Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Di usir dari rumah


__ADS_3

Jam sepuluh malam, Mario masih berada di pinggir jalan. Sejak tadi, dia masih mabuk karena Mario sudah terlalu banyak minum-minuman keras.


Mario melangkah menuju ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, Mario sudah sampai di teras depan rumahnya.


Hoek... Hoek... Hoek...


Mario muntah-muntah tepat di depan teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dia terkejut saat melihat Mario.


"Den Mario. Apa yang terjadi Den?" Bik Minah tampak tergopoh-gopoh menghampiri Mario.


Bik Minah terkejut saat melihat anak majikannya itu sudah jatuh di teras. Mario sudah terkapar tidak berdaya di teras depan rumahnya.


"Den... Aden kenapa pingsan?" Bik Minah tidak langsung menolong Mario, karena dia takut.


Dia kemudian buru-buru masuk ke dalam untuk memanggil majikannya.


"Nyonya...! Tuan..!" seru Bik Minah wanita yang berusia setengah abad itu.


Kedua majikan Bik Minah, kemudian menuruni anak tangga dan melangkah ke arah Bik Minah.


"Ada apa Bik Minah?" tanya Adela ibunda Mario.


"Itu. Den Mario. Dia pingsan di teras. Sepertinya dia mabuk lagi." Bik Minah menuturkan.


Pak Sofyan hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kebiasaan tuh anak. Suka sekali mabuk-mabukan dan buat repot semua orang," geram Pak Sofyan.


"Biar bunda lihat di depan,"


"Jangan Bun! biarkan saja dia tidur di luar. Sekali-kali, kita harus memberikan dia pelajaran. Nggak usah perdulikan dia lagi. Lebih baik sekarang, kita masuk saja Bun."


"Tapi anak kita Yah. Kasihan dia. Nanti dia kedinginan kalau di suruh tidur di luar."


"Sudah, jangan pedulikan dia. Kalau kita pedulikan dia, nantinya dia akan semakin manja dan semakin ngelunjak."


Bu Adela hanya bisa menuruti apa kata suaminya. Akhirnya, Bu Adela dan Pak Sofyan masuk kembali ke dalam kamar mereka untuk melanjutkan tidur.


Mario adalah anak satu-satunya yang Pak Sofyan dan Bu Adela punya. Sejak dulu, Mario memang sudah menjadi anak pembangkang dan susah di atur.


Ke dua orang tuanya juga sudah sangat geram, melihat tingkah Mario. Sampai usianya yang sekarang menginjak dua puluh tujuh tahun, Mario tidak pernah berubah dan malah semakin parah.

__ADS_1


Mabuk-mabukan dan berantem adalah hobi Mario sejak dulu. Mungkin itu yang membuat Mentari sangat membenci Mario. Sejak sekolah dulu, Mario sudah di cap sebagai anak bandel di sekolahnya. Selain hobi mabuk, dia juga hobi tawuran.


Dan sampai sekarang Mario masih tetap sama. Hampir setiap malam dia mabuk. Dan sering sekali dia pulang dalam keadaan babak belur karena berkelahi.


"Lihatkan Bun, anak kita. Semakin hari, semakin menjadi-jadi saja. Seharusnya, seusia Mario itu sudah menikah dan kerja. Seharusnya, kita itu udah gendong cucu. Tapi kerjaan Mario, apa. Dia cuma mabuk-mabukan dan keluyuran tidak jelas. Ini semua itu karena Bunda. Bunda yang udah salah mendidik Mario sehingga Mario menjadi anak pembangkang seperti itu."


"Lho. Kok malah Bunda sih Yah, yang di salahin. Lagian, siapa yang memanjakan Mario Yah. Mario tumbuh menjadi anak liar, karena pergaulan di sekolahnya dulu. Kenapa Ayah jadi nyalahin Bunda sih."


"Bun, bunda selama ini yang sudah selalu membela dia. Bunda yang selama ini selalu menuruti keinginan anak itu. Kalau ayah mau keras sama Mario, juga Bunda nggak ngebolehin. Sekali-kali kita berilah dia pelajaran, biar dia jera Bun."


"Terus, apa yang mau Ayah lakukan?" tanya Bu Adela.


"Ayah akan usir anak itu dari rumah ini. Biar dia hidup menjadi gelandangan sekalian. Biar dia mikir, hidup jadi gelandangan itu susah. Hidup menjadi gelandangan itu tidak enak. Dan ayah akan blokir semua kartu ATM Mario dan akan ayah sita semua barang-barang Mario. Termasuk ponselnya juga."


