Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Benar-benar cemburu


__ADS_3

Sejak tadi, Fabian masih mengintip dari balik pintu ruangan Syanum. Dia baru tahu kalau istrinya itu hampir saja mengalami keguguran karena pendarahan.


"Benarkan, apa dugaanku. Kalau mereka memang sekongkol menyembunyikan Syanum dari aku. Dan Syanum, kenapa dia nggak mau ketemu aku. Sebenci itukah dia sama aku," gumam Fabian. Wajahnya mendadak berubah sedih, saat mendengar ucapan Syanum.


Fabian hanya bisa menatap Syanum dari kejauhan. Dia hajya bisa tersenyum dari jauh, saat melihat wanitanya itu sedang ngobrol dengan kakaknya dan adik sepupunya.


"Aku suka melihat dia tersenyum. Kenapa aku baru sadar, kalau Syanum itu cantik. Kenapa aku nggak bisa melihatnya dari dulu kalau Syanum itu baik. Tapi, kenapa dia tidak mau bertemu sama aku. Apa dia belum bisa memaafkan aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku nggak mungkin masuk menemui dia. Dia saja, belum mau bertemu dengan aku."


Syanum, Dila dan Luna, sejak tadi masih tampak asyik mengobrol. Sementara Fabian, hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan wajah yang tampak di tekuk.


Fabian menatap ke arah lain. Dia terkejut saat melihat Ryan.


Ryan tampak membawa bunga dan buah-buahan. Ryan melangkah ke arah Fabian duduk.


Fabian buru-buru melangkah pergi dan mencari tempat persembunyian. Dia tidak mau, Ryan melihatnya ada di sana.


"Aku harus sembunyi. Ryan tidak boleh melihat aku," gumam Fabian.


Fabian kemudian bersembunyi di balik dinding. Sementara Ryan, masuk ke dalam ruangan Syanum.


Ryan tersenyum saat melihat Syanum. Dia kemudian melangkah mendekat ke arah Syanum.


"Maaf ya, kalau aku datangnya kemalaman," ucap Ryan.


Dila, Syanum, dan Luna menatap Ryan. Dia tampak aneh saat melihat Ryan.


"Untuk apa kamu bawa-bawa bunga?" tanya Dila.


Ryan hanya tersenyum. Dia kemudian mencium bunga itu dan kembali menatap Syanum.


"Ini bunga untuk Kak Syanum."


"Untuk apa orang sakit di bawain bunga?" Luna menatap Ryan tajam.


"Aku juga bawa buah-buahan juga."


Ryan melangkah mendekati Syanum. Dia kemudian meletakan bunga dan buah-buahan itu di sisi Syanum berbaring.


"Kak Syanum. Semoga cepat sembuh ya," ucap Ryan.


Syanum mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya Yan."


"Iya Syanum. Sama-sama."


Ryan kemudian duduk berbaur bersama Dila, Luna dan Syanum.

__ADS_1


Di sisi luar, Fabian masih berdiri dan mengepalkan tangannya geram. Dia tampak kesal dengan kedatangan Ryan.


"Ryan, benar-benar kurang ajar. Beraninya dia dekatin Syanum. Selama ini, mereka sudah bohong sama aku. Mereka fikir, aku bisa apa dibohongi. Aku nggak akan tinggal diam. Aku harus buat perhitungan dengan dia. Awas aja kamu Ryan, kalau kita ketemu di kantor. Aku hajar kamu Ryan."


Fabian masih berdiri di depan ruangan isrtinya. Sejak tadi, dia masih bergumam sendiri menyaksikan Syanum dan ketiga saudaranya itu.


"Luna. Kamu kan sudah sejak tadi pagi, temani Syanum. Sekarang kamu pulang aja. Siapa tahu, kamu capek. Biar aku aja yang temani Syanum di sini," ucap Ryan .


"Nggak usah. Kalian berdua boleh pulang. Biar Syanum sama aku aja. Aku akan temani dia di sini. Bagaimanapun juga, Syanum itu sudah menjadi tanggung jawab aku. Dia itu, adik ipar aku," ucap Dila menegaskan.


Ryan dan Luna saling menatap.


"Luna, Ryan, kalian pulang aja. Aku nggak apa-apa kok, sama Kak Dila."


