Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Menjadi pendengar yang baik


__ADS_3

Pak Damar dan Bu Reva terkejut saat mendengar suara dari dalam kamar Syanum dan Fabian.


Bu Reva buru-buru membangunkan suaminya.


"Pa. Papa dengar nggak Pa. Ada suara di dalam kamar Fabian," ucap Bu Reva.


Pak Damar mengerjapkan matanya. Dia mengucek matanya dan menatap ke arah Bu Reva.


"Ada apa Ma?"


"Pa. Coba sana Papa tengok di kamar Syanum. Tadi Mama dengar seperti ada sesuatu yang pecah."


"Fabian belum pulang ya Ma?"


"Tadi Mama lihat sih belum. Tapi nggak tahu sekarang."


"Jadi di kamarnya, Syanum sendirian? kenapa Mama nggak temani menantu Mama. Dia kan lagi hamil muda."


"Iya mungkin sih, Syanum sekarang sedang sendirian "


"Ya udah. Kita cek di kamar Syanum. Barang kali ada maling atau apa."


Bu Reva mengangguk. Mereka kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan melangkah menghampiri kamar Syanum.


Bu Reva dan Pak Damar terkejut saat mendengar suara tangisan Syanum dari dalam kamar.


"Hiks...hiks..."


Bu Reva dan Pak Damar saling menatap.


"Apa ya yang terjadi dengan Syanum. Kenapa dia menangis?" ucap Bu Reva.


"Coba Mama ketuk. Syanum itu kan sedang hamil muda. Papa takut terjadi apa-apa sama dia di dalam."


Tok tok tok...


Bu Reva segera mengetuk pintu kamar Syanum. Beberapa saat kemudian, Syanum membuka pintu dan langsung memeluk ibu mertuanya.


"Mama."


"Syanum. Apa yang terjadi di dalam? kenapa dengan kamar kamu? seperti kapal pecah begitu?" tanya Pak Damar.


Pak Damar segera masuk ke dalam. Dia penasaran dengan keadaan di dalam.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Reva menangkup wajah Syanum.


"Mas Fabian Ma. Mas Fabian. Dia tadi pulang ngamuk-ngamuk. Dan dia sudah membuat kamar aku seperti ini." Syanum menuturkan.


"Jadi dia udah pulang? terus, sekarang dia ke mana?"

__ADS_1


"Tadi dia ke luar Ma. Aku takut, kenapa Mas Fabian marah-marah. Apa dia sedang marah sama aku? apa salah aku Ma?"


Bu Reva mengusap pipi menantunya yang sejak tadi basah karena air mata. Bu Reva mengajak Syanum masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang terjadi di kamar.


Bu Reva terkejut saat melihat kamar Syanum.


"Astaga. Apa yang sudah Abi lakukan. Dia sudah membuat semua barang-barang di sini pecah. Cermin rias, foto pengantin, vas bunga kesayangan Mama. Abi...!" teriak Bu Reva yang sudah mulai geram dengan anaknya.


"Syanum. Sebenarnya kenapa dengan Fabian. Kenapa dia bisa mengamuk seperti ini? nggak biasanya dia seperti itu?" tanya Pak Damar.


"Nggak tahu Pa. Pulang-pulang, dia seperti orang kerasukan. Banting-banting pintu, mecahin kaca, berantakin semuanya. Dan sekarang dia pergi Ma," jelas Syanum.


Pak Damar dan Bu Reva hanya bisa mengelus dada.


"Ada apa ini?" tanya Dila yang sudah berada di depan pintu.


"Lihat Dil. Kelakuan adik kamu. Dia udah mecahin barang-barang berharga Mama. Guci kesayangan Mama juga pecah."


"Astaghfirullah, kenapa sih dengan dia. Sekarang dimana tuh anak?"


"Nggak tahu Kak," ucap Syanum.


"Ya udah Syanum. Kamu sekarang ikut Kakak, dan tidur di kamar Kakak. Biar besok kita suruh Mbak Fani dan Mbak Asih beresin. Udah malam."


"Iya Kak. Tapi aku mau nyari Mas Fabian dulu."


Kak Dila mengangguk.


Fabian tampak risau dan frustasi. Tangannya pun berdarah karena tadi, dia sempat memukul dinding dan cermin berkali-kali. Fabian sudah hilang kendali.


Syanum mendekat menghampiri suaminya. Tampaknya, Fabian sudah mulai bisa meredam emosinya.


"Mas, aku cariin ternyata kamu ada di sini?" Syanum menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Fabian.


Fabian diam. Sementara Syanum menatap luka yang ada di tangan Fabian.


