa itu. Kita bisa kan kembali seperti dulu!" lanjut Mentari.
Sangat besar harapan Mentari untuk kembali lagi bersama Fabian. Apalagi sekarang, dia sudah tidak punya apa-apa lagi.
Ke dua orang tua Mentari, sudah pergi meninggalkan dunia ini. Harta orang tua Mentari juga sudah habis tak tersisa. Apalagi dengan rumah Pak Riko yang sudah di jual, untuk menutupi hutang-hutang Pak Riko.
Karena sejak Pak Riko sakit, dia harus menjual aset-aset berharganya untuk biaya pengobatannya yang sangat mahal.
Dan perusahaannya juga tidak ada penerus untuk meneruskan usahanya. Karena Mentari anak satu-satunya yang di harapkan, tidak becus untuk mengurus bisnis ayahnya. Sehingga perusahaan itu, bangkrut setelah Pak Riko sakit-sakitan.
Mentari sekarang hanya wanita sebatang kara, yang hidupnya hanya bisa numpang di rumah Tantenya. Dia juga punya anak tanpa seorang suami. Entah, apa lagi yang bisa di harapkan dari Mentari untuk Fabian.
Sementara di sisi lain, Fabian masih punya istri yang sedang mengandung anaknya. Dan sekarang istrinya sudah berubah sangat cantik. Walau sekarang, sikap Syanum ke Fabian bagai salju yang entah bagaimana cara Fabian untuk meluluhkannya.
Fabian tersenyum. Dia merasa lucu dan konyol mendengar ucapan Mentari.
"Maaf Mentari. Aku nggak bisa balik lagi sama kamu. Karena sekarang, aku udah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu. Saat ini, aku cuma cinta sama istri aku. Dialah wanita yang berhak untuk aku cintai. Karena sekarang dia sedang mengandung anak aku. Dan sebentar lagi, dia akan menjadi ibu dari anak aku."
Deg.
__ADS_1
Sakit sekali hati Mentari saat ini. Pupus sudah semua harapannya untuk kembali lagi bersama Fabian.
Setetes air mata Mentari membasahi pipi mulusnya. Seorang lelaki yang sangat dia harapkan untuk bisa selalu membantunya dalam menjalani masa sulitnya, sekarang sudah benar-benar mencampakannya.