Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Foto untuk ancaman


__ADS_3

"Menurut Mbak, Syanum itu wanita yang sangat baik Tuan muda," jelas Mbak Asih.


"Oh iya? terus?" Fabian ingin mendengar lebih banyak cerita dari Mbak Asih.


"Iya. Selama Mbak kenal Non Syanum, dia itu wanita yang perhatian, lemah lembut, dan sederhana. Dia nggak banyak tingkah Tuan muda,"ucap Mbak Asih lagi.


"Kemarin aku sempat ketemu dia Mbak," ucap Fabian tiba-tiba, yang membuat Mbak Asih terkejut.


"Oh iya? di mana Tuan muda?" tanya Mbak Asih penasaran.


"Dia lagi beli obat di apotik. Entah obat untuk siapa. Untuk dia, atau untuk orang lain," jelas Fabian.


"Terus, Tuan muda ngobrol sama dia?" tanya Mbak Asih.


Mbak Asih, tampaknya penasaran juga mendengar cerita dari Fabian. Mbak Asih juga kangen dengan Syanum. Karena biasanya Syanum yang selalu setiap hari, membantu pekerjaannya.


"Iya. Tapi cuma sebentar," jawab Fabian.


"Terus, dia bilang apa?"


"Aku nyuruh dia pulang. Tapi, dia nggak mau Mbak."


"Dia nggak mau pulang ke sini? kenapa?"


"Mungkin ini semua salah aku Mbak. Aku yang sudah jahat sama dia. Aku sebenarnya nyesel sih."


'Tuan muda ini, jangan-jangan dia memang lagi jatuh cinta sama istrinya. Nggak biasanya dia mau curhat sama saya.' batin Mbak Asih.


"Penyesalan itu memang selalu datang terlambat Tuan muda. Tapi, semuanya masih bisa di perbaiki kok. Ajak aja Non Syanum kembali lagi ke sini?"


"Dia nggak mau Mbak. Aku sudah membujuknya berkali-kali, tapi dia tetap nggak mau. Malah, dia itu minta cerai dari aku."


Mbak Asih terkejut.


"Cerai? dia minta cerai? tapi kan dia lagi hamil."


"Iya.Dia memang lagi hamil. Tapi dia minta cerai dari aku. Dia akan menggugat aku, setelah anak itu lahir."


"Terus, apa yang akan Tuan muda lakukan?"


"Aku nggak mau cerai sama dia. Aku kasihan sama anak aku Mbak. Anak aku, pasti masih butuh orang tua yang lengkap. Kalau dia besar, pasti dia akan kecewa seandainya punya ayah dan ibu yang bercerai."


"Tuan muda udah mulai jatuh cinta ya sama istrinya?"

__ADS_1


"Apa! nggak kok. Siapa bilang aku cinta sama Syanum. Aku itu cuma mau anak aku itu punya orang tua yang lengkap setelah dia lahir. Jadi aku nggak mau bercerai."


'Tinggal bilang iya aja susah amat sih Tuan muda. Kan aku juga nggak bakalan cerita sama siapapun soal ini. Gengsi aja yang di gedein. Malas lah, kalau gini aku mau dengar ceritanya.' batin Mbak Asih.


"Tuan muda. Mbak mau ke dapur dulu ya. Mbak lupa kalau tadi Mbak belum matiin kompor."


"Oh iya."


Mbak Asih kemudian melangkah pergi meninggalkan Fabian. Dan dia melangkah ke dapur.


Hoaammm...


Mbak Asih tampak sudah mengantuk.


"Tuan muda kalau mau curhat, waktunya nggak tepat banget begini. Emang dia fikir, aku nganggur apa. Kerjaan aku kan masih banyak. Belum juga nyuci piring. Si Fani mah, malah enak-enakan tidur udah jam segini. Lagian, kenapa nggak curhat sama temannya aja sih. Kenapa harus curhat sama aku sih. Benar-benar menyita waktu ku. Harusnya aku udah kelar dan masuk kamar," gerutu Mbak Asih, yang merasa terganggu dengan waktunya.


****


Pagi ini, Fabian sudah rapi dengan baju kantornya. Hari ini, dia tampak bersemangat untuk berangkat ke kantor.


"Pagi semua," ucap Fabian setelah sampai di ruang makan.