"Tangan kamu berdarah Mas," ucap Syanum sembari meraih tangan suaminya.


Fabian segera melepaskan tangan Syanum.


"Aku nggak apa-apa. Nggak usah khawatirkan aku," ucap Fabian dingin.


"Biar aku obati ya Mas?"


"Nggak perlu."


Syanum hanya bisa menelan ludahnya. Sikap Fabian berubah setelah kepergiannya tadi. Apa yang membuat suaminya jadi sedingin ini. Syanum yakin, pasti sudah terjadi apa-apa di luar.


"Mas, kamu kenapa sih? kenapa kamu jadi seperti ini?"

__ADS_1


"Kamu nggak perlu tahu Syanum aku kenapa. Karena ini bukan urusan kamu."


"Mas, aku ini sekarang istri kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku juga punya tanggung jawab Mas. Kamu sebenarnya kenapa? dan kamu dari mana? malam-malam begini kenapa kamu baru pulang? apa kamu habis ketemu sama seseorang?"


"Nggak. Aku nggak habis ketemu siapa-siapa," bohong Fabian.


Syanum menghela nafas dalam. Percuma juga Syanum banyak bertanya. Fabian saja masih emosi. Tapi Syanum juga masih penasaran. Tidak mungkin suaminya tiba-tiba marah-marah tanpa sebab.


'Aku yakin, mas Fabian pasti lagi menyembunyikan sesuatu.'


Syanum berdiri dan melangkah masuk. Dia kemudian mengambil kotak obat untuk mengobati luka Fabian.


Syanum duduk kembali di sisi suaminya dan meraih tangan suaminya.


"Luka kamu harus diobati Mas. Kamu nggak boleh membiarkannya," ucap Syanum.


Syanum kemudian mengobati luka Fabian.


"Aku nggak tahu Mas, apa yang terjadi dengan kamu. Tapi aku harap, kamu mau cerita semua masalah kamu. Aku ini istri kamu. Anggaplah aku seperti sahabatmu. Ceritakan saja apa masalah kamu ke aku. Suami istri itu harus terbuka Mas, dan jangan ada lagi yang ditutup-tutupi," ucap Syanum sembari memperban luka suaminya.


"Mentari," ucap Fabian yang membuat Syanum terkejut.


'Mentari? apa tadi suamiku telah menemui wanita itu' batin Syanum.


"Apa yang terjadi dengan Mentari?" Syanum mencoba untuk mendengar cerita suaminya. Dia penasaran sekaligus kesal. Kenapa harus Mentari lagi, dan Mentari lagi. Apa susahnya melupakan wanita itu.


"Aku menyesal Syanum. Karena aku nggak bisa menjaga Mentari."


Syanum menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk menjadi pendengar yang baik, walau hatinya teramat sakit.


"Maksud kamu apa? kenapa kamu menyesal?"


"Mentari pergi dan meninggalkan pesta pernikahannya, karena ternyata dia sudah diperkosa Syanum. Dan aku tidak bisa menjaga kekasih aku. Aku sudah lalai. Aku saja yang menjadi pacarnya, belum pernah sekalipun menyentuh Mentari."


Syanum membelalakkan matanya.


"Apa! diperkosa?"


"Iya. Dan aku yakin, Mentari saat ini, pasti sangat terpuruk atas semua hal yang sudah menimpanya. Dia dihamili orang, dan sekarang ayahnya juga sedang sakit."


"Mentari hamil?" Syanum kembali terkejut.


Fabian bercerita, seakan-akan Syanum itu adalah teman baiknya. Tanpa dia memikirkan bagaimana perasaan Syanum dan reaksi Syanum.


"Aku kasihan sama Mentari. Dia itu sudah tidak punya ibu. Dan sekarang dia hamil tanpa suami. Dan aku benar-benar iba melihat kondisinya."


'Seperduli itukah kamu dengan mantan kamu Mas, sampai kamu tidak menganggap aku. Apa kamu lupa, kalau aku ini istri kamu, dan aku ini juga lagi hamil. Kenapa kamu harus peduli dengan mantan pacar kamu, ketimbang sama aku. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, untuk apa aku selama ini bertahan di sisi kamu Mas, kalau pada akhirnya, kamu juga belum bisa melupakan Mentari.'


Syanum menghela nafas dalam. Tanpa berkata sedikitpun, dia pergi meninggalkan Fabian.

__ADS_1


Fabian terkejut saat melihat istrinya tiba-tiba pergi dan meninggalkan kotak obat di sampingnya.


"Syanum. Kenapa kamu pergi. Kamu kan belum selesai ngobatin luka aku dan aku juga belum selesai cerita...!"


__ADS_2