
"Syanum. Kamu mau ke mana?" Fabian berlari kecil mengejar istrinya.
Syanum menghentikan langkahnya dan menatap suaminya.
"Aku lapar Mas. Aku pengin makan, kenapa kamu malah bawa aku ke sini?"
"Iya. Ayo, sekarang ikut aku," Fabian menggenggam erat tangan Syanum. Dia kemudian menggandeng Syanum menuju ke tempat makan yang ada di dekat pantai.
Syanum dan Fabian sudah duduk dan sedang memesan makanan. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka, dan membawakan pesanan mereka. Pelayan itu kemudian menyajikan makanannya di atas meja.
"Terimakasih," ucap Fabian.
"Sama-sama Mas, selamat menikmati," ucap pelayan itu. Setelah itu dia kembali pergi meninggalkan Syanum dan Fabian.
"Ayo makan!" pinta Fabian.
Syanum mengangguk. Dia mengambil piring dan langsung makan menggunakan tangan.
"Syanum. Kenapa kamu makannya seperti itu? kenapa kamu nggak pakai sendok?" Fabian menatap tajam Syanum.
"Enak makan pakai tangan seperti ini Mas. Apalagi, ini kan ikan bakar. Pasti lebih gampang pakai tangan."
"Tapi kotor Syanum."
"Kan tangan aku bersih. Udah cuci tangan, dan di kampung aku juga sering makan tanpa sendok."
"Syanum. Apa kamu ngga malu dilihatin orang. Jangan bandingkan di kampung kamu sama di Bali dong. Apa kamu memang sengaja, mau bikin malu aku di sini. Dasar cewek jorok."
Syanum mengedarkan pandangannya.
"Nggak ada yang ngelihatin kita kok Mas."
Syanum tidak memperdulikan suaminya lagi. Sudah habis kesabaran Syanum pada suaminya. Lagi-lagi Fabian teringat dengan Mentari. Dan selalu saja nama Mentari yang di sebut-sebut setiap kali mereka sedang berdua.
"Kenapa kamu diam aja? kenapa nggak di makan?" tanya Syanum.
"Aku nggak mau makan. Entah kenapa selera makan aku jadi berkurang saat melihat kamu," ucap Fabian.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau makan. Buat aku saja makanannya," ucap Syanum sembari menarik makanan Fabian.
"Ih, rakus amat sih Syanum. Kamu kan sudah makan sepiring penuh."
"Ya nggak apa-apa. Dari pada kamu nggak mau makan, buat aku aja. Aku juga lagi lapar banget."
Syanum melahap kembali makanan milik suaminya. Entah apa yang sedang Syanum lakukan sekarang. Mungkinkah dia sengaja sedang ngerjain suaminya dan membuat malu dia. Karena tadi Fabian sudah membuatnya sakit hati.
Fabian bangkit berdiri.
"Mas, kamu mau ke mana?"
"Aku mau bayar makanan. Setelah ini kita pulang," ucap Fabian.
__ADS_1
"Kok pulang,"
"Aku capek Syanum. Aku pengin istirahat,"
"Tunggu. Aku aja belum habis makanannya."
"Ya udah. Habiskan dulu. Aku tungguin."
Setelah selesai makan siang, Fabian dan Syanum melangkah kembali ke pantai. Fabian memang masih lelah karena perjalanannya tadi pagi. Tapi Syanum memaksanya untuk tetap tinggal di pantai dan menunggu matahari terbenam.
Syanum dan Fabian masih duduk-duduk di atas pasir tepian pantai. Jam empat sore, suasana pantai masih ramai. Masih banyak berlalu lalang orang yang berjalan ke sana kemari di tepian pantai.
Syanum menatap ke lautan lepas. Begitu juga dengan suaminya. Mereka masih larut dalam fikiran mereka masing-masing.
"Indah banget ya Mas, pantai Kuta ini," ucap Syanum. Sejenak dia menatap suaminya.
Fabian mengangguk.
"Kamu dan Mentari, memangnya sering ke sini?" tanya Syanum.
"Sering banget."
"Terus, kalian nginap di hotel?"
Fabian menggeleng.
"Aku nggak pernah pergi berdua dengan Mentari. Kita lebih sering pergi dengan rombongan. Dan kami menginap di villa."
"Iya."
"Kalian sekamar juga?"
Fabian menatap lekat istrinya.