Fabian kemudian duduk di dekat ibunya.


Ibu dan kakaknya yang di tanya hanya diam. Sejak peristiwa di rumah sakit itu, mereka jadi banyak mendiami Fabian dari pada mengajaknya ngobrol.


"Sebenarnya kalian itu kenapa sih? kalian masih marah ya sama aku?" tanya Fabian.


"Kamu kemarin dari mana? katanya, kamu bolos dari kantor ya?" tanya Bu Reva menatap anaknya tajam.


"Kemarin aku..."


Fabian menggantungkan ucapannya. Dia bingung harus mencari alasan apa lagi untuk meyakinkan ibunya.


Kemarin Fabian memang sempat bolos dari kantor. Dia ke makam Pak Riko. Tapi itu pun tanpa sepengetahuan dari keluarganya.


Fabian tidak mungkin cerita ke ibunya kalau dia kemarin pergi ke pemakaman Pak Riko. Fabian takut, kalau ibunya akan marah lagi sama dia.


"Kamu kemarin nggak ada ke kantor ke mana Bi?" tanya Dila mengulang pertanyaan ibunya.


"Aku...itu Ma... Kak..." Fabian tampak bingung untuk menjawab. Untuk berbohong pun dia tidak berani.


"Kamu dari makam Pak Riko kan?' tanya Dila.

__ADS_1


Fabian tampak gelagapan untuk menjawab pertanyaan itu.


'Kenapa Kak Dila bisa tahu kalau aku ke makam ayahnya Mentari.' batin Fabian.


"Bi, jawab Bi. Jujur ajalah sama kita. Kemarin kamu ke makam ayahnya Mentari kan?" tanya Dila sekali lagi.


"Iya Kak, Ma, maafin aku. Karena aku sudah melanggar janji Mama."


"Kenapa sih Bi. Kamu itu seharusnya nurut apa kata Mama. Kamu jangan temui wanita itu lagi." Bu Reva tampak emosi saat mendengar pengakuan Fabian kalau kemarin dia sempat ke makam Pak Riko.


"Maafin aku Ma. Aku cuma mau melayat aja ke sana. "


"Tidak perlu Abi. Dia itu sekarang bukan siapa-siapa kamu lagi. Untuk apa kamu ke pemakaman Pak Riko. " Bu Reva masih menahan emosinya.


Sebenernya dia marah banget sama Fabian.


"Aku yakin, Abi ke sana itu karena mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia itu ke sana nggak mau melayat. Tapi mau menemui Mentari," celetuk Kak Dila.


"Kakak itu ngomong apa sih. Aku nggak bohong Kak. Aku ke sana cuma mau melayat aja. Aku nggak ada maksud untuk menemui Mentari."


"Lalu, ini apa Bi?" ucap Dila.


Dila mengambil ponselnya. Dia kemudian menunjukkan foto Fabian dan Mentari yang tampak sedang berpelukan waktu di makam.


Fabian membelalakkan matanya.


"Kok Kakak bisa dapat foto-foto ini. Apa jangan-jangan kakak ngikutin aku ke makam ya?" Fabian langsung merebut ponsel Dila. Dia kemudian melihat semua foto-foto mesranya di ponsel kakaknya.


Dila tidak tinggal diam. Dia kemudian merebut ponselnya kembali dari tangan adiknya.


"Sini ponsel aku."


Setelah ponsel itu sampai ke tangan, Dila kemudian berucap.


"Iya. Aku memang ngikutin kamu ke makam. Kamu jangan macam-macam ya Bi. Mata aku itu ada banyak. Apa lagi sekarang aku kerja di kantor kamu. Aku bisa terus awasi gerak-gerik kamu. Atau mau, aku tunjukkan ini ke Syanum?"


Deg.


Fabian terkejut saat mendengar ucapan Dila.


"Jangan Kak. Aku mohon, jangan laporkan hal ini ke Syanum. Aku nggak mau, membuat Syanum tambah membenci aku Kak. Sekarang aja dia belum mau memaafkan aku."


Fabian takut, kalau ancaman kakaknya itu tidak main-main. Fabian tidak mau, kakaknya membuat runyam hubungannya dengan Syanum. Karena Fabian, ingin mencoba untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2