
Fabian sejak tadi, masih membolak-balikkan tubuhnya di atas sofa. Malam ini, dia tidak bisa tidur. Sejenak, Fabian menatap ke arah Syanum yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Ih, enak banget Syanum. Dia bisa tidur nyenyak seperti itu. Tapi aku, malah nggak bisa tidur seperti ini. Padahal, besok aku mau kerja ke kantor. Bagaimana kalau besok, aku telat lagi bangunnya," gumam Fabian.
Fabian kemudian bangkit untuk duduk. Setelah itu, dia melangkah ke arah Syanum dan duduk di sisi ranjang.
"Kalau sedang terlelap seperti ini, dia cantik. Tapi sayang sekali, dia itu sangat menyebalkan. Tapi, kenapa ya kalau kayak gini, aku jadi kasihan sama dia. Dia sebenarnya nggak salah. Yang salah itu Papa. Kenapa Papa harus menikahkan aku dengan wanita ini. Padahal kami tidak saling mencintai. Apa Papa tidak tahu, tujuan pernikahan itu apa," gumam Fabian yang sejak tadi masih menatap istrinya.
"Sebenarnya, tujuan utama pernikahan itu adalah agar kita bisa punya keturunan. Tapi, bagaimana mungkin aku dan Syanum bisa punya keturunan kalau saja kami berdua tidak saling mencintai," lanjutnya.
Fabian tersenyum.
"Kasihan Syanum. Dia sedang terluka. Pasti dia masih syok banget, dengan kejadian kecelakaan tadi pagi."
Fabian sejak tadi, bicara sendiri di samping Syanum. Sepertinya, dia merasa iba melihat kondisi Syanum yang kepalanya masih di perban.
Fabian meraih rambut Syanum yang menutupi mata. Dia kemudian meletakan rambut itu, ke belakang telinga Syanum. Fabian kemudian, bangkit berdiri.
Syanum yang merasa terganggu dengan tidurnya, tiba-tiba saja terbangun dan mengerjapkan matanya. Syanum terkejut saat melihat Fabian ada di dekatnya.
"Tuan muda. Kamu ngapain ada di sini?" tanya Syanum.
Syanum beringsut duduk dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kamu kenapa bisa ada di dekat aku? apa kamu mau macam-macam dengan aku Tuan muda?" Syanum tampak ketakutan.
Fabian terkejut saat melihat tingkah Syanum. Syanum seakan-akan takut sama Fabian. Mungkinkah Syanum takut, kalau Fabian akan menyentuhnya malam ini.
Fabian tampak gugup.
"Em, aku...aku nggak mau ngapa-ngapain kamu kok."
"Terus, kenapa kamu ada di dekat aku. Bukankan kah, seharusnya Tuan muda tidur di sofa?"
Fabian yang melihat Syanum ketakutan, justru sengaja duduk kembali di dekat Syanum. Dia menatap Syanum tajam.
"Heh...! jangan kegeeran deh kamu. Aku nggak mau ngapa-ngapain kamu kok. Lagian, siapa juga sih, yang suka sama kamu. Melihat kamu aja aku malas. Apalagi, untuk menyentuhmu."
"Lah, terus, kenapa Tuan muda duduk di situ?"
"Aku nggak bisa tidur Syanum. Entah kenapa, mataku sama sekali nggak ngantuk. Mungkin, aku tidak biasa kali yah tidur di sofa. Bagaimana kalau kita tukeran tempat. Kamu di sofa, dan aku di sini."
"Apa!"
"Kenapa? kamu nggak mau? kamu jangan seenaknya di sini dong! ini tuh kamar aku. Kamu itu cuma numpang di kamar aku. Dan di kamar aku, kamu harus nurut apa kata aku. Kalau kamu aku suruh tidur di sofa ya tidur saja di sofa. Untung aja, aku nggak suruh kamu tidur di lantai."
"Tapi Tuan muda. Aku ini kan masih sakit. Luka aku belum sembuh. Masak, aku di suruh tidur di sofa sih."
__ADS_1
"Aku nggak perduli Syanum. Kalau kamu nggak mau nurut apa kata aku, lebih baik kamu tidur saja sana di kamarmu yang dulu. Karena kamu cuma pantas tidur di kamar pembantu...!"
Syanum sebenarnya kesal juga melihat suaminya. Istri mana yang tidak akan kesal. Sedang enak-enaknya tidur, terbangun dan suaminya tiba-tiba marah-marah nggak jelas.
"Syanum, kamu nggak tuli kan? kamu dengarkan aku tadi ngomong apa! sekarang kamu turun dan pindah ke sofa! bawa selimut kamu juga sekalian!"
Syanum tidak bisa menolak lagi apa yang menjadi keinginan suaminya. Sebelum Syanum turun, dia menatap suaminya.
