
Hoaaam...
Syanum mengerjapkan matanya. Tangan Fabian masih melingkar di atas tubuhnya. Semalaman, mereka memadu cinta dan kemesraan di bawah selimut yang sama.
Peristiwa hujan semalam, membuat cinta mereka kembali menyatu dalam kemesraan dan kehangatan tadi malam. Dan itu mereka lakukan dalam keadaan sadar.
Karena dingin, Fabian sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri untuk kembali menyentuh istrinya seperti di malam itu. Dan Syanum pun sama sekali tidak menolak ajakan suaminya untuk bercinta.
Dan malam tadi, adalah malam ke dua mereka menyatukan cintanya. Dan ranjang kecil itu, menjadi saksi bisu, bagaimana seorang Fabian, memperlakukan istrinya dengan lembut, layaknya seorang ratu.
Fabian kembali memberikan sentuhan lembut pada Syanum. Mungkinkah, Fabian akan menyadari, kalau sebenarnya, dia sudah mulai mencintai Syanum.
Syanum masih menatap wajah suaminya.
"Makasih Mas, kamu sudah memberikan nafkah batin untuk aku lagi. Semoga, selamanya kamu akan sering memberikannya untuk aku. Seharusnya kamu itu sadar sejak dulu Mas. Kalau aku ini istri kamu. Dan seharusnya, seorang suami itu sudah berkewajiban untuk memberikan haknya untuk istrinya," gumam Syanum
Fabian tiba-tiba saja mengerjapkan matanya, yang membuat Syanum terkejut.
"Hah, Syanum. Ka-kamu udah bangun?" tanya Fabian.
Fabian terkejut dan tampak gugup. Dia kemudian beringsut duduk.
"Syanum. Maafkan untuk kesalahan aku semalam. Aku khilaf Syanum," ucap Fabian.
"Nggak apa-apa Mas."
'Sering-sering aja Mas, kamu melakukan hal seperti semalam. Agar kamu bisa melupakan cinta kamu ke Mentari. Aku ingin kamu sadar. Kalau kamu itu sekarang milik aku. Bukan milik Mentari, atau wanita manapun.' batin Syanum.
"Syanum. Kamu nggak marah soal semalam?" tanya Fabian.
Syanum menggeleng.
Syanum menghela nafas dalam dan beringsut duduk.
"Mas, aku mau mandi. Dan mau bantu-bantu nenek."
"Iya Syanum."
Syanum memakai bajunya kembali dan mengambil handuk. Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melangkah untuk ke kamar mandi.
Syanum kemudian mandi. Selesai mandi, dia kembali ke kamar. Dia melihat suaminya sudah memakai bajunya lagi.
"Mas, kamu nggak mau mandi?" tanya Syanum.
"Nenek kamu, ada di luar?"
"Nggak ada nenek Mas. Aku nggak tahu, nenek ke mana. Mungkin nenek pergi."
"Jam berapa ini Syanum?" tanya Fabian.
"Jam delapan Mas," jawab Syanum.
Fabian terkejut. "Apa! jadi kita kesiangan lagi?"
"Sudahlah Mas. Nggak usah difikirkan. Kita ke sini kan untuk liburan. Kamu juga nggak akan ke kantor kan? jadi kesiangan juga nggak apa-apa. Kayak nggak biasanya aja kesiangan."
__ADS_1
"Tapi aku malu sama nenek kamu Syanum."
"Ya udahlah, nenek juga nggak ada di rumah. Kalau mau mandi, nanti aku akan siapkan baju."
Fabian turun dari ranjangnya. Dia kemudian mengambil handuk. Tanpa berucap sepatah katapun, Fabian pergi ke luar dari kamarnya.
****
Tiga hari, Fabian dan Syanum berada di rumah Nek Retno. Saat ini, mereka masih berada di ruang makan.
Syanum, Fabian, dan Nek Retno, masih tampak menikmati makan malamnya kali ini.
Sejak tadi, Syanum masih mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa kamu Syanum?" tanya Nek Retno.
"Aku nggak tahu Nek. Tiga hari ini, aku sering mimpi ibu," jawab Syanum.
Nek Retno menatap lekat ke arah Syanum.
"Mimpi itu cuma bunga tidur Syanum. Nggak usah terlalu di fikirkan," ucap Nek Retno.
"Dari kemarin, perasaan aku nggak enak Nek. Firasat aku mengatakan, kalau bakalan terjadi sesuatu."
