
Pagi ini, sinar mentari sudah menerobos masuk ke celah-celah jendela kamar Fabian.
Fabian mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah jam dinding. Waktu sudah menujuk ke angka tujuh. Fabian beringsut duduk. Dia kemudian melangkah ke luar dari kamarnya.
"Mama... Mama...!" seru Fabian sembari menuruni anak tangga.
Dia melangkah turun ke bawah. Namun, Fabian melihat di bawah sepi. Tidak ada siapapun di sana.
Fabian mencari-cari ibu dan ayahnya. Namun, Bu Reva dan Pak Damar, tidak tampak ada di dalam rumah. Fabian sudah mencari ke kamar, ke depan, ke belakang, namun dia tidak menjumpai ibunya. Fabian kemudian melangkah ke arah dapur. Hanya ada istrinya saja di sana.
"Syanum," ucap Fabian.
Syanum menoleh ke arah suaminya.
"Tuan muda. Ada apa?"
"Kenapa rumah jadi sepi begini? kemana perginya orang-orang?" tanya Fabian.
"Aku nggak tahu, kemana orang tuamu pergi Tuan muda. Tapi yang aku tahu, ayahku pergi untuk mengantar Mbak Asih ke pasar."
"Jadi, kita cuma berdua di rumah ini?"
"Yah, nggak juga. Kan masih ada ikan, kucing..." ucap Syanum sembari mengiris sayuran yang ada di depannya.
"Nggak lucu Syanum." Fabian kemudian pergi meninggalkan Syanum.
Syanum hanya geleng-geleng kepala. Syanum tidak mau ambil pusing, dengan sikap Tuan muda yang sekarang sudah berstatus suaminya itu.
Syanum akan selalu menganggap, kalau pernikahan itu tidak pernah terjadi. Karena jika dia memikirkan bagaimana perlakuan Fabian ke dirinya, itu akan lebih membuatnya sakit hati.
Fabian sejak tadi, masih mondar-mandir di dalam rumah. Dia sejak tadi mencoba untuk menghubungi ayah dan ibunya. Tapi, ponsel ke dua orang tuanya tidak aktif.
"Kemana sih papa dan mama. Nggak biasanya mereka seperti ini." Fabian tampak cemas.
Beberapa saat, Syanum datang menghampirinya.
"Tuan muda, aku udah masak. Apa Tuan muda mau makan dulu?" tanya Syanum.
Fabian menoleh ke arah Syanum.
"Syanum. Kenapa ponsel ke dua orang tuaku nggak aktif ya?"
"Ya jelas nggak aktif Tuan muda. Mama dan papa kamu kan, nggak bawa hape. Karena hape mereka ketinggalan di kamar."
Fabian menepuk keningnya.
"Yang benar? pantas aja di telpon nggak aktif."
__ADS_1
"Iya. Tadi aku sempat beres-beres di kamar mama dan papamu. Dan hape mama dan papa ada di atas tempat tidur."
Syanum kemudian melangkah kembali ke dapur.
'Kenapa sih, aku harus punya suami seperti dia. Setiap hari aku selalu aja di cuekin. Aku nggak pernah di anggap istri. Aku masih saja di anggap pembantu. Kapan ya, aku mendapat suami yang perhatian, romantis, dan super baik seperti suami yang ada di sinetron-sinetron di tivi.'
Syanum kemudian melangkah ke luar. Seperti biasa, setelah tugas memasak selesai, dia keluar untuk menyiram bunga di taman depan rumah.
Walau sudah menjadi istri orang kaya raya seperti Fabian, tapi Syanum tetap mau mengerjakan tugas pembantu. Pernikahannya dengan Fabian, tidak mau sampai membuat Syanum menjadi orang yang sombong dan takabur.
"Syanum...! Syanum...!" seru Fabian.
Fabian melangkah ke luar untuk menemui Syanum yang sekarang sedang menyiram bunga di taman depan rumah. Syanum yang sedang menyiram bunga, segera menghentikan aktifitasnya. Dia menoleh ke arah suaminya dan melangkah mendekatinya.
"Iya Tuan, ada apa Tuan muda memanggilku?" tanya Syanum.
"Tolong, siapkan aku makan. Aku lapar banget."
"Gimana sih Tuan, tadi kan aku udah nawarin makan. Tapi tadi Tuan nggak mau."
"Tadi aku belum lapar Syanum...!" Fabian sudah meninggikan nada suaranya.