"Ya nggaklah. Kamu itu bicara apa? aku tidak pernah tidur satu kamar dengan Mentari. Kan kita bukan muhrim dan belum menikah. Aku juga bisa jaga batasan."
'Ya syukurlah. Mudah-mudahan, suami aku ini memang masih perjaka. Dan belum pernah tidur bareng dengan mantan-mantannya.'
Fabian menghela nafas dalam.
"Dulu aku pernah duduk bareng dengan Mentari di sini. Kami suka sekali melihat sunset di pantai ini."
"Oh, terus?"
Fabian tersenyum.
"Waktu itu, kebahagiaan serasa milik kita berdua. Waktu itu, aku dan Mentari punya rencana ingin menggelar acara pernikahan kita di Bali. Tapi, papa aku melarangnya. Karena dia ingin menggelar pernikahan aku di rumah Papa. Dan waktu itu, kami juga sudah bercita-cita ingin punya banyak anak setelah kita menikah nanti. Dan kami juga ingin berbulan madu ke Paris. Tapi semua mimpi kita itu gagal. Karena kita ternyata tidak berjodoh."
Syanum diam. Sebenarnya dia kesal dan cemburu jika Fabian harus menceritakan masa lalunya dengan Mentari. Tapi, Syanum kepo juga dengan percintaan di antara Fabian dan mantannya itu.
Setetes air mata Syanum membasahi pipi mulusnya. Namun, Syanum buru-buru mengusap air matanya dengan kasar sebelum Fabian melihatnya.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengharapkan dia kembali?" tanya Syanum.
"Jujur saja iya."
"Kalau dia benar-benar kembali dalam kehidupan kamu, apa yang akan kamu lakukan? apakah kamu akan menikahinya dan menceraikan aku?"
Fabian menatap Syanum tajam.
"Apa itu yang kamu mau?" tanya Fabian dengan sorot mata nanar. Sepertinya Fabian juga tidak akan pernah melepaskan Syanum apalagi untuk lelaki lain.
Syanum menggeleng dengan cepat.
"Aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau cerai dari kamu Mas. Aku belum siap untuk menjadi janda."
Hehe...
Fabian terkekeh.
"Kalau gitu, kita nggak usah cerai," ucap Fabian.
"Kalau nanti Mentari kembali, izinkanlah Mentari untuk menjadi madu mu?" lanjutnya.
Syanum terkejut saat mendengar ucapan Fabian.
"Apa! kamu mau poligami? aku nggak mau! kamu benar-benar menyebalkan Mas...!" Syanum bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan suaminya.
"Syanum! kamu mau ke mana? kita kan belum melihat sunset."
Syanum diam saja. Dia tidak perduli dengan ucapan suaminya. Fabian tidak tahu, kalau Syanum sedang menangis sembari pergi meninggalkannya.
Fabian berusaha mengejar Syanum. Setelah dekat, dia kemudian mencekal tangan Syanum.
"Syanum. Kamu mau ke mana?" tanya Fabian.
Syanum buru-buru mengusap air matanya. Dia kemudian menatap suaminya lekat.
"Aku mau pulang ke hotel," jawab Syanum
"Kok pulang. Apa kamu nggak mau melihat sunset di sini? di sini indah banget Syanum pemandangannya. Kapan lagi, coba kita bisa ke sini. Kalau sudah sampai ke Jakarta, aku akan sibuk lagi dengan kerjaan aku di kantor. Dan kita akan jarang berkunjung ke sini."
"Aku nggak suka sunset. Aku lebih suka tidur."
Fabian mengernyitkan alisnya bingung.
"Kok tidur?"
"Aku lelah Mas. Aku pengin istirahat."
"Hah, tahu gitu, kita pulang sejak tadi Syanum. Kamu ini benar-benar aneh. Tadi kamu bersemangat sekali untuk melihat matahari terbenam. Sekarang kamu minta pulang. Ya udahlah kita pulang saja."
Fabian memang tidak pernah peka dengan perasaan istrinya. Dia tidak tahu saja kalau Syanum sedang cemburu dan kesal akibat ucapanya tadi.
__ADS_1
Padahal, Fabian tadi juga cuma asal aja bicara. Dan tidak mungkin, orang tua Fabian setuju Fabian menikah lagi dengan Mentari. Karena orang tua Fabian saja, sudah merasa di kecewakan oleh Mentari.