
"Oh iya Bu, Lun, saya permisi ke toilet sebentar ya. Entah kenapa, tiba-tiba perut saya sakit."
"Oh iya ya. Saya juga mau pilih-pilih baju kok di sini."
Syanum kemudian melangkah untuk ke kamar mandi. Dia membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam. Tiba-tiba saja, Syanum terjatuh dan terpeleset di dalam kamar mandi.
"Aduh, perut aku..." ucap Syanum sembari memegangi perutnya.
Syanum mencoba untuk berdiri. Syanum terkejut saat melihat darah segar mengalir di kakinya. Syanum berteriak memanggil Luna. Syanum panik dan ketakutan saat melihat kakinya berdarah.
"Luna...Luna... Luna...! tolong aku..."
Syanum menangis karena takut. Dia takut kalau pendarahan itu, akan berakibat fatal pada bayi yang ada di dalam kandungannya.
Syanum juga panik.
Luna yang sejak tadi masih mengobrol dengan Bu Dahlia, terkejut saat mendengar teriakan Syanum.
"Itu seperti suara Syanum," ucap Bu Dahlia.
"Iya. Kenapa ya dengan Syanum."
"Coba sana Lun lihat Syanum di dalam!"
"Iya Bu."
Luna berlari ke arah kamar mandi.
Tok tok tok..
"Kak. Kak Syanum nggak apa-apa kan kak?"
Hiks...hiks...
"Luna aku takut..."
Luna membuka pintu kamar mandi dan mendekat ke arah Syanum.
"Kak. Ada apa Kak?"
"Luna, aku takut. Ada darah di kaki aku Lun."
Luna menatap ke bawah. Dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Kak Syanum. Apa yang terjadi? kenapa kakak bisa pendarahan?"
"Tadi aku terpeleset di situ."
"Apa! kakak jatuh?"
Syanum mengangguk.
"Ya ampun Kak. Kok kakak bisa jatuh dan terpeleset sih."
Luna juga tampak panik.
"Aku telpon Kak Abi ya Kak. Aku nggak mau, terjadi apa-apa sama kakak."
"Jangan. Nggak usah. Aku nggak mau Mas Fabian tau keberadaan ku."
__ADS_1
"Baiklah. Kita ke rumah sakit sekarang Kak. Apa kakak masih bisa jalan?"
"Iya. Aku masih bisa jalan."
Luna merangkul bahu Syanum. Mereka kemudian melangkah pergi ke luar dari kamar mandi.
Syanum dan Luna kemudian melangkah ke luar dari butik. Semua mata menatap ke arah Syanum dan Luna. Mereka buru-buru mendekat ke arah mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Bu Dahlia.
"Iya. Apa yang terjadi dengan Mbak Syanum?" tanya salah satu karyawan Luna.
"Syanum pendarahan. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Tolong kamu jaga butik ya. Mungkin aku akan lama perginya."
"Iya Mbak Luna."
Luna kemudian melangkah ke luar dan berjalan menghampiri mobilnya. Dia membuka pintu mobil dan menyuruh Syanum masuk ke dalam.
"Masuk Kak Syanum."
"Iya."
Syanum dan Luna kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia meluncur untuk pergi ke rumah sakit.
Luna mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia ingin buru-buru sampai ke rumah sakit.
"Kak Syanum. Sabar ya Kak. Kaka harus tenang. Sebentar lagi kita sampai kok Kak."
Luna mengambil ponselnya. Dia juga kemudian mendekatkan ponselnya di dekat telinganya.
"Kamu mau telpon siapa Lun?" tanya Syanum.
"Untuk apa?"
"Aku mau memberi tahukan, kalau Kakak pendarahan."
"Tidak usah. Untuk apa kamu hubungi Ryan atau Fabian. Tidak perlu. Mereka itu kan ada d kantor, lagi kerja. Aku nggak mau membuat orang-orang khawatir mikirin aku."
"Ya udahlah. Nanti saja."
Syanum sejak tadi masih memegangi perut. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi.