Fabian menghentikan kunyahannya.
"Syanum. Firasat apa?" tanya Fabian.
"Aku nggak tahu Mas. Tapi, seperti akan terjadi hal-hal buruk dalam keluarga aku."
"Ssstttt. Jangan ngaco kamu. Bagaimana kalau terjadi beneran!" ucap Fabian dengan nada tinggi.
"Halo Bi..."
"Halo Ma. Ada apa?"
"Kamu dan Syanum, bisa nggak pulang ke Jakarta sekarang?"
"Lho. Emang kenapa Ma?"
"Ayah kamu dan ayah mertua kamu, kecelakaan Nak."
Fabian membelalakkan matanya.
"Apa? kecelakaan? kok bisa sih Ma?"
"Ceritanya panjang Nak. Mama nggak bisa cerita di telpon. Lebih baik, sekarang kamu pulang. Naik apa ajalah terserah kamu. Dan ajak istri kamu juga ya Nak!"
"Iya Ma, iya."
"Sekarang Mama dan Kakak kamu lagi nungguin Papa sama mertua kamu di rumah sakit."
Setelah Fabian memutuskan saluran teleponnya, Syanum dan Nek Retno menatap Fabian penasaran.
"Siapa yang kecelakaan Fabian?" tanya Nek Retno.
__ADS_1
"Ayah Syanum dan Papa aku kecelakaan," jawab Fabian.
"Inalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.." ucap Syanum dan Nek Retno bersamaan.
"Ayah aku, benar-benar kecelakaan Mas?"
"Iya Syanum. Dan kita harus cepat-cepat pulang ke Jakarta."
"Mas, terus, bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka ada di rumah sakit sekarang. Malam ini, Mama sama Kak Dila ada di rumah sakit."
"Kalian mau pulang malam-malam begini? apa kalian nggak pulang besok aja?" tanya Nek Retno. Dia juga tampak khawatir dengan Syanum dan Fabian.
"Nek. Ini masalahnya ayah yang kecelakaan. Syanum nggak mau, terjadi apa-apa dengan ayah."
"Ya terserah kamu aja Syanum."
Syanum dan Fabian berdiri dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke arah kamarnya untuk berkemas. Mereka akan pulang malam ini juga ke Jakarta.
"Kalian mau naik apa ke Jakarta?" tanya Nek Retno.
Syanum menoleh ke arah neneknya.
"Nek. Biasanya kan di jalan raya sana, sering ada bus tujuan Jakarta. Syanum akan naik bus aja Nek."
"Tapi, ke sana kan jauh. Kalian harus naik motor."
"Syanum akan minta antar bibi dan paman. Biar mereka mengantar Syanum dan Mas Fabian naik motor."
"Ya udah. Biar nanti nenek yang ke rumah paman kamu. Kamu berkemas-kemas aja dulu."
Fabian dan Syanum kemudian melanjutkan untuk berkemas. Sementara Nek Retno ke luar dari rumahnya untuk ke rumah paman dan bibi Syanum. Dan kebetulan rumah mereka juga dekat dengan rumah Nek Retno.
****
Syanum dan Fabian sudah sampai di Jakarta. Pagi ini, mereka tidak langsung pulang ke rumah mereka. Tapi, mereka mau langsung ke rumah sakit.
Di terminal, Syanum dan Fabian masih mencari taksi.
"Syanum. Itu ada taksi. Kita ke sana yuk!" ajak Fabian yang masih membawa kopernya.
Syanum dan Fabian kemudian mendekat ke arah taksi.
"Pak. Bisa antarkan kami ke rumah sakit?" tanya Fabian.
"Oh, iya Mas. Bisa."
Sopir taksi itu, kemudian membawakan barang-barang Fabian dan memasukan barang-barang itu ke bagasi. Setelah itu, sopir itu pun, membuka pintu mobil untuk Fabian dan Syanum.
Fabian dan Syanum masuk ke dalam mobil di susul sopir yang ikut juga masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana Mas, Mbak?" tanya Pak sopir.
"Ke rumah sakit Pak. Cepetan ya Pak," ucap Syanum.
__ADS_1
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari terminal sampai ke rumah sakit, akhirnya taksi itupun berhenti tepat di depan rumah sakit. Fabian dan Syanum kemudian turun sembari membawa barang-barang mereka.
Syanum dan Fabian melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Mereka kemudian mencari keberadaan Kak Dila dan Bu Reva di sana.