"Ya udah. Kita makan sekarang." Syanum kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Kita? ogah banget, aku makan dengan wanita kampungan itu," ucap Fabian sembari melangkah masuk mengikuti istrinya.
Sesampai di ruang makan, Fabian duduk. Dia menunggu istrinya menyiapkan makanan.
Fabian hanya bisa menatap makanan-makanan itu. Sejak tadi, fikirannya kosong. Sepertinya dia kembali memikirkan Mentari. Dia tidak menyentuh sedikitpun makanan-makanan itu.
Sementara Syanum, dia sudah mengambil piring dan mencedokan nasi beserta lauk pauknya ke dalam piringnya. Setelah itu, dia makan sendirian.
'Di mana sebenarnya kamu Mentari. Aku kangen sama kamu,' batin Fabian.
Fabian tersadar dari lamunannya. Dia terkejut saat melihat Syanum ada di meja makan bersamanya.
"Syanum. Kenapa kamu ikut makan di sini?" tanya Fabian.
Syanum tersentak.
"Em... Aku... aku..."Syanum tergagap. Dia bingung, dengan apa yang akan di ucapkannya.
"Siapa yang suruh kamu duduk dan ikut sarapan dengaku? kamu nggak pantas ada di meja makan ini Syanum."
"Tapi kemarin, Tuan Damar dan Nyonya Reva, menyuruhku untuk ikut makan di sini."
"Tapi aku nggak suka kamu ada di sini Syanum. Membuat selera makanku hilang aja."
__ADS_1
Syanum menundukan pandangannya. Dia terlihat sangat sedih. Padahal sejak kemarin, Bu Reva dan Pak Damar, menyuruhnya untuk makan semeja dengan mereka. Karena sekarang Syanum sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Tapi sekarang, Syanum malah di usir oleh suaminya sendiri.
"Kenapa kamu malah bengong...! bawa makanan kamu ke dapur...!"
"Baik, Tuan muda."
Syanum kemudian membawa piringnya ke dapur. Dia melanjutkan makannya di dapur.
Syanum makan sembari menangis. Sungguh tega sekali suaminya. Dia masih saja menganggap Syanum itu pembantu. Entah sampai kapan Fabian akan memperlakukan Syanum seperti pembantu.
****
Klakson mobil sudah terdengar dari luar rumah Fabian. Selesai makan, Fabian melangkah ke depan.
"Sepertinya, itu mama dan papa. Mereka habis pergi ke mana ya. Kenapa mau pergi, mereka nggak bilang-bilang dulu sama aku. Membuat aku cemas aja," ucap Fabian.
Fabian membuka pintu depan. Namun, Fabian kecewa setelah dia melihat yang datang bukan ke dua orang tuanya. Melainkan Mbak Asih dengan Pak Herman mertuanya.
Mbak Asih keluar dari mobilnya. Sementara Pak Herman, membuka bagasi mobil untuk mengambil barang-barang bawaan Mbak Asih.
"Pak Herman. Tolong bawa semua barang-barang ini ke dapur ya," pinta Mbak Asih.
"Iya."
Pak Herman kemudian membawa barang-barang itu ke dapur. Sepertinya pagi ini, Mbak Asih belanja banyak. Dia belanja, kebutuhan dapur seperti biasanya.
"Mba Asih. Tunggu," ucap Fabian.
"Dari mana aja sih Mbak?"
"Eh, Tuan muda. Mbak barusan belanja ke pasar. Karena kebutuhan di dapur sudah habis," jawab Mbak Asih.
"Oh. Apa Mbak Asih tahu, ke mana papa dan mamaku pergi?"
"Saya nggak tahu Tuan muda. Karena saya berangkat ke pasar pagi-pagi sekali. Kenapa nggak nanya ke istrinya saja. Syanum kan nggak kemana-mana hari ini."
"Syanum juga nggak tahu."
"Kenapa nggak telpon aja."
"Mereka nggak bawa hape."
"Kayak ngga bisanya aja sih, Nyonya dan Tuan besar perginya nggak bawa hape. Mungkin ada sesuatu yang penting Tuan muda yang membuat mereka pergi dengan terburu-buru."
"Iya. Mungkin Mbak. Ya udah. Mbak lanjutkan saja bawa barang-barangnya."
__ADS_1
Mbak Asih mengangguk. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
"Kemana ya mama dan papa pergi. Kenapa mereka pergi nggak bawa hape. Dan perasaanku, kenapa jadi nggak enak begini ya. Apa yang sebenarnya terjadi," gumam Fabian