"Duh, Yah. Kok seperti itu sih. Bagaimana kalau Mario benar-benar pergi dan nggak mau kembali."


"Biarkan saja dia Bun. Kalau nggak di gituin, dia nggak akan sadar-sadar."


"Ya udahlah. Terserah Ayah saja. Bunda nurut aja apa kata Ayah."


Bu Adela dan Pak Sofyan, kemudian naik ke atas tempat tidur mereka untuk melanjutkan tidur. Mereka sudah tidak mau memperdulikan anaknya lagi.


***


"Bun, Yah," ucap Mario setelah dia sampai di ruang makan.


"Mario. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Pak Sofyan.


"Aku lapar Yah. Aku pengin makan." Mario memegangi perutnya.


"Nggak ada makanan buat kamu Mario," ucap Pak Sofyan.


"Lho aku nggak boleh makan di sini?"


"Nggak. Ayah nggak akan ngizinin kamu makan di sini. Keluarlah...!"


"Tapi Yah."


"Nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu tidak mau merubah kelakuan kamu, kamu pergi saja dari rumah ini. Dan nggak usah tinggal di sini."


"Ayah kok tega sama aku."

__ADS_1


"Ayah sudah bilang berapa kali sama kamu. Kalau ayah, itu tidak suka melihat kamu mabuk. Dan ayah juga sudah berapa kali memberikan peringatan untuk kamu. Tapi, kamu tidak mau ngerti juga Mario."


Mario bukannya sedih dan menyesal, dia malah semakin melawan ayahnya.


"Ayah ngusir aku? baik kalau ayah ngusir aku. Aku akan pergi Yah. Aku akan pergi dari rumah ini. Dan jangan harap, aku akan kembali ke sini."


"Ayah, jangan terlalu keras begitu sama Mario," ucap Bu Adela


"Diam Bun! jangan belain anak itu terus. Semakin di bela, dia bisa semakin ngelunjak. Biarkan saja dia pergi dari rumah ini."


"Baik. Aku akan pergi dari rumah ini."


Mario akan melangkah ke kamarnya. Namun, Pak Sofyan buru-buru mencegahnya.


"Mau ngapain kamu ke sana?"


Mario menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ayahnya.


"Aku mau ambil baju-baju aku Yah."


"Nggak usah bawa barang-barang dari rumah ini Mario."


"Tapi kenapa Yah?"


"Ayah hanya ingin kamu berubah. Tapi, kalau kamu tetap tidak mau berubah, nggak usah kamu bawa apapun dari rumah ini termasuk baju kamu Mario."


"Baik, kalau ayah ngusir aku. Aku nggak akan bawa apa-apa dari rumah ini. Aku akan pergi, dan aku tidak akan pernah kembali ke sini."


Mario kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Sebelum Mario sampai di pintu depan, ayahnya berseru.


"Silahkan kamu kembali, setelah kamu mau menyadari semua kesalahan kamu. Dan setelah kamu bisa merubah diri kamu menjadi lebih baik. Buktikan kalau kamu bisa menjadi anak kebanggaan ayah Mario...!"


Mario diam. Dia tidak memperdulikan ucapan ayahnya. Mario pergi ke luar dengan membanting pintu depan


Bruaaak...


Bu Adela dan Pak Sofyan terkejut.


"Benar-benar anak tidak sopan...!"


Mario pergi dari rumah. Namun, dia tidak membawa apapun dari rumah orang tuanya. Mungkin, jika Mario mau menyadari semua kesalahannya dan tidak kembali ke dalam minuman keras itu, ayah Mario akan menerimanya kembali ke rumah itu. Tapi, nampaknya kebiasaan buruk itu, susah sekali untuk dihilangkan.

__ADS_1


Mario masih lontang-lantung di tepi jalan. Dia benar-benar kesal sekali dengan orang tuanya yang sudah tega mengusirnya dari rumahnya sendiri. Namun, Mario sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah terlanjur kecewa dengan sikap ayanya.


Pak Sofyan memang sudah sejak dulu dibuat kesal oleh Mario. Sewaktu SMA, Pak Sofyan juga sering di undang pihak sekolah karena kenakalan Mario. Kadang Mario terlibat tawuran antar pelajar, terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya, nilai yang anjlok, dan masih banyak lagi kenakalan Mario yang lainnya.


__ADS_2