Beberapa saat kemudian, Luna dan Syanum sudah sampai di depan rumah sakit. Luna memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
"Kakak masih bisa jalan?" tanya Luna sebelum turun dari mobilnya.
Syanum menggeleng.
"Aku nggak bisa jalan. Sakit banget Lun."
"Ya udah. Kakak tunggu di sini. Biar aku masuk ke dalam dan panggil suster."
Luna berlarian masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil suster. Beberapa saat kemudian, tiga orang suster tampak menghampiri Syanum yang sekarang masih berada di dalam mobil.
Ke tiga suster itu kemudian membawa Syanum ke luar dari mobil dan mendudukan Syanum di kursi roda. Mereka kemudian mendorong Syanum dan masuk ke dalam rumah sakit. UGD tempat pertama mereka membawa Syanum langsung di bawa ke dalam ruangan itu untuk mendapatkan penanganan.
Luna sejak tadi masih mondar-mandir di depan ruangan UGD. Dia panik dan masih bingung. Dia takut terjadi apa-apa dengan Syanum.
"Aku hubungi siapa. Kak Abi atau Kak Ryan. Mereka pasti sekarang ada di kantor dan lagi kerja. Kak Dila, juga sekarang pasti ada di kantor. Apa aku harus hubungi Tante Reva ya. Tapi bagaimana nanti kalau dia panik dan khawatir. Aku nggak mau membuat Tante Reva jantungnya kambuh."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, seorang suster ke luar dari ruangan UGD.
"Sus. Bagaimana kondisi kakak saya Sus?"
Suster diam. Dia belum bisa mengatakan kondisi pasiennya. Karena saat ini, Syanum masih dalam penanganan dokter.
"Maaf. Saya belum bisa memastikan kondisi pasien. Anda berdoa saja, semoga pasien dan bayinya bisa diselamatkan. Karena banyak darah yang ke luar, sehingga membuat pasien pingsan dan kehilangan banyak darah."
"Ya ampun."
Suster buru-buru melangkah pergi meninggalkan Luna. Sementara Luna masih cemas memikirkan Syanum.
Luna mengambil ponsel untuk menelpon Dila. Beberapa saat kemudian, Dila mengangkat telponnya.
"Halo Lun."
"Halo Kak. Kak Dila ada di mana?"
"Di kantor Lun."
"Oh ada di kantor ya."
"Ada apa Lun?"
"Maaf ya Kak, kalau ganggu. Aku cuma mau ngasih tahu, kalau sekarang aku lagi ada di ruang sakit menemani Syanum."
"Lho. Emang Syanum kenapa?"
"Syanum pendarahan Kak Dila."
"Apa! yang benar saja? Syanum pendarahan?"
"Iya Kak Dila. Syanum pendarahan. Dan dia sekarang sedang dalam penanganan dokter."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan ke sana untuk temui Syanum."
"Iya Kak Dila."
"Ya udah. Kamu tunggu di situ ya."
"Iya Kak."
****
Dila menutup telponnya. Dia kemudian bangkit berdiri untuk melangkah ke ruangan ayahnya.
"Papa aku ada di ruangannya?" tanya Dila pada salah karyawan yang melintas ruangan Pak Damar.
"Oh, bapak nggak ada di ruangannya Bu. Bapak lagi ada di ruang meeting bersama Pak Ryan, Bu Hera, dan Pak Fabian."
"Oh. Mereka masih meeting?"
"Iya. Benar Bu"
"Ya udah. Makasih ya."
Dila melangkah ke luar dari rumah sakit. Dia tidak mau mengganggu meeting ayahnya siang ini. Karena meeting kali ini adalah meeting besar, yang sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan ayahnya.
Dila melangkah ke tempat parkir. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan kantornya. Dila benar-benar cemas memikirkan kondisi Syanum sekarang. Dila tidak mau, Syanum pendarahan sampai keguguran. Dila tidak mau, Syanum merasakan apa yang dia rasakan dulu. Harus kehilangan calon bayinya yang masih ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Ya Allah. Semoga Syanum baik-baik aja," gumam Dila di sela-sela menyetirnya.