"Tuan muda. Tolong dong, jangan setega itu sama aku. Aku masih sakit."
"Nggak usah manja Syanum...! aku bilang pindah, ya pindah!"
Syanum kemudian turun dari tempat tidurnya dan duduk di sofa tempat suaminya tidur.
"Ah, malang banget sih nasib aku. Punya suami egois, seperti itu. Di ajak tidur berdua aja nggak mau," gerutu Syanum sembari berbaring di sofa.
"Egois? kamu bilang aku egois?" Fabian menatap Syanum tajam, setelah dia sudah berada di tengah ranjangnya.
"Apaan sih Tuan muda. Aku nggak bilang apa-apa kok. Pendengaran kamu aja mungkin yang terganggu," ucap Syanum sembari menarik selimutnya.
Syanum lekas memejamkan mata. Begitu juga dengan Fabian.
Setelah Syanum terlelap, Fabian menatap Syanum kembali.
Dahaga, malam ini sudah mulai menggerogoti kerongkongan Fabian. Fabian menatap gelas yang ada di atas nakas. Dia kemudian mengambil gelas itu.
'Yah, gelasnya udah kosong lagi. Aku haus banget, pengin minum. Tapi, aku malas ambil sendiri. Syanum mau nggak yah, ambilkan aku minum. Aku bangunin dia aja kali ya.'
"Syanum. Bangun dong! aku haus nih. Kamu mau kan, ambilkan aku minum?"
Syanum kembali mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap Fabian.
"Ada apa lagi Tuan muda?" tanya Syanum.
Fabian menyodorkan gelasnya pada Syanum.
"Airku habis. Kamu mau kan ambilkan air untuk aku?"
"Huh, kenapa harus aku yang ambil. Tuan itu kan punya kaki dan tangan. Bisa kan ambil sendiri?"
"Syanum. Jangan begitu! kamu dosa lho, membantah perintah suami. Kata ustadz aku dulu, seorang istri yang menolak perintah suaminya, itu di haramkan masuk surga."
Syanum sangat geram dengan sikap suaminya. Baru saja Syanum terlelap, Fabian sudah merengek minta di ambilkan air minum.
"Baiklah. Aku turun sekarang."
Syanum kemudian mengambil gelas yang di pegang Fabian. Dia kemudian melangkah ke luar dari kamarnya untuk mengambilkan suaminya minum.
__ADS_1
Syanum mulai menuruni anak tangga. Dia melangkah ke arah dapur. Syanum menghentikan langkahnya, saat mendengar suara sesuatu di dapur.
"Suara apa ya itu," gumam Syanum.
Syanum kemudian melanjutkan langkahnya.
"Lampu dapur kok nyala. Apa ada orang yah di sana," gumam Syanum.
Syanum terkejut saat melihat ada Dila di dapur.
"Mbak Dila awas...!" seru Syanum saat melihat ada sesuatu yang akan menjatuhi kepala Dila.
Syanum buru-buru melangkah untuk menolong Dila.
Bruaaakkk...
Sebuah benda terjatuh tepat di bahu belakang Syanum.
"Syanum, kamu tidak apa-apa?" tanya Dila.
Dila mencoba untuk bangun dari kursi rodanya.
"Aduh, sakit banget,"ucap Syanum.
"Syanum. Kamu nggak apa-apa?" Dila sangat mengkhawatirkan Syanum.
Syanum menggeleng.
"Aku nggak apa-apa Kak Dila."
Dila menatap panci yang sekarang sudah tergeletak di lantai.
"Ya ampun, siapa sih yang naruh panci sembarangan begini," ucap Dila.
"Itu, sepertinya pembantu baru Kak. Mbak Asih, mana mungkin naruh panci sembarangan begitu. Sudahlah, jangan di perpanjang masalah ini Kak."
Dila mengangguk.
"Tapi luka kamu nggak apa-apa kan Syanum?"
"Aku nggak apa-apa."
"Makasih ya Syanum. Aku nggak tahu, bagaimana nasib aku, kalau sampai aku kejatuhan panci tadi."
Syanum menghela nafas dalam.
"Nggak apa-apa. Yang penting Kak Dila baik-baik aja. Kakak ngapain sih, malam-malam ada di dapur?"
__ADS_1
"Kakak mau ambil minum untuk Dimas. Kakak nggak enak, kalau harus bangunin orang. Kakak nggak mau, ngerepotin orang."
'Huh, Kak Dila yang lagi sakit aja mau ngambilin minum untuk Dimas, kenapa Tuan muda nggak mau ya, ngambil minum sendiri. Padahal, dia kan sehat. Malah nyuruh aku yang lagi sakit. Apa jangan-jangan, dia cuma mau ngerjain aku aja,'