"Kamu yakin, nggak apa-apa kalau aku tinggal?" tanya Luna.


"Nggak apa-apa kok."


Luna menatap Ryan.


"Pulang yuk Kak."


"Lho. Kok pulang sih. Aku kan baru nyampe Kak. Gimana sih," gerutu Ryan.


"Ryan. Lebih baik kamu pulang aja deh. Syanum itu masih sakit. Dan dia lagi butuh banyak istirahat. Kalau kamu kelamaan ada di sini, kakak takut, kamu akan menganggu Syanum. Kalau kamu mau ke sini lagi, besok juga bisa kan. Dan besok pagi, kamu juga harus kerja Ryan, kamu nggak boleh sampai kesiangan," ucap Kak Dila.


Sebenarnya Ryan masih ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi. Karena dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Syanum. Dia juga ingin ngobrol banyak dengan Syanum. Tapi gara-gara ada Kak Dila, Ryan jadi gagal untuk ngobrol lama dengan Syanum.


Luna bangkit berdiri.


"Ayo Kak Ryan. Kita pulang!" ajak Luna.


Ryan menggeleng.


"Aku masih pengin di sini Lun. Kamu itu kan bawa mobil sendiri. Kenapa kamu nggak pulang sendiri aja sih."


"Tapi, aku takut pulang sendiri Kak. Ini itu kan udah malam."


"Ryan. Lebih baik, kamu temani Luna saja deh pulang. Kalau kamu mau ke sini lagi, besok juga bisa. Kasihan Luna. Dia kan cewek. Bahaya kalau pulang malam," ucap Suami.


"Ya udah kalau gitu."


Ryan bangkit berdiri. Dia kemudian pamitan dengan Syanum dan Kak Dila.


"Ya udah. Kak Dila. Aku pergi dulu ya. Tolong jagain Syanum."


"Iya Yan."

__ADS_1


"Aku juga pergi dulu ya."


Luna dan Ryan kemudian pergi meninggalkan ruangan Syanum.


"Udah sono...! pergi yang jauh. Ngga usah kembali sekalian kamu Ryan...!" ucap Fabian meninggikan nada suaranya setelah kepergian Luna dan Ryan.


Fabian bisa bernafas lega, setelah melihat kepergian ke dua sepupunya itu.


"Aku yakin, selama ini Ryan itu diam-diam mau merebut istriku. Dia pasti sudah mulai suka sama Syanum. Makanya dia datang kemari bawa-bawa bunga dan buah segala. Sok perhatian banget sih."


Fabian mencoba untuk menenangkan diri.


Ring ring ring...


Tiba-tiba saja, ponsel Fabian berdering. Fabian mengambil ponselnya yang ada di sakit celananya.


"Mama. Ngapain Mama nelepon," gumam Fabian.


Fabian kemudian menjauh dari ruangan Syanum untuk angkat telpon.


"Halo Ma."


"Halo Bi. Kamu ada di mana sekarang Bi?"


"Aku..."


"Bi. Mobil kamu nggak ada di garasi. Kamu pergi bawa mobil ya? kemana kamu Bi?"


"Abi ini Ma. Lagi ada di rumah teman."


"Sampai malam begini Bi? kamu itu kan besok mau kerja Bi. Gimana nanti kalau kamu kesiangan lagi."


"Maaf Ma. Abi nggak bisa pulang. Abi lagi ada urusan penting"


"Urusan apa?"


"Halo Ma... halo... kayaknya sinyal di sini jelek deh Ma. Udah dulu ya Ma. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Fabian menghela nafas dalam.


"Maaf Ma. Aku harus bohong sama Mama. Aku nggak mau, mama khawatir kalau aku cerita tentang Syanum. Bisa-bisa jantung Mama kambuh lagi."


Fabian kemudian kembali duduk di depan ruangan Syanum. Dia tidak mungkin meninggalkan isrtinya begitu saja. Karena dia sangat mencemaskan istrinya.


"Ah, kenapa tiba-tiba aku haus ya. Nggak bawa minum lagi. Aku mau beli minum aja deh di luar."

__ADS_1


Fabian kemudian ke luar untuk membeli minum. Dia sudah bisa bernafas lega, setelah dia sudah bisa menemukan Syanum.


__ADS_2